Langsung ke konten utama

Menikmati Kuliah di Luar Negeri


Sisa musim panas mengawali dimulainya semester baru di Norwegia

Hari ini saya masuk kuliah lagi setelah berbulan-bulan harus berinteraksi jarak jauh dengan teman sekelas dan para pengajar. Meskipun tetap ada protokol untuk menjaga jarak aman selama di dalam kelas, tapi karena jumlah kami tak sampai 10 orang, maka semester tiga diadakan 100% on campus. Sayangnya kebanyakan mahasiswa baru, terutama dari luar Uni Eropa, tak diizinkan dulu datang ke Norwegia sampai tahun depan dan kelas pun hanya diadakan lewat digital.

Kalau melihat euforia para mahasiswa baru ini, saya jadi ingat mimpi sedari kecil yang ingin kuliah di luar negeri sampai akhirnya terwujud. Tahun lalu, beberapa bulan sebelum pengumuman, saya sempat datang ke pelataran Universitas Oslo di malam hari ditemani Mumu hanya untuk mengambil foto demi konten blog. Entah diterima atau tidak, saya rencananya hanya ingin berbagi cerita tentang proses mendaftar kuliah di Norwegia. Saat itu saya berkata ke Mumu, "mudah-mudahan ya tahun ini bisa datang ke tempat ini setiap hari untuk kuliah." Mumu yang suportif hanya meyakinkan saya, "pasti kamu dapat, yakin saja."

Meskipun awalnya skeptis karena persaingan yang kompetitif, puji syukur saya betul-betul diterima di jurusan yang memang jadi prioritas utama. Saya patahkan anggapan yang mengatakan bahwa hanya ada dua tipe orang Indonesia yang bisa kuliah di luar negeri; yaitu yang super kaya karena dana orang tua dan yang super pintar karena dana beasiswa. Saya lahir dari keluarga kelas menengah yang tetap harus berjuang menghidupi diri sendiri di sini dan juga bukan murid super pintar hingga tahu diri tak daftar beasiswa manapun.

Saya sedang tidak jualan cerita sedih atau ingin menjatuhkan diri sendiri. Tapi hanya berusaha meyakinkan, jika kalian merasa bukan straight-A students atau tak punya cukup uang untuk mewujudkan mimpi studi di luar negeri, carilah kesempatan lain yang bisa mengantarkan mu setidaknya lebih dekat dengan mimpi tersebut. Saya sendiri baru mulai lanjut S2 setelah 5 tahun wara-wiri di Eropa jadi au pair. Nyatanya, ada banyak sekali mantan au pair yang menemukan jalan untuk lanjut kuliah di Eropa dengan biaya sendiri!


Upacara penyambutan mahasiswa baru angkatan 2019 di pelataran Universitas Oslo

Untungnya karena sudah duluan tinggal di Norwegia, saya sudah familiar dengan beberapa hal yang mungkin masih wow bagi mahasiswa baru. Contohnya, mengapa di Oslo itu ada banyak sekali mobil Tesla, mengapa orang-orang Norwegia suka sekali berpetualang ke alam, atau mengapa biaya hidup di Norwegia itu sangat mahal dibanding negara A, B, C.  Hidup pas-pasan juga sebetulnya sudah saya alami sejak jadi au pair, meskipun setelah ganti status jadi mahasiswa kehidupan saya malah semakin kere.

Namun demi mendapatkan pengalaman kuliah yang mengesankan, di awal semester satu saya sudah mulai merencanakan apa yang ingin dicapai selama studi di Norwegia. Meskipun tujuan utama adalah belajar, tapi saya tak ingin rutinitas sehari-hari hanya diisi dengan membaca buku dan belajar secara teori. Saya ingin menemukan banyak teman baru, bersosialisasi, mencari pengalaman profesional yang real, serta menemukan banyak kesempatan lain yang bisa membuat diri berkembang selama jadi mahasiswa di sini.

Kalender rencana studi seperti yang direkomendasikan Accountancy Careers di bawah (lihat gambar) akhirnya saya coba aplikasikan agar lebih well-planned, and I wished I knew it before started my Bachelor's! Sebetulnya kalender ini sangat direkomendasikan bagi kalian yang sedang menempuh S1 dan ingin memetakan karir apa yang akan dikejar setelah lulus. Penultimate year atau tahun ke-2 terakhir sebelum kelulusan, harusnya merupakan momen paling penting untuk mengasah kemampuan, mencari pengalaman kerja profesional, serta membangun koneksi dengan para pemberi kerja, agar nantinya setelah lulus kita lebih percaya diri dalam mencari kerja. Ada banyak sekali para lulusan perguruan tinggi yang tak dibekali rencana studi dan pengalaman hingga akhirnya bingung sendiri setelah lulus ingin kerja apa dan dimana. Yang tertarik merencanakan kalender studi sampai 3 tahun, boleh cek kalender studi lain dari Inside Careers di sini!


Sumber: Accountancy Car
eers

Karena kuliah Master hanya 2 tahun, saya menggunakan semua waktu ini untuk mencari tahu kira-kira posisi apa yang ingin saya lamar setelah lulus nanti. Contohnya, dari semester satu tahun lalu saya sudah gencar mencari banyak informasi magang di bidang business development dan management untuk musim panas 2020 lewat bursa kerja atau internet. Kesempatan magang ini bisa jadi starting point untuk tahu apakah industri tersebut memang cocok untuk saya atau tidak. Bagi yang penasaran proses wawancara magang yang pernah saya lalui, silakan buka di postingan ini!

Setelah melamar kesana kemari, saya akhirnya mendapatkan posisi magang di organisasi mahasiswa slash perusahaan startup yang juga berhubungan dengan jurusan kuliah. Posisinya memang tak dibayar, tapi setidaknya cukup untuk work shadowing dan mengenal lebih jauh budaya kerja di Norwegia. Yang saya pelajari saat rekrutmen, mereka sangat mengedepankan orang-orang yang bermotivasi dan cocok dengan budaya kerja di tempat tersebut. Setiap perusahaan pastinya punya budaya kerja masing-masing, namun secara general, budaya kerja di Norwegia terkenal santai tanpa hierarki. Bos tidak cuma duduk di kantor dan asal tunjuk, karena bos juga bekerja sama dengan bawahan dalam membangun perusahaan.  


Magang di salah satu kantor startup yang cuma selemparan batu dari kampus

Di kesempatan lainnya, saya juga berkonsultasi dengan Pusat Karir di kampus untuk meminta masukan bagaimana caranya menulis CV yang baik in a Norwegian way. Meskipun belum tentu akan langsung diterima hanya gara-gara menulis CV dengan gaya orang Norwegia, tapi setidaknya saya ingin belajar bagaimana memetakan kompetensi diri agar lebih tailored dengan job descriptions. Para staf di Pusat Karir ini juga sangat berpengalaman dan super helpful, karena mereka ikut memberikan saran apa yang perlu dilakukan jika berminat bekerja di perusahaan idaman. Misalnya, saya disuruh menghubungi perusahaan tersebut dari sekarang untuk menyatakan minat bekerja di sana dan menanyakan kira-kira kompetensi seperti apa yang perusahaan tersebut inginkan dari seorang pegawai. In the end, staf di Pusat Karir juga menekankan jika memang berminat bekerja di perusahaan asli Norwegia, mengasah kemampuan bahasa adalah hal utama yang harus saya upayakan semaksimal mungkin. Jika kampus kalian juga punya Pusat Karir yang menyediakan konseling gratis seperti ini, saya sangat sarankan setidaknya mengobrol lebih banyak untuk sekedar latihan wawancara atau evaluasi CV.

Karena harus kerja paruh waktu juga di sela-sela kuliah dan magang, beberapa rekomendasi dari kalender di atas juga tak semuanya saya lakukan. Kegiatan sukarelawan dan ekstrakurikuler yang punya potensi besar memperluas networking akhirnya di-dropped karena waktunya tak pas. I have SO many things to do within 2 years! Tak heran ending-nya saya tak terlalu berambisi mendapatkan nilai sempurna dan lebih cenderung learning by doing. I got E (minimum grade to pass) for my additional course last semester. Menyesal sebetulnya. Bukan menyesal tak belajar, tapi menyesal karena telat sadar bahwa kelas yang saya ambil ini sama sekali jauh dari kompetensi. Ingin mengambil kelas baru, jadwalnya tak ada yang cocok. Then I just let it be.


Di sekolah atau kampus, setiap orang tentunya punya gaya belajar dan golnya masing-masing. Ada yang result-oriented karena merasa bahagia jika nilai yang didapat memuaskan, and I totally adore these people! Ada banyak sekali lowongan pekerjaan di perusahaan besar yang memang lebih memprioritaskan lulusan jenius, terutama untuk jurusan teknik dan informatika. Jadi kalau ingin cari pekerjaan high-skilled di bidang ini, memang sangat disarankan untuk rajin belajar dan menguasai materi. Contohnya di beberapa perusahaan besar Norwegia, diwajibkan menyertakan transkrip nilai saat melamar dan harus melewati tes case study dulu.

Tapi saya mungkin sebaliknya, lebih menghargai proses ketimbang nilai akhir. Saya ingin betul-betul menikmati setiap kesempatan yang didapatkan selama menempuh studi di negara orang ini, ketimbang mati-matian mendapatkan nilai A. Hey, now I am living my dream! Perhaps I only get one chance, so I am just going to make the most of it; kuliah, kerja sampingan, magang, perluas jaringan, sosialiasi, kurang tidur, tugas menumpuk, sampai akhirnya tersadar bahwa hard work pays off! Masalah nilai, selama saya menikmati prosesnya dan memahami isi materi kuliah, jika saat evaluasi dapat C pun tak masalah (anyway, C di Norwegia ini setara dengan B di Indonesia).

Kalau ingat masa sekolah atau kuliah dulu, kalian kira-kira tipe pelajar yang results-oriented atau process-oriented?



Komentar

  1. Bener banget sih ini. Masalahnya anak muda kadang ga tau apa kemauannya jadi ga punya rencana haha. Apalagi result-oriented, hasil yg dipentingin cuma nilai, yasudah ikut air mengalir aja kerja apa aja yg ada di depan mata :p Ga jelek2 amat tapi aku kapok. Nice post, kak Nin!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menurut ku, bukan sepenuhnya salah kita2 juga. Banyak tempat kuliah dan sekolah di Indonesia itu cuma mengajarkan secara teori, tanpa mau ngasih hands-on experience. Harusnya kampus2 itu kerja sama dengan perusahaan lokal biar mahasiswanya bisa magang dan punya working experience setelahnya. Ada bagusnya lagi, syarat kelulusan itu setidaknya sudah pernah bekerja di part-time di perusahaan besar. Kan lumayan, CV berbobot dikit.

      Yang ada sebaliknya, kampus diperbanyak tapi gak ada mutunya. Jadi kayak cuma memperbanyak sarjana doang tanpa bener2 membekali mereka pengalaman kerja nyata. Harusnya juga dibikin kursus bikin CV dan surat lamaran kerja yang bener sejak kelas 2 SMA/SMK, jadi gak sembarangan bikin CV meskipun udah banyak banget di internet. Hehe..

      Thank you udah mampir, Ruth! :)

      Hapus
    2. *kelas 3 SMA, Maksudnya :D

      Hapus
  2. Halo kak nin as always postinganmu so insightful. Aku setuju banget alhamdulilkah dulu pas s1 aku dapat 2 kali pengalaman magang. I am curious about tesis s2 disana gimana kak? Kalo boleh share juga pengalaman menghadali UTS atau UAS.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yeay!!! Emang bagusnya S1 tuh dipenuhi sama pengalaman kerja ya. Apalagi bagi yg merasa gak pinter2 amat secara akademik. Soalnya IPK rendah, di Indonesia makin bingung mau kerja apa 😅 *aku bingit ini*

      Aku belom tesis. Sekarang masih jalan semester tiga. Tahun depan baru mulai tesis. Pasti akan cerita kok gimana prosesnya :)

      Untuk ujian, aku udah pernah bahas di blog ini. Kalo gak salah judulnya “Waktunya Ujian”. Coba deh dicari di kolom search.

      Hapus
  3. Cuma mau bilang subnallah sih, buat kerja keras yang kamu lakuin saat ini.. kuliah, magang plus kerja paruh waktu ya Allah nin 😦 ntuh badan sama otak pasti capek .. moga kamu kuat di sana ..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku yakin yang hidupnya lebih berat dari aku pasti banyak banget. Tapi so far sih, emang iya, kek mo melayang badan aku. Hahaha.. Yang penting sehat2 aja deh. Kalo capek mah, kerja apa aja capek. Makasih ya udah care :)

      Hapus
  4. Sami sami cantik 😆😆

    BalasHapus
  5. Halo Nin! Salam kenal.
    Mau tanya, aku kmrn sempet browsing kuliah di Norway dan ada keharusan utk menyertakan grade conversion ke ECTS. Itu tabel konversinya boleh diambil dari Kemdikbud atau harus dari univ asal S1 ya? Trims

    Stanja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo Stania,

      Kalo grade pastinya berhubungan dengan tempat kuliah kita sih ya. Soalnya tiap kampus tuh punya sistem grading yang berbeda. Apalagi gak semua kampus ngerti gimana convert ke ECTS. Boleh tau kamu mau kuliah dimana dan jurusan apa? Mungkin aku bisa coba liat dulu si kampusnya ini maunya gimana.

      Tapi kalo emang mintanya begitu, kamu mintanya ke kampus S1 kemaren :)

      Hapus
  6. Hueee bener juga sih..
    Aku masi bingung gimana mau nentuin prioritas. Ipk ku gak bagus bagus amat, jadi ga pantes daftar scholarship juga, tapi masi ngimpi pengen bisa kerja jadi peneliti di eropa somewhere. Lol. Mungkin kudu merenung dulu buat sinkronin realita dan harapan, biar kesampean.

    Makasih banyaaak!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kuliah di luar negeri tidak hanya milik orang pintar yang IPK-nya di atas 3,00 semata! ;)
      Luar negeri juga gak hanya Harvard atau Stanford doang. Ada banyak banget kampus yang gak memandang IPK kamu berapa, asalkan jurusan dan pengalaman kerja sebelumnya sinkron.

      Ayookk, jangan patah semangat ya! :)

      Hapus
  7. Baru baca blog kka malam ini. Aku bener bener pingin kuliah keluar negri, salah satunya di Norwegia. Tapi di semester 5 ini aku benar bener mahasiswa yg nggak punya prestasi kayak olimpiade, summer program, pertukaran pelajar dan lain lain. Aku sekarang lagi usaha banget untuk ikut organisasi dan banyakin belajar bahasa Inggris. Doain ya ka. Semoga dipermudah sama tuhan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaammmiinn..

      Sebetulnya kalo kamu emang kurang di kegiatan non-akademis, mungkin bisa tonjolin di bidang akademisnya juga gak masalah kok. Bisa aja justru bahan skripsi kamu nyambung ke jurusan S2 yang bakalan kamu tuju. Yang paling penting, emang syarat bahasa Inggris sih! Mesti dipoles biar lulus administrasi bahasa Inggris, setidaknya ;D

      Good luck ya!

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bule Ketemu Online, Bisakah Serius?

( PERHATIAN!!! SAYA BANYAK SEKALI MENERIMA TESTIMONIALS SOAL COWOK-COWOK DARI INGGRIS YANG MEMINTA ALAMAT SI CEWEK YANG DIKENAL VIA ONLINE. FYI , HAMPIR SEMUA MODUS PENIPUAN SEPERTI INI BERASAL DARI INGGRIS DAN AMERIKA! JANGAN PERNAH TERTIPU KEMASAN KULIT PUTIHNYA, KARENA BISA JADI YANG KALIAN AJAK CHATTING -AN ATAU VIDEO CALL -AN ITU ADALAH PENIPU !! JANGAN PERNAH BERI DATA DIRI SEPERTI NAMA LENGKAP, ALAMAT, SERTA NOMOR IDENTITAS ATAU KARTU KREDIT KE ORANG-ORANG ASING LEWAT DUNIA DIGITAL! BE SMART, BE AWARE, AND PLEASE JANGAN DULU BAPERAN KALO ADA YANG MENGAJAK NIKAH PADAHAL BARU SEMINGGU KENAL!!!) Selain berniat jadi au pair, ternyata blog saya banyak dikunjungi oleh cewek-cewek Indonesia yang ingin pacaran atau sedang dekat dengan bule. Gara-gara tulisan tentang cowok Eropa dan cowok Skandinavia , banyak pembaca blog yang mengirim surel ke saya dan curhat masalah cintanya dengan si bule. Aduh, padahal saya jauh dari kata "ahli" masalah cinta-cintaan. Saya sebetu

Mempelajari Karakter Para Cowok di Tiap Bagian Eropa

*I talk a lot about European boys in this blog, but seriously, this is always the hottest topic for girls! ;) Oke, salahkan pengalaman saya yang jadi serial dater  selama tinggal di Eropa. Tapi gara-gara pengalaman ini, saya juga bisa bertemu banyak orang baru sekalian mempelajari karakter mereka. Cowok-cowok yang saya temui ini juga tidak semuanya saya kencani. Beberapa dari mereka saya kenal saat workshop, festival, ataupun dari teman. Beruntung sekali, banyak juga teman-teman cewek yang mau menceritakan pengalamannya saat berkencan dari cowok ini, cowok itu, and all of them have wrapped up neatly in my head! Secara umum, tulisan yang saya ceritakan disini murni hasil pengalaman pribadi, pengalaman teman, ataupun si cowok yang menilai bangsanya secara langsung. Letak geografis Eropanya mungkin sedikit rancu, tapi saya mengelompokkan mereka berdasarkan jarak negara dan karakter yang saling berdekatan. Kita semua benci stereotipe, tapi walau bagaimana pun kita tetaplah bagi

7 Kebiasaan Makan Keluarga Eropa

Tiga tahun tinggal di Eropa dengan keluarga angkat, saya jadi paham bagaimana elegan dan intimnya cara makan mereka. Bagi para keluarga ini, meja makan tidak hanya tempat untuk menyantap makanan, tapi juga ajang bertukar informasi para anggota keluarga dan pembelajaran bagi anak-anak mereka. Selain table manner , orang Eropa juga sangat perhatian terhadap nilai gizi yang terkandung di suatu makanan hingga hanya makan makanan berkualitas tinggi. Berbeda dengan orang Indonesia yang menjadikan meja makan hanya sebagai tempat menaruh makanan, membuka tudung saji saat akan disantap, lalu pergi ke ruang nonton sambil makan. Selama tinggal dengan banyak macam keluarga angkat, tidak hanya nilai gizi yang saya pelajari dari mereka, tapi juga kebiasaan makan orang Eropa yang sebenarnya sangat sederhana dan tidak berlebihan. Dari kebiasaan makan mereka ini juga, saya bisa menyimpulkan mengapa orang-orang di benua ini awet tua alias tetap sehat menginjak usia di atas 70-an. Kuncinya, pola

First Time Au Pair, Ke Negara Mana?

Saya ingat betul ketika pertama kali membuat profil di Aupair World, saya begitu excited memilih banyak negara yang dituju tanpa pikir panjang. Tujuan utama saya saat itu adalah Selandia Baru, salah satu negara impian untuk bisa tinggal. Beberapa pesan pun saya kirimkan ke host family di Selandia Baru karena siapa tahu mimpi saya untuk bisa tinggal disana sebentar lagi terwujud. Sangat sedikit  host family dari sana saat itu, jadi saya kirimkan saja aplikasi ke semua profil keluarga yang ada. Sayangnya, semua menolak tanpa alasan. Hingga suatu hari, saya menerima penolakan dari salah satu keluarga yang mengatakan kalau orang Indonesia tidak bisa jadi au pair ke Selandia Baru. Duhh! Dari sana akhirnya saya lebih teliti lagi membaca satu per satu regulasi negara yang memungkinkan bagi pemegang paspor Indonesia. Sebelum memutuskan memilih negara tujuan, berikut adalah daftar negara yang menerima au pair dari Indonesia; Australia (lewat Working Holiday Visa ) Austria Amerika

Berniat Pacaran dengan Cowok Skandinavia? Baca Ini Dulu!

"Semua cowok itu sama!" No! Tunggu sampai kalian kenalan dan bertemu dengan cowok-cowok tampan namun dingin di Eropa Utara. Tanpa bermaksud menggeneralisasi para cowok ini, ataupun mengatakan saya paling ekspert, tapi cowok Skandinavia memang berbeda dari kebanyakan cowok lain di Eropa. Meskipun negara Skandinavia hanya Norwegia, Denmark, dan Swedia, namun Finlandia dan Islandia adalah bagian negara Nordik, yang memiliki karakter yang sama dengan ketiga negara lainnya. Tinggal di bagian utara Eropa dengan suhu yang bisa mencapai -30 derajat saat musim dingin, memang mempengaruhi karakter dan tingkah laku masyarakatnya. Orang-orang Eropa Utara cenderung lebih dingin terhadap orang asing, ketimbang orang-orang yang tinggal di kawasan yang hangat seperti Italia atau Portugal. Karena hanya mendapatkan hangatnya matahari tak lebih dari 3-5 minggu pertahun, masyarakat Eropa Utara lebih banyak menutup diri, diam, dan sedikit acuh. Tapi jangan salah, walaupun dingin dan hampa