Dari Kencan Jadi Teman

Sunday, 2 September 2018



Kalau kamu berpikir fungsi online dating di Eropa hanya untuk cari pacar, gebetan, atau teman tidur, then think again. Seorang kenalan saya malah mendapatkan pekerjaan dari cowok yang dikenalnya lewat OK Cupid. Saya, ketimbang mencari pacar, malah lebih memanfaatkan online dating sebagai wadah mencari teman jalan.

Dari awal main OK Cupid dan Tinder, saya memang sudah tidak ada niat mencari pasangan. Mengapa, karena pertama kali menggunakan OK Cupid saat itu posisinya saya sedang di Belgia. Beberapa bulan kemudian, saya sadar harus pulang ke Indonesia. Jadi daripada capek-capek memikirkan para si bule Belgia itu dan memutuskan LDR, saya lebih memilih untuk mencari pengalaman jalan saja dengan mereka.

Cari teman via online dating sebetulnya mengkhinati tujuan utama online dating itu sendiri. But, actually it worked! 

Adalah Michi (saya memanggilnya), cowok Belgia yang saya temui 4 tahun lalu di Tinder. Michi 100% bukan tipe saya. Tapi karena memang saat itu tidak berniat cari pacar, saya swipe right saja semua profil cowok yang ada 'bio'-nya. No bio? No swipe right! Saya tidak perlu yang ganteng, karena tujuannya memang hanya cari teman mengobrol. Ujungnya, saya juga yang kelelahan membalas pesan yang masuk.

FYI, cowok Belgia lebih gampang diajak cerita dan ketemuan. Mereka juga tipikal cowok easy going yang isi otaknya tidak melulu soal selangkangan. Kalau memang tujuan beberapa cowok hanya mencari teman tidur, biasanya di kencan pertama mereka sudah jujur ke kalian. Sisanya, cowok Belgia adalah tipe pemalu-tapi-pede yang selalu berusaha untuk mengenal mu lebih jauh. Cowok Belgia itu ibarat buah persik yang lunak di luar, keras di dalam. Artinya, mereka sangat mudah membuka diri dan berteman dengan siapa pun, tapi kamu akan sedikit kesulitan untuk memahami isi hati mereka.

Pertemuan pertama saya dan Michi jauh dari kata mainstream. Kami tidak bertemu di kafe, restoran, ataupun taman. Saya juga sedikit canggung menyebut pertemuan pertama ini "dating" karena faktanya, saya mengajak doi road tripping!

Entah kenapa saya percaya saja dengan cowok ini setelah mengobrol nonstop sekitar 4 harian lewat texting. Saya tidak menemukan gelagat Michi yang hanya cari teman tidur. Bahasanya pun sangat sopan dan grammar-nya bagus. Bosan di rumah sendirian dan malas dengan atmosfir Antwerp atau Ghent yang begitu-begitu saja, saya mengajak Michi jalan ke tempat lain yang ternyata diiyakan oleh dia. Saya usul ide road trip, Michi pun tak ragu mengiyakan lagi. Wahh, pas sekali!

Tujuan kami saat itu sebetulnya Belgia Selatan. Tapi setelah memikirkan ongkos bensin dan waktunya, akhirnya kami sepakat menuju Aachen, Jerman. Tak tanggung-tanggung, saya mengajak seorang teman, Alin, agar perjalanan kali ini ongkosnya bisa dibagi. Entahlah apa ini menyebutnya, yang jelas kami seperti butuh tumpangan dan sopir saja. It was definitely not a hitchhike because we paid for it.

Then, there we were! Saya, Michi, dan Alin jalan ke Aachen dan mengobrol santai di mobil. Tidak ada rasa canggung sedikit pun karena saya dan Alin merasa sudah mengenal lama cowok ini. Michi adalah cowok Kristen taat yang setiap minggu rajin datang ke gereja. Seperti para bule taat lainnya, Michi juga menghindari seks sebelum menikah, no hard party, dan sebisa mungkin mengurangi alkohol. Teman saya, Gita, sampai menjuluki Michi "Si Bule Soleh". Mungkin gara-gara hal ini juga, Michi sangat sulit menemukan pasangan di Belgia. Bahkan menurut pengakuannya, hampir 98% cewek yang Matched dengannya di Tinder hanyalah Bot iklan! Poor you, Michi!

Setelah pertemuan pertama kami ke Aachen, saya tetap in contact dengan Michi karena saya tahu, he is a good guy. Saya lupa kemana kami bertemu selanjutnya, tapi di satu pertemuan lain, Michi adalah seorang malaikat penolong.

Suatu hari, saya dan Anggi, teman au pair Indonesia, berniat travelling ke Italia. Penerbangan kami saat itu dari Bandara Charleroi yang letaknya 111 km dari Ghent. Maklum, bandara tempat pesawat murah memang lokasinya jauh di selatan Belgia. Karena pesawat akan berangkat jam 7 pagi, kami harus menumpang bus transfer dari Ghent sekitar jam setengah 4 pagi. Sialnya, saya dan Anggi salah tempat menunggu hingga kami ketinggalan bus!

Kami sebetulnya sangat kecewa. Apalagi saya merasa bersalah karena saya lah yang menuntun Anggi ke tempat menunggu yang salah. Kalau gagal ke bandara, artinya kami harus membatalkan jalan-jalan yang sudah direncanakan sejak lama ini.

Kami sudah bertanya ke pihak taksi Stasiun Ghent berapa tarif menuju Charleroi. Harganya mahal sekali, sekitar €100. Sudah ditawar mati-matian, si sopir bersedia dibayar €80 saja tapi pakai cash. Anggi sebetulnya mau-mau saja, tapi uang tunai yang dia punya tidak cukup.

Tidak kehilangan ide, Anggi berusaha menelpon pacarnya karena siapa tahu si pacar mau repot-repot datang, menjemput ke Ghent, dan mengantar ke Charleroi. Tapi ia batalkan karena ingat si pacar ini barusan mengantarnya ketemu saya dan paginya doi juga harus kerja. Kasihan juga kalau harus disuruh bolak-balik lagi.

"Nin, telpon gebetan kamu!" kata Anggi tiba-tiba.

"What?!"

* Jadi ceritanya, kami pernah ingin menghadiri shalat Idul Fitri bersama di KBRI Brussels. Karena bangun kesiangan, kami dipastikan akan telat datang kalau harus menggunakan bus. Belum lagi Belgia sedang diguyur hujan deras pagi itu. Ujung-ujungnya saya terpaksa menelpon Kenneth, bapak-bapak yang sempat flirting dengan saya di TK si host kid, untuk minta diantar! Dang, I felt like a whore! Saya sebetulnya tahu bapak itu sudah punya pacar dan anak, tapi Anggi tetap memaksa saya menelponnya karena siapa tahu si Kenneth mau. Ternyata betul, Kenneth bersedia mengantar kami pagi itu. Tak tanggung-tanggung, si anak juga dibawa di kursi belakang. *

"Iya, tapi siapa yang mau bangun dan mengangkat telpon jam 4 pagi begini?!" kata saya pesimis.

"Duh, coba saja! Siapa tahu ada yang mau," Anggi tetap optimis, meskipun mukanya juga sudah pasrah.

Oke, saya coba! Percobaan pertama adalah menghubungi Sibren, cowok cute yang saya kencani pertama kali di Belgia. Sebetulnya saya sudah ingin menghindari doi, tapi saat itu lagi urgent. Untungnya Sibren tidak mengangkat.

Selanjutnya adalah Ken, cowok yang pernah memainkan piano untuk saya di Laarne. Tidak aktif!

Steven...

"Duh, tapi si Steven ini yang waktu itu mau main sosor, lalu saya tolak mentah-mentah. Mana mau dia angkat telpon," batin saya saat itu.

Well, the last guy.... Michi!

...

Diangkaaaat!

"Michi!!!!! Finally you pick up my call!" kata saya heboh tanpa memikirkan Michi yang masih setengah sadar di seberang sana.

Saat itu saya dan Anggi bergantian mencoba memberi penjelasan ke Michi tentang kondisi kami. Michi tentu langsung menolak mentah-mentah dan menyuruh kami naik taksi saja ke bandara. Sudah kami jelaskan, mahal.

"Well, Nin, kamu kan tahu saya tinggal dimana. Kalau saya harus menjemput kalian ke Ghent dulu, akan memakan waktu sekitar 1 jam. Lalu dari Ghent ke Charleroi, makan waktu lebih dari 1 jam lagi. Kalau dihitung-hitung, kalian tidak akan sempat juga boarding."

Again, kami tidak berhenti memohon karena dia satu-satunya cowok yang mau mengangkat telpon di pagi buta. Kami tetap merasa kalau nasib travelling kami ada di tangan Michi. Tapi lagi-lagi ditolak! Meskipun kami sudah berusaha mati-matian menawarkan akan bayar ongkos bensin dobel, Michi tetap bergeming.

Kami tahu saat itu kami sangat egois. Membangunkan para gebetan Tinder jam 4 pagi hanya untuk dijemput dan minta antar ke bandara bukanlah ide yang jenius. But well, at least we have tried.

Jam setengah 5 pagi, kami sudah pasrah saja dan mulai membuat rencana baru kalau memang gagal jalan-jalan ke Italia. Lalu, tiba-tiba ponsel saya berdering...

"Nin, if there is nothing you can do, I am available now!"

Michi!! That was HIM!

"I will be ready in 10-15 minutes and pick you up in Ghent. I will try my best to be in Charleroi before 7," katanya lagi.

Michi, you were THE real hero! Michi betul-betul datang menjemput kami ke Ghent dan berlalu dengan mobilnya menuju Charleroi. Meskipun waktu kami sampai di bandara sangat mepet sekali, but we made it!

"Karena saat itu saya sudah wide awake gara-gara kalian menelpon. Mencoba tidur lagi tidak bisa. Jadi ya sudahlah, saya akhirnya berpikir untuk menelpon kamu lagi dan menanyakan keadaan," kata Michi saat ditanya alasannya mengapa ingin datang dan mengantar kami ke bandara.

Entahlah alasannya memang karena berniat baik ingin mengantar kami, atau hanya tergiur dengan uang bensin dobel yang akan diberikan. Tapi kalaupun karena uang, kami sebetulnya hanya membayar Michi €27 saat itu karena doi tidak mau dibayar lebih. Whatever the reason was, kami sangat berhutang budi dengan Michi karena sudah mengantarkan kami sampai Italia. Saya tak pernah tahu cowok mana lagi yang bersedia dibangunkan jam 4 pagi dan disuruh antar jemput kesana kemari. To be noted, Michi ini posisinya saat itu belum jadi teman dan masih gebetan ala-ala.

Sejak pertemuan itu, Michi sering kali saya ajak bertemu dan dikenalkan dengan teman saya lainnya di Belgia. Doi juga secara tak langsung menjadi teman kami semua. Kadang di-bully, kadang juga disayang. Though he is a bit weird, tapi ada banyak hal yang membuat saya tidak bisa melupakan Michi. Selain sudah jadi penolong, tapi doi juga cowok positif yang tidak akan bergosip di belakang mu, cowok genuine, mandiri, dan bisa diandalkan saat kamu butuh bantuan. Tapi, jangan sesekali membahas uang dengan Michi karena doi super perhitungan dan pelitnya bukan main!

We met on Tinder, but we ended up as good pals. By now.


7 comments:

  1. Ujan-ujan...tengah malam ampir subuh,super dingin Ghent, tiba-tiba datang si sang penyelamat bumi dari kejauhan dengan mobil butut warna merah itu. Ya ampun �� Michie was the real Hero. Tapi pas mobil uda jalan ke airport. Pasrah. Gak bakal nyampe tepat waktu, ujan makin deres pulak. Ane tidur aja dah. (as always) �� tapi akhirnya nyampe juga, langsung ngegas masuk ke airport. What a dramatic night!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nahahaha... yang nyuruh telpon tempo ari muncul juga ^

      Asli!! Gak gampang nemu cowok kayak si Michi emang. Makanya kita punya like and dislike sama ni anak.

      Delete
  2. "ibarat buah persik yang lunak di luar, keras di dalam" fff
    Rada bingung sama dia yg kek gini juga, tiba-tiba warm tiba-tiba dingin terus ngilang padahal sini udah ngarep Haha. Maksudnya apa coba? bikin geregetan haha. Itu udah jadi karakter mereka semua atau emang beberapa aja ya? :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenernya aku gak mau menggeneralisasi sih. Cowok baik, brengsek, sweet, atau demen selingkuh itu gak mengenal kewarganegaraan.

      Tapi emang sih.. cowok Belgia itu gampang dideketin, mudah diajak temenan, tapi ya susah buat mengenal mereka lebih jauh. Susah buat nebak isi hatinya apaan, apa yg mereka mau, atau gimana perasaannya terhadap kamu. Kadang kita pikir mereka serius, taunya cuma nyaman doang ;D

      Kenalan dan ajak ngobrol aja sering2 biar tau maunya dia ke kamu gimana.

      Delete
    2. Hahaha, iyap ga bisa di generalisasikan. Aneh bin ajaib.
      Yah mau ngajak ngobrol lagi juga udah susah nih, dianya udah ga penah nongol duluan haha. Malah jadi pengen cerita banyak ckck.
      BTW aku enjoy banget sama blognya. Tau au pair dari sini juga, terus rada iri gitu kenapa baru tau pas umur udah 27. fff btw salam kenal ya :)

      Delete
  3. cieee.... sahabatnya. Preettt.. hahahaha
    gak di tambah ceritanya... waktu km nelpon Michi minta di jemput di Bandara (lagi!)di tahun 2016 gegara jam malam H+1 setelah bom Brussel itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Asli! Udah banyak kalo ngemis angkutan sama dia mah. Kadang diladenin, kadang kagak 🤣🤣 Yang pasti tu bocah tarifnya udah kayak Go-Car.

      Delete