Hari Terakhir di Phnom Penh

Sunday, 21 July 2013



Mai mengabari kalau pagi itu dia tidak bisa menemani kami jalan-jalan karena sakitnya kambuh. Poor Mai.

"If I could wake up from my bed, I will pick you up in the hotel at 8 AM," katanya di telepon.

Sebenarnya tidak enak juga sih, kemarin waktu menemani kami jalan-jalan sebenarnya Mai juga sedang dalam kondisi tidak sehat. Apalagi malamnya mendapati kabar ibunya masuk rumah sakit gara-gara terlalu banyak minum. Memang waktunya Mai istirahat.

"It's your last day in Cambodia. I don't want to miss our last opportunity. But I'll try my best to be stronger," katanya lagi.

Duh, beneran jadi terharu deh. Tapi akhirnya sampai jam setengah 8 pagi Mai mengabari kalau dia tidak bisa menemani kami karena perutnya masih sakit.

"It's okay, Mai. You should take a rest. Thank you for a few days ago," Dwi jadi prihatin.

Dan jadilah hari terakhir di Phnom Penh diisi dengan kegiatan belanja dan kunjungan ke Tuol Sleng. Dina buru-buru minta maaf saat datang terlambat. Padahal telatnya cuma setengah jam doang. Lagian kalau dia datangnya on time terus kasihan di saya dong. Habisnya di antara teman gang, cuma saya yang bangun paling telat dan kebagian mandi paling akhir. Isshh..curhat.

Dina beneran jadi time manager alias alarm yang baik banget buat kami. Pas ditraktir sarapan (lagi-lagi) kami selalu diingatkan untuk tidak terlalu lama menghabiskan makanan. Saat sesi jalan-jalan, dia terus-terusan mewanti-wanti kalau kami cuma waktu kurang dari dua jam buat berbelanja. Habisnya, kami harus menyisihkan waktu untuk check out dan kunjungan singkat ke Tuol Sleng. Dia tidak ingin kami terlambat sampai bandara dan ketinggalan pesawat. Uuuhh...totwit.

Jadi ceritanya, kami dibawa Dina balik lagi ke pasar sentral yang pertama kali kami datangi. Eh sebenarnya permintaan khusus dari kami juga sih. Pas kali pertama datang, saya dan Mbak Lia naksir berat dengan kain Kamboja yang warnanya cantik-cantik, jadinya sudah dijadwalkan bakal balik lagi kesini. Tapi ternyata pas balik lagi, kok tidak selera lagi ya dengan kain-kainnya? Aiihh bohong sih, sejujurnya dolar sudah mepet. Jadinya balik-balik jajan kaos sama suvenir doang. FYI, kaos-kaos Kamboja bahannya bagus-bagus banget! Sueerr... Harga per-bijinya cuma US$2 dengan bahan bagus dan motif sablon neon. Must buy deh ya kalau mampir ke pasar ini. Hohoho..

Entah mengapa saya mulai selera dengan menu makan siang kali ini. Bukan karena lagi-lagi gratis ya, tapi jujur saja, kemarin-kemarin saya sempat dibuat eneg dengan seleranya orang Kamboja. Sialnya, setiap kali ingin pesan makanan, kami tidak pernah disuruh memilih menu sendiri. Jadi kebanyakan Dina atau Mai yang memesan. Pas makanannya datang pun, si Dina dengan 'baik hati' meracik bumbu makanan kami, baru memperbolehkan kami makan. Idihh..sungguh tidak adil! Hehe.. Tapi rata-rata bumbu racikan Dina enak kok. *bohong*

Tahu makanan yang bikin saya selera? Kepala ikan goreng yang super crunchy! Hohoho.. Saya sampai lupa lho menawari Mbak Lia, Dwi, dan Dina saking serunya makan ikan sendirian. Eh sumpah, beberapa hari ini saya cuma disuguhkan mie, jamur, daging, ayam, atau kerang-kerangan. Bosan juga kali ah.. Makanya pas pesan menu, saya ngomong ke Dina kalau saya ingin ikan. Ikan apa saja deh. Lucky me, dibawain ikan goreng. Iya, ikan goreng doang. Rakus deh eke!

"She misses to eat fish. So, she likes fish," kata Dwi saat menyadari Dina memperhatikan saya makan ikan dengan lahapnya.

"Ohh, it's okay. Eat.. eat," kata Dina maklum sambil mengangguk-angguk.

Tapi bukan cuma saya lho yang lahap makan. Si Mbak Lia juga kok kayaknya tidak menoleh lagi ya dari mangkuk berisi ayam-mirip-soto-tapi-asam itu? Iiihhww..ketawan! "Sambel sama kecap asinnya cocok joonn..," belanya. Dooh, alibi doang bilang aja laper.

Berikutnya adalah kunjungan ke Tuol Sleng. Dina mengingatkan lagi kami cuma punya waktu sekitar satu jam untuk keliling Tuol Sleng. Deehh...lagian mau apa pula sih di Tuol Sleng lama-lama? Kan syerem.

Sebenarnya Tuol Sleng ini 'hanya' museum dengan bangunan yang dulunya adalah sekolah. Ta-piiiii...museum ini adalah bangunan yang menjadi saksi bisu kekejaman Pol Pot zaman dulu. Dwi sampai mau nangis memohon untuk tidak masuk kesana. Tapi berkat 'rayuan' kami dan Dina, akhirnya dia mau juga tuh masuk ke Tuol Sleng.

Selain jadi alarm yang super on time, Dina juga berbaik hati menjadi guide kami selama di Tuol Sleng. Tuh kan, kurang servis apalagi coba kami ini? Jalan-jalan diantar pakai mobil, makan dibayarin tiga kali sehari, karaoke ditraktir, ini jadi guide gratisan pula! Padahal kalau mesti nyuruh guide menerangkan isi museum, mesti bayar lagi kan?! Lucky us! Hehe..

Jadi intinya museum ini akan menyuguhkan sejarah yang kelam bagi masyarakat Kamboja dan sungguh memilukan. Bayangkan, satu bangsa, satu tanah air, tapi nekad saling siksa. Begitu juga dengan sejarah Tuol Sleng ini, sungguh menyayat hati. Kekejaman Pol Pot ini mirip-mirip peristiwa G30S/PKI. Tapiiii..menurut info yang saya dapat dari Dina, ternyata tentara Pol Pot ini adalah anak-anak muda yang umurnya dibawah 20 tahun! Katanya, sebelum menjadi pasukan Pol Pot, anak muda ini disuruh membunuh kedua orang tua mereka dulu. Karena, kalau mereka sudah berani membunuh orang tua sendiri, mereka tidak akan mungkin takut membunuh orang lain. Ya Tuhan, saya sampai merinding.

Ada banyak foto tentara Pol Pot dan korban-korban yang disiksa di museum ini. Sungguh memilukan, anak-anak muda yang nyatanya orang Kamboja juga nekad menyiksa hidup-hidup orang tua yang jelas-jelas satu bangsa. Saya saja sampai tidak ingin menceritakan kekejaman mereka lebih lanjut. Untungnya kunjungan kami hanya dibatasi Dina sampai jam setengah dua. Kacau juga kalau sampai sore kami disini. Habisnya Mbak Lia mengajak nonton video dokumenter yang akan ditayangkan jam 3 nanti. Gila, saya bisa-bisa tidak tidur nanti!

Saat menunggu taksi yang akan mengantar ke bandara, kami pamitan dulu dengan resepsionis hotel yang ramah sekali. Selain bahasa Inggrisnya bagus, kami juga tidak segan untuk komplain apapun dengan dia. Eh iya, saya ketemu sama cowok manis mirip Calvin Jeremy di hotel. Tumben-tumben kan nemu barang bagus di Kamboja. Bukan tamu lho, tapi bellboy-nya. Saya sih sebenarnya sudah ketemu dia dari kemarin, tapi pas mau check out kebetulan dianya stay di lobi terus. Jadinya sekalian pamitan deh. *Gak penting*

Bye bye, Phnom Penh

Well, this our last time in Cambodia. Sungguh senangnya hati ini, kemana-mana diantar, ditraktir makan pula. Enaknya ya menyombongkan pengalaman sama orang. Hahaa.. Tapi sumpah, sampai sekarang saya juga tidak menyangka bakal dapat teman yang super baik seperti mereka. Saya dan dua orang travel mate sampai sudah janjian bakal menjamu mereka dengan baik pula kalau mereka datang lagi ke Indonesia. Ngomong-ngomong, Dina lagi giat-giatnya latihan nih agar dikirim ke pertandingan petanque di Bali Oktober nanti. Semoga saja berhasil ya! Hoping you will go to your dreamland, Din!


Mabuk Servis di Phnom Penh (4)

Friday, 12 July 2013


Pagi-pagi kami seperti dikejar anjing dan mesti buru-buru gara-gara salah jadwal. Karena kelelahan semalam, kami sampai bangun kesiangan. Jam 7 pagi ponsel Dwi sudah berdering karena panggilan Mai. Masih dengan mata tertutup dan setengah sadar, saya mendengar, "Yes, what? Okay. Eleven? Okay." Klik.

Kembali hening....

Sialnya beberapa menit kemudian kami bertiga bangun layaknya zombie, langsung berebutan masuk kamar mandi dan Dwi buru-buru nampol bedak kesana-kemari. "Duuh..kirain jam 11, jadinya aku tidur lagi. Eh ini dia barusan nelepon katanya jam 7. SEVEN jadinya bukan ELEVEN," kata Dwi. Parahnya lagi saat Mai nelepon, ternyata dia sudah di lobi. Aaarrghh..

"I'm sorry, Mai, we're late," akhirnya saya dan Mbak Lia yang datang 30 menit kemudian jadi tidak keenakan dengan Mai. Hari ini Mai bilang kalau dia sedang tidak sehat tapi karena sudah janji ingin mengantar kami keliling Phnom Penh akhirnya dia malah yang tidak enak kalau sampai telat. Lho, Mai...

Saat itu Mai tidak sendiri, tapi ditemani adik pacarnya yang masih berumur 19 tahun. Saya lupa nih siapa nama adik itu. Iiisshh.. Dari hostel, kami menjemput Dina dulu di rumahnya. Karena semalam tidak bisa ikut gabung, akhirnya dia ingin join hari ini. Seperti biasa, lagi-lagi kami diservis dengan sangat memuaskan! Selain (lagi-lagi) ditraktir sarapan, kami diajak keliling Phnom Penh sekalian foto-foto. Mai bilang, kalau kami tinggal lebih lama di Phnom Penh dia akan mengajak kami ke Sihanouk.

"How long that place from Phnom Penh?" tanya Dwi.
"It's about 4 hours from here," jawab Mai.
"How to go to there?" tanya saya.
"By car."
"Who's the driver then?" tanya saya lagi.
"Me. I'll take you there and we'll play in the sea or BBQ-ing."

Ohhh...Mai sudah kelewatan baik nih kayaknya. Dari hari pertama sampai hari keempat kami di Phnom Penh tidak henti-hentinya dia memanjakan kami. Ya mungkin lebih tepatnya tidak berhenti mentraktir makan 3 kali sehari. Sehabis sarapan, kami diajak mengunjungi Royal Palace-nya Kamboja yang jadi salah satu landmark kota. Sayangnya saat kami kesana, Royal Palace sedang tutup dan istirahat. Yasudahlah, main-main di teras istana lumayan juga.


Karena Mai sedang ada kerjaan, jadinya dia nyuruh kami tinggal di rumah Dina dulu sampai makan siang. Dina juga tidak segan dan sepertinya dia happy sekali saat kami main di rumahnya. Di rumahnya, kami kenalan sama ibu Dina yang kata Dina, beliau salut sekali dengan kami, keliling dua negara, tanpa keluarga atau sanak saudara. Pemberani! Backpacking gitu lho...

Cuaca Phnom Penh siang itu memang sedang bersahabat sepertinya. Hujan deras mengguyur kota sepanjang siang. Dina sepertinya mengerti kalau kami kecapekan dan mempersilakan kami untuk tidur siang di kamarnya selagi menunggu Mai. Awalnya sih kami tidak mau, takut merepotkan. Tapi nyatanya, semua mendarat di kasur dengan selamat. Hahaa..

Jam 3 sore, saat hujan sudah reda, Dina membangunkan kami untuk cari makan siang. Apalagi nih? Perasaan kami belum terlalu lapar. Tapi Dina bilang jam makan siang sudah lewat dan dia sudah kelaparan. Baiklah.. Mari kita makan!!


Sekitar satu jam kemudian Mai datang dengan adik pacarnya ke restoran. Setelah makan siang ini mereka akan mengajak kami karaokean! Yaaayy... Dengan 2 motor, yang masing-masing dinaiki 3 orang, kami akhirnya sampai juga di sebuah tempat karaoke yang sebenarnya mirip dengan tempat karaoke di Indonesia. Tapi baru setengah jam bernyanyi, Mai dan Dina komplain ke Mbak resepsionis (tidak tahu bicara apa) lalu mengajak kami pindah lokasi. Lho?

"The place isn't really good," jawab Dina singkat saat kami tanya kenapa sampai harus pindah lokasi. Padahal menurut kami tempatnya lumayan juga sih. Tidak ada yang salah. Tapi ya mau bagaimana lagi, cuma mereka yang tahu alasannya. Hingga akhirnya mereka memilih KTV ini! Wohooo...

Sekitar 2 jam bernyanyi tidak jelas, jam 8 malam Mai ditelepon seseorang yang mengatakan kalau ibunya sekarang masuk rumah sakit gara-gara kebanyakan minum. Semalam saat di KTV ibu Mai memang tidak berhenti minum bir. Saat pulang pun saya melihat gelagatnya yang sudah seperti orang mabuk. Ternyata kami juga baru tahu ibu Mai minum bir lagi setelah pulang dari KTV itu. Oh my God! Padahal Mai bilang ingin bernyanyi bersama kami hingga tengah malam. Rencananya dia akan mengajak pacarnya bergabung.Tapi saat dihubungi, pacarnya sedang kuliah dan baru bisa gabung jam 9 malam. Bakalan semalaman suntuk di KTV pasti ceritanya nanti.

Kami akhirnya sudah kembali ke hostel jam 9 malam. Ada untungnya juga sih. Ini malam terakhir kami di Phnom Penh, artinya kami masih punya waktu untuk istirahat lebih lama dan unpacking. Tapi Dina menguntit hingga ke kamar. Awalnya dia seperti 'tidak tega' melihat kami hanya menghabiskan waktu di kamar saat malam terakhir di Phnom Penh. Kalau kami mau, sebenarnya dia akan menghubungi teman-temannya agar bisa menemani kami keliling Phnom Penh malam itu. Sungguh jamuan yang memuaskan memang. Namun sepertinya Dina mulai mabuk karena dia sampai tergeletak lama di kasur kami. Tuh kan, untuk tawaran dia kami tolak. Lha orangnya saja sudah mabuk begitu.'

"Okay, we'll be meet again at 7 AM tomorrow. Don't forget ya..!" katanya mengakhiri obrolan saat kami mengantarnya ke lift malam itu.


Visa Bekerja dan Berlibur Australia




Beberapa hari belakangan ini saya sedang sibuk-sibuknya mencari info mendapatkan visa subclass 462 Australia. Satu keluarga di Orange, NSW, tertarik memperkerjakan saya sebagai au pair untuk mengasuh anak-anak mereka selama satu tahun.

Dengan akomodasi, makan, dan biaya telepon ditanggung, tentunya tawaran ini tidak saya tolak dong. Makanya saya langsung cari-cari informasi mengenai visa ini di internet. Namun sayangnya, karena persyaratan visa yang agak rewel, saya batalkan tawaran dengan mereka. 

Sebelum membahas syarat-syarat mendapatkan visa ini, saya bahas dulu apa yang bisa lakukan kalau seandainya visa kita granted dari pihak kedutaan.
1. Masuk ke Australia setiap saat (multiple entry) dalam waktu 12 bulan dari tanggal pemberian visa.
2. Kita bisa tinggal selama 12 bulan dihitung dari tanggal pertama kali kita masuk Australia.
3. Hanya boleh bekerja selama 6 bulan pada satu perusahaan/majikan.
4. Belajar sampai dengan 4 bulan.

Nah, orang Indonesia yang tertarik bekerja di Australia bisa mengajukan aplikasi visa ini. Kerja apa dong? Ya kerja apa saja. Bisa bekerja part time atau kasual, seperti retail atau menjual makanan.

Kita juga boleh mengajukan aplikasi visa ini tanpa harus dapat tawaran pekerjaan dulu saat di Indonesia. Ada banyak lowongan pekerjaan yang bisa kita dapatkan saat tiba di Australia. Namun sebaiknya kita sudah mempunyai tawaran pekerjaan sebelum tiba di Australia karena untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang lumayan tentunya gampang-gampang susah.

Saya sudah mendapatkan tawaran pekerjaan sebagai pengasuh bayi dengan akomodasi dan makan ditanggung keluarga sebelum masuk ke Australia. Namun karena menurut saya persyaratan untuk mengajukan aplikasi visa ini tergolong ribet, makanya saya batalkan menerima pekerjaan itu. Apalagi saya tinggal di Palembang yang notabene harus bolak-balik Jakarta untuk mengurus visa, tentunya banyak biaya yang harus dikeluarkan.

Sebelum mengajukan visa di kedutaan, kita harus melampirkan Letter of Recommendation dari ke imigrasi dulu. Jadi hal pertama yang kita lakukan adalah mengajukan aplikasi untuk meminta surat dukungan yang informasinya bisa didapat melalui http://www.imigrasi.go.id

Berkas persyaratan yang harus dilampirkan:
1. Form identitas yang bisa di-download di sini

2. KTP

3. Akte Kelahiran

4. Paspor yang masih berlaku minimal 12 bulan

5. Ijazah perguruan tinggi minimal Diploma III, atau Surat Keterangan sebagai mahasiswa aktif setidaknya 2 tahun, dilengkapi Kartu Mahasiwa (KTM) dari perguruan tinggi bersangkutan. 

Visa ini tidak berlaku untuk kamu yang cuma tamatan SMA. Jadi setidaknya, harus menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi selama 2 tahun (4 semester) dulu.

6. Memiliki sertifikat kemampuan berbahasa Inggris IELTS dengan minimal score 4.5 /atau TOEFL Paper Based Test 450 /atau TOEFL Computer Based Test 133 /atau TOEFL Internet Based Test 46 /atau TOEIC 405 dari lembaga yang berwenang /atau lulusan perguruan tinggi yang menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. 

IELTS yang digunakan adalah General Training bukan Academic. Bedanya apa? Kalau GT dikhususkan untuk keperluan imigrasi, sementara Academic untuk keperluan belajar/sekolah. Sertifikat yang digunakan adalah sertifikat internasional dengan masa berlaku 2 tahun.

7. Surat keterangan/Jaminan Bank atas kepemilikan dana sejumlah AUD$5000 (atau setara 50juta Rupiah). 

Saya sarankan untuk 'mempercantik' buku tabungan kamu 3 bulan sebelum mengajukan aplikasi. Surat keterangan yang digunakan biasanya adalah surat dari bank yang mengindikasikan nominal tabungan sejak 3 bulan terakhir. Jadi 3 bulan itu usahakan dana yang tersimpan harus setara dengan 50juta rupiah, harus seimbang, dan stabil. 

Sayangnya dana tersebut tidak boleh dari pihak sponsor. Kita benar-benar harus meyakinkan pihak kedutaan Australia kalau kita bisa hidup setidaknya 3 bulan pertama di Australia dengan dana tabungan tersebut atas nama pribadi. Pemerintah Australia agak strict terhadap para migran yang akan datang ke negaranya. Mereka tidak mau menanggung gelandangan yang cuma datang ke negaranya tanpa modal apapun. Makanya modal bahasa Inggris dan dana yang cukup bisa menjadi jaminan kita saat disana.

Banyak juga yang mengakali dengan cara mengendapkan uang orang tua, teman, atau keluarga dulu hanya untuk mengajukan aplikasi. Tapi cara ini bisa dilakukan kalau kamu yakin sudah/langsung mendapatkan pekerjaan saat tiba di Australia. Kalau belum jelas mau kerja apa, saya sarankan memang tiap orang harus mampu menjamin hidupnya dengan AUD$5000 itu.

8. Pas foto terakhir berwarna ukuran 4 x 6 sebanyak 1 lembar, latar belakang putih.

Setelah semua berkas lengkap, kamu tinggal registrasi online di website http://www.imigrasi.go.id lalu akan ada pengumuman kapan kamu harus datang ke Gedung Rektorat Imigrasi untuk menyerahkan berkas asli dan fotokopi. Menurut informasi yang saya didapat, antara penyerahan berkas lalu proses wawancara dan verifikasi data itu terpisah memakan waktu 5-14 hari kerja. Jadi kita mesti datang ke tempat ini dua kali. Setelah itu kita bisa menunggu pengumumannya di rumah.

Kalau berkas-berkas kita lengkap, tidak ada alasan imigrasi untuk tidak memberikan kita surat rekomendasi. Surat ini nantinya akan dikirimkan melalui email dan dilampirkan saat pengajuan aplikasi visa. Surat ini hanya berlaku satu bulan saat dikeluarkan. Informasi terbaru, per tanggal 1 Juli 2013, pemerintah Australia meningkatkan jumlah kuota penerima visa sebanyak 1000 dari kuota lama yang cuma 100 orang per tahun. Kalau dulu surat rekomendasi ini cuma bisa diajukan tiap tanggal  1 Juli, sekarang kapanpun bisa mengajukan aplikasi visa.

Untuk menyerahkan berkas aplikasi visa, kita tidak perlu datang langsung ke kedutaan. Tapi dapat dikirim melalui pos yang diperantarai oleh AVAC (Australia Visa Application Center) yang informasi lengkapnya bisa langsung dilihat disini. Kita bisa menggunakan layanan antar-jemput berkas yang terpercaya. Ada biaya layanan, logistik, dan biaya visa yang harus kita lampirkan di dalam berkas. Harga visa terbaru adalah US$325 (mulai 1 Juli 2013). 

Berkas-berkas yang harus dilampirkan untuk mengajukan visa:
1. Formulir aplikasi (Formulir 1208). Harap dilengkapi dan ditanda tangan

2. Biaya aplikasi visa (Bukti Cek/Giro)

3. Fotokopi dari paspor (halaman biodata, perubahan/tambahan-jika ada, halaman visa dan 
cap imigrasi) yang masih berlaku paling tidak 12 bulan dan pasport lama (jika ada)

4. 1 lembar foto anda ukuran foto paspor yang terbaru.

5. Surat dari dukungan dari Direktorat Jenderal Imigrasi 

6. Bukti keuangan yang cukup untuk memberikan dukungan untuk anda-biasanya paling tidak AUD $5000 untuk memberikan dukungan awal dari liburan. (Bukti yang dapat kamu lampirkan adalah rekening koran 3 bulan terakhir yang sudah di legalisir.)

7. Bukti mempunyai kualifikasi perguruan tinggi, atau sudah menyelesaikan paling tidak 2 tahun dari pendidikan universitas (bisa dibuktikan dengan fotokopi ijazah/surat keterangan dari kampus).

8. Bukti mempunyai Bahasa Inggris yang baik yang dinilai dari tes Bahasa Inggris dan setidaknya harus mendapatkan nilai ”fungsionil" (bisa dibuktikan dengan fotokopi sertifikat internasional).

9. Melakukan test rontgen di salah satu panel radiologist. Mereka akan mengirimkan hasilnya langsung ke bagian kedutaan. Daftar radiologis yang ditunjuk pihak kedutaan Australia bisa dilihat disini

(Sebelum mengajukan aplikasi visa, sebaiknya kita mendatangi salah satu rumah sakit yang ditunjuk untuk tes rontgen. Biasanya tes-nya hanya rontgen dada yang biayanya bervariari dari 350-750ribu. Nanti pihak rumah sakit akan mengirimkan hasilnya langsung ke kedutaan dan kita hanya perlu melampirkan (mungkin sejenis) kuitansi pembayaran tes saja.)

Setelah jadi, visa ini tidak akan menempel seperti stiker di paspor kita. Tapi hanya sebuah surat yang nantinya kita bawa saat masuk imigrasi Australia di bandara. Kedutaan Australia sudah mengganti stiker visa dengan e-visa yang cukup diproses melalui komputer pihak imigrasi Australia.

Syarat lain untuk keperluan visa subclass 462 bisa kamu lihat di website-nya. Salah satu yang harus kita beli adalah asuransi perjalanan/kesehatan selama satu tahun (tidak dilampirkan saat pengajuan visa). Asuransi ini bisa kita beli di Indonesia atau saat tiba di Australia. Tentunya kalau akan membeli dari Indonesia, kita harus melihat apakah asuransi tersebut dapat digunakan di Australia dan nilai pertanggungan jiwa yang sesuai. Biaya pengobatan di Australia sangat mahal, sehingga setiap migran yang datang harus bisa menanggung biaya rumah sakit sendiri. Sebagai gambaran, untuk asuransi perjalanan selama satu tahun di Australia bisa kita beli seharga kurang lebih AUD$318 saat tiba di Australia.

Bagaimana, tertarik bekerja di Australia dan mendapatkan gaji $5-30 per jam? Oh ya, gaji ini nantinya juga akan dikenakan pajak mingguan. Di luar pajak, bagi kamu yang tertarik mendapatkan pengalaman bekerja di luar negeri, visa ini dapat membantu menuju gerbang ke negeri kangguru.


Mabuk Servis di Phnom Penh (3)

Wednesday, 10 July 2013


Karena permintaan dari Dina dan Mai yang menyuruh kami untuk pulang lebih awal dari Ho Chi Minh City, akhirnya saya dan dua orang travel mate sampai di Phnom Penh satu hari lebih cepat. Rasanya baru jam 5 pagi melihat Sunrise di Mui Ne, Vietnam, tengah malamnya kami sudah harus pulang ke Phnom Penh melalui Ho Chi Minh City. Seperti kata Dwi, "kita ini traveling seperti dikejar tikus. Lebih-lebih dari artis schedule-nya." Hahaa..

Sekitar jam 10 pagi kami akhirnya tiba juga di penginapan yang berbeda kawasannya dengan yang pertama kali kami inapi. Tempatnya baru saja direnovasi. Masih baru, super wangi dan bersih, serta resepsionis yang ramah dan fasih Bahasa Inggris. Padahal menurut sopir tuk-tuk, kawasan kami yang di Chamkar Mon ini jauh dari pusat kota. Tapi tak apalah, lagian WiFi disini lebih kencang dari guesthouse yang sebelumnya kami tempati.

Jam 7 malam, Mai menelepon Dwi untuk mengajak makan malam (lagi). Karena Dina sedang makan malam dengan pelatihnya, jadinya Mai sendirian yang menemani (baca: mentraktir) kami malam itu. Duuhh.. Habis jadi gembel di Vietnam, akhirnya di Phnom Penh perbaikan gizi lagi. Hohoho.. Untuk makan malam sekali ini, Mai sepertinya agak kebingungan mau pilih tempat yang mana. Dia sampai memutar mobilnya dua kali untuk menemukan tempat makan. Padahal kami sih oke-oke aja, kan ditraktir. *bawa-bawa nama traktiran lagi*

Akhirnya kami merapat ke tempat makan open air yang mirip dengan tempat makan hari pertama. Tapi tempat makan sekali ini kurang romantis sih. Ini dia makanan yang Mai pesan malam itu. Saya pengen lagi makan pizza jagung yang super duper crunchy dan manis itu.


Di akhir makan malam, Mai ditelepon ibunya. Kirain bakal disuruh pulang, tapi ternyata tidak! Ibunya Mai sekarang ada di sebuah KTV bersama teman-temannya dan mengajak kami untuk gabung. Oooooww...marilah kalau begitu! 

Orang Kamboja biasanya paling senang berkumpul di KTV sambil minum bir atau makan bersama keluarga atau teman-temannya. Berbeda sekali dengan kita yang suka nongkrong-nongkrong di mall sekalian nonton atau makan di kafe. Di Phnom Penh sendiri justru kafe kurang laku. Kafe fungsinya cuma tempat makan, CUMA tempat makan ya.

Jam 11 malam, empat anak perempuan masih kelayapan di luar. Nongkrong di KTV pula! Oh tunggu dulu, ternyata KTV ini tidak seseram yang saya kira. Selain ada live music, tempatnya juga lumayan asik. Si pelayan yang kebanyakan Mbak-mbak ini juga sibuk bolak-balik mengecek tiap meja untuk menambahkan bir atau es batu ke dalam gelas. Saya tidak berhenti bolak-balik toilet gara-gara kebanyakan meneguk kola.

Ibunya Mai ini ternyata orang yang ramah dan asik sekali diajak mengobrol. Sayangnya saya tidak terlalu asik mengobrol dengan beliau karena bangku yang agak jauh. Ibu Mai kebetulan membawa tiga orang temannya yang sebenarnya sudah om-om semua sih. Ada satu om-om berperawakan kurus tinggi yang super lucu. Bahasa Inggrisnya parah sekali tapi kerennya dia tetap usaha mengobrol dengan kami. Pakai acara menunjukkan trik sulap segala. Gokil! Walaupun kebanyakan nge-blank-nya, tapi kami hargai usaha dia untuk bersikap terbuka dengan orang asing.

Disela-sela obrolan, si om kurus yang namanya juga saya lupakan itu naik ke atas panggung dan mulai sing songs. Asli roaming, lagu yang dia nyanyikan belum pernah masuk playlist saya. Lalu beberapa saat kemudian tiba giliran saya dan Mbak Lia menyumbangkan sebuah lagu berbahasa Inggris, Home - Michael Buble. Bukan karena cocok dengan suasana traveling sih, tapi nyatanya di buku lagu cuma itu yang kami hapal melodinya. Terharunya lagi, rombongan tamu di meja depan yang semuanya cowok-cowok ikutan nyanyi dan berdiri sambil cheers gelas bir mereka saat lirik "Let me go hoooooommeeeeee...." 

Ohh so sweet....! 



Mabuk Servis di Phnom Penh (2)


Siang ini kami saya dan dua orang travel mate akan meninggalkan Phnom Penh menuju Siem Reap. Dari Siem Reap rencananya kami akan meneruskan perjalanan ke Ho Chi Minh City dan menghabiskan 5 hari disana lalu kembali lagi ke Phnom Penh karena pesawat kami ke Kuala Lumpur akan terbang dari sana.

Jam 7 pagi Mai dan Dina sudah menunggu di lobi. Dengan motornya, mereka mengajak kami ke salah satu restoran di dekat guesthouse. Lalu lintas di Phnom Penh agak kacau, jadinya pagi itu kami naik motor agak ekstrim. Apalagi saya, Mbak Lia, naik motor Dina bonceng tiga. Dina ini orangnya cuek dan sangat tomboy, naik motornya ngebut dan malas pakai helm.

Sekitar sepuluh menit kemudian kami sampai di sebuah restoran yang tidak terlalu kelihatan kalau itu sebenarnya tempat makan. Karena sebelumnya kami sudah mengatakan tidak bisa makan babi, mereka sudah paham dan berakhir di sebuah restoran yang semua bahan dasarnya terbuat dari jamur. Dina sudah meyakinkan kami kalau restoran itu tidak ada menu daging-dagingan sama sekali. Untunglah..

Karena tidak tahu mau makan apa, akhirnya kami menyerahkan semuanya ke Dina. Dia memilihkan kami makanan yang menurut saya porsinya besar sekali untuk sarapan. 



Sayangnya saya benar-benar tidak selera makan dan menghabiskan tidak sampai setengahnya. Padahal saya sangat suka mie, tapi sepertinya bumbu makanan ini tidak cocok di lidah saya. Tapi tidak untuk Dwi dan Mbak Lia. Mereka enteng saja tuh menghabiskan Teppanyaki dan jamur goreng yang rasanya sedikit mirip daging itu. Tidak enak juga sih makan tidak habis begitu apalagi ini kan ditraktir, tapi ya gimana saya tidak selera begini.
Selesai sarapan, kami diantar lagi ke Central Market-nya Phnom Penh yang saya lupa apa namanya. Hahaha.. Saya kebiasaan tidak mencatat nama tempat sih. Pasar tradisional ini interior bangunannya mirip-mirip peninggalan zaman dulu. Yang dalam gedung kebanyakan jual aksesoris giok atau batu-batuan, sementara bagian luar menjual suvenir khas Kamboja, perabotan rumah tangga, ataupun makanan. Kalau tertarik membeli kain-kain dengan motif cantik, pasar ini bisa dijadikan alternatif.


Karena ada latihan, Mai akhirnya pamit duluan dan tidak bisa mengobrol dengan kami lebih lama. Akhirnya Dina berbaik hati menemani kami di guesthouse sekalian menunggu bis ke Siem Reap menjemput. Sebenarnya kami tidak tega menyuruh Dina menunggu lebih lama apalagi langit sudah mendung. Tapi dia keukeh mau menemani kami. Kagetnya, dia malah masih mau mentraktir kami makan siang. Doohh..padahal kami sudah kenyang dan tidak niat makan lagi. Tapi dia mengingatkan kalau perjalanan ke Siem Reap akan lama dan pastinya kami tidak sempat makan siang nantinya. Yasudah, kami menurut saja. Kan ditraktir juga. Hahaa..

Dan mimpi buruk pun dimulai. Nyatanya tidak ada makanan yang tidak enak di dunia ini. Semuanya enak namun sangat subjektif dan tergantung lidah masing-masing. Tapi untuk sesi makan siang ini, kami bertiga (kecuali Dina) sepertinya memiliki selera yang sama.


Karena sudah cukup makan berat sarapan tadi, kami memutuskan untuk memesan roti isi dan spring roll saja. Bodohnya, memesan spring roll ini adalah ide saya. Saya tidak mengira kalau spring roll Kamboja berbeda dengan yang di Thailand. Saya sudah pernah makan yang di Thailand dan rasanya lumayan enak, mirip lumpia goreng atau rebus. 

Nah yang di Kamboja ini, rasanya 'menyiksa'. Ternyata spring roll-nya dimakan mentah-mentah. Isi spring roll adalah dedaunan segar, wortel mentah, dan daging ayam rebus yang hambar. Sementara kulitnya sendiri sepertinya masih basah. Baru gigitan pertama, lidah saya sudah dikagetkan dengan rasa dedaunan yang membuat saya mual. Hingga akhirnya saya keluarkan daun itu dari mulut dan membedah isi spring roll-nya. Saya juga tidak tahu itu daun apa tapi yang jelas rasanya mirip daun sirih. Pedas dan enek. Tidak saya saja, Dwi dan Mbak Lia juga begitu. Bahkan Mbak Lia seperti menahan tangis saat menghabiskan gigitan pertamanya. 

Selanjutnya adalah ide Dina untuk memesan sup mie daging. Sebelumnya Dina berulang kali menawari kami untuk makan nasi, tapi kami menolak gara-gara alasan kenyang. Dia mengerti dan memesan sup daging yang ada isi mie-nya saja sebagai pengganti nasi. Sayangnya karena sudah enek dan mual, kami tidak sanggup lagi menghabiskan sup itu. Bahkan menggigit bakso daging sapinya saja kami tidak sanggup karena sepertinya restoran pilihan Dina tidak halal dan masih terdapat menu babi. Jadinya makan siang sekali itu tidak kami nikmati sama sekali.


Mabuk Servis di Phnom Penh (1)


Juni 2013
Saya dan dua orang travel mate di awal kedatangan kami ke Kamboja untuk pertama kalinya sempat dibuat takjub dengan keramahan orang Kamboja. Awalnya kami mengira negara ini masih miskin dan masyarakatnya tidak terlalu terbuka dengan dunia luar. Namun, kenyataanya justru tidak seratus persen benar. Kami justru mendapatkan fakta bahwa orang Kamboja sangat menghargai orang asing dan berusaha menjamu dengan sebaik mungkin.

Dwi, salah seorang travel mate, pernah jadi LO (Liaison Officer) untuk atlet petanque kontingen Laos waktu kejuaraan SEA Games ASEAN yang diadakan di Palembang dulu. Dari pengalamannya itu, dia akhirnya punya teman atlet dari dua negara, Laos dan Kamboja. H-5 sebelum keberangkatan Dwi memang sudah intens bilang ke saya kalau dia mau ketemuan dengan temannya di Phnom Penh. Saya, Dwi, dan Mbak Lia, seorang travel mate lain, menyangka ini cuma ketemuan biasa atau ajang reunian semata sih. Namun nyatanya, kami tidak pernah menduga kalau pertemuan kami disambut dengan luar biasa!

Di malam pertama kedatangan kami ke Phnom Penh, Mai, seorang teman Dwi, sudah siap menjemput kami dengan mobil Mercy-nya. Mai mengajak kami makan malam di sebuah food court open air yang menurut saya cozy sekali. Agak kontras dengan imej kota Phnom Penh yang menurut saya masih kalah bagus dengan Palembang. Tempatnya bagus, dengan kursi-kursi putih dan meja bundar. Di tiang-tiang tenda, dipasangi lampion dan tambahan live music membuat suasana makin romantis. Sayangnya ini bukan tempat makan sepasang muda-mudi, tapi lebih diperuntukkan untuk keluarga atau teman.

Food court open air yang saya lupa namanya

Dari saat memarkirkan mobil, saya juga agak kaget dengan 'tukang parkir'-nya yang super ramah membukakan pintu mobil. Dia memakai kemeja biru muda dengan penampilan yang rapih dengan walkie talkie di tangannya. Wihh..'tukang parkir' profesional nih, pikir saya. Lalu dengan senyum ramah dia mengantarkan kami berempat ke meja kosong hingga memastikan kami nyaman di tempat itu baru dia pergi.

Mai memesan seafood dengan berbagai macam lauk dan sedikit nasi. Nasinya dikit sekali, saya sampai mikir beneran cukup nasi segitu untuk orang 4?

Cara makan orang Kamboja ini menganut adat China yang biasanya menghidangkan banyak makanan dengan sedikit nasi. Biasanya tuan rumah akan mengambilkan makanan untuk tamu dan mempersilakan tamu mencicipinya. Karena lauknya yang banyak, nasi cuma jadi selingan. Kalau ditanya kenyang atau tidak? Pasti! Bukan karena makanannya, tapi karena kebanyakan minum air.

Apapun makannya, minumnya Angkor beer

Orang Kamboja terkenal dengan kebiasaan minum bir yang berlebihan. Mereka tidak akan berhenti minum sebelum merasa mabuk. Karena saya tidak bisa minum alkohol, akhirnya saya cuma minum teh melon kalengan. Berulang kali seorang pelayan berkeliling ke meja-meja untuk memastikan gelas-gelas tamu tidak kosong dengan batu es. Saya yang tadinya tidak bisa minum es, akhirnya menyerah dengan servis orang Kamboja yang ramah. Seorang pelayan cowok berulang kali menghampiri meja kami untuk sekedar mengisi gelas-gelas dengan batu es. Mukanya lumayan sih, untuk ukuran orang Kamboja yang sebenarnya 'biasa' aja. Saya yakin dia sudah lelah sekali, tapi tidak ada raut kebosanan di mukanya untuk melayani tamu. Saat dia mengisikan es batu di gelas saya, saya tidak mendapatkan senyuman disana. Dasar memang si pelayannya cuek kali ya.. Jadinya saya isengin dia dan berkata, "smile.. pleaseee smile". Akhirnya dia tersenyum juga. Usil!

Di tengah acara makan kami, Mai menelepon teman dan kakaknya untuk bergabung dengan kami. Si kakak yang datang duluan, sampai menghabiskan bir hingga 8 botol. Karena bahasa Inggrisnya kurang bagus, jadinya saya cuma pakai bahasa Tarzan yang intinya ngomong, kamu tidak apa-apa minum banyak? Padahal kan nanti mau mengendarai motor. Si kakak bilang kalau dia baik-baik saja dan dia tahu kapan harus berhenti minum, apalagi dia juga mengendarai motor. Tapi saya tidak yakin tuh. Buktinya dia sudah ngelantur dan perutnya mulai membuncit.

Sekitar setengah jam sebelum pulang, Dina, seorang atlet petanque juga, datang bergabung dengan kami. Bahasa Inggrisnya lumayan fasih dan orangnya seru juga. Dina sempat tidak menyangka kalau kedatangan kami ke Kamboja adalah yang pertama. Karena besoknya kami harus buru-buru ke Siem Reap, akhirnya Dina menawari kami sarapan pagi bersama esoknya. Horeee... :p

Namun karena kebanyakan minum, saya cukup sering bolak-balik toilet. Awalnya saya mengira toilet disini bakalan kotor dan tidak terlalu dirawat. Daann..saya salah lagi! Justru toiletnya super bersih dan wangi. Huehehehe.. Si penjaga toilet, seorang bibi, juga selalu tersenyum ramah kepada orang-orang yang keluar masuk toilet. Sehabis kami selesai menggunakan toilet dan mencuci tangan, biasanya dia akan memberikan tisu untuk mengeringkan tangan. Saya dan Mbak Lia sempat salah tingkah juga nih kira-kira 'pelayanan' ini bayar atau tidak. Masih dengan senyuman ramah, saat saya tanya si bibi bilang kalau kami tidak perlu membayar toilet.

Tapi saya tidak tega juga untuk tidak memberikan dia uang, habisnya dia adalah penjaga toilet yang paling ramah yang pernah saya temui. Dia juga ramah dan baik kepada semua orang, bukan hanya kepada turis. Justru dia tidak tahu sebelumnya kalau kami adalah orang asing. Saat menggunakan toilet kedua kalinya saya berikan sisa uang Riel (mata uang Kamboja) yang jumlahnya cuma 500. Duuh...saya jadi merasa Phnom Penh adalah kota biasa dengan penduduk yang sebenarnya ramah dan hangat.


Book Review: Haram Keliling Dunia

Tuesday, 9 July 2013


image source

3 "F"antastic ways to reach your dream fabulously: Focus, Fun, Fascinating - NFW

Itulah salah satu motivation quote milik penulis, Nur Febriani Wardi, dalam bukunya Haram Keliling Dunia. Apa yang kamu lakukan saat kamu punya mimpi yang besar tapi terhalang oleh kehendak orang tua? Menuruti kehendak orang tua lalu menyisihkan mimpi besarmu demi mereka, atau berani mengambil resiko meraih mimpi yang kamu tuju hingga harus kerja keras demi membuktikan sebuah prestasi ke orang tua? 

Nur Febriani Wardi, gadis berzodiak Aquarius yang lahir di Kalimantan ini, awalnya memiliki cita-cita menjadi seorang insinyur saat kecil. Sang ayah, awalnya menginginkan anaknya menjadi seorang PNS. Namun, Febri yakin kalau PNS bukanlah satu-satunya pekerjaan yang akan membuat hidupnya bahagia. Ia tak mau terkungkung di belakang meja PNS yang dapat mematikan kreativitasnya. Namun ada harapan lain dan keyakinan penuh dalam diri yang membuatnya selalu berusaha mewujudkan mimpinya hingga bertahan melawan keinginan orang tua, yaitu pergi keliling dunia.

Kaver kuning yang cheerful
Berawal dari Tanah Haram, kegiatan sukarelawan, hingga akhirnya sukses mendapatkan beasiswa S2 dari pemerintahan Belanda, merupakan gerbang awal perjalanannya keliling dunia. Dari mulai menjadi Cinderella di Kapal Henry Dunant, nekad mengunjungi Grotta Azzura yang konon kabarnya merupakan air terbiru di dunia, di-PHP-in cowok India di Berlin, hingga menceritakan sungguh tidak enaknya sakit di luar negeri. Tidak hanya disuguhkan cantiknya benua Eropa, tapi pembaca juga diajak belajar sejarah seperti tragisnya kematian seorang putri kerajaan di Austria atau mengenal kota tua yang sempat hilang dan terlupakan 1700 tahun lamanya.

Cerita perjalanan Febri ke benua Eropa, dituliskan secara ringan dan cocok untuk bacaan anak muda. Gaya bahasa yang kocak dan jujur kerap mengundang senyum serta iri tentang pengalaman yang dialami penulis. Tidak hanya berbagi kisah kepada para penyuka travelling, lebih dari itu, penulis ingin buku ini bisa menginspirasi pemuda-pemudi Indonesia untuk berani bermimpi dan pantang menyerah mengejar mimpi-mimpi itu. Bukan dengan maksud melawan orang tua demi mimpi, namun selama kita masih punya hati dan otak, yakinlah bahwa kita mampu mengalahkan segala keterbatasan yang ada.


Weekend Meriah di Jonker Street

Monday, 3 June 2013


Tiba-tiba kepala saya terasa sangat berat beberapa jam setelah tiba di guesthouse. Niatnya ingin langsung walking trip ke beberapa landmark kota Melaka setelah jam makan siang, tapi cuaca di luar benar-benar tidak mendukung. Panasnya sangat terik dan sama sekali tidak bersahabat untuk jalan santai. Beberapa bus wisata membawa turis keturunan Tionghoa mondar-mandir di depan guesthouse. Saya juga baru ngeh kalau guesthouse tempat saya menginap berada di Chinatown-nya Melaka yang menjadi salah satu objek wisata di sini.

Yang tadinya mau jelajah kota dari siang sampai malam, akhirnya saya dan dua orang adik baru keluar dari guesthouse jam setengah 5 sore. Dikiranya matahari bakalan lebih bersahabat, tapi ternyataaa sinar matahari masih menyilaukan dan bikin muka saya memerah. Saya juga awalnya ogah-ogahan beranjak dari kasur karena rasa nyeri di kepala masih menempel. Namun, saya paksakan juga sih. Lagian adik saya sudah merengek-rengek minta dibawa jalan-jalan.

Kali ini entah kenapa saya tidak penuh persiapan saat traveling. Saya malah lupa nge-print peta Melaka dan cuma mengandalkan ingatan saja. Duuhh, mana sempat nyasar pula di tengah kota yang panas. Untungnya saat makan siang, di warung makan saya bertemu dengan bapak-bapak ramah yang bersedia memberikan peta-nya untuk kami. Selain ramah, bapak ini juga doyan sekali bicara. Saat kami makan, saat kami minum, saat kami berjalan untuk sekedar mengambil sendok, dia tidak berhenti mengajak bicara. Saya sampai kebosanan dan senggol-senggolan siku dengan adik saya. Kapan nih dia berhenti ngomong, pikir saya saat itu.

Tapi terima kasih atas petanya, Pak. Akhirnya saya tidak buta arah lagi. Lagian peta di-guesthouse sama sekali tidak membantu. Mereka hanya mencetak peta yang tidak menunjukkan arah jalan kota, manapula cuma difotokopi lagi.

Dari informasi yang saya temukan di internet, pusat landmark kota Melaka sebenarnya dapat ditempuh dengan berjalan kaki kalau kita memilih penginapan yang tepat. Dua tempat yang saya ingin kunjungi saat di Melaka adalah Jonker Walk atau Jonker Street dan Dutch square. Dari beberapa foto di internet, suasana jalan berwarna merah meriah yang ramai adalah salah satu daya tarik tempat ini.


Sebenarnya jalan ini adalah jalan lurus biasa yang sama sekali tidak ada denyutnya di hari Senin hingga Sabtu. Saya juga baru tahu dari seorang sopir taksi, Jonker Street ramai hanya di hari Minggu. Hoh, untung banget saya kesini tepat di hari Minggu. Saya sempat ingin mengganti jadwal ke Melaka di hari Senin soalnya.



Dari pangkal ke ujung Jonker Street banyak kios atau toko-toko yang menjual barang yang hampir sama. Tapi semakin ke ujung, harga barang yang ditawarkan biasanya akan semakin murah. Selain barang-barang lucu, disini juga tersedia berbagai macam makanan kecil yang membuka kedainya di pinggir jalan.

Saat kami datang kesini, bus-bus pariwisata mulai memenuhi jalanan. Sebelum memasuki kawasan Jonker Street kami melewati Dutch square atau biasa dikenal dengan Red square, area Christ Church dan The Stadthuys berada, yang kanan kiri bangunannya berwarna merah bata. Bangunan yang sudah ada abad ke-18 ini merupakan peninggalan kolonial Belanda, yang saat pertama kali dibangun bukan berwarna merah. Ada banyak alasan dan cerita yang menyebutkan mengapa kawasan ini di-cat merah. Namun salah satu alasan yang lebih masuk akal adalah dikarenakan kurangnya pemeliharaan. Merah batu laterit yang digunakan untuk membangun The Stadthuys lama-kelamaan memutih dikarenakan hujan yang yang sering terjadi cukup deras. Untuk menghemat biaya pemeliharaan, di abad ke-19 kawasan ini disulap Inggris menjadi merah seluruhnya biar seragam dengan warna merah batu. Bukan cuma disini, di beberapa bangunan tua dan ruko di sekitar tempat ini juga akhirnya ikutan di-cat dengan warna serupa.


Di tempat ini juga terdapat pasar kaget dan banyak becak dengan rangkaian bunga warna-warni yang siap mengantar kita menjelajah kota. Tapi saya tidak sempat naik sih, cuma mengabadikan fotonya saja. Sayangnya sinar matahari masih saja terik dan terang benderang di jam 6 sore. Eh, tapi sakit kepala saya hilang nih gara-gara diajakin jalan dan keringatan. Karena sudah menyerah dengan teriknya matahari, akhirnya kami cuma berleye-leye santai di pinggir sungai sembari memperhatikan kapal yang lewat membawa peserta tur.


Jam setengah 7 malam, matahari baru berlalu dari singgasananya. Menyisakan sinar oranye yang menjadi alarm bahwa kami harus kembali ke guesthouse. Tapi satu hal yang saya kurang suka dari kota ini, sepi! Gara-gara sepi ini, transportasi di kota juga lumayan susah. Di buku traveling yang saya baca, disebutkan kalau bisa naik bus panorama untuk menyusuri berbagai macam landmark di pusat kota. Tapi setelah ditunggu hampir satu jam, bus-nya malah tidak muncul-muncul.

Saya tidak bisa membayangkan kalau di kota ini tidak ada Jonker Street yang meriah, mungkin hari-hari lain akan berjalan biasa saja. Sepi, terlampau tenang, dan cukup membosankan, mungkin?


Cerita di Thailand: Tersiksa di Kereta

Friday, 31 May 2013



Saya sedih mesti meninggalkan Bangkok pagi-pagi dan mesti berada di Phuket keesokan harinya. Sambil mencangklong travel bag saya yang rusak di hari pertama backpacking, saya memasuki stasiun kereta api Hua Lamphong. Sebelum memesan tiket kereta api ke Surat Thani, saya menitipkan travel bag dulu. Agak sedikit kaget tiket yang dibeli cuma 217B untuk kereta api kelas 3. Padahal di buku panduan jalan-jalan yang sedang saya bawa, si penulis mendapatkan tiket 60B lebih mahal dari saya. Hehe. Rencananya sebelum ke Surat Thani, saya ingin menyempatkan diri membeli tas di Chatuchak Weekend Market.

Jam 3 sore, saya sudah tiba di stasiun lagi. Naik ke lantai atas dan menyempatkan ibadah dulu. Dari atas saya bisa melihat aktifitas calon penumpang di ruang tunggu yang tadi pagi saya lihat masih sepi, ternyata semakin sore malah semakin ramai. Bahkan ada bapak-ibu bule yang langsung membuka dua koper mereka di tengah-tengah ruang tunggu. Koper mereka itu bukan yang ukuran mini ya, sodara-sodara. Tapi yang guede itu, yang kira-kira muat buat backpacking-an 6 bulan. Hihi. Mereka dengan santainya merapihkan isi koper sambil menyusun barang belanjaan yang sepertinya baru sudah dibeli. Seru sekali melihat aktifitas di staisun Hua Lamphong di sore hari.

Dari lantai atas di ruang shalat, saya bisa melihat jadwal keberangkatan kereta. Waktu sudah menunjukkan pukul 5, tapi saat saya coba mengecek di papan jadwal, rute Bangkok-Surat Thani mengalami keterlambatan hingga satu jam. Akhirnya saya menyempatkan shalat Maghrib dulu sekalian menunggu kereta datang.

Satu jam kemudian, kok tidak ada tanda-tanda kereta akan datang ya? Di papan jadwal masih tertulis delay dan saya sendiri masih membeku di ruang shalat. Saya melihat ke bawah, di ruang tunggu bule-bule dengan ransel bagong semakin rame saja. Kereta memang menjadi salah satu transportasi murah yang sering dijadikan alternatif mengunjungi tempat-tempat di Thailand selatan.

Jam setengah 7 nih, kok perasaan saya makin tidak enak ya? Saya turun dan mencoba bertanya ke salah seorang om-om yang sedang berdiri memandang papan jadwal. Bodohnya, bukannya langsung cari kereta ke gerbong, saya tetap yakin kalau kereta mungkin saja telat lebih lama. Sialnya, om-om yang ditanya sama sekali tidak bisa bahasa Inggris. Malah sok-sokan mengerti lagi, saya makin bingung nih. Saya tinggalkan dia dan langsung bertanya ke polisi jaga yang berdiri di dekat gerbang (dari tadi kek!). Gila, saya rasanya mau melompat saat dia bilang kereta menuju Surat Thani sudah mulai meninggalkan stasiun. Si pak polisi langsung menyuruh saya lari-lari dan menunjuk kereta di gerbong sekian (lupa, jekk) yang memang sedang berjalan pelan. Mammaaakkk..traveling bag saya berat sekaleee. *Maklum, ditambahin barang belanjaan dari Chatuchak :p*

Setelah memastikan kembali apakah itu benar kereta menuju Surat Thani dengan kondektur yang lagi berdiri di pintu, saat dia bilang iya, saya beneran langsung melompat ke kereta yang sedang berjalan pelan itu. Sesaat sebelum masuk kereta, saya melirik sebentar ke pak polisi yang tadi mengantar saya ke gerbong, dia melambaikan tangan dan air mukanya berubah jadi lega. Saya lebih lega, Pak, terima kasih.

Baiklah, tapi penderitaan belum berakhir. Kereta sudah mulai berjalan lebih cepat dan sekarang waktunya saya mencari tempat duduk. Jujur, ini pengalaman pertama saya naik kereta antar kota setelah sejak belasan tahun lalu. Saya naik kereta terakhir kali ke kampus, dengan kondisi kereta yang nyaman dan tidak pernah nyaris ketinggalan. Saya mulai celingukkan mencari tempat duduk, kira-kira saya bakalan duduk dimana nih. Dan saya mau teriak, pas salah seorang kondektur bilang tempat duduk saya ada di gerbong 1 dan saya sekarang ada di gerbong 12. Artinya? Artinyaaa...??

Cukup. Saya sudah mulai kehabisan napas melewati 11 gerbong di belakang dengan mengangkat tas yang berat dan keadaan kereta yang oleng kesana kemari saat berjalan. Baiklah, saya sudah berada di bangku, menarik napas, dan mulai memperhatikan sekeliling. Saya lupa kalau sekarang saya naik kereta api kelas 3, bergabung dengan warga lokal, lalu akan menghabiskan malam di kursi keras ini. Betapa bodohnya saya yang sudah menyamakan tingkat kenyaman saya dengan tingkat kenyaman penulis di salah satu buku backpacking itu! Saya mulai berpikir rasional dan ingat kata-kata teman saya waktu kami nyasar di Kuala Lumpur dulu, tidak semuanya yang di buku panduan itu bakal memandu! Tidak semuanya yang terlihat mudah dan gampang buat si penulis juga bakalan mudah untuk kita. Kenyataannya selalu berbeda.

Benar saja, 'penyiksaan' ini dimulai dengan pakaian saya yang tidak siap perang melawan malam. Saya cuma pakai jaket tipis dan sandal jepit. Semakin malam, udara malam semakin menusuk. Memang, jendela di dekat saya sudah ditutup, tapi jendela di bangku penumpang di barisan kiri rata-rata terbuka lebar. Saya benar-benar tidak bisa tidur dan berulang kali terbangun. Akhirnya saya mengambil kaus kaki wool di dalam tas dan berusaha menyelamatkan kaki. Kaki saya rasanya sudah beku saat itu. Saya benar-benar mengutuki diri saya yang ingin hemat, tapi seperti menyiksa diri. Telinga dan wajah saya juga sudah beku dan mati rasa. Topi yang saya kenakan ternyata tidak mampu menahan hawa dingin udara malam yang membuat telinga ikutan membeku. Saya memang tidak bawa topi wool, ya lagian buat apaan? Thailand kan panas. :(

Jam 3 pagi saya terbangun dan bersumpah tidak mau tidur lagi. Rasanya seperti mimpi buruk berada di kereta ini! Kenapa nggak pesen sleeper aja tadi?!, gerutu saya saat itu. Untungnya saya sebangku dengan ibu-ibu lokal yang lumayan ramah walaupun tidak bisa sedikitpun bahasa Inggris. Dia selalu berusaha mengajak saya berbicara walaupun di antara kami terdapat batasan bahasa. Yasudahlah, setidaknya saya masih bisa berpikiran positif di saat kondisi menyiksa seperti ini.

Tapi lagi-lagi pikiran negatif saya kambuh, duh..mana yang katanya naik kereta api kelas 3 nyaman? Mana yang katanya bisa tidur nyenyak? Penipu! Saya kok malah berulang kali menggerutui pengalaman penulis yang bukunya sedang saya jadikan panduan ini ya? Haha. Ternyata memang benar kata teman saya, apa yang dirasakan penulis di buku panduan jalan-jalan bisa saja selalu berbeda dengan apa yang kita rasakan. Kita tidak harus selalu menjadi 'kere' untuk berhemat, tapi setidaknya kita juga harus bisa memastikan apakah akomodasi/transportasi yang dianjurkan penulis sesuai dengan kita. Bisa saja rate atau kenyamanan yang ada dirasakan penulis berbeda dengan yang ada di lapangan.

Jam setengah 5 pagi, ibu-ibu ramah tadi turun di stasiun yang jaraknya kurang lebih 3 stasiun sebelum Surat Thani. Dia tersenyum ramah dan mendoakan saya selamat sampai tujuan. Khob khun mak kha, Bu.. (terima kasih banyak). Tapi mata saya kok merem melek begini? Saya malah mengantuk diterpa angin Subuh yang mulai menyejukkan, bukan menusuk kulit! Di sepanjang perjalanan mulai terlihat pohon kelapa khas wilayah pantai dan katanya sudah mulai dekat dengan stasiun Surat Thani.

Tidak terasa saya menempuh perjalanan hampir 12 jam hingga sampailah saya di stasiun Surat Thani dan selanjutnya akan meneruskan perjalanan ke Phuket dengan bus. Betapa kagetnya saya saat mendapati jemari kaki yang terbungkus kaus kaki sudah membengkak. Benar-benar bengkak dengan jemarinya yang membesar. Hiks... Saya buru-buru membersihkan muka, membungkus kaki dengan sepatu kets, dan bersiap menuju Phuket dengan mata panda.


Bahasa Perancis: Fashion

Thursday, 30 May 2013


Hola todos.. (Spanish, halo semua..)
bueno tardes (Spanish, selamat siang)

Baiklah, sepertinya saya sedikit nggak nyambung nih. Judul postingannya 'Bahasa Perancis' tapi opening greetings-nya malah pakai bahasa Spanyol. Haha.. Maafkan. Di tulisan sebelumnya saya sudah mengaku kalau saya agak iritasi sama bahasa Perancis. Kenapa? Membingungkan! Tulisannya apa, bacanya apa. Saya pernah menuruti salah seorang native speaker asal Perancis bicara, yang ada tenggorokan saya kering dan sakit.

Postingan kali ini cukup simpel, membahas tulisan dengan lafal bahasa Perancis. Beberapa waktu yang lalu saya mendengarkan seorang penyiar radio menyebutkan brand asal Perancis dengan ngaco. Saya jadi sok pinter dan mikir, seorang penyiar radio harusnya cari info yang bener dulu baru di-share ke pendengar. Ini kok dengan bangga menyebut salah satu brand pakaian asal Perancis tapi cara pelafalannya salah. Duuuhh...kok saya waktu itu jadi kesal sendiri ya. Secara saya juga bukan tukang belanja barang bermerk, tapi memang cukup aktif beli majalah fashion. Makanya ketika mendengar si penyiar salah sebut seperti itu, sedikit risih di telinga saya.

Berikut beberapa brand ternama asal Perancis yang orang sering mengucapkannya dengan lafal yang kurang tepat. Hayooo..jangan mengaku suka beli barang mahal ya, tapi menyebut merk-nya saja salah.

Chanel (baca: syanel)

Louis Vuitton (baca: lui vitong) 'o pada foto' . Ini nih brand yang penyebutannya salah sama si penyiar. Tau dia nyebut apa?? LUIS VUITON, jaaahhh...ular piton kali ah.

Dior (baca: jio) 'o pada foto'

Hermes (baca: ighrmes) 'e pada Memes'

Balenciaga (baca: balonsiagya) 'o pada balon'

Givenchy (baca: zyivongzi)

YSL/Yves Saint Laurent (baca: ivs sang lorang). Jadi inget zaman SMA dulu tiap ke toko sepatu terus lihat merk ini bacanya 'waives seint loren'. Haha..

Lacoste (baca: lekost)

Chacarel (baca: syakarel)

Nina Ricci (baca: nina rici)

Pierre Cardin (baca: pier kardan)

LANVIN (baca: longvang)

Celine (baca: selin)

Christian Lacroix (baca: krisciong lakroa)

Le Coq Sportif (baca: lu kog sportif)

Etam (baca: ehtam) 'e pada lele'

Karl Lagerfeld (baca: karl laguerfeld)

Kookai (baca: kukay)

Chantelle (baca: syongtel)

Catherine Malandrino (baca: kehtrin malandrino)

Huruf R pada bahasa Perancis kurang lebih dibaca ghr.
See? Kenapa saya tidak menyukai bahasa Perancis? Saya tidak rela tenggorokan saya gatal-gatal. Haha.. Atau memang saya-nya saja kali ya yang tidak bakat jadi orang romantis.


(brand source: Discount Upon)


Tips Belajar Bahasa Asing (3)

Monday, 27 May 2013



Tulisan yang saya berikan sebelumnya adalah tips untuk pemula yang baru mulai belajar bahasa asing atau masih berada di tingkat basic/beginner. Banyak orang mengatakan 'memulai' suatu hal itu adalah hal yang sangat sulit. Ada banyak hal yang biasanya jadi masalah seseorang malas belajar bahasa asing, apalagi secara otodidak.

Tidak ada teman ngobrol.
Malas buka buku.
Tidak ada waktu.
Sekarang belum penting, nanti aja nunggu dapat beasiswa sekolah ke luar negeri.

Keluhan di atas merupakan 4 dari banyak kendala yang sering dialami seseorang ketika mulai atau sedang belajar bahasa. Tapi setiap kendala tentunya punya solusi dong. Intinya kita memang harus disiplin dan rajin mencari solusi atas kendala atau keterbatasana kita kalau kita memang mau belajar.

1. Sewaktu di Penang, saya sekamar dengan seorang tante asal Spanyol. Saya sempat kegirangan saat itu gara-gara saya juga sedang belajar bahasa Spanyol dan selama ini tidak ada teman ngobrol. Sebalnya, tiba-tiba kemampuan bahasa Spanyol saya kok jadi hilang ya? Swear, untuk bilang 'apa kabar?' saja saya amnesia! Saya mengaku kalau sebenarnya sedang belajar bahasa Spanyol dan mendadak lupa saat bertemu dengan dia. Tante yang namanya Veronica itu langsung memberikan tips saya harusnya punya pacar orang Spanyol biar ada teman mengobrol. Tante Veronica sebenarnya benar juga sih. Karena level bahasa Inggris saya juga sempat naik lantaran tiap hari BBM-an sama gebetan asal Kanada (isshhh pameeerr).

Kamu sebenarnya tidak harus punya pacar dulu untuk ngobrol, kamu bisa menemukan situs yang menghubungkan kamu dengan para native speakers yang bersedia mengajarkan kita sedikit bahasa mereka. Berikut rekomendasi yang saya berikan karena sering pakai:

Status pertemanan ini saya gunakan dua tahun belakangan. Anggotanya berasal dari hampir seluruh negara di dunia. Mirip-mirip Facebook sih, tapi kelebihannya kita bisa sekalian cari teman yang bisa diajak tukar bahasa (language exchange). Kita juga bisa sekalian pilih teman yang bisa diajak mengobrol dengan melihat deskripsi profil mereka. Kita juga bisa mengatur profil pribadi dengan membatasi umur orang yang bisa menghubungi kita serta membuat tulisan warna-warni di profil. Lucunya, kita juga bisa flirting sama cowok-cowok ganteng disini dengan modus minta diajarin bahasa mereka. Tertarik bikin akun?

Kamu suka kirim-kiriman surat atau tukar-tukaran kartu pos dengan orang di seluruh dunia? Kamu wajib bikin akun di situs ini! Selain bisa tukar-tukaran kartu pos, saya biasanya memanfaatkan situs ini untuk belajar bahasa. Kalau kebetulan kamu 'disuruh' mengirim kartu pos ke negara yang sedang kamu pelajari bahasanya, bisa jadi ajang pamer kemampuan menulis dong. 

2. Saat sedang pelajaran bahasa Inggris waktu di SMA, guru saya pernah ngomong daripada ngabisin duit kursus bahasa bertahun-tahun, mendingan duitnya dikumpulin terus belajar keluar negeri. Sudah banyak tempat kursus bahasa Inggris besar seperti EF yang menawarkan homestay keluar negeri sebagai bagian dari proses belajar. Kalau kamu merasa malas belajar bahasa asing di kota kamu (dan kebetulan banyak duit), saya sarankan mencoba kursus musim panas di luar negeri yang durasinya 3-12 bulan tergantung level yang kamu tuju. Biaya yang dikeluarkan memang besar, dari akomodasi sampai uang kursus. Tapi ada beberapa kursus bahasa yang memberikan beasiswa bebas uang kursus namun kita tetap harus menanggung biaya akomodasi dan tiket pesawat.

3. Zaman sekarang memang sudah masanya teknologi digital. Saya sendiri masih tetap memerlukan buku teks atau modul sebagai penunjang. Bayangkan kalau kita mesti dihadapkan pada kondisi dimana mati lampu seharian penuh. Kita tetap tidak bisa memanfaatkan laptop atau handphone untuk mengecek arti satu kata secara terus-menerus kan? Untuk itulah keberadaan buku dan kamus tetaplah penting saat belajar bahasa asing. Sebaiknya carilah buku-buku yang bahasanya kamu mengerti, komposisi bukunya cukup lengkap, dan harganya bisa disesuaikan dengan kantong. Sebelum pergi ke kasir, pastikan dulu kamu membaca isi buku tersebut sekali lewat. Kamu juga bisa mengambil beberapa modul di internet sebagai penunjang kalau kebetulan tidak ingin keluar uang banyak membeli buku.

4. Kalau kebetulan kalian ingin mempelajari bahasa tertentu dan memerlukan tentor atau setidaknya website yang user-friendly agar tidak terlalu membingungkan, saya sarankan mengunjungi website dibawah ini.

Disini kamu bisa ngobrol langsung dengan native speakers yang bisa berbahasa Inggris, mencoba kelas privat berbayar dari mereka, atau kamu juga bisa mendaftarkan diri sebagai tutor orang lain.

Pod101
Website ini menurut saya komplit. Kita bisa download modul, video, podcast untuk belajarr listening, bahkan ada sesi latihannya. Situs ini termasuk yang 'mendaftar seumur hidup' dan kamu tinggal meng-upgrade akun agar banyak keuntungan yang bisa kamu dapat.

Pertama kali mendaftar, kamu akan mendapatkan waktu gratis 7 hari untuk men-download semua podcast yang tidak semuanya bisa terbuka kalau kamu belum meng-upgrade akun. Saya sarankan kamu harus memiliki kemampuan bahasa Inggris di level Intermediate untuk mendengarkan podcast-nya. Semuanya berbahasa Inggris, namun sangat mudah dipelajari kalau kamu paham apa yang sedang mereka ucapkan. Mereka juga punya musik pengantar lucu sesuai negara yang bahasanya sedang dipelajari. Untuk menemukan situs dengan bahasa yang tepat untuk kamu, cukup tambahkan bahasa yang ingin kamu pelajari + Pod101 + [dot]com, enter. Contohnya ItalianDutch, Japanese, atau Swedish.

Seperti yang saya bilang ditulisan sebelumnya, selain belajar bahasa baru, durasi belajar bahasa Inggris tetap harus dilebihkan. Ini merupakan situs favorit saya saat belajar reading dan listening. Yang paling penting, situsnya user-friendly, materinya fun, dan kita bisa download teks atau audio-nya gratis.

5. Belajar bahasa bisa kapanpun dan dimanapun, bahkan untuk kamu yang sudah terdaftar di salah tempat kursus manapun. Kalau problem waktu adalah alasan terbesar kamu malas belajar dan kamu lebih memilih otodidak, cobalah untuk terus belajar minimal seminggu sekali. Bisa hari apapun dan jam berapa pun. Bahkan durasinya terserah kamu. Saya sendiri kadang harus membawa buku grammar bahasa Inggris ke kampus biar bisa dipelajari di dalam bus. Kadang juga cuma bertahan 20 menit, soalnya saya cepat ngantuk kalau belajar grammar. Hihi..

6. Kapan waktu yang tepat untuk belajar? Ya sekarang! Kamu menunggu apalagi? Menunggu dapat beasiswa dulu? Duh, kelamaan! Kalau memang kamu sedang merencanakan studi ke luar negeri, ada baiknya kamu mulai mempelajari bahasa negara yang sedang kamu bidik. Kemampuan berbahasa yang baik akan menaikkan poin kamu dimata juri saat kamu mengajukan beasiswa. Akan kelihatan kalau kamu serius belajar di negara mereka dengan bukti kamu sudah mempersiapkan diri kamu jauh sebelum diterima.

Semoga tips-tips di atas membantu ya, teman. Tidak ada kata terlambat kok untuk belajar. Namun apa yang bisa kita lakukan sekarang, yuk mari kita lakukan. Semoga bermanfaat!


Tips Belajar Bahasa Asing (2)



Setelah mengetahui bahasa apa yang mulai kamu ingin pelajari, sekarang saatnya mulai ke tahap inti. Kamu boleh langsung ikutan kursus di kota kamu ataupun bisa belajar otodidak. Bagi yang di tempat tinggalnya sudah tersedia tempat kursus bahasa asing, tinggal datang dan langsung daftar. Nah saya, susah sekali belajar kursus bahasa asing disini dikarenakan tidak adanya lembaga yang membuka kelas bahasa tersebut.

Ada lembaga bahasa di kampus menyediakan kursus bahasa asing semisal Jepang, Jerman, atau Perancis. Tapi sayangnya, pembukaan kelas didasari pada kuota siswa. Kelas baru akan dibuka kalau jumlah siswa minimal 15 orang. Teman saya yang ingin belajar bahasa Perancis sempat sebal gara-gara harus menunggu pendaftar dulu baru kelas barunya dibuka. Sebalnya, orang yang baru mendaftar untuk kelas bahasa Perancis baru 5 orang!

Belajar lewat kursus ataupun otodidak sebenarnya sama. Sama-sama harus tekun dan rajin agar bahasa asingnya lancar. Tapi memang ada keunggulan dan kekurangan dari tiap masing-masing cara belajar. Kalau kamu suka suasana belajar yang ramai/dinamis, langsung bertemu dengan native speaker/belajar langsung dari tutor, mendapatkan sertifikat, memang sebaiknya kamu ikut kelas. Kekurangannya adalah sistem belajar yang monoton, moody datang ke kelas, dan yang terpenting biasanya biaya yang dikeluarkan juga besar.

Tapi kalau kamu mengalami keterbatasan seperti saya, sulit mendapatkan kursus bahasa asing di tempatmu, mau tidak mau harus mulai terbiasa belajar secara otodidak. Memang kita harus belajar ekstra keras, menunggu mood dulu untuk belajar, tidak ada tutor untuk belajar, tapi asiknya adalah kita bisa menentukan kapanpun akan belajar, kita juga lebih mandiri dengan belajar sendiri, dan hemat biaya.

Berikut tips dari saya untuk kalian yang ingin mempelajari bahasa baru, baik melalui kursus ataupun otodidak:

1. Mulailah dengan 3 kata sakti. Di tempat kursus biasanya kamu akan menerima modul yang berisi materi-materi pelajaran yang akan dipelajari. Sebaiknya sebelum memulai kursus atau belajar, pelajarilah dulu speaking paling dasarnya. Kata-kata sakti seperti 'halo', 'apa kabar?', dan 'terima kasih' biasanya akan membantu kalian di sesi paling awal.

2. Perkenalan diri. Untuk kamu yang belajar otodidak, selain dimulai dengan 3 kata sakti di atas, pelajaran berikutnya adalah dengan proses perkenalan diri. Biasanya perkenalan diri yang pendek sedikit lebih gampang. Kalimat perkenalan seperti 'Halo, apa kabar? Nama saya..... Senang berkenalan dengan kamu' bisa kamu pelajari berulang-ulang. Perhatikan juga kalimat yang digunakan, karena biasanya terdapat perbedaan percakapan formal-informal dan soal gender kata.

3. Ayo ngomong! Yang paling penting belajar bahasa adalah ngomong! Ngomong dong ngomong (iklan banget). Ngomong apaan, kan belum lancar? Ya, ngomong 3 kalimat sakti dan perkenalan diri.

4. Jangan lupa beli kamus. Saya sarankan untuk membeli kamus yang setidaknya memuat kata kerja dasar dari bahasa tersebut. Sejujurnya saya sendiri tidak punya kamus saku dan lebih sering memanfaatkan aplikasi translator untuk membantu. Tapi saya memang harus beli kamus nih sepertinya. Karena beberapa kata kerja di translator itu sebenarnya kadang kurang tepat.

5. Manfaatkan YouTube. Siapa guru kedua saya belajar bahasa selain buku teks? Jawabannya adalah video. Selain mendapatkan gambaran yang pasti tentang tulisannya, saya juga lebih mudah memahami gaya bicara si native.

6. Dengar dan dengar. Kamu sudah punya modul dan kamus, tapi koneksi internet sedang tidak bagus sehingga YouTube kelamaan buffering-nya? Kamu bisa mendownload podcast atau rekaman suara native speaker saat sedang memberikan materi tentang pelajaran. Tapi seperti yang saya bilang di tulisan sebelumnya, bahasa Inggris kamu setidaknya harus berada di level Intermediate karena rata-rata para native speaker menggunakan bahasa tersebut untuk memberikan materi.

7. Mulailah kalimat sederhana dengan native. Chatting merupakan kegiatan yang sebenarnya bisa sangat bermanfaat kalau kita mampu menggunakannya dengan benar. Maksud saya, chatting yang berkualitas itu bukan hanya curhat tentang kegalauan atau menghabiskan waktu. Kamu juga bisa cari aplikasi di smartphone yang memungkinkan untuk berbicara dengan orang asing ataupun native speaker dari bahasa yang sedang kamu pelajari. Dulu saya sangat menyukai aplikasi Yahoo! Messenger yang memungkinkan kita masuk 'room' dan ngobrol dengan orang asing. Lumayan sih melatih percakapan dalam bahasa Inggris. 

8. Saatnya menulis. Sekarang setidaknya kamu sudah bisa berbicara kalimat sederhana dengan orang asing, pelajaran selanjutnya adalah kamu harus menulis. Bahasa asing yang menggunakan huruf latin memang tidak ada masalah, tapi bagaimana dengan kamu yang belajar bahasa Jepang atau Mandarin? Tentunya tulisan tidak bisa dianggap sepele. Kurang panjang, kurang garis, kurang titik, kurang bundar, bisa mempengaruhi arti sebuah kata.

9. Komitmen. Belajar itu tidak mudah makanya dibutuhkan keseriusan dan komitmen yang tinggi. Intinya saat kamu mulai menyerah dan merasa tidak semangat, coba kamu ingat kembali apa alasan kamu belajar. Ingat kembali apa hal yang akan kamu dapatkan seandainya level bahasa asing kamu sudah di tingkat Intermediate. Saya sendiri sempat hampir menyerah, tapi akhirnya saya ingat, saya ini orangnya paling malas mengulang dari awal lagi. Membosankan. Daripada saya mengulang yang lupa, lebih baik saya meneruskan apa yang sudah pernah saya pelajari. Lagipula saya merasa tidak ada ruginya juga belajar bahasa apapun.

10. Latihan dan terus latihan. Saya yang sudah belajar bahasa Arab selama 3 tahun, sampai saat ini belum bisa fasih ngomong. Kenapa? Gara-gara saya tidak latihan dan kebanyakan melupakan pelajaran. Tapi ini tidak berlaku untuk kamu yang terus latihan demi meningkatkan level bahasa kamu. Bahkan, kamu mungkin bisa hampir lulus level dasar di bulan ke-2.