Skip to main content

Ke Rusia 72 Jam Tanpa Visa


Akhirnya salah satu resolusi hidup saya bisa terwujudkan lagi di tahun ini; mengunjungi minimal 30 negara sebelum usia 30 tahun! Setelah sempat gonta-ganti itinerary, saya dan seorang teman mantap akan berlibur ke Rusia saat liburan Paskah. Negara ini juga yang menggenapkan kunjungan saya sebagai negara ke-30.

Dua tahun lalu saya sebetulnya sudah berniat sekali ingin ke Rusia, tapi karena urusan visanya yang lebih ribet diurus di Eropa, jadinya masih masuk dalam bucket list dulu. Dengar cerita kalau bisa ke Rusia tanpa visa, saya mulai mencari informasinya dari tahun lalu. Kalau kalian tinggal atau sedang jalan-jalan ke Eropa menggunakan visa Schengen yang berlaku, ada cara mengunjungi Rusia tanpa perlu apply visa terlebih dahulu.

Caranya hanya satu, menggunakan kapal feri Princess Anastasia milik perusahaan MOBY St. Peter Line yang menuju St. Petersburg dari Helsinki, Tallinn, atau Stockholm. Keuntungannya, kita bisa jalan-jalan di Rusia maksimum selama 72 jam tanpa urus visa. Tidak lama memang, tapi lumayan juga karena bisa menikmati arsitektur megah ala Rusia dan kulinernya yang wajib coba!

Saya memesan langsung tiket feri via situs resmi St. Peter Line dari Helsinki karena jadwalnya yang lebih sering, fleksibel, dan murah. Dari Oslo juga tiket pesawat ke Helsinki lebih murah ketimbang menuju Tallinn. Sementara dari Stockholm, waktu yang diperlukan kapal berlayar akan sangat panjang.

Saat masuk ke laman pemesanan, kita bisa langsung memilih jenis kabin, fasilitas, serta kegiatan tur apa yang diinginkan. Karena hanya berlayar selama 12-14 jam, saya hanya memesan kabin dengan kasur twins tanpa jendela untuk pulang pergi seharga €171. Kabin paling murah saat sedang promo totalnya seharga €150 untuk jenis bunk bed.

Untuk menikmati bebas visa ini juga, penumpang yang berlayar menggunakan kapal diwajibkan memesan city bus tour dari pelabuhan menuju pusat kota. Namun tenang saja, biaya shuttle bus ini akan otomatis dimasukkan ke dalam nota belanjaan saat pemesanan dan tidak dapat dihapus. Sebetulnya bus ini hanya transportasi yang memudahkan penumpang menuju pusat kota. Biaya yang tertulis untuk shuttle bus sebesar €25 per orang, namun setelah saya hitung lagi, sebetulnya yang dibayarkan kurang dari itu. Jadi saya juga tidak mengerti bagaimana pihak MOBY menghitung belanjaan ini.

That's all! Saya tidak menambahkan fasilitas atau kegiatan apapun kecuali memesan kabin. Meskipun informasi yang tertulis di situs, penumpang harus memesan kamar hotel yang bekerja sama dengan MOBY St. Peter Line, namun kita tidak perlu memesan kamar dari mereka. 

Selesai memesan, saya hanya mendapatkan email konfirmasi berikut. Tidak ada keterangan apapun selain konfirmasi kabin dan tanggal keberangkatan.

Dari Helsinki, kapal akan berangkat dari pelabuhan di Terminal 2. Untuk menuju pusat kota dari bandara Vantaa pun sangat mudah, hanya perlu menggunakan kereta ke arah Stasiun Utama Helsinki dan lanjut menggunakan tram nomor 7 dengan tiket sebesar €5 sekali jalan.

Saat kami sampai di pelabuhan, kapal Princess Anastasia yang berwarna-warni terparkir kokoh. Pukul menunjukkan setengah 3 siang dan beberapa orang penumpang terlihat sudah mengantri di depan konter check-in.



Check-in sebetulnya baru akan dibuka 4 jam sebelum keberangkatan. Kapal akan berangkat dari pelabuhan jam 7 malam, artinya penumpang diberikan waktu check-in dari pukul 3-6.30 sore. Masih terlihat sepi, kami jadinya ikut saja mengantri. Proses di konter berjalan sangat mulus dan kami hanya perlu menyerahkan bukti konfirmasi pemesanan kabin, bukti pemesanan hotel di Rusia, serta paspor. Selanjutnya, penumpang akan diberikan 3 lembar kartu yang mesti disimpan sampai tiba di Rusia.


Boarding Card berfungsi juga sebagai kunci kabin yang harus disimpan sampai keluar kapal. Lalu Arrival Card berguna untuk dilampirkan saat masuk imigrasi Rusia, dan Departure Card saat keluar Rusia. Kami diharuskan check-in lagi nantinya untuk mendapatkan boarding card dan kabin baru.

Selesai check-in, kami langsung dipersilakan menuju kapal. Lagi-lagi proses imigrasi keluar Finlandia berjalan dengan lancar hingga kami bisa langsung istirahat di kabin. Beginilah penampakkan kabin di Deck 6 dengan kasur twins.



Bagi yang punya klaustrofobia, mungkin memilih kabin ini bisa jadi mimpi buruk. Ruangannya begitu kecil hanya berluas 9 meter persegi, tanpa jendela, dan sangat pengap saat pertama kali kami masuk. Namun bagi kami, ruangannya sangat lumayan untuk beristirahat selama 14 jam saja. Lantainya memang tidak terlalu bersih, namun sprei dan handuknya sangat bersih dan terlihat diganti secara berkala. Tersedia pula tombol pengaturan suhu ruangan jika dinilai terlalu pengap atau dingin.

Menurut informasi dari teman yang pernah berlayar menggunakan feri ke Kiehl dari Oslo, katanya kapal Rusia ini miskin hiburan. Tidak terlalu banyak ruangan yang bisa dieksplor hingga terkesan membosankan. Tempat makan tersedia di Deck 5, sementara kafe dan bar tersedia di Deck 7. Toko duty free juga tersedia di Deck 6 dan baru akan dibuka saat kapal mulai berlayar.





Esok paginya, kapal akan berlabuh di St. Petersburg pukul 9 pagi dan semua penumpang diwajibkan meninggalkan kapal menuju akomodasi yang sudah dipesan. Selesai melewati imigrasi Rusia, penumpang harus mengantri shuttle bus di luar pintu masuk terminal. Tidak ada yang perlu dilampirkan saat naik ke bus, namun hanya menyebutkan dimana kita akan berhenti. Kalau hotel yang dipesan berada di pusat kota, katakan saja "city center" ke sopir bus yang mengatur arus penumpang.

Shuttle bus pertama dari pelabuhan akan berangkat pukul 9.30 pagi dan hanya memerlukan waktu sekitar 20 menit untuk sampai pusat kota. Bus menuju pusat kota akan menurunkan penumpang di St. Isaac Square dan akan mengambil penumpang kembali di tempat yang sama. Bus terakhir dari St. Isaac Square menuju pelabuhan pukul 5 sore dari Senin-Sabtu dan 4.30 sore di hari Minggu.

Dobro pozhalovat' v rossiyu! Selamat datang di Rusia!


TOP TIPS:

Meskipun kelihatannya banyak proses berjalan dengan sangat lancar selama perjalanan, namun saya ingin memberikan beberapa tips lain yang mungkin akan sangat berguna bagi kalian yang ingin travelling ke Rusia menggunakan cara yang sama!

1. Meskipun informasi di situs MOBY St. Peter Line mewajibkan penumpang memesan kamar hotel lewat situs mereka, namun kita bisa memesan sendiri lewat situs apapun. Saya memesan sendiri kamar hotel di daerah Admiralteyskaya lewat Booking.com dan sama sekali tidak ada masalah. Yang paling penting, penumpang wajib memiliki konfirmasi penginapan di Rusia untuk disertakan saat check-in.

2. Untuk menghindari antrian panjang penumpang, datanglah ke Terminal 2 Helsinki 30 menit sebelum konter check-in dibuka, seperti yang kami lakukan. Selain bisa langsung menuju ke kabin, kita akan memiliki banyak waktu mengitari isi kapal sebelum dipenuhi penumpang lain.

3. Toko duty free di dalam kapal menyediakan beberapa jenis aksesoris, kosmetik, snack, alkohol, dan minuman ringan yang lumayan murah. Toko baru dibuka sekitar jam 7 malam dan sangat tidak disarankan membeli apapun 2-3 jam setelah toko dibuka. Toko akan sangat penuh oleh penumpang dan kurang nyaman untuk bertransaksi. Liburan kami bertepatan dengan libur Paskah yang otomatis isi kapal banyak dipenuhi anak-anak muda yang ingin pesta alkohol murah.

4. Meskipun restoran di atas kapal menyediakan banyak menu, namun sangat disarankan juga membeli makanan di luar jika tidak ingin membuang uang di kapal. Penumpang tidak diperkenankan membawa ketel listrik, sehingga kalau ingin menyeduh mie, bisa membeli atau meminta air panas di restoran. Pilihan lainnya, bisa memesan sarapan dan dinner di atas kapal saat kita memesan kabin.

5. Kapal dari Helsinki akan berlabuh di St. Petersburg sekitar pukul 9 pagi dan SANGAT DISARANKAN untuk tidak keluar kapal sebelum pukul 11.30!! Kami keluar dari kapal sekitar pukul 10 pagi dan sangat kaget dengan antrian masuk imigrasi yang panjangnya luar biasa. Kami hanya bisa berdiri sampai akhirnya baru bisa keluar terminal pukul 12.30 siang!

6. Petugas imigrasi Rusia sangat strict dengan paspor non-EU dan saya harus tertahan selama 10 menit di depan konter. Sementara teman saya yang berpaspor EU, hanya perlu 2 menit saja. Kejadian ini tidak hanya menimpa saya sendiri. Beberapa orang berparas India, Arab, dan kulit hitam juga harus berdiri cukup lama sebelum akhirnya bisa mendapat cap masuk dan kartu kedatangan.

7. Shuttle bus yang dikelola MOBY St. Peter Line akan menurunkan penumpang terlebih dahulu di dua hotel yang bekerja sama dengan mereka, sebelum akhirnya berhenti di pusat kota, tepatnya di St. Isaac Square. Dibandingkan memilih hotel-hotel rekomendasi MOBY, kita bisa memilih sendiri hotel di sekitaran area Admiralteyskaya tak jauh dari pusat kota dan main attractions.

8. Saat pulang menuju pelabuhan dari St. Isaac Square, kami sepakat mengambil bus pukul 4.30 sore. Lagi-lagi kami kaget saat antrian masuk ke terminal sudah panjang melingkar seperti ular. Mulai mengantri pukul 5 sore, kami baru bisa masuk terminal satu jam kemudian. Itu pun mesti mengantri keluar imigrasi Rusia lagi yang panjangnya bukan main. Akhirnya, kami baru bisa tiba di kapal pukul 7 malam! Kalau tidak ingin bernasib sama, tibalah di bandara sekitar pukul 2.30 atau 3 sore sekalian check-in tanpa harus menunggu penumpang lain dulu.

9. Bagi yang ingin menikmati Rusia lebih lama, disarankan apply visa saja. Namun, ada beberapa penumpang yang tidak hanya stay di St. Petersburg, tapi juga sekalian Moskow. Dari Saint Peterseburg, mereka mengambil kereta malam selama 8 jam untuk tiba di Moskow. Lalu di hari berikutnya, kembali lagi ke St. Petersburg untuk bergabung bersama penumpang lainnya kembali ke Eropa.

10. Yang sedang jalan-jalan ke Eropa dan berminat ke Rusia, disarankan menyisihkan waktu setidaknya 5 hari penuh termasuk pulang dan pergi dari Helsinki. Visa Schengen juga wajib masih berlaku saat akan kembali ke Helsinki.

11. Karena di atas kapal sangat miskin hiburan, bawalah beberapa buku bacaan atau film pre-unduh untuk ditonton. Internet di kapal juga sangat terbatas dan mahal dengan biaya sekitar €7 selama 60 menit.

12. Bingung harus kemana selama 72 jam di St. Petersburg? Baaca tulisan disini!


Semoga pengalaman saya ini bisa bermanfaat buat kalian yang ingin ke Rusia tanpa mesti urus visa lebih dahulu. Overall, jalan-jalan ke Rusia hanya pakai feri is definitely worth it!


Comments

  1. Negara yang paling pengen aku kunjungi :")

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga nanti kesampean ya kesini juga ;)

      Delete
  2. Thanks info nya. Mau konfirmasi aja, ini juga berlaku sebaliknya kan ya mbak? Flight saya Jakarta Moskow PP, jadi kalo mau keluar russia ke helsinki pake ferry ini saya ga perlu apply schengen kan? Thanks sebelumnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak bisa, Mbak. Free visa ke Rusia ini berlaku hanya dari Eropa aja; Stockholm, Tallinn, & Helsinki. Artinya orang2 yang berangkat dari Eropa udah punya visa Schengen/Residence Permit.

      Kalo mbaknya mau ke Helsinki dari Rusia, artinya masih tetep perlu visa Schengen karena Rusia & Eropa udah beda kawasan. Semoga jelas ya :)

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Bule Ketemu Online, Bisakah Serius?

( PERHATIAN!!! SAYA BANYAK SEKALI MENERIMA TESTIMONIALS SOAL COWOK-COWOK DARI INGGRIS YANG MEMINTA ALAMAT SI CEWEK YANG DIKENAL VIA ONLINE. FYI , HAMPIR SEMUA MODUS PENIPUAN SEPERTI INI BERASAL DARI INGGRIS DAN AMERIKA! JANGAN PERNAH TERTIPU KEMASAN KULIT PUTIHNYA, KARENA BISA JADI YANG KALIAN AJAK CHATTING -AN ATAU VIDEO CALL -AN ITU ADALAH PENIPU !! JANGAN PERNAH BERI DATA DIRI SEPERTI NAMA LENGKAP, ALAMAT, SERTA NOMOR IDENTITAS ATAU KARTU KREDIT KE ORANG-ORANG ASING LEWAT DUNIA DIGITAL! BE SMART, BE AWARE, AND PLEASE JANGAN DULU BAPERAN KALO ADA YANG MENGAJAK NIKAH PADAHAL BARU SEMINGGU KENAL!!!) Selain berniat jadi au pair, ternyata blog saya banyak dikunjungi oleh cewek-cewek Indonesia yang ingin pacaran atau sedang dekat dengan bule. Gara-gara tulisan tentang cowok Eropa dan cowok Skandinavia , banyak pembaca blog yang mengirim surel ke saya dan curhat masalah cintanya dengan si bule. Aduh, padahal saya jauh dari kata "ahli" masalah cinta-cintaan. Saya sebet

Mempelajari Karakter Para Cowok di Tiap Bagian Eropa

*I talk a lot about European boys in this blog, but seriously, this is always the hottest topic for girls! ;) Oke, salahkan pengalaman saya yang jadi serial dater  selama tinggal di Eropa. Tapi gara-gara pengalaman ini, saya juga bisa bertemu banyak orang baru sekalian mempelajari karakter mereka. Cowok-cowok yang saya temui ini juga tidak semuanya saya kencani. Beberapa dari mereka saya kenal saat workshop, festival, ataupun dari teman. Beruntung sekali, banyak juga teman-teman cewek yang mau menceritakan pengalamannya saat berkencan dari cowok ini, cowok itu, and all of them have wrapped up neatly in my head!

7 Kebiasaan Makan Keluarga Eropa

Tiga tahun tinggal di Eropa dengan keluarga angkat, saya jadi paham bagaimana elegan dan intimnya cara makan mereka. Bagi para keluarga ini, meja makan tidak hanya tempat untuk menyantap makanan, tapi juga ajang bertukar informasi para anggota keluarga dan pembelajaran bagi anak-anak mereka. Selain table manner , orang Eropa juga sangat perhatian terhadap nilai gizi yang terkandung di suatu makanan hingga hanya makan makanan berkualitas tinggi. Berbeda dengan orang Indonesia yang menjadikan meja makan hanya sebagai tempat menaruh makanan, membuka tudung saji saat akan disantap, lalu pergi ke ruang nonton sambil makan. Selama tinggal dengan banyak macam keluarga angkat, tidak hanya nilai gizi yang saya pelajari dari mereka, tapi juga kebiasaan makan orang Eropa yang sebenarnya sangat sederhana dan tidak berlebihan. Dari kebiasaan makan mereka ini juga, saya bisa menyimpulkan mengapa orang-orang di benua ini awet tua alias tetap sehat menginjak usia di atas 70-an. Kuncinya, pola

Hal yang Harus Diketahui Sebelum Memutuskan Jadi Au Pair

Nyaris empat bulan saya disini, masih banyak saja tanggapan dan respon positif bahkan negatif dari orang terdekat saat tahu saya sedang di luar negeri. Ada yang menganggapnya wah sekali karena beruntung mendapatkan kesempatan ke luar negeri, ada juga yang menganggapnya biasa saja saat tahu pekerjaan saya sebagai au pair. Au pair bukanlah pekerjaan yang berjenjang karir, tapi menurut saya program ini bisa memberikan pengalaman yang keren sekali (atau bahkan buruk sekali). Au pair memang bisa disamakan dengan homestay, sebuah program pertukaran budaya yang ditawarkan oleh beberapa yayasan dan beasiswa di Indonesia. Bedanya, kita juga bisa mencari uang dari keluarga tersebut dengan membantu mereka mengurus anak, bersih-bersih, atau melakukan pekerjaan rumah tangga lainnya. Upahnya? Jangan dikurs ke rupiah ya. Memang upahnya tergolong tinggi saat dibawa ke Indonesia. Tapi, biaya hidup di Eropa yang juga sama tingginya, menegaskan kalau upah yang kita terima ini sebandin

Guide Untuk Para Calon Au Pair

Kepada para pembaca blog saya yang tertarik menjadi au pair, terima kasih! Karena banyaknya surel dan pertanyaan tentang au pair, saya merasa perlu membuat satu postingan lain demi menjawab rasa penasaran pembaca. Mungkin juga kalian tertarik untuk membaca hal-hal yang harus diketahui sebelum memutuskan jadi au pair  ataupun tips seputar au pair ? Atau mungkin juga merasa tertantang untuk jadi au pair di usia 20an, baca juga cerita saya disini . Saya tidak akan membahas apa itu au pair ataupun tugas-tugasnya, karena yang membaca postingan ini saya percaya sudah berminat menjadi au pair dan minimal tahu sedikit. Meskipun sudah ada minat keluar negeri dan menjadi au pair, banyak juga yang masih bingung harus mulai dari mana. Ada juga pertanyaan apakah mesti pakai agen atau tidak, hingga pertanyaan soal negara mana saja yang memungkinkan peluang kerja atau kuliah setelah masa au pair selesai. Oke, tenang! Saya mencoba menjabarkan lagi hal yang saya tahu demi menjawab rasa penasar