Review Penerbangan Turkish Airlines Kelas Ekonomi Oslo-Istanbul

Saturday, 7 July 2018



Akhirnya saya bisa menginjakkan kaki di Turki, negara yang sejak dua tahun lalu selalu ada di top wishing list. Tidak hanya Cappadocia yang selalu membuat saya penasaran, tapi juga mencoba maskapai kebanggaan mereka, Turkish Airlines.

Cukup sering saya dengar reputasi baik Turkish Airlines, mengingat maskapai ini sering dijadikan pilihan saat mengunjungi Eropa atau Amerika via Istanbul. Tahun 2016, Turkish Airlines juga dinobatkan sebagai maskapai dengan in-flight catering terbaik. Wah, semakin membuat saya ingin terbang secepatnya dari Eropa ke Istanbul.

Sewaktu masih di Denmark, travelling ke Istanbul dari Kopenhagen sebetulnya tidak harus menggunakan Turkish Airlines. Ada beberapa maskapai low cost lain yang bisa dijadikan pilihan, seperti Pegasus Airlines atau Aegean Airlines (via Athena). Tiket PP paling murah yang pernah saya dapat dari Kopenhagen sekitar 900 DKK (1,8 jutaan Rupiah) saat low season menggunakan Turkish Airlines.

Dari Oslo, penerbangan ke Istanbul Ataturk hanya bisa menggunakan Turkish Airlines saat musim semi. Harganya juga naudzubillah, 2300 NOK (4 jutaan Rupiah)! Bisa dikatakan, penerbangan ini adalah penerbangan termahal saya keliling Eropa.

Sebetulnya harga terakhir yang saya lihat hanya 1300 NOK. Tapi mungkin karena salah waktu saat memesan, harganya langsung menukik tajam. Sialnya, satu minggu kemudian harganya turun lagi jadi 1300 NOK.

Kalau ada yang ingin memesan tiket penerbangan sekitar Turki, saya sarankan mengecek harga tiket lebih dahulu di Aerobilet. Harga yang ditawarkan jauh lebih murah dari Skyscanner. Saya memesan tiket dari Istanbul ke Kayseri hanya sekitar 26 Euro, sementara di Skyscanner paling murah 33 Euro.

Sebelum terbang

Sebelum bisa check-in online, saya ingin mengecek apakah satu maskapai memberikan akses memilih kursi dan makanan bagi penumpang. Turkish Airlines termasuk salah satu maskapai yang memudahkan penumpang mengatur pemesanan di situs mereka.

Setelah mendapatkan kode booking, saya langsung masuk ke situs Turkish Airlines dan bisa memilih kursi secara gratis. Penumpang juga bisa memesan menu makanan khusus seperti vegetarian atau seafood, 24 jam sebelum terbang.

Saya sebetulnya ingin memilih makanan berbeda di dua penerbangan. Namun sayangnya Turkish Airlines hanya memberikan satu opsi untuk semua leg. Padahal maskapai besar lain bisa memberikan dua opsi menu berbeda saat pergi dan pulang. Ya sudahlah, saya menyerah dengan menu standar mereka yang akan diberikan di dalam pesawat.

Oh ya, karena terbang ke Turki dari Eropa termasuk penerbangan internasional, Turkish Airlines memberikan bagasi cuma-cuma seberat 30 kg pulang dan pergi.

Kenyamanan kursi

Saya sedikit kecewa dengan penerbangan saat itu karena ternyata mereka mengganti ke pesawat yang lebih kecil. Harusnya menggunakan Airbus A330 dengan formasi 2-4-2 untuk kelas Ekonomi, diganti menggunakan Airbus A321 formasi 3-3. Penumpang yang naik saat itu pun penuh.

Saya mengambil kursi di dekat jendela, bersebelahan dengan bapak gendut di kursi tengah. Untuk ukuran badan yang tidak terlalu tinggi, ruang gerak untuk kaki di tipe pesawat ini cukup longgar. Dengan jarak tempuh yang kurang dari 4 jam, saya cukup nyaman duduk di kursi Turkish Airlines.


On-board meal

Saya pernah dengar, "jangan terlalu berharap banyak dari makanan pesawat". Pesawat bukanlah restoran yang bisa kita harapkan bisa mendapat makanan berkualitas tinggi dan fresh. Apalagi hanya sebatas kelas ekonomi. Tapi mungkin harapan saya sedikit berlebih dengan makanan yang akan disajikan, mengingat Turkish Airlines pernah dinobatkan sebagai maskapai dengan katering ekonomi terbaik.


Penerbangan dari Oslo ke Istanbul menunya cukup menggiurkan. Dari jauh saya sudah mencium segarnya bau roti panas dari troli awak kabin. Pilihan menu yang ditawarkan saat itu ada pasta dan ayam. Bapak di samping saya memilih pasta, sementara saya memilih ayam.

Saya melirik sekilas nampan makan si bapak saat dia membuka foil-nya. Pfft.. membosankan. Hanya penne dan saus tomat bertaburkan daun basil. Muka si bapak sepertinya tidak puas dengan menu yang dia pilih.

Pilihan saya saat itu tepat karena ayam disajikan dengan mashed potato dan fried veggies. Ayamnya lembut dan zucchini-nya, meskipun sederhana tapi sangat enak. Karena memang tidak terlalu suka salad dan dessert di menu pesawat, saya selalu absen menghabiskan dua makanan tersebut. Sempat mencicipi sedikit pudding kuningnya, rasanya biasa saja.


Rute kembali ke Oslo, menu makanan yang ditawarkan lagi-lagi pasta dan nasi daging. Saya skip pasta dan memilih nasi. Berharap menu kali ini sama lezatnya dengan yang saya makan di Istanbul, ternyata sangat mengecewakan! Nasinya mirip nasi bebek, keras dan kering. Sepertinya ini nasi yang dimasak sudah lama dan berkali-kali dipanaskan di microwave.

Nasi kering tersebut dipadukan dengan daging cincang dan tipikal masakan Turki, menggunakan terong goreng. Hambar. Tapi sedikit masih mending ketimbang menu pasta yang ternyata sama saja seperti rute dari Oslo. Tidak menarik sama sekali.

In-flight entertainment



Turkish Airlines cukup baik menghadirkan hiburan saat pesawat harus terbang lebih dari 3 jam. Banyak maskapai yang meniadakan hiburan di pesawat kecil dengan rute sekitaran Eropa. Di Asia pun, tidak semua full aboard airlines terdapat layar hiburan di tiap kursi.

Bandara Internasional Istanbul Ataturk

Tiba di Attaturk, saya langsung menuju immigration border bandara yang sudah penuh oleh antrian pengunjung. Yang datang ke Turki ternyata ramai sekali. Terbukti dari antrian yang panjaaaang dan terus bergerak tanpa henti. Saya menunggu sekitar 40 menit sebelum akhirnya e-visa dan paspor saya dicap oleh petugas imigrasi. Si petugas juga tidak rewel karena kebanyakan malah tidak mengecek e-visa sama sekali.

Kesalnya dari bandara ini hanya satu, WiFi-nya pelit bukan main. Dalam waktu satu minggu, penumpang hanya mendapatkan jatah browsing 120 jam saja! Sementara kalau ingin berselancar lebih lama, kita terpaksa harus membeli SIM Card lokal yang harga paket datanya pun tidak murah. Padahal saya harus transit untuk penerbangan berikutnya selama 5 jam. Meskipun begitu, saya tidak tertarik membeli SIM Card baru karena masih bisa menggunakan paket data roaming kalau kepepet.


Overall, saya suka Turkish Airlines. Tapi hanya akan memberi angka 6.5 untuk servis keseluruhan. Pramugarinya juga tidak murah senyum dan cenderung dingin. Makanannya biasa saja, bahkan kurang bervariasi. Mungkin pengalaman ini hanya saya dapatkan saat terbang melintasi Eropa yang durasinya tidak lama. Bisa jadi Turkish Airlines lebih care terhadap servis mereka saat penerbangan panjang di pesawat yang lebih besar.


No comments:

Care to leave your comments?