Party-nya Anak Muda Eropa

Monday, 15 May 2017




Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Saya lupa kalau hari itu Jumat, tepat di pertengahan Januari dengan suhu musim dingin yang sungguh menusuk. Kereta saya menuju Kopenhagen mulai penuh oleh para anak muda yang sudah bersiap menikmati Jumat malam di ibukota.

Para cowok sudah rapih dengan kemeja dan kadang ada tambahan dasi kupu-kupu, lalu gadis-gadis tampak anggun berbalut gaun mini. Anak-anak muda ini sungguh elegan dan modis meskipun mantel musim dingin yang dipakai cukup konservatif. Kaki-kaki jenjang gadis Denmark tersebut juga hanya berbalutkan stocking tipis yang sebenarnya, saya tahu, menyiksa mereka di tengah gempuran angin dingin.

Saya dan dua orang teman berniat menuju salah satu karaoke bar terkenal (karena cuma satu-satunya) di Kopenhagen. Kami berjalan menyusuri daerah Strøget di kawasan Nørreport yang memang ramai saat Jumat dan Sabtu malam. Banyaknya tempat makan, bar, hingga klub malam, menjadikan kawasan pejalan kaki ini penuh oleh anak-anak muda yang ingin rileks sejenak dari penatnya bangku sekolah dan tesis.

Bicara soal pesta para ekstrovert, tentunya berhubungan dengan hura-hura. Apalagi kalau bukan menikmati dentuman musik di klub malam, berdandan seksi, meneguk minuman warna-warni beralkohol, hingga mencari pasangan di lantai dansa. 

Tipe pesta seperti ini biasanya dilakukan oleh anak-anak abege tua yang baru boleh minum alkohol dan bermabuk-mabuk ria. Para mahasiswa yang baru masuk kampus biasanya juga selalu menyempatkan agenda berpesta di klub malam sebagai ajang menikmati hidup. They said, party hard like a student! 

Tidak hanya para abege tua, para dewasa yang penat dengan essai dan pekerjaan, biasanya juga datang demi sekedar berjoget sekalian flirting kanan kiri. Beberapa dari mereka juga terkadang lebih kalem saat di klub malam karena hanya datang untuk menikmati musik lalu minum-minum bersama teman. 

Lalu bagaimana dengan para introvert yang juga mulai muak dengan tugas kampus dan kantor? Walaupun anti dengan kata party, sebenarnya mereka juga tertarik dengan pesta yang sifatnya lebih tertutup dan tidak terlalu banyak orang. Datang ke apartemen teman tanpa berdandan seru, nonton film rame-rame, sambil meneguk beberapa kaleng bir, lebih terasa berharga ketimbang buang-buang energi di klub malam.

Saya pernah juga diundang seorang teman ke acara pesta privat di rumahnya. Para undangan pun sebenarnya hanya terbatas ke para koleganya saja. Walaupun sifatnya privat, namun doi tetap niat menyewa lampu blink-blink dan sound system demi memeriahkan suasana. Makanan pun tidak kalah heboh, 13 courses yang semuanya tentu saja gratis! (Yaiyalah, yang punya acara memang chef di restoran terkenal)

Meskipun anak-anak muda Eropa banyak juga yang hobi mabuk-mabukan, tapi tidak semuanya suka klub malam, lho. Party sering bermakna konotatif yang membuat imej si party boys/girls terkesan terlalu liar, kekanakkan, hobi joget-joget di dance floor with strangers, dan cenderung naughty. Padahal ada juga pesta yang sifatnya musiman alias diadakan karena ada event tertentu.

Tapi apakah semua yang masuk klub malam adalah tipikal orang-orang liar? NO! Kadang ada yang datang bersama teman tanpa joget-joget sedikit pun, memesan bir, lalu hanya duduk di sofa tanpa bicara sepatah kata pun. Grup semacam ini biasanya hanya ingin cari suasana sambil memerhatikan orang-orang yang lagi joget. Ada juga yang datang hanya untuk murni joget-joget tanpa tujuan mabuk dan flirting sedikit pun.

Sama halnya seperti di Indonesia yang dandan habis-habisan saat kondangan, anak-anak muda Eropa biasanya memanfaatkan momen party untuk berdandan to the next level. Baju-baju mini dipakai untuk menarik lawan jenis ataupun menyesuaikan keadaan klub malam yang biasanya semakin malam, semakin panas dan sesak.

Saya sendiri sebenarnya bukan penikmat lantai dansa dan klub malam, kecuali datang bersama teman-teman terdekat. Lewat dari jam 1 pun, saya biasanya sudah mulai gelisah ingin segera keluar karena suasana yang makin ramai dan tidak kondusif. Sebalnya lagi, kita mesti rela sikut-sikutan, dorong-dorongan, bahkan injak-injakan kaki dengan para pejoget lainnya.

Intinya, hati-hati bicara kata party dengan orang-orang Eropa yang baru kita kenal. Sekali lagi, meskipun party bermakna konotatif, tapi orang-orang yang masih menjadikan party sebagai hobi bisa dipandang rendah. Makanya, banyak anak muda yang memasuki usia 27 tahun sudah mulai mengurangi frekuensi ke klub malam karena merasa terlalu tua party hard like a student.


3 comments:

  1. Terima kasih atas sharing nya Mba!
    Berhubung bulan depan saya ada rencana ke negara pacar, dari blog ini, saya jadi penasaran dengan gaya malam atau party nya orang Eropa terutama Denmark. Hehe Bakalan minta pacar buat jalan-jalan malem ke Strøget ini sih. xD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Strøget mah rame mulu. Emang pusatnya turis2 disana. Kalo mau yang lebih hipster dan anak muda banget, coba ke Vesterbro atau Nørrebro ;)

      Delete
  2. Aku tgl 22 ke Finland, aku suka bgt sama party kan seneng joget haha. Kira2 kalo di helsinki, yg bagus untuk party dimana ya? apakah ada yg tau?

    ReplyDelete