Berburu 'Student Job' Tanpa Lelah (Bagian 2)

Sunday, 9 February 2020



Setelah dua bulan lebih belum dapat kerja juga, saya hampir di ambang batas menyerah. Tapi, harus menyerah karena apa? Hidup akan terus berjalan dan saya masih harus membayar tagihan dan makan bulan depan! I need a new job dan saya harus terus cari kerja sampai dapat! (Cerita saya cari kerja sebelumnya, baca di sini.)

Banyak situs lowongan kerja saya kunjungi dan baca satu per satu setiap hari demi menemukan jenis pekerjaan yang cocok bagi student dan pas dengan kualifikasi saya. Lamaran demi lamaran pun terus saya kirimkan lewat online dan terus-terusan pula mendapatkan banyak penolakan.

Seorang teman menganjurkan untuk mengantarkan CV door-to-door demi membuka kesempatan. Katanya, teman dia ada yang dua hari kemudian dipanggil wawancara karena pakai cara door-to-door. Tapi karena malas cetak CV, buang-buang kertas, lalu keliling, saya belum tertarik menggunakan cara ini. Lagipula ada lebih dari 600 restoran dan kafe, serta ribuan toko di Oslo yang harus saya list lebih dulu sebelum memutuskan ingin kemana. Satu lagi, cara ini diyakini juga bisa menimbulkan rasa awkward. Karena ingin latihan cari kerja lewat cara konvensional, saya masih terus mencari via online. Lagipula tak rugi apa-apa. Gratis juga.

Suatu kali, saya sempat ditawari seorang senior jika berminat jadi research assistant bagi seorang kandidat Ph.D di kampus yang sama. Tak pikir panjang, saya segera hubungi beliau dan meminta untuk bertemu. Sayangnya, karena beliau berasal dari bidang Education, sementara saya dari Entrepreneurship, akan ada ketidaksinambungan sekiranya saya jadi asisten riset beliau.

Beliau juga menyarankan kalau saya tertarik jadi asisten TK, mungkin bisa coba mengirimkan berkas di TK dekat kampus. "But you are actually right! Sudah tahu apa yang dimau; tak berminat kerja dengan anak-anak lagi. I know it's gonna be boring indeed. Justru orang kadang berpikir, kerja apa saja yang penting bisa bayar tagihan. Namun justru menurut saya hal ini salah karena akan membuat kita kerja untuk uang saja, bukan untuk berkembang dan belajar. Just keep searching for what you want to work with!"

Saya juga tahu bahwa kultur cari kerja di Norwegia ini memang masih memegang teguh prinsip word-of-mouth dan relasi. Banyak sekali jenis pekerjaan yang sebetulnya tak diiklankan, melainkan hanya berasal dari referensi si A atau si B. Makanya kalau tak punya relasi, sangat sulit sekali mencari kerja, bahkan untuk jadi cleaning lady sekalipun!

"Tapi, kalau kamu sudah masuk ke dalam sistem, akan sangat mudah sekali masuk ke sistem yang lain. Contohnya, kamu diterima di kantin jadi petugas cuci piring. Lama-lama, kalau mereka lihat kamu anaknya ingin berkembang dan sangat gigih, tak kagetlah jika 8 atau 9 bulan kemudian status mu bisa naik jadi kepala dapur," kata kandidat Ph.D tersebut lagi. Jadi intinya, jangan takut memulai dari yang terbawah.

Beberapa teman di kelas bahasa saya pun meyakini bahwa cari kerja part-time di Norwegia seharusnya tak jadi masalah untuk saya. "Your Norwegian is even far better than me! You should be in the higher level!" kata seorang teman sekelas asal Korea Selatan kagum. "Jangan frustasi, dong! I am pretty sure you would get one!"

Haha! Bahkan teman saya di kelas pun bisa memahami bahwa beberapa minggu ke belakang mood saya memang aut-autan. Terakhir cari kerja ya memang saat jadi au pair 2 tahun lalu. Tapi kalau ingat cari host family pertama kali dulu, itu juga prosesnya lama. Saya harus menunggu 5 bulan baru betul-betul settle dengan satu keluarga. Cari kerja betul-betul melelahkan memang!

Teman-teman Indonesia lain yang memahami kondisi saya ikut menyemangati dan memberikan informasi seputar pekerjaan part-time yang mereka tahu. Sayangnya, kala itu semangat saya sedang terpendam. Saya sudah cukup lelah. Saatnya berhenti sebentar, menunda mengirim banyak lamaran, dan menunggu kabar beberapa lamaran sebelumnya yang sudah dikirim.

FYI, lowongan kerja yang tersedia paruh waktu di Norwegia ini kebanyakan pekerjaan di restoran, asisten personal, dan toko. Untuk yang tak bisa bahasa Norwegia, pilihannya makin menyempit ke loper koran, cleaning lady, atau babysitter lepas. Ada beberapa pekerjaan hotel dan kantoran lainnya, namun hampir semuanya harus memenuhi kualifikasi bahasa Norwegia fasih. Sampai situ saja saya sudah menyerah duluan. Lalu jangan dikira dapat kerja di toko baju semacam Zara itu mudah! Saingannya bejibun karena ada banyak sekali anak muda yang tertarik bekerja di toko baju. Selain itu, restoran cepat saji semacam McDonald’s atau Burger King juga banyak sekali pelamarnya setiap minggu. Saya sudah dua kali melamar kerja di McD, namun selalu ditolak. So, I had to keep moving!

"Trust me, it would be sooo hard! Saya sampai harus door-to-door mengantarkan banyak CV ke bar, toko Asia, bahkan restoran, hanya untuk dapat satu pekerjaan. Namun karena tak bisa bahasa Norwegia, bahasa Inggris pun pas-pasan, saya selalu ditolak. But, please don't give up! You have to keep sending your CV as much as possible!" seorang teman sekelas saya pun terus-terusan memberikan semangat ketika tahu saya memang sedang struggling cari kerja.

"I'll keep you posted if I hear somebody looks for an employee!" tawar seorang teman satu kosan yang juga selalu memberikan saya semangat positif.

"You know what, I am pretty sure luck is another factor to get a job! Jadi kalau kamu memang belum lucky, jangan salahkan keadaan. Percaya saja, ada saatnya luck kamu datang dan saat itulah kamu akan dapat pekerjaan," seorang teman lagi berusaha memberikan motivasi, yang mana saya juga percaya bahwa luck itu berperan penting.

Satu minggu berlalu, saya menerima email dari salah satu restoran Italia terbesar di Oslo yang tertarik dengan aplikasi saya dan mengundang wawancara langsung di restoran! Wow!! This is going to be my very first live interview in Norway!

"You would get this job, I am pretty sure!" ujar Anand, teman sekelas saya.

Kabar yang saya dengar, kalau kamu sudah diundang interview langsung on spot dan si pewawancara suka, mereka bisa langsung menerima kita saat itu juga. Karena restoran ini juga membutuhkan pegawai yang bisa bahasa Norwegia, maka diyakini bahwa wawancaranya pun akan menggunakan bahasa lokal. Saya sampai berlatih sedikit dengan Mumu tentang apa yang kira-kira harus saya ucapkan.

Saya akan cerita lebih banyak soal wawancara kerja yang sudah pernah saya jalani di Norwegia, tapi long story short, saya akhirnya bertemu dengan Maria, manajer restoran yang sudah 5 tahun bekerja di sana. Wawancaranya pun sangat informal dan lebih terdengar seperti mengobrol biasa. Tiga puluh menit berlalu, saya cukup bangga bahwa kemampuan bahasa saya progress-nya semakin terlihat karena bisa menjawab semua yang ditanyakan dengan sangat lancar, meskipun grammar-nya masih lari-lari.

"Aduh, mau tanya apa lagi ya. Saya bingung, soalnya kamu bisa menjawab semuanya dengan sangat baik," kata Maria dengan senyum ramah. "Rasanya sudah sangat lama saya tak pernah mendapatkan jawaban sebagus kamu. Saya betul-betul kagum!"

Dari banyak komentar positif yang Maria berikan, saya cukup optimis dengan kesimpulan akhir yang mungkin akan berakhir baik. "Oke. Kita mulai dari percobaan (prøvevakt) dulu ya. Hanya satu hari kok. Hanya ingin melihat bagaimana motivasi dan keinginan kamu untuk belajar.” tambah Maria. Sebelum pulang, Maria memberikan daftar menu yang harus saya pelajari dan ingat sebelum mulai 'hari percobaan'. Sounds right?

Di hari H prøvevakt, saya ternyata baru tahu bahwa orang-orang yang diberikan kesempatan percobaan ini belum tentu akan diterima sebagai pegawai tetap. Akan ada evaluasi dari trainer sebagai catatan apakah kita layak uji coba lagi ataukah belum cukup mampu mengimbangi alur kerja di restoran tersebut. Jika kita layak, akan ada prøvevakt lagi 3-4 kali, lalu training mandiri selama 4-6 bulan, sebelum akhirnya mantap menjadi pegawai tetap restoran tersebut.


10 pelajaran dari cerita di atas:
1. LEARN THE LOCAL LANGUAGE from the first day you arrive in Norway!
2. Selagi banyak lowongan pekerjaan yang masih tersedia, boleh saja picky. Lebih baik melamar di 10 tempat yang posisinya betul-betul kita inginkan ketimbang ke banyak tempat yang posisinya hanya ingin kita isi demi dapat gaji.
3. Jangan menyerah, apalagi sadar kalau kita bukan anak orang kaya!
4. Sebelum mendengar  atau mendapatkan email yang isinya "you're hired!", terus saja kirim aplikasi.
5. It is okay to take a break before you start searching again!
6. Jangan patah semangat ketika menerima penolakan karena bisa jadi kita kurang atau terlalu berkualifikasi, atau juga manajer HR hanya mencari orang-orang yang setipe dengan dia.
7. Tell people that you are looking for a job, karena bisa jadi lowongan kerja malah dapatnya dari networking ini.
8. Percayalah, luck dan good timing itu adalah faktor yang sangat berperan ketika cari kerja.
9. Be realistic! Jangan mengharapkan posisi dan gaji bagus kalau kemampuan kita hanya di bawah rata-rata masyarakat lokal.
10. Cari kerja di Norwegia (meski paruh waktu) itu SUSAH!!

I was so stressed back from the first day I started my 'prøvevakt' at the restaurant. Stress karena belum tentu diterima bekerja di sana, lalu stress karena ternyata bekerja di restoran besar dan fancy itu susah! Baiklah, saya harus sedikit bersabar dengan diri sendiri. It was my first day; literally the first and longest day I worked at the restaurant with my Norwegian capability alongside! Karena bahasa Norwegia saya yang masih pas-pasan, ada rasa takut berhadapan dengan pelanggan. Takut salah, takut tak mengerti apa yang pelanggan maksud, takut pula jika tak hapal deretan menu berbahasa Italia yang pelanggan inginkan.

But hey, it was my first day, right? There are looooong days to learn! Namun sekali lagi, apakah saya dipercaya mendapatkan shifts berikutnya untuk uji coba, itu yang saya tak tahu. Until then, I keep looking for a job.



No comments:

Care to leave your comments?