Skip to main content

Pacaran, Siapa yang Bayar?


Saya cukup jengah mendengar beberapa komplain dari para au pair pencari cinta yang saya temui di Eropa. Urusan cinta mereka memang bukan urusan saya. Terserah mereka ingin mencari cowok dari belahan dunia mana pun. Tapi please, be independent, Girls!

Siang ini saya lagi-lagi mendengar keluhan yang sama dari seorang teman yang membandingkan pacarnya dengan pacar au pair Filipina. Entah kenapa, si teman ini merasa gadis Filipina yang dikenalnya selalu beruntung dan bisa dengan mudah saja mendapatkan pacar. Tak hanya sampai disitu, si au pair Filipina ini juga bisa membujuk pacarnya untuk menikahi doi sebelum masa kontrak berakhir. Betul-betul cerdik memanfaatkan kesempatan untuk menjamin permit tinggal tanpa harus pulang dulu ke negaranya.

Satu lagi yang membuat teman saya ini iri, pacar si Filipina tersebut dengan royalnya juga menggelontorkan sejumlah uang untuk membiayai semua biaya travelling ke negara asal si cewek. Lalu nasib si teman saya ini, boro-boro dibayari urusan travelling dan diajak nikah, ditraktir makan di restoran pun jarang.

"Kok mereka itu beruntung sekali ya? Sudah ketemu cowoknya mudah, langsung diajak nikah, dibayari ini itu pula!" keluh teman saya ini.

Sebetulnya tidak hanya au pair Filipina saja yang menurut saya punya karakteristik seeking a (established) white guy for a better life. Satu orang teman au pair Indonesia bahkan punya seleranya sendiri terhadap cowok asing yang akan dia kencani atau pacari. Yang pasti bukan pelajar dan umurnya harus di atas 35 karena dinilai sudah mapan. Tapi ya betul saja, doi memang bisa jalan-jalan gratis ke Swiss dan beberapa negara di Eropa karena si pacar yang membayari. Kamu iri? Jangan!

Ini Eropa, bukan Asia. Cowok Eropa tentu saja berbeda dengan cowok Asia yang selalu dituntut untuk terus-terusan punya modal saat berkencan. Tidak juga semua cowok Eropa berusia matang punya modal yang sama layaknya pacar teman saya tersebut.

Okelah, cowok Selatan dan Timur Eropa mungkin tipikal cowok dominan yang sedikit konservatif dan biasanya merekalah yang selalu membayari. Tapi kalau kamu ke Utara dan Barat Eropa, jangan harap akan menemukan kultur yang sama. Saya pernah membahas tentang budaya kencan di Skandinavia yang sering kali membuat para cewek asing syok, terutama soal siapa yang bayar saat berkencan. Dua orang teman mengatakan kalau opini saya salah karena beberapa cowok membayari mereka habis-habisan saat kencan. Bahasa lainnya; tidak perhitungan dan tidak pelit.

Girls, tunggu sampai kalian pacaran! The table now turns!

Cowok Eropa itu tidak semuanya kaya raya dan mau membagi uangnya hanya untuk kebutuhan mu. Mereka lebih menyukai cewek-cewek independen yang setidaknya bisa berbagi pengeluaran meskipun sedikit. Contohnya, kalau si pacar sudah membayari makan malam yang harganya €70, bolehlah kita membayari minum setelahnya meskipun hanya €30.

Urusan sharing bills ini bisa juga berganti-ganti. Mungkin weekend ini si pacar yang mentraktir kita makan, lalu minggu depannya kita gantian membayari tiket nonton. Trust me, he would appreciate that!

Sebetulnya tidak semua au pair yang saya kenal manja dan terlalu bergantung dengan pacar bulenya. Ada juga yang sedikit feminis dan gengsi kalau si cowok terus-terusan membayari. Saya berteman dengan mantan au pair yang cerita kalau dia dulunya sering membayari makan saat pacaran dan pernah mengeluarkan kocek €150 untuk taksi pulang karena si pacar belum gajian.

Si teman ini juga tidak masalah membayar kamar hotel sebesar €100 per malam, meskipun si pacar hanya bisa membayari tiket bus seharga €20 saja saat mereka liburan ke Paris. Padahal si pacar ini punya pekerjaan yang cukup oke di perusahaan telekomunikasi. Tapi karena saat itu momennya memang si pacar belum ada uang, tapi teman saya memaksa jalan, makanya mau tidak mau teman saya yang menanggung.

Teman-teman au pair lain juga mengaku akan berbagi pengeluaran dengan pacar, terutama saat liburan. Seorang teman pernah cerita punya mantan pacar Belgia yang perhitungannya minta ampun, sampai harus pas 50:50. Padahal teman saya ini dulunya masih pelajar dan si pacar sudah bekerja. Ingin bernego 70:30 saja rasanya tidak mau.

Saya sendiri, kencan di awal-awal keseringan cowoklah yang membayari. Tapi kalau memang sedang punya uang atau baru gajian, ya apa salahnya juga gantian mentraktir. Apalagi kalau sudah pacaran dan tinggal bersama, menurut saya sharing bills is a must! Percayalah, para cowok Eropa ini sebetulnya sangat hepi kalau kita ingin berbagi. Most of them understand how limited our pocket money is and I believe every penny helps. 

Lagipula, kalau memang ingin cari yang mapan dan langsung menerima kita apa adanya, silakan lirik saja abah-abah atau aki-aki kesepian yang siap menikahi mu bulan depan! Bermimpi punya pacar muda, kaya raya, tampan, royal terhadap uang jajan, mau membantu mengurus anak atau rumah, dan siap mencintai mu apa adanya? Tentu saja tidak mudah, Girls!


Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Bule Ketemu Online, Bisakah Serius?

( PERHATIAN!!! SAYA BANYAK SEKALI MENERIMA TESTIMONIALS SOAL COWOK-COWOK DARI INGGRIS YANG MEMINTA ALAMAT SI CEWEK YANG DIKENAL VIA ONLINE. FYI , HAMPIR SEMUA MODUS PENIPUAN SEPERTI INI BERASAL DARI INGGRIS DAN AMERIKA! JANGAN PERNAH TERTIPU KEMASAN KULIT PUTIHNYA, KARENA BISA JADI YANG KALIAN AJAK CHATTING -AN ATAU VIDEO CALL -AN ITU ADALAH PENIPU !! JANGAN PERNAH BERI DATA DIRI SEPERTI NAMA LENGKAP, ALAMAT, SERTA NOMOR IDENTITAS ATAU KARTU KREDIT KE ORANG-ORANG ASING LEWAT DUNIA DIGITAL! BE SMART, BE AWARE, AND PLEASE JANGAN DULU BAPERAN KALO ADA YANG MENGAJAK NIKAH PADAHAL BARU SEMINGGU KENAL!!!) Selain berniat jadi au pair, ternyata blog saya banyak dikunjungi oleh cewek-cewek Indonesia yang ingin pacaran atau sedang dekat dengan bule. Gara-gara tulisan tentang cowok Eropa dan cowok Skandinavia , banyak pembaca blog yang mengirim surel ke saya dan curhat masalah cintanya dengan si bule. Aduh, padahal saya jauh dari kata "ahli" masalah cinta-cintaan. Saya sebet

Mempelajari Karakter Para Cowok di Tiap Bagian Eropa

*I talk a lot about European boys in this blog, but seriously, this is always the hottest topic for girls! ;) Oke, salahkan pengalaman saya yang jadi serial dater  selama tinggal di Eropa. Tapi gara-gara pengalaman ini, saya juga bisa bertemu banyak orang baru sekalian mempelajari karakter mereka. Cowok-cowok yang saya temui ini juga tidak semuanya saya kencani. Beberapa dari mereka saya kenal saat workshop, festival, ataupun dari teman. Beruntung sekali, banyak juga teman-teman cewek yang mau menceritakan pengalamannya saat berkencan dari cowok ini, cowok itu, and all of them have wrapped up neatly in my head!

7 Kebiasaan Makan Keluarga Eropa

Tiga tahun tinggal di Eropa dengan keluarga angkat, saya jadi paham bagaimana elegan dan intimnya cara makan mereka. Bagi para keluarga ini, meja makan tidak hanya tempat untuk menyantap makanan, tapi juga ajang bertukar informasi para anggota keluarga dan pembelajaran bagi anak-anak mereka. Selain table manner , orang Eropa juga sangat perhatian terhadap nilai gizi yang terkandung di suatu makanan hingga hanya makan makanan berkualitas tinggi. Berbeda dengan orang Indonesia yang menjadikan meja makan hanya sebagai tempat menaruh makanan, membuka tudung saji saat akan disantap, lalu pergi ke ruang nonton sambil makan. Selama tinggal dengan banyak macam keluarga angkat, tidak hanya nilai gizi yang saya pelajari dari mereka, tapi juga kebiasaan makan orang Eropa yang sebenarnya sangat sederhana dan tidak berlebihan. Dari kebiasaan makan mereka ini juga, saya bisa menyimpulkan mengapa orang-orang di benua ini awet tua alias tetap sehat menginjak usia di atas 70-an. Kuncinya, pola

Hal yang Harus Diketahui Sebelum Memutuskan Jadi Au Pair

Nyaris empat bulan saya disini, masih banyak saja tanggapan dan respon positif bahkan negatif dari orang terdekat saat tahu saya sedang di luar negeri. Ada yang menganggapnya wah sekali karena beruntung mendapatkan kesempatan ke luar negeri, ada juga yang menganggapnya biasa saja saat tahu pekerjaan saya sebagai au pair. Au pair bukanlah pekerjaan yang berjenjang karir, tapi menurut saya program ini bisa memberikan pengalaman yang keren sekali (atau bahkan buruk sekali). Au pair memang bisa disamakan dengan homestay, sebuah program pertukaran budaya yang ditawarkan oleh beberapa yayasan dan beasiswa di Indonesia. Bedanya, kita juga bisa mencari uang dari keluarga tersebut dengan membantu mereka mengurus anak, bersih-bersih, atau melakukan pekerjaan rumah tangga lainnya. Upahnya? Jangan dikurs ke rupiah ya. Memang upahnya tergolong tinggi saat dibawa ke Indonesia. Tapi, biaya hidup di Eropa yang juga sama tingginya, menegaskan kalau upah yang kita terima ini sebandin

Guide Untuk Para Calon Au Pair

Kepada para pembaca blog saya yang tertarik menjadi au pair, terima kasih! Karena banyaknya surel dan pertanyaan tentang au pair, saya merasa perlu membuat satu postingan lain demi menjawab rasa penasaran pembaca. Mungkin juga kalian tertarik untuk membaca hal-hal yang harus diketahui sebelum memutuskan jadi au pair  ataupun tips seputar au pair ? Atau mungkin juga merasa tertantang untuk jadi au pair di usia 20an, baca juga cerita saya disini . Saya tidak akan membahas apa itu au pair ataupun tugas-tugasnya, karena yang membaca postingan ini saya percaya sudah berminat menjadi au pair dan minimal tahu sedikit. Meskipun sudah ada minat keluar negeri dan menjadi au pair, banyak juga yang masih bingung harus mulai dari mana. Ada juga pertanyaan apakah mesti pakai agen atau tidak, hingga pertanyaan soal negara mana saja yang memungkinkan peluang kerja atau kuliah setelah masa au pair selesai. Oke, tenang! Saya mencoba menjabarkan lagi hal yang saya tahu demi menjawab rasa penasar