Langsung ke konten utama

Pengalaman Tes IELTS Kedua di IALF Palembang


Kalau kalian perhatikan, blog saya miskin postingan sejak bulan lalu. Percayalah, saya juga merasa bersalah kalau absen mengisi blog setiap minggunya. Tapi fokus saya teralihkan karena harus belajar IELTS lagi untuk tes di awal Januari. Hampir dua tahun lalu saya pernah ikut tes di Kopenhagen, tapi nilainya belum memenuhi syarat minimum penerimaan kuliah Master. Iya, saya memang berencana lanjut kuliah di Eropa selepas au pair ini.

Karena di pertengahan Januari saya akan pulang dulu ke Palembang, saya berharap bahwa jadwal tes akan sama dengan jadwal kepulangan kesana. Kalau tidak, opsi lainnya saya harus ke Surabaya, Denpasar, atau Jakarta yang jadwalnya lebih sering. Tapi lumayan, bisa menghemat biaya ketimbang harus tes di Oslo yang harganya nyaris 5 juta rupiah!

Baca juga: Daftar Kuliah di Kampus Oslo

Di Palembang sendiri tes IELTS diselenggarakan oleh IDP dan IALF yang jadwalnya kadang hanya sekali atau dua kali per bulan. Biaya tesnya sebesar 2,9 juta rupiah dan hampir sama di seluruh Indonesia. Tapi kalau mesti tes di luar kota, artinya saya mesti keluar uang lebih dari 1 jutaan lagi. Makanya dari jauh-jauh hari saya berharap kalau jadwal tes di Palembang benar-benar bisa tepat dengan waktu saya disana.

Beruntungnya, tanggal tes dari IALF memungkinkan saya join ketimbang jadwal IDP yang seminggu lebih cepat. Untuk IALF, tes diadakan di Fotrust Education Service Palembang. Sedangkan tes oleh IDP diselenggarakan di Central International Education yang sebetulnya hanya selemparan batu dengan Fortrust.

Karena tidak ingin buang-buang uang kalau harus ikut tes lagi dan lagi, saya cukup serius belajar sekitar 1,5 bulan sebelum jadwal tes. Fokus utama saya adalah menaikkan skor Reading dan Writing yang di tes sebelumnya hanya mendapatkan 5.5. Saya tidak memiliki kiat khusus belajar, karena yang saya lakukan hanya latihan menjawab contoh soal setiap hari. Sumber latihan saya pun hanya satu, yaitu IELTS Exam Library. Tapi lumayan juga, berkali-kali mencoba contoh soal, saya bisa meningkatkan teknik screening dan scanning jawaban lebih cepat.

Sementara untuk Writing, saya mempelajari pola esai dari IELTS Advantage. Saya suka penjelasan dan teknik menulis esai disini. Dibandingkan Reading, saya sebetulnya latihan Writing kurang dari seminggu saja. Meskipun bahasa Inggris saya secara tertulis sangat pas-pasan, tapi mempelajari struktur esai yang diminta menjadi fokus utama. Seperti yang dikatakan si penulis, you just have to give what they want.

Saya juga tidak punya ekspektasi menaikkan skor total sampai harus 7 atau 8, karena syarat minimum kampus hanya 6.5. Lagipula saya sadar level bahasa Inggris saya sangat standar ditambah malasnya belajar. Makanya latihan dari satu atau dua sumber, mencari tahu trik menjawab soal, dan mengatur waktu dengan baik, adalah hal yang saya pelajari dan lakukan.

Speaking Test

Jadwal tes Speaking dilaksanakan satu hari lebih awal. Saya dikabari sekitar 10 hari sebelumnya bahwa jadwal tes saya jam 2 siang. Pihak pelaksana tidak banyak omong tentang harus membawa apa, kapan harus datang, namun intinya jangan telat.

Tiga puluh menit lebih awal, saya datang ke lokasi dan sudah ada dua orang peserta lainnya. Tidak seperti di Kopenhagen yang sangat on time, ternyata tes di Palembang super ngaret. Katanya saya akan tes jam 2 siang, ternyata pengujinya pun baru datang jam segitu. Belum lagi mereka ngerumpi dulu dan mesti menyiapkan ini itu. Setelah harus menunggu 20 menit lebih lama, saya baru memasuki ruangan tes.

Sama seperti tes terdahulu, saya cukup nervous di awal. Si pengujinya bapak-bapak tua yang berasal dari Amerika. Beliau cukup ramah tapi serius. Berikut pertanyaan yang diajukan ke saya;

Part 1:
. Do you work or study?
. Is it a good place to study?
. If you would like to change from your workplace, what it would be?
. Did you go to the cinema when you were a child? Why?
. Is your favourite movie changing from time to time?
. Do you like going to the cinema now? Why?
. How often do you go to the cinema now? Why?
. Do you like drinking water from a bottle or faucet? Why?
. Do you think buying bottled water is expensive in your area? Why?
. Have you ever experienced when you were thirsty but had nothing to drink? Why?

Part 2: A far away place
Let’s talk about a place that is far away but you will visit in the future;
. Where is it
. How would you go there
. Why would you go there
. Explain what would you do there

Part 3: Travel & Tourism
. Is it common for young people in your country to take a gap year after high school to go travelling abroad? 
. Do you think it is important for young people to travel? Why?
. Is travelling abroad cheaper than travelling within Indonesia?
. Do you think tourism in your area brings a positive impact? Why?

Listening, Reading, dan Writing Test

Esoknya, dikabarkan bahwa tes akan dimulai jam 8 pagi dan setiap peserta harus datang 30 menit lebih awal untuk registrasi biometrik. Lucunya lagi, biometrik pun baru dimulai jam 8.30. Peserta tes hanya ada 9 orang. Tempat tesnya di ruangan kecil yang juga merupakan kelas kursus bahasa Inggris di Fortrust. Pengawas tes saat itu ibu-ibu yang sepertinya dosen bahasa Inggris. Setelah membacakan tata tertib sebelum masuk ke ruangan dan membagikan alat tulis, akhirnya tes pun baru dimulai jam 9!

Saat bagian Listening, audio speaker-nya cukup bersih dan bagus namun menurut saya lebih left-centered. Saya harus betul-betul fokus ke kuping kiri saat menjawab soal. Sedikit pesimis di bagian Listening ini karena saya merasa banyak jawaban yang asal tembak di Section 2 dan 3. Fokus saya hilang saat ada satu atau dua soal yang kelewatan.

Di bagian Reading, saya hampir kehilangan banyak waktu karena fokus di Section 1 dan 2 saja. Sementara Section 3 terlihat lebih sulit hingga akhirnya saya pun asal tembak lagi di 10 soal terakhir. Saya tahu, bagian terakhir pastilah yang tersulit. Tapi kali ini benar-benar bingung, sudah di-scan berkali-kali, saya merasa tidak menemukan jawaban.

Sementara tes Writing, Part 1 berupa 2 pie charts tentang kegiatan sukarelawan di berbagai sektor dan Section 2 berupa discussion essay yang topiknya tentang Berita; lebih mudah mempelajari isi berita lewat media cetak seperti koran atau via media digital seperti media sosial. Meskipun berusaha mengingat susunan paragraf yang sempat dipelajari, ternyata saya lupa membuat overview  secara umum. Tulisan saya juga tidak terlalu bagus, terkesan datar, namun setidaknya lebih dari minimum kata yang diminta.

⚘ ⚘ ⚘

Setelah selesai tes, saya sebetulnya cukup was-was juga. Merasa tidak yakin dengan skor akhir, sampai berusaha mengira-ngira sendiri berapa skor yang akan saya dapatkan. Kalau skor kali ini tidak memenuhi syarat universitas, artinya saya harus tes ulang di Eropa dengan biaya yang lebih mahal. Tapi saya pun yakin, skor 6.5 setidaknya sudah ditangan. I have tried my best though.

Tiga belas hari sesudah tanggal tes, saya sudah bisa mengecek skor via online di website ini. Deg-degan juga karena kalau gagal, uang pun melayang lagi. But... I PASSED IT! Skor saya betul-betul pas memenuhi syarat masuk universitas. Nilai Listening yang saya kira akan kecil, ternyata jadi yang paling besar. Sementara Reading saya yang kemarin hanya 5.5 lumayan naik jadi 6.5 meskipun dari hasil tembak-tembakan jawaban. Lalu Writing, hanya dapat 6.0 meskipun naik sedikit dari tes sebelumnya.

Baca juga: Rasanya Jadi Mahasiswa Lagi

Overall, saya sangat bersyukur bisa tembus 6.5. Artinya, saya bisa absen belajar IELTS sampai beberapa tahun ke depan dan siap mendaftar ke kampus-kampus di Eropa. Hope me for the best!


Komentar

  1. Alhamdulillah Mba Nin. Saya tunggu kabar baiknya di universitas, ya :)Semoga dilancarkan jalannya lanjut master. It will be sound great!

    Wkkwkw Aku tunggu cerita lainnya. Seneng mbak dengernya. Serius. Semangat, mba!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kamu so sweet banget dah! ;p
      Makasih banyak ya dukungannya. Semoga bisa terus membahagiakan dengan sharing cerita2 disini.

      Aaammiinn ya.. I hope so also! :D

      Hapus
    2. Wkwkwkw sama-sama, Mba Nin! Will be your blog reader as always! :)

      Hapus
  2. Bagus mb artikelnya
    Pengen bisa bahasa Inggris, supaya lulus tes IELTS. Biaya sangat mahal, sayang mesti ulang tes lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih banyak ya :)
      Sebetulnya gak ada lulus/gak lulus sih ya. Hanya aja tergantung kamu targetnya poin berapa, bisa/gak achieving-nya 😇

      Hapus
  3. What? Ada ialf di palembang? Dimananya ya? Kok baru tau

    BalasHapus
  4. Thankyou for this experience, kak. Sangat membantu...
    Boleh saya tau instagramnya kak?? Terima kasih kak...

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bule Ketemu Online, Bisakah Serius?

( PERHATIAN!!! SAYA BANYAK SEKALI MENERIMA TESTIMONIALS SOAL COWOK-COWOK DARI INGGRIS YANG MEMINTA ALAMAT SI CEWEK YANG DIKENAL VIA ONLINE. FYI , HAMPIR SEMUA MODUS PENIPUAN SEPERTI INI BERASAL DARI INGGRIS DAN AMERIKA! JANGAN PERNAH TERTIPU KEMASAN KULIT PUTIHNYA, KARENA BISA JADI YANG KALIAN AJAK CHATTING -AN ATAU VIDEO CALL -AN ITU ADALAH PENIPU !! JANGAN PERNAH BERI DATA DIRI SEPERTI NAMA LENGKAP, ALAMAT, SERTA NOMOR IDENTITAS ATAU KARTU KREDIT KE ORANG-ORANG ASING LEWAT DUNIA DIGITAL! BE SMART, BE AWARE, AND PLEASE JANGAN DULU BAPERAN KALO ADA YANG MENGAJAK NIKAH PADAHAL BARU SEMINGGU KENAL!!!) Selain berniat jadi au pair, ternyata blog saya banyak dikunjungi oleh cewek-cewek Indonesia yang ingin pacaran atau sedang dekat dengan bule. Gara-gara tulisan tentang cowok Eropa dan cowok Skandinavia , banyak pembaca blog yang mengirim surel ke saya dan curhat masalah cintanya dengan si bule. Aduh, padahal saya jauh dari kata "ahli" masalah cinta-cintaan. Saya sebetu

Mempelajari Karakter Para Cowok di Tiap Bagian Eropa

*I talk a lot about European boys in this blog, but seriously, this is always the hottest topic for girls! ;) Oke, salahkan pengalaman saya yang jadi serial dater  selama tinggal di Eropa. Tapi gara-gara pengalaman ini, saya juga bisa bertemu banyak orang baru sekalian mempelajari karakter mereka. Cowok-cowok yang saya temui ini juga tidak semuanya saya kencani. Beberapa dari mereka saya kenal saat workshop, festival, ataupun dari teman. Beruntung sekali, banyak juga teman-teman cewek yang mau menceritakan pengalamannya saat berkencan dari cowok ini, cowok itu, and all of them have wrapped up neatly in my head! Secara umum, tulisan yang saya ceritakan disini murni hasil pengalaman pribadi, pengalaman teman, ataupun si cowok yang menilai bangsanya secara langsung. Letak geografis Eropanya mungkin sedikit rancu, tapi saya mengelompokkan mereka berdasarkan jarak negara dan karakter yang saling berdekatan. Kita semua benci stereotipe, tapi walau bagaimana pun kita tetaplah bagi

7 Kebiasaan Makan Keluarga Eropa

Tiga tahun tinggal di Eropa dengan keluarga angkat, saya jadi paham bagaimana elegan dan intimnya cara makan mereka. Bagi para keluarga ini, meja makan tidak hanya tempat untuk menyantap makanan, tapi juga ajang bertukar informasi para anggota keluarga dan pembelajaran bagi anak-anak mereka. Selain table manner , orang Eropa juga sangat perhatian terhadap nilai gizi yang terkandung di suatu makanan hingga hanya makan makanan berkualitas tinggi. Berbeda dengan orang Indonesia yang menjadikan meja makan hanya sebagai tempat menaruh makanan, membuka tudung saji saat akan disantap, lalu pergi ke ruang nonton sambil makan. Selama tinggal dengan banyak macam keluarga angkat, tidak hanya nilai gizi yang saya pelajari dari mereka, tapi juga kebiasaan makan orang Eropa yang sebenarnya sangat sederhana dan tidak berlebihan. Dari kebiasaan makan mereka ini juga, saya bisa menyimpulkan mengapa orang-orang di benua ini awet tua alias tetap sehat menginjak usia di atas 70-an. Kuncinya, pola

First Time Au Pair, Ke Negara Mana?

Saya ingat betul ketika pertama kali membuat profil di Aupair World, saya begitu excited memilih banyak negara yang dituju tanpa pikir panjang. Tujuan utama saya saat itu adalah Selandia Baru, salah satu negara impian untuk bisa tinggal. Beberapa pesan pun saya kirimkan ke host family di Selandia Baru karena siapa tahu mimpi saya untuk bisa tinggal disana sebentar lagi terwujud. Sangat sedikit  host family dari sana saat itu, jadi saya kirimkan saja aplikasi ke semua profil keluarga yang ada. Sayangnya, semua menolak tanpa alasan. Hingga suatu hari, saya menerima penolakan dari salah satu keluarga yang mengatakan kalau orang Indonesia tidak bisa jadi au pair ke Selandia Baru. Duhh! Dari sana akhirnya saya lebih teliti lagi membaca satu per satu regulasi negara yang memungkinkan bagi pemegang paspor Indonesia. Sebelum memutuskan memilih negara tujuan, berikut adalah daftar negara yang menerima au pair dari Indonesia; Australia (lewat Working Holiday Visa ) Austria Amerika

Berniat Pacaran dengan Cowok Skandinavia? Baca Ini Dulu!

"Semua cowok itu sama!" No! Tunggu sampai kalian kenalan dan bertemu dengan cowok-cowok tampan namun dingin di Eropa Utara. Tanpa bermaksud menggeneralisasi para cowok ini, ataupun mengatakan saya paling ekspert, tapi cowok Skandinavia memang berbeda dari kebanyakan cowok lain di Eropa. Meskipun negara Skandinavia hanya Norwegia, Denmark, dan Swedia, namun Finlandia dan Islandia adalah bagian negara Nordik, yang memiliki karakter yang sama dengan ketiga negara lainnya. Tinggal di bagian utara Eropa dengan suhu yang bisa mencapai -30 derajat saat musim dingin, memang mempengaruhi karakter dan tingkah laku masyarakatnya. Orang-orang Eropa Utara cenderung lebih dingin terhadap orang asing, ketimbang orang-orang yang tinggal di kawasan yang hangat seperti Italia atau Portugal. Karena hanya mendapatkan hangatnya matahari tak lebih dari 3-5 minggu pertahun, masyarakat Eropa Utara lebih banyak menutup diri, diam, dan sedikit acuh. Tapi jangan salah, walaupun dingin dan hampa