Langsung ke konten utama

Review Penerbangan Turkish Airlines Kelas Ekonomi Oslo-Istanbul


Akhirnya saya bisa menginjakkan kaki di Turki, negara yang sejak dua tahun lalu selalu ada di top wishing list. Tidak hanya Cappadocia yang selalu membuat saya penasaran, tapi juga mencoba maskapai kebanggaan mereka, Turkish Airlines.

Cukup sering saya dengar reputasi baik Turkish Airlines, mengingat maskapai ini sering dijadikan pilihan saat mengunjungi Eropa atau Amerika via Istanbul. Tahun 2016, Turkish Airlines juga dinobatkan sebagai maskapai dengan in-flight catering terbaik. Wah, semakin membuat saya ingin terbang secepatnya dari Eropa ke Istanbul.

Sewaktu masih di Denmark, travelling ke Istanbul dari Kopenhagen sebetulnya tidak harus menggunakan Turkish Airlines. Ada beberapa maskapai low cost lain yang bisa dijadikan pilihan, seperti Pegasus Airlines atau Aegean Airlines (via Athena). Tiket PP paling murah yang pernah saya dapat dari Kopenhagen sekitar 900 DKK (1,8 jutaan Rupiah) saat low season menggunakan Turkish Airlines.

Dari Oslo, penerbangan ke Istanbul Ataturk hanya bisa menggunakan Turkish Airlines saat musim semi. Harganya juga naudzubillah, 2300 NOK (4 jutaan Rupiah)! Bisa dikatakan, penerbangan ini adalah penerbangan termahal saya keliling Eropa.

Sebetulnya harga terakhir yang saya lihat hanya 1300 NOK. Tapi mungkin karena salah waktu saat memesan, harganya langsung menukik tajam. Sialnya, satu minggu kemudian harganya turun lagi jadi 1300 NOK.

Kalau ada yang ingin memesan tiket penerbangan sekitar Turki, saya sarankan mengecek harga tiket lebih dahulu di Aerobilet. Harga yang ditawarkan jauh lebih murah dari Skyscanner. Saya memesan tiket dari Istanbul ke Kayseri hanya sekitar 26 Euro, sementara di Skyscanner paling murah 33 Euro.

Sebelum terbang

Sebelum bisa check-in online, saya ingin mengecek apakah satu maskapai memberikan akses memilih kursi dan makanan bagi penumpang. Turkish Airlines termasuk salah satu maskapai yang memudahkan penumpang mengatur pemesanan di situs mereka.

Setelah mendapatkan kode booking, saya langsung masuk ke situs Turkish Airlines dan bisa memilih kursi secara gratis. Penumpang juga bisa memesan menu makanan khusus seperti vegetarian atau seafood, 24 jam sebelum terbang.

Saya sebetulnya ingin memilih makanan berbeda di dua penerbangan. Namun sayangnya Turkish Airlines hanya memberikan satu opsi untuk semua leg. Padahal maskapai besar lain bisa memberikan dua opsi menu berbeda saat pergi dan pulang. Ya sudahlah, saya menyerah dengan menu standar mereka yang akan diberikan di dalam pesawat.

Oh ya, karena terbang ke Turki dari Eropa termasuk penerbangan internasional, Turkish Airlines memberikan bagasi cuma-cuma seberat 30 kg pulang dan pergi.

Kenyamanan kursi

Saya sedikit kecewa dengan penerbangan saat itu karena ternyata mereka mengganti ke pesawat yang lebih kecil. Harusnya menggunakan Airbus A330 dengan formasi 2-4-2 untuk kelas Ekonomi, diganti menggunakan Airbus A321 formasi 3-3. Penumpang yang naik saat itu pun penuh.

Saya mengambil kursi di dekat jendela, bersebelahan dengan bapak gendut di kursi tengah. Untuk ukuran badan yang tidak terlalu tinggi, ruang gerak untuk kaki di tipe pesawat ini cukup longgar. Dengan jarak tempuh yang kurang dari 4 jam, saya cukup nyaman duduk di kursi Turkish Airlines.


On-board meal

Saya pernah dengar, "jangan terlalu berharap banyak dari makanan pesawat". Pesawat bukanlah restoran yang bisa kita harapkan bisa mendapat makanan berkualitas tinggi dan fresh. Apalagi hanya sebatas kelas ekonomi. Tapi mungkin harapan saya sedikit berlebih dengan makanan yang akan disajikan, mengingat Turkish Airlines pernah dinobatkan sebagai maskapai dengan katering ekonomi terbaik.


Penerbangan dari Oslo ke Istanbul menunya cukup menggiurkan. Dari jauh saya sudah mencium segarnya bau roti panas dari troli awak kabin. Pilihan menu yang ditawarkan saat itu ada pasta dan ayam. Bapak di samping saya memilih pasta, sementara saya memilih ayam.

Saya melirik sekilas nampan makan si bapak saat dia membuka foil-nya. Pfft.. membosankan. Hanya penne dan saus tomat bertaburkan daun basil. Muka si bapak sepertinya tidak puas dengan menu yang dia pilih.

Pilihan saya saat itu tepat karena ayam disajikan dengan mashed potato dan fried veggies. Ayamnya lembut dan zucchini-nya, meskipun sederhana tapi sangat enak. Karena memang tidak terlalu suka salad dan dessert di menu pesawat, saya selalu absen menghabiskan dua makanan tersebut. Sempat mencicipi sedikit pudding kuningnya, rasanya biasa saja.


Rute kembali ke Oslo, menu makanan yang ditawarkan lagi-lagi pasta dan nasi daging. Saya skip pasta dan memilih nasi. Berharap menu kali ini sama lezatnya dengan yang saya makan di Istanbul, ternyata sangat mengecewakan! Nasinya mirip nasi bebek, keras dan kering. Sepertinya ini nasi yang dimasak sudah lama dan berkali-kali dipanaskan di microwave.

Nasi kering tersebut dipadukan dengan daging cincang dan tipikal masakan Turki, menggunakan terong goreng. Hambar. Tapi sedikit masih mending ketimbang menu pasta yang ternyata sama saja seperti rute dari Oslo. Tidak menarik sama sekali.

In-flight entertainment


Turkish Airlines cukup baik menghadirkan hiburan saat pesawat harus terbang lebih dari 3 jam. Banyak maskapai yang meniadakan hiburan di pesawat kecil dengan rute sekitaran Eropa. Di Asia pun, tidak semua full aboard airlines terdapat layar hiburan di tiap kursi.

Bandara Internasional Istanbul Ataturk

Tiba di Attaturk, saya langsung menuju immigration border bandara yang sudah penuh oleh antrian pengunjung. Yang datang ke Turki ternyata ramai sekali. Terbukti dari antrian yang panjaaaang dan terus bergerak tanpa henti. Saya menunggu sekitar 40 menit sebelum akhirnya e-visa dan paspor saya dicap oleh petugas imigrasi. Si petugas juga tidak rewel karena kebanyakan malah tidak mengecek e-visa sama sekali.

Kesalnya dari bandara ini hanya satu, WiFi-nya pelit bukan main. Dalam waktu satu minggu, penumpang hanya mendapatkan jatah browsing 120 jam saja! Sementara kalau ingin berselancar lebih lama, kita terpaksa harus membeli SIM Card lokal yang harga paket datanya pun tidak murah. Padahal saya harus transit untuk penerbangan berikutnya selama 5 jam. Meskipun begitu, saya tidak tertarik membeli SIM Card baru karena masih bisa menggunakan paket data roaming kalau kepepet.


Overall, saya suka Turkish Airlines. Tapi hanya akan memberi angka 6.5 untuk servis keseluruhan. Pramugarinya juga tidak murah senyum dan cenderung dingin. Makanannya biasa saja, bahkan kurang bervariasi. Mungkin pengalaman ini hanya saya dapatkan saat terbang melintasi Eropa yang durasinya tidak lama. Bisa jadi Turkish Airlines lebih care terhadap servis mereka saat penerbangan panjang di pesawat yang lebih besar.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bule Ketemu Online, Bisakah Serius?

( PERHATIAN!!! SAYA BANYAK SEKALI MENERIMA TESTIMONIALS SOAL COWOK-COWOK DARI INGGRIS YANG MEMINTA ALAMAT SI CEWEK YANG DIKENAL VIA ONLINE. FYI , HAMPIR SEMUA MODUS PENIPUAN SEPERTI INI BERASAL DARI INGGRIS DAN AMERIKA! JANGAN PERNAH TERTIPU KEMASAN KULIT PUTIHNYA, KARENA BISA JADI YANG KALIAN AJAK CHATTING -AN ATAU VIDEO CALL -AN ITU ADALAH PENIPU !! JANGAN PERNAH BERI DATA DIRI SEPERTI NAMA LENGKAP, ALAMAT, SERTA NOMOR IDENTITAS ATAU KARTU KREDIT KE ORANG-ORANG ASING LEWAT DUNIA DIGITAL! BE SMART, BE AWARE, AND PLEASE JANGAN DULU BAPERAN KALO ADA YANG MENGAJAK NIKAH PADAHAL BARU SEMINGGU KENAL!!!) Selain berniat jadi au pair, ternyata blog saya banyak dikunjungi oleh cewek-cewek Indonesia yang ingin pacaran atau sedang dekat dengan bule. Gara-gara tulisan tentang cowok Eropa dan cowok Skandinavia , banyak pembaca blog yang mengirim surel ke saya dan curhat masalah cintanya dengan si bule. Aduh, padahal saya jauh dari kata "ahli" masalah cinta-cintaan. Saya sebetu

Mempelajari Karakter Para Cowok di Tiap Bagian Eropa

*I talk a lot about European boys in this blog, but seriously, this is always the hottest topic for girls! ;) Oke, salahkan pengalaman saya yang jadi serial dater  selama tinggal di Eropa. Tapi gara-gara pengalaman ini, saya juga bisa bertemu banyak orang baru sekalian mempelajari karakter mereka. Cowok-cowok yang saya temui ini juga tidak semuanya saya kencani. Beberapa dari mereka saya kenal saat workshop, festival, ataupun dari teman. Beruntung sekali, banyak juga teman-teman cewek yang mau menceritakan pengalamannya saat berkencan dari cowok ini, cowok itu, and all of them have wrapped up neatly in my head! Secara umum, tulisan yang saya ceritakan disini murni hasil pengalaman pribadi, pengalaman teman, ataupun si cowok yang menilai bangsanya secara langsung. Letak geografis Eropanya mungkin sedikit rancu, tapi saya mengelompokkan mereka berdasarkan jarak negara dan karakter yang saling berdekatan. Kita semua benci stereotipe, tapi walau bagaimana pun kita tetaplah bagi

7 Kebiasaan Makan Keluarga Eropa

Tiga tahun tinggal di Eropa dengan keluarga angkat, saya jadi paham bagaimana elegan dan intimnya cara makan mereka. Bagi para keluarga ini, meja makan tidak hanya tempat untuk menyantap makanan, tapi juga ajang bertukar informasi para anggota keluarga dan pembelajaran bagi anak-anak mereka. Selain table manner , orang Eropa juga sangat perhatian terhadap nilai gizi yang terkandung di suatu makanan hingga hanya makan makanan berkualitas tinggi. Berbeda dengan orang Indonesia yang menjadikan meja makan hanya sebagai tempat menaruh makanan, membuka tudung saji saat akan disantap, lalu pergi ke ruang nonton sambil makan. Selama tinggal dengan banyak macam keluarga angkat, tidak hanya nilai gizi yang saya pelajari dari mereka, tapi juga kebiasaan makan orang Eropa yang sebenarnya sangat sederhana dan tidak berlebihan. Dari kebiasaan makan mereka ini juga, saya bisa menyimpulkan mengapa orang-orang di benua ini awet tua alias tetap sehat menginjak usia di atas 70-an. Kuncinya, pola

Jadi Au Pair Tidak Gratis: Siap-siap Modal!

Beragam postingan dan artikel yang saya baca di luar sana, selalu memotivasi anak muda Indonesia untuk jadi au pair dengan embel-embel bisa jalan-jalan dan kuliah gratis di luar negeri. Dipadu dengan gaya tulisan yang meyakinkan di depan, ujung tulisan tersebut sebetulnya tidak menunjukkan fakta bahwa kamu memang langsung bisa kuliah gratis hanya karena jadi au pair. Banyak yang memotivasi, namun lupa bahwa sesungguhnya tidak ada yang gratis di dunia ini. Termasuk jadi au pair yang selalu dideskripsikan sebagai program pertukaran budaya ke luar negeri dengan berbagai fasilitas gratisan. First of all , jadi au pair itu tidak gratis ya! Ada biaya dan waktu yang harus kamu keluarkan sebelum bisa pindah ke negara tujuan dan menikmati hidup di negara orang. Biaya dan waktu ini juga tidak sama untuk semua orang. It sounds so stupid kalau kamu hanya percaya satu orang yang mengatakan au pair itu gratis, padahal kenyatannya tidak demikian. Sebelum memutuskan jadi au pair, cek dulu biaya apa s

Guide Untuk Para Calon Au Pair

Kepada para pembaca blog saya yang tertarik menjadi au pair, terima kasih! Karena banyaknya surel dan pertanyaan tentang au pair, saya merasa perlu membuat satu postingan lain demi menjawab rasa penasaran pembaca. Mungkin juga kalian tertarik untuk membaca hal-hal yang harus diketahui sebelum memutuskan jadi au pair  ataupun tips seputar au pair ? Atau mungkin juga merasa tertantang untuk jadi au pair di usia 20an, baca juga cerita saya disini . Saya tidak akan membahas apa itu au pair ataupun tugas-tugasnya, karena yang membaca postingan ini saya percaya sudah berminat menjadi au pair dan minimal tahu sedikit. Meskipun sudah ada minat keluar negeri dan menjadi au pair, banyak juga yang masih bingung harus mulai dari mana. Ada juga pertanyaan apakah mesti pakai agen atau tidak, hingga pertanyaan soal negara mana saja yang memungkinkan peluang kerja atau kuliah setelah masa au pair selesai. Oke, tenang! Saya mencoba menjabarkan lagi hal yang saya tahu demi menjawab rasa penasar