Mengurus Anak Lebih Mudah Ketimbang Mengurus Tanaman

Sunday, 25 November 2018



Beberapa waktu yang lalu saya melihat Instagram Story seorang teman berkata bodoh, “kelihatannya lebih mudah mengurus tanaman ya daripada mengurus anak”. Saya menahan napas sejenak. Lalu rasanya ingin saya kuncit mulut doi dan jambak rambutnya. 

Segitunya saya, karena si teman ini guru TK dan mantan au pair juga. Yang saya tahu, anak-anak yang pernah diurusnya berusia 4-6 tahunan. Mungkin karena host kids-nya sudah cukup mandiri, makanya doi anteng saja mengajak main, mendadani, atau memberi makan. Beres.

Saya sudah tiga kali jadi au pair dan anak-anak yang saya urus usianya beragam, mulai dari 3 minggu sampai 12 tahun. Jam terbang saya tentu saja lebih tinggi karena pengalaman mengasuh anak lebih banyak, terutama bayi. Sebagai informasi juga, saya pernah jadi guru TK selama lebih dari setahun setengah. Kalau disuruh memilih antara mengurus tanaman atau anak, tentu saja saya ingin menjerit lebih baik mengurus tanaman. Si tanaman tidak perlu kalian gendong, suapi, mandikan, ataupun ajak bermain. Si tanaman juga tidak akan menangis di tengah malam ataupun berisik minta dibelikan jajanan saat di jalan.

Saya tidak perlu punya keturunan lebih dahulu untuk tahu betapa lelah dan stressnya mengasuh anak. Mungkin akan ada yang berkomentar, “mengasuh anak sendiri berbeda dengan mengasuh anak orang”. No, peeps. It’s totally the same! Jangan mentang-mentang para host kids tidak lahir dari rahim saya, lalu bisa diperlakukan ala kadarnya. Tentu saja tidak. Saya tetap berperan layaknya orang tua ketiga yang ikut mengasuh dan menyayangi mereka. Pola asuh yang sering orang tuanya terapkan pun selalu saya aplikasikan juga ke anak-anaknya. Apalagi selain dibayar, saya mendapat kepercayaan penuh dari si orang tua langsung.

Sama seperti halnya hewan peliharaan yang masuk menjadi bagian anggota keluarga. Meskipun hewan tersebut bukan dari kandungan kita, mustahil kita bisa memperlakukan mereka seenaknya. Ada rasa tanggung jawab, kasih sayang, dan peduli yang kita curahkan. Dipeluk, diberi kandang yang layak dan makanan yang sehat, serta dibawa ke dokter kalau sakit. Bedanya, hewan peliharaan tidak akan seberisik anak-anak. Hewan peliharaan juga tidak perlu ditimang ataupun diganti popoknya setiap waktu.


Lalu mungkin ada lagi yang berkomentar, “alah.. situ kan cuma babysitter yang jaga bayi sebentar-sebentar, tidak 24 jam. Mana tahu seninya mengurus anak.” Kalau masalah pengalaman, jam terbang saya lagi-lagi lebih lama dari para ibu muda yang ada di luar sana. Saya pernah 'dikarunia' tugas mengasuh dua anak berusia di bawah 3 tahun plus satu anjing selama 4 hari 3 malam saat orang tua mereka liburan ke Inggris. Ini yang babysitting-nya non stop 4 hari. Belum lagi babysitting lain yang harus juga saya tangani. Saking fokusnya dan harus membagi atensi ke semua anak, saya sampai tidak punya waktu untuk mandi dan mengurus laundry. Lelah sekali. Saat mengajak anjing jalan pun, dua anak lainnya mesti diajak. Ya jadilah stroller penuh membawa para asuhan. Belum kali kalau si bayi teriak lapar, si kakak minta tambahkan susu, sementara perut saya pun sudah merongrong minta makan. Aaaargghh!

Si teman saya tadi mungkin belum pernah berurusan dengan popok kotoran, jeritan bayi di pagi hari, intervensi saat tidur, ataupun lelahnya raga saat harus mengurus para anak ketika tantrum menyerang. Di pikirannya mungkin punya anak itu selalu menyenangkan ataupun menggemaskan. There.. there.. the truth is far from that! Main dulu yang jauh, bertemanlah dengan para ibu muda yang sering juga mengeluh saat mengurus anak. Kalau perlu, latihan dulu mengasuh anak orang di bawah usia 5 tahun selama satu minggu penuh agar tahu mana tanaman, mana anak-anak.

Children are nightmares and uneasy creatures. Jangan pernah samakan mereka dengan tanaman. Ada pikiran, tenaga, waktu, dan materi yang dikorbankan untuk mereka. Bahkan ada yang mengatakan, mengurus dan mendidik anak perempuan lebih sulit ketimbang mengurus 10 ekor kerbau. Jadi kalau disuruh pilih mengurus anak, hewan peliharaan, atau tanaman, saya mencoret opsi pertama 


2 comments:

  1. Hi ka nin
    Saya seorang laki2. Bisakah saya menjadi au pair?. Nanti setelah lulus smk saya ingin berkeliling dunia gitu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa. Tapi peluangnya keciiiiiil banget, soalnya hf lebih prefer cewek sih. Kalo kamu bisa meyakinkan mereka, apalagi kalo anaknya cowok semua, mungkin aja bisa mengubah pikiran hf buat nge-hire kamu. Sukses ya :)

      Delete