Keluarga Baru, Masalah Baru

Monday, 27 October 2014




Melanjutkan dari kisah au pairing saya yang bermasalah dengan keluarga lama, akhirnya saya sekarang sudah pindah ke rumah keluarga baru di Laarne, sebuah desa kecil dekat Ghent, sejak awal September lalu. Banyak lika-liku sebelum akhirnya bisa pindah kesini. Dari yang mulai sempat ada selisih paham dengan host mom lama, uang saya yang sampai sekarang tidak dibayar oleh host mom, sampai rasa kecewa dengan keluarga baru ini.

Sejujurnya, kisah saya sampai ganti family ini juga agak up and down. Awalnya sih saya bahagia sekali bisa pindah keluarga, apalagi dari hasil diskusi sebelumnya dengan host parents ini, membuat saya merasa keluarga yang sekarang benar-benar ideal dan jauuuuh lebih baik dari keluarga sebelumnya.

Namun, tentu saja tidak ada keluarga yang benar-benar sempurna. Walaupun saya awalnya merasa keluarga ini jauh lebih baik, tetap saja saya merasa dikecewakan.  Memang sih, rasa kecewa itu sekarang sudah saya pendam dalam-dalam dan berlapang hati saja, tapi bukan tidak mungkin ganti keluarga bisa membuat kita lebih bahagia.

Setidaknya itu yang pernah saya alami sejak pindah kesini. Sejujurnya, keluarga saya yang sekarang 70% lebih baik dari segi komunikasi dan pekerjaan ketimbang keluarga lama. Keluarga yang sekarang adalah sepasang suami istri yang punya perusahaan di Ghent dan bergerak di bidang student housing (estate). Mereka berdua adalah pasangan businessman/woman muda yang sangat sangat sibuk sehingga jarang sekali di rumah.

 Anak-anak mereka, Tijl, Staf, dan Keet, menurut saya adalah pribadi yang menyenangkan dan sangat welcome dengan orang baru. Ketiganya juga sudah fasih bahasa Inggris dan diajarkan untuk selalu well behaved. Walaupun ya, kadang masih agak "liar" mengingat usia mereka yang memang lagi aktif-aktifnya. Keluarga ini sudah pernah meng-hire lima au pair sebelum saya sejak 5 tahun terakhir. Bahkan au pair pertama mereka yang dari Cina, melanjutkan sekolah master-nya di Universitas Ghent, dan karena dia punya kamar sendiri disini, biasanya setiap akhir pekan balik ke Laarne.

Walaupun tergolong keluarga yang cukup kaya, tapi keluarga saya ini cenderung masih down to earth. Rumah mereka yang di Laarne dibeli dari seorang petani dan direnovasi lagi. Renovasinya pun tidak sepenuhnya karena mereka juga masih mempertahankan bentuk asli rumah petani ala Eropa yang berdinding bata dan banyak properti kayu.

Disini saya tidak hanya mendapatkan kamar, tapi juga satu rumah dan isi-isinya yang bisa digunakan. Jadi mereka punya dua rumah berdampingan di satu lokasi. Saat tidak ada pekerjaan, saya bisa leha-leha di 'rumah pribadi' au pair, masak, atau sekedar bubble bath. Kalau lagi kerja dan babysit, saya stay di rumah mereka untuk mengontrol para bocah.

Si bapak dan emaknya juga sangat open minded dan senang cerita, tapi sikap mereka agak berubah ketika saya memutuskan untuk menarik diri dan cenderung pendiam. Sikap saya ini saya tunjukkan karena kecewa dengan mereka. Bayangkan saja, kekecewaan ini membuat saya jadi pribadi yang tertutup, tidak terlalu tertarik dengan urusan keluarga mereka, bahkan memutuskan bolos kursus bahasa! Karena kecewa ini juga, saya bahkan berpikir untuk kembali lagi ke keluarga lama. Jlebb..

Rasa kecewa saya ada dua sebab. Yang pertama adalah karena pengakuan telat mantan au pair mereka dan yang kedua, ada satu kesepakatan yang sudah saya dan host parents setujui bersama sedari awal malah dilanggar sendiri oleh mereka. Kesalnya bukan main dan saya merasa mereka tidak fair.

Soal pengakuan telat mantan au pair mereka ini juga sempat membuat saya ilfil dengan keluarga yang sekarang. Saya juga kesal setengah mati dengan mantan au pair ini yang tidak seratus persen jujur. Dari awal, dia memberikan respon 100% positif tentang keluarga ini kepada saya. Kenyataannya, ada suatu hal yang membuat dia juga pernah dikecewakan!

Jadi ceritanya, au pair kelima mereka ini cuma kerja 3 bulan. Pengakuan dari host parents saya, karena si au pair ini city life person, makanya dia tidak betah hidup di lingkungan yang sekarang saya tempati.

Awal-awal minta referensi, si au pair ini terlihat enggan menceritakan hal sebenarnya yang membuat dia ingin resign. Dia cuma mengatakan kalau keputusannya jadi au pair di Belgia adalah keputusan terburuk dalam hidupnya. Sebalnya, setelah sehari saya pindah, si au pair ini baru cerita kalau ada perlakuan host dad yang menurut dia keterlaluan dan omongannya sangat kasar. Makanya si au pair ini memutuskan untuk secepatnya pulang ke kampung halaman.

Yang kedua adalah tentang kesepakatan kursus seni yang rencananya akan saya ikuti. Pertama kali datang ke keluarga ini, saya sudah bicarakan dengan host parents bahwa saya berkeinginan mengikuti salah satu kursus gambar yang diadakan tiap Kamis malam. Mereka sih oke-oke saja, jadi saya anggap mereka setuju. Tahunya, seminggu di awal kepindahan saya disini mereka mengatakan kalau hal itu tidak mungkin terjadi dan mau tidak mau harus saya batalkan.

Mengingat jam kerja mereka yang agak gila, jadinya mereka berharap saya mengerti hal ini. Sumpah, saya rasanya kesal sekali! Rasanya sangat tidak fair dan terlalu mempedulikan urusan mereka sendiri. Setidaknya kalaupun dari awal mereka pikir itu impossible, janganlah memberikan saya harapan palsu. Untung saja, saya belum sempat membayar kursus itu. Karena kalau tidak jelas apa sebab pembatalan, pihak kursus tidak mau mengembalikan uang yang sudah dibayar.

Memang saya tidak berhak memaksakan kehendak karena di regulasi au pair sendiri, cuma kursus bahasa yang menjadi keharusan. Namun saya seperti kehilangan kesempatan untuk belajar hal baru dan ketemu orang yang satu hobi. Semenjak di Londerzeel, saya memang sudah mengincar kursus ini. Namun karena kejauhan, saya batalkan. Makanya saya sangat senang saat tahu mereka menyetujui rencana saya mengikuti kursus seni di Ghent. Tahunya..

Jam kerja keluarga saya yang sekarang kacau sekali. Mereka baru pulang jam 8 malam, tapi bisa saja pergi lagi jam 10 malam dan baru pulang jam 1 pagi-nya. Mau tidak mau nyaris setiap hari saya mesti babysit dan menunggu mereka pulang.

Kasus ini langsung saya ceritakan dengan ibu saya di Palembang. Saya cerita ke beliau karena saya merasa omongan orang tua itu adalah yang sebenar-benarnya. Saya jelaskan ke ibu kalau saya ada niat ganti family LAGI! Jelas-jelas ibu saya tidak setuju karena belum tentu keluarga yang baru bisa lebih baik dari yang sekarang. Ibu saya juga kesal dengan saya yang terlalu sering ganti keluarga angkat. Tidak nyaman disini, pindah. Tidak nyaman disana, pindah.

Karena kecewa, saya mati-matian menerangkan ke ibu kalau keputusan saya pindah keluarga sudah bulat. Namun ibu saya mengarahkan coba untuk bicara ke host family lama siapa tahu bisa balik lagi kesana. Lagipula saya sudah tahu sifat keluarga lama, jadi tidak perlu adaptasi lagi.

Memang, saat itu entah kenapa saya merasa malah cara pikir dan perlakuan keluarga lama  membuat saya lebih nyaman ketimbang di keluarga baru ini. Saya merasa benar-benar menyesal pindah ke Laarne dan mengurung diri saja di rumah. Saya juga sering kali merasa bahwa Londerzeel, tempat saya tinggal dulu, justru lebih baik dari lingkungan yang sekarang.

Saya pun sempat menghubungi host mom lama dan menceritakan hal yang sebenarnya. Tapi saya tidak bertanya apakah dia masih mau menerima saya atau tidak. Saya hanya cerita dan minta pendapat tentang apa yang sedang saya alami ini. Dengan diplomatisnya, tentu saja dia menasehati untuk tetap bertahan di keluarga yang sekarang. Nasehatnya sangat bagus sih dan membuat saya berpikir untuk lebih hati-hati dalam bertindak.

Saya juga curhat dengan satu teman au pair yang paling tahu cerita saya di Belgia bagaimana, dari yang paling sedih sampai sangat menyedihkan. Teman saya ini jelas menentang saya habis-habisan kalau ingin kembali ke keluarga lama. Dia sangat tahu apa yang menyebabkan saya ingin keluar dan pindah, dan hal itulah yang dia tanyakan lagi ke saya. Dia menegaskan jangan pernah kembali lagi ke orang yang sudah benar-benar membuat kita sakit hati dan kecewa.

Belum puas juga, akhirnya permasalahan ini saya bawa ke agensi Au Pair Support Belgium. Saya menerangkan kalau saya bermasalah lagi dengan keluarga yang sekarang dan menanyakan apa saja kesempatan yang masih ada untuk saya saat itu. Karena regulasi menerangkan kesempatan ganti keluarga hanyalah sekali dalam kurun waktu setahun atau mau tidak mau saya harus pulang ke negara asal.

Untungnya, karena saya baru seminggu pindah, dokumen pergantian work permit belum diserahkan ke authority bureau, jadinya masih ada kesempatan untuk ganti keluarga baru lagi. Saya juga curhat ke agensi dan meminta pendapat mereka tentang hal ini. Alhamdulillah kali ini agensi tidak hanya memihak ke host family, karena berkali-kali curhat ke mereka, selalu di balas panjang oleh asistennya. Agensi juga sudah siap saja mencarikan keluarga baru, asal saya sudah benar-benar membicarakan hal ini dengan keluarga yang sekarang. Padahal kasus tentang ganti keluarga ini baru keputusan saya saja dan sama sekali belum saya singgung ke host parents.

Yun Shu, au pair pertama mereka dari Cina, yang juga setiap weekend pulang kesini, sering kali juga saya mintai pendapat. Jie jie, biasa dia saya panggil, sebenarnya sedih juga mengetahui saya tidak nyaman tinggal di Laarne. Walaupun sempat jadi au pair keluarga ini sekitar 4 tahun yang lalu, tapi dia juga sebal dengan perlakuan si keluarga yang membuat saya kecewa.

Jie jie juga mendukung keputusan saya kalau ingin ganti family maupun tetap tinggal disini. Sarannya, kalau ingin ganti keluarga, lakukanlah secepatnya dan carilah yang mungkin bisa lebih baik. Begitupun kalau saya ingin tetap tinggal, sebisa mungkin carilah cara agar saya bisa lebih bahagia dan produktif.

Jie jie juga sangat menyayangkan kegiatan saya yang cuma tinggal di rumah setiap hari karena bolos kursus bahasa. Dia sebenarnya mengerti kenapa saya bolos dan dia juga tidak menyalahkan. Tapi katanya akan lebih baik kalau saya tetap mencari kegiatan di luar agar bisa ketemu orang baru dan bicara.

Akhirnya setelah sebulan bergulat dengan rasa kekecewaan, bolos kursus bahasa, kesepian yang menderu gara-gara keseringan di rumah, awal Oktober saya memutuskan untuk tetap tinggal dengan keluarga yang sekarang. Pola pikir saya mulai diubah untuk lebih bijaksana dalam bertindak dan melihat masalah.

Walaupun sudah sempat kecewa, tapi saya berpikir waktu di Eropa sudah tinggal 6 bulan lagi. Kalau saya cuma memendam rasa kecewa dan tinggal di rumah saja, kapan saya bisa eksplorasi dan ketemu orang barunya? Lagipula untuk apa saya jauh-jauh kesini kalau tidak bahagia?

Kejelekan-kejelekan keluarga baru yang sempat membutakan, saya buang jauh-jauh. Saya mulai semangat lagi keluar rumah sekedar cari tempat baru untuk dieksplor. Walaupun tidak ikut kursus bahasa, saya tetap datang ke perpustakaan untuk belajar sendiri. Memang kebanyakan bosannya sih, tapi lebih baik ketimbang ilmu saya tidak berkembang.

Well, ini keputusan yang saya buat, dan saya tidak pernah kecewa atas apa yang sudah putuskan. Saya melihatnya sebagai pembelajaran bahwa ternyata kita tidak bisa selamanya hidup di zona nyaman. Bagi saya tinggal di keluarga yang sekarang adalah di luar zona nyaman saya. Memang agak sulit mengikuti habit dan daily life keluarga baru ini, tapi setidaknya, mereka lebih terbuka dan mau diajak komunikasi. Lagipula saya bersyukur keluarga ini mau menerima saya apa adanya, walaupun sih mereka juga sepertinya agak sungkan saat tahu  saya agak menarik diri dari keluarga mereka.


1 comment: