10 Tipe Host Family yang Mesti Kamu Pertimbangkan Kembali

Tuesday, 19 June 2018



Cari host family yang baik dan sesuai harapan itu tidak mudah. Saya mencari hingga 5 bulan baru akhirnya dipertemukan dengan keluarga Belgia keturunan Maroko via agensi. But, bad thing happened. Belum full satu tahun kontrak, saya sudah angkat kaki dari rumah keluarga tersebut.

Saya tahu, tidak ada keluarga yang sempurna memang. Begitu pula dengan kita, belum tentu sesuai dengan ekspektasi si keluarga angkat. Namun, tetaplah waspada dan pintar saat mencari keluarga. Saya paham, kamu juga senaif saya dulu yang ingin sesegera mungkin merasakan udara sejuk Eropa. Ingin secepatnya jalan-jalan ke negara tetangga dan ingin secepatnya juga meninggalkan Indonesia. Karena muak mungkin?

Namun tetaplah realistis dan hati-hati. Meskipun tidak pernah berharap akan terjadi, tapi kadang ada saja yang membuat kita tidak cocok dengan keluarga angkat. Jadi daripada kamu bermasalah di negara orang nantinya, sebaiknya baca tipe-tipe keluarga yang menurut saya red flag dan mesti kamu pertimbangkan dulu sebelum buru-buru terima tawaran mereka.

1. Tidak mau rugi

Host family seperti ini biasanya hanya akan memberikan fasilitas standar seperti kamar dan uang saku minimum. Beberapa keluarga ada yang jujur dari awal agar kamu tidak pakai listrik dengan boros, hemat air, tidak makan apa yang bukan milik kamu, tiket disuruh bayar sendiri, ataupun mereka yang tidak menganjurkan kamu untuk ikut kursus bahasa. Seriously, tanpa pikir panjang, sebaiknya kamu tolak saja offer dari keluarga begini!

Mereka mengundang kamu bukan untuk diperlakukan sebagai keluarga, tapi personal assistant semata. Untuk apa jauh-jauh ke Eropa kalau kerja kita hanya stay di rumah dan jaga anak?! Sudah hampir semuanya kita yang bayar, mereka juga lebih peduli dengan hasil kerja ketimbang kenyamanan kita.

2. Anak banyak

Bagi saya, anak 3 biji itu paling maksimal. Pun begitu, saya berharap tidak disuruh mengasuh dan mengawasi semuanya. Apalagi kalau mereka semua masih kecil-kecil.

Kalau ini pengalaman kamu pertama kali jadi au pair, saya sarankan hanya memilih keluarga yang anaknya paling banyak 2. Jangan percaya dengan iming-iming keluarga yang akan saling menolong mengasuh anak, karena faktanya kamu bisa kena jebakan. Teman saya harus mengasuh 5 orang anak tanpa bantuan sedikit pun dari host family-nya. Sudah mengasuh anak, ditambah kerjaan rumah yang setiap hari tidak pernah beres. Minusnya lagi, ibu angkatnya super pelit soal makanan dan hobi pinjam duit ke au pair!

Sanggup kamu?

3. Mantan Filipina

Yes, saya memang sangat skeptis dengan populasi au pair Filipina di Eropa. Menurut saya, keluarga angkat yang pernah punya au pair Filipina sebelumnya akan memperlakukan au pair selanjutnya sama.

Au pair Filipina kebanyakan yes-maam saja karena takut berkonfrontasi dan mengeluarkan pendapat. Tidak sedikit keluarga yang bermasalah dengan au pair Filipina karena miskomunikasi. Kalau pun tidak bermasalah, kamu juga mesti sedikit aware karena au pair Filipina kebanyakan pintar cleaning dan penurut. Makanya banyak keluarga Eropa di utara lebih memilih au pair dari Filipina ketimbang negara lain. No wonder, hampir semua au pair Filipina yang ada di Skandinavia adalah mantan pembantu di Singapura atau Hong Kong.

So, kalau eks au pair si keluarga adalah cewek Filipina, bisa dipastikan ekspektasi keluarga tentang cleaning akan sedikit mirip dengan pekerjaan si mantan. Sialnya, kalau si Filipina mau saja disuruh banyak hal, kamu juga mesti melakukan hal yang sama!

4. Rumahnya di desa

Saya pernah tinggal di desa saat jadi au pair di Belgia. Awalnya memang bahagia karena jauh dari keramaian dan dekat dengan alam. Lama-lama, saya bosan! Beruntung, tempat saya tinggal saat itu hanya sekitar 40 menit naik bus ke Ghent. Masih lumayanlah kalau ingin rehat saat akhir pekan.

Tapi tidak semua desa dekat dengan kota besar. Belum lagi, biasanya transportasi umum di pedesaan horor alias tidak beroperasi sampai tengah malam dan bisa datang dua jam sekali. Saya sering kali jalan kaki tengah malam dari stasiun terdekat hanya karena ketinggalan bus terakhir.

Travelling ke negara tetangga pun jadi mahal kalau memang harus pergi via bandara yang tiket murahnya justru berada di ibukota. Cari teman juga susah karena kebanyakan tetangga adalah pasangan tua ataupun keluarga yang super sibuk. Makanya sebelum memutuskan deal, sebaiknya kamu cek dulu di peta seberapa jauh desa tersebut dari kota besar. Cek juga halte bus dan stasiun kereta terdekat.

Sejujurnya, saya kapok tinggal di desa! Kita masih muda, masih butuh kehidupan sosial, having fun, dan exploring.

5. Cari cleaning lady

Pertama kali kenalan dengan keluarga Denmark, Louise, host mom saya sudah menjelaskan dan jujur kalau sebenarnya mereka lebih butuh housekeeper ketimbang babysitter yang hanya fokus ke anak. Lalu yang terjadi memang benar, pekerjaan saya di Denmark super varitif. Mulai dari mengurus bayi, laundry, beres-beres rumah, masak, loading dishwasher, hingga belanja ke supermarket setiap minggu.

FYI, keluarga di Eropa Utara terkenal "memanfaatkan" au pair hanya untuk mencari cleaning lady murah. Banyak sekali cerita buruk au pair di Skandinavia yang harus bekerja overtime. Menyewa tukang bersih-bersih di Skandinavia memang mahal sekali dan hanya keluarga super kaya yang mampu membayar jasa mereka. Makanya au pair adalah opsi termurah dan all-in; jaga anak iya, masak iya, cleaning lady iya, kadang juga mengurus peliharaan pun iya. Hebat kan tugas au pair di Skandinavia?!

Saran saya, kalau profil keluarga tersebut memang sudah menerangkan urusan rumah tangga akan lebih banyak dari urusan anak, sebaiknya tanya dan diajak diskusi kembali. Kadang ada juga keluarga yang malah ingin kamu ikut gardening. Bahh! Lebih susah menolaknya kalau sudah terlanjur tinggal bersama.

6. Keluarga imigran

Saya sudah pernah membahas tentang keluarga imigran di postingan tentang keluarga Arab. Walaupun lahir, tinggal, dan besar di lingkungan Barat, after all they are still immigrants in heart.

Pengalaman buruk saya dengan keluarga Maroko di Belgia mengajarkan untuk tidak akan pernah mau tinggal lagi dengan keluarga pendatang. Tidak hanya saya, hampir semua teman yang keluarganya imigran juga merasa tidak nyaman dengan treatment dari keluarga tersebut. Mulai dari sifat mereka yang tidak mau rugi, kurang komunikasi, susah diajak diskusi, kurang open-minded, hingga harus kerja berlebihan. Skip deh, meskipun embel-embelnya seagama!

7. Anaknya sudah abege

Di Belgia dan Denmark, batas umur anak terkecil untuk punya au pair hanyalah sampai 12 tahun. Herannya, keluarga angkat biasanya masih manja dan tetap ingin punya au pair meskipun anak-anak mereka sudah mandiri.

Seorang kenalan terpaksa harus merapihkan kamar si anak tertua berumur 18 tahun setiap minggu, meskipun tidak ada dalam kontrak. Hal ini terpaksa dia lakukan karena seperti jebakan Batman, terlanjur pasrah tanpa bisa menolak. Si anak terkecil pun sudah berumur 8 tahun yang notabene mampu mengurus perut dan dirinya sendiri.

Kesimpulan saya, tipe keluarga seperti ini hanya mau dimanja dan sudah ketagihan jasa au pair. Kalau pun tidak disuruh jaga anak, ada juga yang tetap butuh au pair menjaga anjing saat si keluarga liburan. Apa peran au pair kalau semua anak sudah mandiri? Baca poin kelima!

8. Bitchy face

Betul, jangan menilai seseorang cuma dari foto saja. You never know until you get to know them better. Betul itu.

Tapi entah mengapa, sudah 3 orang teman saya bermasalah dengan host mom-nya yang super perhitungan dan rude. Anehnya, para ibu angkat mereka memiliki garis muka yang mirip; muka jutek! Mungkin muka-muka jutek host mom ini ikut berpengaruh ke karakternya di rumah. Kalau kamu bingung seperti apa bitchy face itu, lihat contoh ini;


Intinya muka tante-tante yang fake smiling, kebanyakan gaya, muka angkuh, muka sok cantik, dan muka jutek kayak mau ditonjok. Hah! Just trust me!

9. Track record buruk

Tidak semua tipe keluarga yang sudah saya sebutkan di atas semuanya mean dan rude. Sekali lagi, tidak ada yang bisa menilai sifat manusia sebelum kita bertemu dan kenalan langsung. Tapi kalau kamu punya kesempatan mengobrol dengan mantan au pair mereka, take that chance!

Eks au pair keluarga saya yang sekarang sebetulnya orang Filipina. Jujur saja, keluarga ini juga sempat jadi red alert buat saya. Tapi setelah bicara panjang lebar dengan si eks au pair, saya bisa melihat kalau si Filipina bahagia tinggal dengan keluarga ini. Tidak ada yang ditutup-tutupi dan semuanya terkesan apa adanya.

Au pair adalah kunci untuk tahu jelek baiknya host family saat di rumah. Jangan malas untuk mengulik sedikit tentang kebiasaan host family yang belum kamu tahu.

BUT! Please jangan kebanyakan kepo sampai terlalu banyak bertanya masalah hadiah dan fasilitas yang keluarga akan berikan ke au pair pengganti. Kenyataan akan berbeda, pun begitu dengan treatment keluarga antara au pair pertama dan kedua. Jadikan pengalaman si mantan au pair sebagai pelajaran awal kamu mengenal calon keluarga lebih baik.

10. Tinggal di Britania Raya/Spanyol/Italia

Sudah pernah saya bahas juga di postingan Guide Au Pair, kalau pemegang paspor Indonesia tidak bisa mendapatkan izin tinggal di Inggris atau Spanyol pakai visa au pair.

Kalau kamu memang nekad dan sangat tertarik tinggal di negara tersebut, coba gunakan visa pelajar. Tentu saja, persyaratan dokumennya lebih komplet ketimbang visa au pair. Selain bukti finansial, kamu juga harus melampirkan flight booking, dan LoA dari tempat belajar di negara tersebut. Baca postingan saya tentang au pair ke Irlandia, Spanyol, dan Italia kalau kamu tertarik kesana!

Anyway, kenapa harus jadi au pair disana sih? Kenapa tidak coba apply di negara Eropa lain yang lebih possible, lalu travelling saja ke Inggris atau Italia? Psstt.. pocket money di Spanyol juga kecil kok 😛


Sekali lagi, tidak ada yang bisa menjamin nasib kita setelah tiba di Eropa. Bad things could happen dan kenyataan akan sungguh berbeda dari apa yang kita harapkan sebelumnya. Tapi siapa juga yang mau punya pengalaman buruk kan? Tentu saja chemistry berpengaruh saat kamu berdiskusi dengan calon host family. Namun jangan juga kena jebakan Batman hanya karena sifat gegabah yang ingin cepat-cepat ke Eropa tapi melupakan red alert dari calon keluarga.

Good luck, girls!


2 comments:

  1. Sebelumnya saya pernah denger host family ini dari temen yang main ke jepang, katanya sih di sana dia seperti tamu di rumah bukan kayak seperti yang sebutkan. Mungkin karena beda negara kali yah, tapi makasih banyak yah saya jadi ngerti tentang au pair itu kayak gimana di eropa. ternyata gak selama jadi au pair itu menyenangkan kalau gak hati-hati.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Bimo,

      Mungkin temen kamu disana dalam rangka pertukaran budaya murni? Maksudnya, dia bayar/dapet beasiswa untuk tinggal dengan host family?

      Kalo au pair sistemnya pake kontrak, win-win solution. Kamu dapet makan dan tempat tinggal, tapi kamu juga mesti bantu host family ngurusin anak dan bantu-bantu beres rumah. Ya, mirip-mirip kalo kamu tinggal sama tante lah. Gak mungkin banget cuma ongkang-ongkang kaki doang even sama tante sendiri ;)

      Delete