Bahagianya Punya Pacar Kaukasia

Sunday, 27 September 2020



Rambutnya pirang ke cokelat mudaan, badannya tinggi semampai, matanya biru, bibirnya merah, dan kalau diajak jalan tak memalukan karena begitu rupawan. Isi dompetnya tebal dan mudah saja mengeluarkan uang untuk mentraktir makan di restoran. Punya peranakan pun begitu dinantikan mengingat akan lebih cantik dan tampan dari kebanyakkan. Belum lagi disejajarkan dengan pacar teman yang asli pribumi, duh kejauhan. Menikah, diboyong ke luar negeri, ohh.. hidup rasanya sangat nyaman.

Ada kebahagiaan sendiri rasanya punya pacar bule yang banyak orang idam-idamkan. Kalau jadi bahan obrolan dengan teman, asik rasanya membanding-bandingkan kasih sayang yang diberikan. Ohh, kemarin dibelikan gaun mewah. Ohh, semalam diberikan bunga. Ohh, tempo hari diberi hadiah mahal. Dikenalkan ke keluarga pun punya rasa bangga tersendiri, karena calon menantu mama di rumah mukanya ganteng bak bintang film. Walaupun tua, renta, dan bulat badannya tak masalah, karena gen berbicara. 

Karena indahnya mimpi utopia ini, cari cowok bule is a must! Seperti naik level bisa menjalin hubungan dengan muka-muka ganteng yang selama ini hanya bisa dilihat di tv. Segala cara dimanfaatkan agar terhubung koneksi bisa berkomunikasi. Bukan tak ada yang memikat di Indonesia, namun ini hanya perkara preferensi.

Saya sebetulnya tak punya against terhadap para cewek Indonesia yang terlalu mengidolakan bule. Terlebih lagi setelah tinggal di Eropa selama hampir 6 tahun, melihat pasangan cewek Indonesia dan cowok lokal pun bukan lagi hal yang aneh. There is no such a thing lagi soal si cowok terlalu ganteng dan si cewek terlalu buluk, atau betapa beruntungnya si cewek Indonesia bisa mendapat pasangan bule langsung di negara asalnya. Yang ada, justru para lelaki ini yang sangat beruntung mendapat pasangan cewek Indonesia! 

Tak jarang saya melihat banyak cowok lokal 'membeli' perhatian si cewek dengan banyak hal yang sebetulnya tak lumrah untuk dating culture negara tersebut. Alih-alih tak ingin ditinggal, justru para lelaki ini yang jadi submissive dan naif. Mengapa? Karena saingannya banyak! Cewek Indonesia mudah saja mendapatkan pasangan baru yang lebih baik hanya dengan modal ponsel dan jempol. Banyak juga anggapan yang mengatakan bahwa sekalinya si cowok berpacaran dengan cewek Asia, selamanya akan menemukan ketertarikan dengan apapun yang berbau Asia. Di Belgia, seorang cowok yang saya kenal terus-terusan mencari cewek Asia di Tinder sampai akhirnya doi selalu matched dengan para au pair Indonesia yang sebetulnya adalah teman sepermainan.


Sebegitu gampangnya mendapatkan pasangan bule sampai hidup kelihatannya lebih baik dari average couple di Indonesia. Dibanjiri kata-kata cinta setiap hari, dibayari ini itu, tak malu mengepel lantai dan membantu mengurus anak, sampai membuka peluang ganti kewarganegaraan. Namun kenyataannya, punya pasangan dengan banyak perbedaan itu justru punya tantangan lebih besar. Bukan lagi soal bahasa dan budaya, tapi juga pandangan orang lokal yang selalu mengaitkan cewek Asia sebagai gold digger yang hanya menikah karena harta dan green card. Sure, you do not care what people think! Tapi sayangnya, kamu tidak akan pernah bisa lari dari stigma negatif ini apalagi saat memutuskan untuk tinggal di negara si cowok.

Beberapa minggu yang lalu, saya diajak dinner oleh seorang ibu-ibu Asia di Oslo yang sudah lama tinggal di Norwegia dan sudah ganti kewarganegaraan. She is a smart lady! Setelah menyelesaikan pendidikan di negaranya, si ibu lanjut mendapatkan beasiswa S2 ke Amerika, dan tawaran Ph.D di Norwegia. Si ibu dan suami bertemu di Norwegia dan melanjutkan hubungan lebih serius ke jenjang pernikahan. Sebagai wanita Asia yang highly educated, ibu ini juga sangat cerdas dibandingkan koleganya. Dalam waktu 5 bulan saja, si ibu sudah berhasil menelurkan jurnal dan membuat beliau diundang ke acara makan malam bersama para akademia lainnya.

But guess what, there was a sad story after. Ketika si ibu mengenalkan diri sebagai wanita Asia yang bersuamikan lelaki lokal ke salah seorang profesor senior di acara tersebut, si profesor secara berani merendahkan beliau. "So, kapan kamu akan menceraikan suami mu?" tanya si profesor dengan serius.

Di acara yang begitu formal, dengan pengalaman akademisnya yang tinggi, tak ada hubungannya sama sekali dengan jurnal, tapi si profesor secara terang-terangan menusuk kehidupan personal si ibu.

"No, I am serious. Kapan kamu kamu akan menceraikan suami mu?" tanya si Profesor lagi. Dua kali.

Girls, what would you do if you were her?! Untuk orang yang berpendidikan tinggi dan datang ke Norwegia bukan karena ikut suami, tetap tak menutup kemungkinan kalau kita akan dihadapkan dengan hal serupa.

Dengan sangat jelas, pertanyaan tak pantas tersebut sebetulnya juga punya akar. Banyak sekali kasus wanita Asia yang menikah dengan para lelaki Kaukasia hanya karena ingin mendapatkan permanent residence (PR) dan citizenship. Kasihannya, setelah berhasil mendapatkan PR tersebut, si wanita tega saja menceraikan si suami yang dari awal mungkin memang sudah desperate ingin menemukan pasangan hidup.

Di Norwegia, Mumu pernah cerita bahwa seorang bapak-bapak sampai bunuh diri karena ditinggal istri Asianya yang juga membawa anak hasil perkawinan mereka. Si bapak ini memang punya gangguan mental yang membuatnya bisa kapan saja galau dan bunuh diri. Setelah mendapatkan PR, si mantan istri begitu saja meninggalkan beliau dan membuat si bapak harus masuk rumah sakit berkali-kali karena stress akut. Tak kuat menapakki hidup penuh keputusasaan, si bapak memutuskan mengakhiri hidup karena overdosis.

It's so sad to know. But yes, ada banyak cewek Asia yang memang setega itu hanya demi permanent residence! Faktanya, tidak semua kehidupan mereka jadi setingkat lebih indah hanya karena punya pasangan Kaukasia. 

Ketika cerita ke beberapa orang teman hidup saya di Norwegia begitu sulit, penuh perjuangan, kekurangan uang, serta selalu diikuti rasa was-was, mereka dengan entengnya mengatakan bahwa hidup saya masih lebih beruntung karena punya Mumu di sini. Dengan mudahnya berasumsi bahwa dengan adanya partner seperti Mumu yang notabene orang Norwegia, hidup saya jadi lebih baik karena bisa bergantung dan numpang tinggal gratis selama menyelesaikan studi.

Baca juga: Cowok Norwegia di Online Dating

Seseorang memang tidak akan pernah tahu apa yang kita rasakan sebelum betul-betul merasakannya. Di luar, orang melihat saya beruntung karena sudah punya pacar Norwegia yang mungkin ke depannya bisa jadi penjamin hidup di sini. But they never know, I have begun building my future by standing on my own feet before I met him!

Don't get me wrong. Meskipun merasa cewek independen, tapi tetap saja orang melihat ada udang dibalik batu setiap kali melihat pasangan beda negara. Pernah suatu kali saat bertamu ke rumah cowok Denmark dan bertemu kedua orang tuanya. Berjam-jam di meja makan, saya merasa seperti sedang disidang dan diinterogasi.

"Apa kamu tidak lelah terus-terusan jadi au pair?" kata si ibu sambil melipat tangan. "Anak-anak saya di sini semuanya highly educated (lulus S2), apa ada kemungkinan kamu bisa lanjut kuliah juga?"

Padahal saat itu posisi saya sudah mengantongi ijazah S1 dan dirasa belum cukup berpendidikan bagi beliau. Apa kabar kalau saya cuma lulusan sekolah menengah??!!

"Saya merasa imigran di sini hanya datang mengusik lapak orang lokal. Saya tidak mengerti mengapa imigran cepat sekali dapat pekerjaan, sementara kami orang lokal yang punya edukasi bagus ini malah banyak yang masih jadi pengangguran," tambahnya lagi.

The way she said it, the way she looked at me! Oh, Man! Rasanya ingin cepat-cepat angkat kaki, meninggalkan rumah tersebut, dan bersumpah tak akan bertemu ibu ini lagi.

Di Norwegia, salah seorang teman host mom juga nosy menanyakan hal personal saya yang sebetulnya tak penting untuk dia tahu. Host mom memang kadang terlalu detail memperkenalkan saya ke teman-temannya, sampai mungkin membuat seorang teman kepo bukan main. Seperti ingin tahu berapa umur cowok yang sedang dekat dengan saya, apa pekerjaannya, apa motivasi saya ikut au pair, apakah uang saku yang saya terima dikirim semua ke Indonesia, dan pertanyaan lain yang kadang enggan saya jawab.


Padahal tak semuanya juga bangga punya pasangan bule. Tak semuanya menganggap pasangan tersebut seperti tropi yang harus dibanggakan ke semua orang. Tak semuanya juga melihat bule seperti ATM berjalan yang mudah saja ditarik uangnya setiap waktu. Ada banyak sekali cewek-cewek Asia yang berpasangan cowok Kaukasia, tapi mampu menunjukkan kalau mereka mandiri dan punya karir yang malah lebih bagus dari si pasangan. Termasuk saya, yang semakin termotivasi untuk membuktikan bisa berdiri di kaki sendiri tanpa status pacar bule sekali pun!

Ketika memutuskan tinggal di negara pasangan mu, go get a job, Girls! Learn the language! Be smart! Be social! Be independent! Show them you are not that typical Asian girls! Saya tahu, cari kerja di negara orang itu tidak mudah. Tapi kalau pasangan mu bukan tipe lelaki yang bisa membanjiri kasih sayang dan harta layaknya Raffi Ahmad, jangan paksa mereka untuk menjadi seperti itu. Yang saya tekankan di sini, jadilah cewek mandiri yang bangga terhadap diri sendiri, bukan bangga karena pasangan mu cowok Kaukasia. Ingat, yang punya cowok bule bukan kamu seorang!



18 comments:

  1. Cerita yang menarik mbak. Ini sebetulnya sebuah cerita biasa di banyak negara di era globalisasi begini. Penduduk asli merasa pendatang adalah ancaman dan muncul stigma2 (yang kadang di dukung oleh perilaku beberapa oknum)

    Semakin kompleks juga bila sudah masuk ke ranah pernikahan karena semakin besar perbedaan kultur semakin tinggi effort untuk menpertahankan pernikahan. Kalau fondasinya saja sudah nggak kuat (nggak berdasar cinta dsb) ya gampang bubar saja.

    Ih Professor nya itu ya cynic rasis dan nggak sopan banget. Mungkin cynic atau mungkin diam-diam dia naksir kali ya mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul. Sebenernya ini tuh cerita biasa banget. Dari dulu juga stigma negatif ttg cewek Asia yg kawin sama cowok Kaukasia pasti pemikirannya lebih ke si cewek yg gold digger, yg cowok desperate nyari cewek Asia karena gak ada yg mau sama dia di negaranya.

      Gak usah jauh2. Di Indonesia sama aja. Kemaren2 banyak tukang dari Cina diimpor buat ngerjain proyek, orang kita pada bekoar2. Padahal mungkin orang kitanya sendiri gak mau jadi tukang & kalopun kerja, pasti gak setekun orang Cinanya sendiri.

      Why I shared this story.. mungkin pengen ngasih tau aja ke anak2 muda naif di luar sana, kalo nikah sama bule + memutuskan tinggal di negaranya, hidup kamu tuh gak melulu bakalan lebih baik :) Siap2 kena stigma negatif, even kamunya sendiri merasa independen.

      Yeeees!!! Aku juga mikirnya begitu!! Mungkin si profesor naksir ibu itu. Tapi ibu itu merasa enggak. Ekspresinya tidak menunjukkan si profesor sedang flirting!!

      Delete
    2. Haha cara flirtingnya enggak banget si prof. Harus belajar dari anak muda.

      Benar, mbak. Kalau menurut saya ini lebih banyak di isu rasis daripada isu lain ya. Karena tunjangan pemerintah untuk warga asli gede termasuk pajaknya. Mereka tidak nyaman bila uang yang berputar dipakai untuk membiayai imigran, (ini pengalaman saya di negara lain ya)/

      Pertanyaannya, apakah wanita kaukasian yang memilih stay at home karena banyak alasan akan mendapat judgement yang sama?

      Menurut cerita kawan saya yang tinggal di daerah Nordic, peran ibu terhadap pengasuhan anaknya di sana tidak banyak, setidaknya dibanding disini, karena kalau stay at home saja si ibu akan kesepian, maka dari itu banyak yg berkerja bukan melulu karena alasan finansial. Sebagian besar pendidikan anak sudah diambil alih oleh pemerintah.....bagaimana menurut mbak?

      Delete
    3. Jujur aja. Aku ngerasa emang si prof itu emang gak lagi flirting sih. Soalnya karena kejadian tsb si ibu bener2 mentalnya down banget. Pasti beda dong kalo ada orang yg flirting vs sedang merendahkan kita. In the end, yang ada di posisi tsb saat kejadian itu memang si ibu. Jadi keknya aku yakin, kejadian tsb emang pada dasarnya mau merendahkan si ibu yg bersuamikan orang lokal.

      Penghasilan gede = pajak gede dong. Lagian aku ngerasa orang2 tsb juga kerja untuk membangun negara. Imo ya. Cuma mungkin memang salah aja wacananya yg terlalu berat sebelah ke imigran, sementara warga sendiri diacuhkan :/

      Tergantung.. Kaukasia mana dulu nih. Setau aku kalo di Skandinavia, jaraaaaaang banget ada ibu yg mau stay di rumah. Mereka tetep bakalan kerja seminimalnya 10 jam per minggu deh. Di Belgia dulu juga sama, aku gak ngeliat poin kenapa ibu2 cuma stay di rumah hanya karena mau ngurus anak?? Anak2 bisa masuk ke daycare dan si ibu tetep bisa cari kerja kok :) kecuali ada masalah sama fisik & kesehatan ya.

      Betul. Kan keluar gak melulu harus nyari duit. Bisa juga untuk bersosialisasi. Aku gak tau temen kamu orang mana, tapi kalo dari persepsi wanita Skandinavianya sendiri, urusan finansial itu penguat rumah tangga :) mereka bisa dapet dana pensiun karena pendapatan. Terus mereka juga bisa berdiri di kaki sendiri just in case tetiba bercerai.

      Delete
    4. Kawan saya senegara denganmu mbak.

      Ohya, dia juga mention tingkat perceraian disana memang tinggi sekali. Sampai ada semacam pelajaran buat anak-anak di sekolah tentang perceraian, ada daddy/mommy baru dan saudara baru...gimana hadepinnya.

      aku gak ngeliat poin kenapa ibu2 cuma stay di rumah hanya karena mau ngurus anak?

      Hehe....I see, memang budaya disana sudah berbeda, bagi sebagian orang Timur kan nggak begitu mbak. Saya nggak bisa bilang mana yang lebih baik. Semua ada plus minusnya. Minusnya adalah soal bonding. Apalagi di Barat nggak menganut kewajiban merawat orang tua saat pensiun. Jadi salah satu kawan saya juga pernah berpendapat buat apa punya banyak anak, toh akhirnya dia akan meninggalkan kita. Jadi menurut saya memang di Barat sana memang pilihannya hanya itu ya...

      Delete
    5. Iya. Maksud aku.. aku gak ngeliat poin kenapa ibu2 Kaukasia hanya mau di rumah doang & ngurus anak :) Kalo soal budaya Asia, sebetulnya sekarang tuh makin banyak lho ibu2 yang mau kerja. TAPIIII... terkendala biaya & anak. Oke, kerja. Tapi anak mau dititipin ke siapa? Orang tua? Kasian udah tua. Terus mau dititip ke daycare. Aman gak? Mahal gak? Percuma kerja gaji 1 juta perbulan kalo daycare-nya aja udah 750ribu. Soalnya temen ku yg gak kerja problemnya memang begitu semua :)

      Hmmm.. kalo soal bonding, kayaknya gak melulu hanya karena “ibu yg mengasuh dari kecil” deh :) Di Norwegia banyak banget lho yg cinta sama family, even dari kecil udah masuk daycare. Pokoknya family first deh.

      Sebaliknya di Asia, banyak yang jadi sandwich generation :< Salah? Enggak. Karena memang budaya kita seperti itu. Aku yakin, kalo aku sampe skrg masih tinggal di Indonesia, pasti pola hidup aku bakalan mengikuti lingkaran tsb :D

      Delete
    6. Ohya mbak meluruskan saja bicara yg umum ya saya tdk mention daycare di Norway karena sampel penelitiannya bukan disana, untuk bonding faktor2 lain spt kualitas daycare dan faktor2 kondisi keluarga...sepengetahuan saya di Norwegia karena penurunan jumlah anak tunjangan dan dukungan yg dikucurkan pemerintah cukup besar ya termasuk maternity leave ayah ibu...sehingga mrk bisa ada waktu bersama saat anak masih kecil cmiiw loh ya. Seperti yg umum tahu kualitas edukasi disana juga termasuk yg terbaik. Negara berperan besar disini.

      Anyhow, sangat menarik bisa bertukar informasi denganmu mbak...terima kasih responnya ya



      Delete
    7. Kalo soal penurunan jumlah anak, aku gak yakin sih ya 🤔 Abisnya di sini penduduknya aja cuma 5 juta jiwa. Terus skrg tuh yg paling banyak populasinya lansia. Aku pernah baca, pemerintah malahan terus2an mendorong ibu2 biar mau punya anak.

      Iya. Makanya gak adil membandingkan Norwegia yg masyarakatnya cuma seupil ini sama Indonesia yg manusianya beratusan juta itu 😀 Menarik banget!!!! Makasih banyak udah mampir dan sharing ya!! Sungguh berfaedah ;)

      Delete
  2. Kak nin. Ini bukan salah kita terlahir jadi cwek asia. Haha.

    Parah sih, emang mau nikah sama cowok manapun si cwek harus kerjalah, jangan mau suami aja yg kerja. Biar lebih mandiri untuk kedepannya!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nope!! I don’t blame our ancestors!! Aku malah BANGGA banget jadi cewek Asia cooyy! ✌🏽

      Ehh jangan salah kamu..
      Masih banyak lho cewek2 Indonesia yg nikah sama bule, lalu mengaplikasikan budaya patriarki Indonesia ke suami bulenya. Jadi ya si istri yg jaga anak & beres2 rumah, terus si suami yg mesti kerja & ngasih nafkah kanan kiri. Imbasnya, si istri ini bahasa asingnya gak terlalu bagus & maennya sekitaran orang Indonesia doang.

      Delete
  3. Duhhh aku suka banget sama blog kakak♡♡♡ mengedukasi dan menginspirasi banget >.<
    Setelah baca beberapa artikel dari blog kakak, aku jadi sadar dan semangat buat belajar lebih banyak, menempuh pendidikan tinggi, dan cari pekerjaan yang layak dan sesuai passion. Bisa jadi independent women yang smart, dan juga creative.
    Semoga aku bisa success, dan menginspirasi kaya kakak nantinya >.< keep writing and sharing please!
    Your blog its such a gem to me☁️✨♡

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih banyak ya udah mampir ke sini!! Happy to inspire others!!

      Ayookk jadi wanita mandiri yang gak sepenuhnya menggantungkan hidup ke lelaki ;)
      Karena kita gak bakalan tau apakah jodoh kita bakalan setajir Nia Ramadhani apa gak.
      Bahkan yang suaminya seorang Raffi Ahmad pun, tetep gak bikin Gigi males kerja kok :D
      Bantu2 suami ya apa salahnya juga, berbagi peran dan finansial.

      Aaammmiin...
      Keep updating ya sama postingan2 aku selanjutnya.

      Delete
  4. Soal prejudis wanita Asia ini emang udah lama banget ga abis abis. Dari jaman baheula sampe sekarang pun masih gitu. Bukan maksud saya untuk menudingkan jari ke sesama perempuan, tapi memang disayangkan ada beberapa wanita Asia yang memang memposisikan diri seperti itu, menjadikan diri sebagai obyek tertentu untuk para laki2 bule demi ini dan demi itu :(

    Salah satu "solusi" ya memang cari pergaulan yang lebih sehat. Cari laki2nya juga yang mikirnya ga kesitu. Aku udah lama menjauhkan diri dari perempuan2 tertentu yang kelakuannya kek gini. Daripada drama dan disangka ini itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama 😆😆

      Aku kepikiran nulis ini karena yg pamer pacar bulenya gak abis2 di feed. Aku eneg. Aku muted. Seolah2 idup sama bule enak2 mulu. Naif banget.

      Delete
  5. Sedih juga ya pas tahu ada cewek asia yang tega ninggalin suaminya gitu 😣 ga yangka loh nin klo cewek asia dicap buruk ma orang orang sana. Tapi apa yang kamu katakan bener loh .. jan bangga hanya karena punya pasangan kaukasia tapi banggalah terhadap dirimu sendiri dan belajar mandiri biar kita bisa berdiri dikaki sendiri dan ga bergantung pada siapapun. Lagian kasian juga ya klo para bule selalu aja di jadiin ATM berjalan, padahal mereka kan sama kayak cowok cowok lain yang punya hati yang juga bisa ngerasain sakit klo di sakitin .. cuman mungkin kelitannya dari luar mereka lebih super 😂 tinggi, kulit putih, hidung mancung n hidup di negara maju ... tapi sebenarnya klo ditelisik lebih dalam kayaknya sama aja dah kayak cowok di sini ada yang kaya, ada yang hidup pas pasan ada juga yang mungkin harus meras keringat pagi dan malam buat bertahan hidup

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banyak kok orang2 yg tega meninggalkan pasangannya karena motivasi tertentu 😁😁 Udah lama banget prejudice soal cewek Asia-cowok Kaukasia. So, don’t be surprised lagi! :)

      Iya. Keliatan dompetnya tebel karena pas dikonversi ke Rupiah keknya banyak banget. Padahal bisa jadi di negaranya tu cowok2 bule biasa aja.

      Sebaliknya.. Indonesia kek negara miskin, tapi banyak orang2nya kaya sultan. Liburan pake jet pribadi, ke hotel2 mewah, beli rumah miliaran rupiah 😇

      Delete
  6. Hooh .. btw makasih yak postingan kamu selalu aja mengandung pengetahun n pelajaran 😍😍

    ReplyDelete
  7. duh baca ini jadi gatel pengen ikut komentar. Saat ini aku juga akan menikah dengan pacarku yang biasa disebut Bule (aslinya aku agak ga nyaman sebut sebut dia begitu) dan pandangan negatif itu sudah aku dapat bahkan dari lingkaran keluarga ku yang meragukan apa dia bisa serius apa dia tidak kasar dll, sedangkan dari sisi keluarga dia aku belum merasakan yang gimana gimana karena memang pada saat kami berpacaran kami nggak terlalu attached satu sama lain. Ya karena perbedaan waktu dan kesibukan pekerjaan masing2 ditambah lagi saya masih lanjut kuliah sepulang kerja. Jadi jujur aja ini relationship saya yang paling sehat, I mean.. yes aku memang suka sama fitur fitur Kaukasia tapi aku ga mimpi jauh jauh dapet jodoh harus bule. Malah setelah aku pacaran dengan dia, aku merasa bisa improve karir, bersosialisasi sepuasnya dan dapat banyak teman baru dari belahan negara lain.Di sisi lain keluarganya sangat welcome meskipun lingkaran lain dingin pada migran , basically they never care unless you make something big for them. Diskriminasi itu bakal selalu ada sih, dimanapun tempatnya. Bahkan di negara sendiri aja kami pernah kok dilecehkan karena terlihat jalan bareng sambil gandengan, waktu itu sih sedih banget karena ngerasa aku ga pantes buat dia apa ya? Tapi dia juga yang berhasil meyakinkan kalo aku worthy, cantik bahkan tanpa barang branded, kalo ada yang mau bilang pasti idup lu enak bergelimana duit... No! Aku bekerja dan punya gaji, bahkan pas ketemu pun gantian , kalo dia bayarin makan jadi aku yang bayar jajan dan transport. Sebelum nikah aku putuskan belajar bahasa mereka, katena aku ga suka didiemin cuma karena mereka terlalu males mikir dulu bahasa inggrisnya apa. Aku sadar kalau aku yang mendatangi, ya jadi harus ngalah itupun juga buat kebaikan saya. Kadang suka gedeg liat orang orang yang terlalu naif menganggap pindah ke luar negeri semudah itu, langsung dapat kerja bahkan pindah kewarganegaraan. Padahal ada perjuangan untuk itu. Kalo mo cerita soal mixed marriage mah gabakal ada abisnya wkwk.

    ReplyDelete