7 Tanda Mungkin Kamu Harus Ganti Host Family

Wednesday, 3 June 2020



Tidak akan ada yang bisa menjamin apakah calon keluarga angkat yang kita temui di internet sesuai dengan ekspektasi atau tidak. Meskipun sudah bertukar pesan atau mengobrol lewat Skype beberapa kali sebelum bertemu, namun cara tersebut tidak akan pernah cukup untuk mengetahui karakter asli seseorang. Bahkan mengobrol dengan mantan au pair mereka sebelumnya pun belum tentu membuka semua aib dan kebaikan keluarga tersebut. Entah mereka baik, mean, atau mungkin pelit, you would never know.

Apalagi bagi para au pair baru yang mungkin sangat naif dan punya ekspektasi terlalu tinggi setibanya di negara tujuan. Pasti ada yang bertanya-tanya, apa benar kita harus bersih-bersih toilet setiap minggu, apa mengurus anak lebih dari 5 jam itu sudah termasuk overtime, lalu apakah tidak diajak makan malam setiap hari itu lumrah, serta pertanyaan ajaib lainnya. Ada kalanya au pair merasa emosional, hingga terpikir untuk mencari keluarga baru secepatnya. Atau mungkin sebaliknya, karena tak punya teman curhat dan belum mengerti peraturan, banyak juga au pair yang memutuskan terus tinggal meskipun setiap hari terbawa perasaan tak nyaman.

Tapi sebelum memutuskan untuk terus tinggal, coba cek tanda-tanda di bawah ini yang mungkin akan jadi alasan terbaik mu untuk segera hengkang dari keluarga tersebut!

1. Ketika pola diet kita mulai diatur

Saya tak pernah sepakat dengan perilaku keluarga yang membeda-bedakan makanan bagi mereka dan au pair. Menurut saya, persoalan pangan menjadi hal yang paling krusial karena menyangkut dengan ketahanan hidup manusia. Tahu kan bahwa au pair itu harusnya dianggap seperti keluarga sendiri, yang artinya makan pun kalau bisa semeja dan sepatutnya bebas makan apapun yang host family juga makan.

Kalau kamu saja tidak boleh makan ini, makan itu, dengan alasan barang tersebut mahal atau karena persediannya tinggal sedikit, this is a huuuge red flag! Saya juga tidak suka dengan ide melarang au pair makan bersama dengan host family, namun malah memberi au pair uang jajan untuk membeli makanan di luar. Parahnya lagi, ada au pair yang bahkan tak diberikan uang tambahan untuk membeli makan, malah disuruh beli makan sendiri pakai uang pribadi.

Intinya, kalau kamu tinggal bersama keluarga yang pelit soal makanan, jangan berpikir dua kali untuk lanjut kontrak dengan mereka!

2. Kamu merasa direndahkan

Ini sebetulnya sempat terjadi dengan saya di Belgia. Selain kasar, keluarga pertama saya dulu juga tidak memberikan kepercayaan sepenuhnya sehingga membuat saya kurang nyaman. Mendatangkan orang baru ke rumah dan langsung percaya sepenuhnya memang tidak mudah. Saat mereka berlibur, gerak-gerik saya tetap dimata-matai oleh adik host mom untuk bahan laporan. Ketika saya buru-buru harus kejar bus dan tidak sempat cuci piring, si adik siangnya datang ke rumah, memoto wastafel dapur lalu diberikan ke kakaknya sebagai bukti. Sukses, saya dimarahi habis-habisan karena meninggalkan rumah tanpa mencuci piring terlebih dahulu!

Si ibu juga sering kali mengeluarkan kata-kata kasar yang membuat saya sedih, seperti "Pakai mata kalau kerja!", "Siapa yang ingin minum susu kalau sudah dibuka semua?! Susu bayi itu mahal!", "Kalau keluar mandi jangan lupa lampu dimatikan karena listrik di Belgia mahal!", serta berbagai omongan kasar lainnya.

Menurut saya, sebagai anak muda yang baru pertama kali tinggal di luar negeri, host family harusnya bisa sedikit memaklumi culture shock yang kita alami. Tidak usahlah merasa sok kaya dan paling berjasa hanya karena bisa mendatangkan au pair ke negara tersebut. Faktanya, keluarga yang lebih kaya pun masih ada yang menghargai au pair mereka. Lagipula siapa yang mau dimaki-maki dengan kata-kata kasar, meskipun statusnya hanya pembantu sekalipun?!

3. Meragukan tugas mu

Sulit memang jadi au pair untuk tipe keluarga sok perfeksionis yang biasanya sangat menyebalkan kalau sudah berhubungan dengan tugas bersih-bersih. Kadang sampai harus dicek apakah debu masih menempel di atas meja atau sempat menanyakan "what have you done today?!" saat melihat standar kebersihan kita berbeda dengan mereka. Keluarga seperti ini tidak pernah puas!

Lucunya, mereka sendiri sebetulnya tidak serapi atau sebersih yang kita pikirkan. Kalau memang tidak puas dengan hasil kerja au pair, silakan kerjakan sendiri! Au pair bukanlah babu profesional yang dilatih untuk membersihkan sudut kamar mandi sebersih hotel berbintang. Kalau pun ingin bersih, ya mari kerjakan bersama dan beri contoh ke au pair. Bukan hanya menyuruh begini begitu, namun ujungnya tetap saja tidak pernah puas dengan cara kerja kita.

Saya pernah dihakimi habis-habisan hanya karena sudah 3 kali menyikati kamar mandi, namun hasilnya tak seperti yang mereka inginkan. Lucunya, si host dad yang tukang suruh-suruh pun mengaku bahwa beliau sama sekali tak tahu apa yang diharus dilakukan. Ketimbang memberikan arahan yang benar, saya malah disuruh buka YouTube dan belajar sendiri via internet!

4. Kerja berlebih

Banyak miskonsepsi tentang "working overtime" di kalangan au pair. Ada yang merasa sudah bekerja terlalubanyak, tapi sebetulnya hanya 5-6 jam saja. Ada juga yang merasa "diperbudak", namun faktanya justru banyak libur di kemudian hari. Lalu, mana yang sebetulnya benar?

Yang paling tahu tentu saja kamu. Menurut saya, kerja berlebih itu bisa berarti kerja dari pagi sampai malam non-stop, dengan waktu istirahat hanya 2-3 jam saja. Tapi kalau kamu masih bisa datang ke tempat kursus, masih punya waktu sendiri 4-5 jam di siang hari, lalu masih bisa tidur nyenyak saat malam, berarti kamu masih bekerja normal.

Tentu saja setiap au pair memiliki jam kerja dan tugas yang tidak sama. Mungkin saja satu au pair menilai kamu overtime, tapi kamu sendiri merasa hal tersebut normal. Ada juga yang mungkin merasa kamu manja, padahal menurut mu kerjaan lebih dari apa yang disepakati di kontrak. Then just listen to your gut and body! Saat tubuh mulai lelah dan kita sering mengeluh tentang kerjaan hampir setiap hari, berarti memang ada yang salah dengan jadwal tersebut. Saran terbaik saya, ajak keluarga berdiskusi dan speak up dengan apa yang kamu rasakan. Tak ada perubahan setelah diskusi? Then it's time to find a new host family!

5. Banyak ekspektasi

Sebelum berpikir untuk mengundang au pair datang ke rumah, tiap keluarga harusnya paham bahwa au pair bukanlah anak muda yang langsung punya gelar S3 Pendidikan Mengganti Popok Bayi dari Harvard ataupun S3 Kebersihan Rumah Tangga dari Oxford. Punya pengalaman babysitting sebelumnya dari Indonesia belum tentu membuat au pair paham bagaimana mengurusi anak bule yang kulturnya berbeda. Punya background khusus di dunia pendidikan atau pintar main alat musik, bukan berarti harus menjadikan au pair guru privat di rumahkecuali sudah ada kesepakatan untuk membayar uang lebih.

Hanya karena sudah membayar ini itu untuk mengundang seorang au pair, bukan berarti juga au pair harus memenuhi semua ekspektasi yang keluarga inginkan. Saya sering mendengar cerita bahwa keluarga angkat menginginkan rumah dan toilet bersih ala bintang lima. Ada juga keluarga yang sebetulnya tidak bisa mengurus dan mendidik anak, namun melimpahkan semuanya ke au pair dengan harapan au pair bisa lebih baik mendidik anak-anak mereka. Lalu hanya karena au pair bisa bahasa Inggris, keluarga mengharapkan di rumah hanya boleh menggunakan bahasa Inggris untuk membentuk lingkungan internasional.

Kalau hanya didatangkan jauh-jauh untuk full-time mengasuh anak dan bersih-bersih rumah, kapan lagi au pair punya waktu untuk belajar dan berinteraksi dengan budaya lokal?!

6. Menyediakan fasilitas tidak layak

Meskipun harusnya au pair mendapatkan kamar tidur dan kamar mandi sendiri, tapi level kemewahan fasilitas yang didapat tidaklah sama. Mungkin au pair A lucky bisa mendapatkan kamar luas ala bintang lima dengan pemandangan langsung menghadap ke sawah, namun au pair B hanya mendapatkan kamar sepetak kecil dengan kamar mandi berbagi dengan anak. Daripada iri dengan au pair A dan ingin segera ganti keluarga, sebaiknya kamu tetap positive thinking dan banyak bersyukur karena untuk sewa kamar sendiri yang luasnya sepetak kecil pun tetap mahal di Eropa. Mungkin kamu memang tak puas dengan fasilitas yang didapatkan sekarang karena tidak sesuai ekspektasi. Namun saran saya, kalau memang kamar tersebut masih layak tinggal, cobalah tetap stay.

Jenis fasilitas tak layak yang saya maksud bisa jadi kamar kalian berada di bawah tanah dengan penerangan temaram dan tanpa jendela. Di Denmark, ada banyak sekali keluarga yang menaruh kamar au pair di bawah tanah dengan keadaan yang cukup gelap tanpa jendela. Kamar jenis ini seharusnya dilarang di Denmark karena akan membahayakan, apalagi jika ditinggali untuk waktu cukup lama. Mengapa, bayangkan jika tiba-tiba kebakaran dan kamu harus menyelamatkan diri, kemana larinya kalau tak ada jendela di sana? (Baca postingan saya tentang au pair Denmark yang rata-rata punya kamar di basement!)

Fasilitas lainnya yang menurut saya tak layak adalah masalah kenyamanan dan keamanan au pair. Untuk au pair Indonesia yang baru pindah ke Eropa, suhu 12 derajat di malam hari mungkin saja sudah luar biasa dinginnya. Au pair yang tidak beruntung, bisa saja mendapati kamar mereka tanpa heater sama sekali bahkan saat musim dingin! Saya pernah mendapat cerita au pair Indonesia yang satu tahun harus tidur di kamar tanpa penghangat! Ketika dilaporkan ke host family, mereka sama sekali tak mau memberikan heater hanya karena ingin hemat listrik! This is NONSENSE!! Kalau memang miskin, kenapa sok-sokan ingin punya au pair?!

Selain itu, kamu juga harusnya bisa minta kamar berkunci untuk diri mu sendiri, lho! We never know kan apa yang akan terjadi, entah karena privasi atau ingin bebas dari anak, kamu tetap bisa mengunci pintu dari dalam. Karena saya selalu ingat pesan dari bibi saya dulu, kunci pintu kamar adalah alat paling privasi yang harus kita dapatkan selama tinggal di rumah orang.

7. Bossy

Punya bos yang bossy itu sudah biasa dan kadang kita memang harus menerima begitulah apa adanya attitude kebanyakan atasan. Namun, host family yang ada di rumah meskipun statusnya memang atasan kita, namun secara kesetaraan, bukan. Oke, mereka yang memberi kita uang saku, mereka adalah penjamin kita selama tinggal di sana, mereka juga yang menyediakan kita fasilitas ini itu, tapi apa pantas mereka menganggap kita seorang pembantu hanya karena sudah memberikan semua hal tersebut? 

Bagi saya, kerja dengan atasan yang bossy itu sungguh tak nyaman. Okelah kalau kerjanya di kantor yang mungkin hanya ketemu 8 jam saja per hari. Tapi kalau harus tinggal dengan host family bossy selama 24/7 dan >365 hari, apa nyaman?! Bossy ini pun menurut saya tidak sama untuk semua orang. Ada yang merasa host family jutek dan asal tunjuk ini itu masih normal. Ada lagi yang merasa host family saat memberi tugas dengan suara meninggi itu sudah termasuk bossy. Yang pasti, hanya kamu sendiri yang tahu apakah treatment yang kamu dapatkan lebih seperti bawahan atau keluarga. Meskipun status au pair itu ada di tengah-tengah antara profesional dan kekeluargaan, namun tetap saja tak etis menyuruh au pair ini itu dengan nada meninggi seolah-olah status gap di antara kita dan keluarga sangat luas.


Saat memutuskan pindah keluarga, 3 atau 4 tanda di atas adalah alarm penanda yang membuat saya merasa tak betah lagi tinggal bersama host family. Mungkin terkesan sangat idealis, namun tujuan saya datang ke Eropa memang bukan untuk jadi pembantu rumah tangga yang harus direndahkan! Persoalan kerja dan uang saku yang dibalut program pertukaran budaya ini menurut saya hanyalah win-win solution antara kita dan host family. Hanya karena sudah diberikan semua fasilitas dan uang saku, bukan berarti kita tak punya hak untuk tinggal dan bekerja dengan nyaman kan?

Tapi sekali lagi, meskipun keluarga kamu terlihat bossy atau banyak ekspektasi, saya tetap menyarankan untuk mencurahkan isi hati dan uneg-uneg kamu dulu ke au pair senior atau agensi. Kadang-kadang, saran dari mereka bukan menyuruh mu ganti keluarga tapi introspeksi diri. Bisa jadi, bukannya host family yang bermasalah dan terlalu banyak ekspektasi, namun sebaliknya, kita sendiri yang menaruh standar terlalu tinggi terhadap kehidupan au pair. (Baca postingan saya tentang kehidupan au pair yang tak hanya bertugas mengasuh anak!)

In the end, you're the one who know the real situation. Kamu yang paling tahu dan paling merasakan bagaimana rasanya tinggal bersama keluarga tersebut. Ikuti kata hati dan kalau perlu, tunggulah sampai 1 bulan, sebelum betul-betul memutuskan untuk mencari keluarga baru. Tapi bagi saya, kalau memang sudah tak betah, then nobody should tell you to keep staying. Better to move on and find a new host family ASAP!



2 comments:

  1. "Kalau memang miskin, kenapa sok-sokan ingin punya au pair?!" LOL! Savage kak :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Fakta, Ruth!!
      Cheap mereka itu. Padahal kadang uang tak seberapa, tapi nekad punya au pair hanya untuk cari jasa murah.

      Delete