Ke Norwegia, Wajib Coba Menginap di Rorbu, Kabin Nelayan!

Friday, 8 May 2020



Kalau selama ini kamu hanya tahu Norwegia karena keindahan alam di sisi Timur dan Baratnya yang luar biasa, cobalah sekalian mampir ke Norwegia Utara. Tidak sama seperti kawasan lain yang penuh pepohonan, fjord, dan taman nasional, kawasan di Utara lebih terkenal sebagai daerah perairan dan ladang-ladang kecil yang menawarkan pemandangan sama spektakulernya! Bahkan menurut saya, lebih indah dan 'hangat' dari Norwegia Selatan. I cannot tell you how much I miss to be back to the North, terutama ke Lofoten!

The modest feeling in Lofoten Island membuat saya dan Mumu selalu rindu ingin kembali. Selain karena kesederhaannya, ada pengalaman menarik lain yang bisa kamu coba selama mengunjungi desa nelayan ini; menginap di kabin nelayan! Rorbu atau kabin nelayan, berasal dari kata-kata "ro" yang berarti mendayung, dan "bu" berarti rumah kecil berhubungan erat dengan kata "bo" yang juga berarti tinggal. Dulunya, banyak nelayan yang mengjangkau sisi pantai hanya dengan memakai perahu dayung hingga akhirnya di abad ke-19 perahu bermotor pun mulai diperkenalkan.

Rorbu sendiri sebetulnya hanyalah kabin musiman yang dipakai oleh para nelayan selama musim panen ikan. Bangunan ini berupa rumah tinggal sementara yang berisi dua ruangan, satu sebagai tempat penyimpanan alat dan ikan hasil tangkapan serta satu ruangan lagi adalah ruang tamu merangkap ruang tidur. Rorbu dibangun dengan tiang-tiang kayu layaknya rumah panggung di pinggir laut, yang memungkinkan para nelayan menaruh perahu mereka tepat di samping bangunan. 



Karena naiknya jumlah turis yang mengunjungi Pulau Lofoten setiap tahun, industri pariwisata di tempat ini pun menjadi salah satu komoditas lokal. Banyak desa di kawasan Lofoten disulap menjadi lebih 'modern' dengan rorbu dan bangunan pengolahan ikan, yang bercat warna merah mendominasi pulau. Kalau kalian bertanya-tanya mengapa banyak bangunan dicat dengan warna merah, itu dikarenakan dulunya cat merah dari minyak ikan inilah yang paling murah meriah. Sekarang, warna okre atau kuning tua pun semakin sering digunakan. 

Banyak kabin dibangun masih berdekatan dengan rak-rak ikan kod yang dikeringkan sebagai bagian dari atmosfir alami, contohnya foto pembuka postingan. Sekarang, rorbu sudah menjadi penamaan yang digunakan ke seluruh jenis kabin atau rumah-rumah pinggir laut yang berada di luar Lofoten. Meskipun, sejarah otentik dari rorbu sendiri berhubungan erat dengan Lofoten. Beberapa bangunan di sini masih asli, meskipun interiornya sudah direnovasi sesuai dengan kenyamanan para turis.



Dulu, tak ada toilet di dalam bangunan karena kalau pun harus buang air, nelayan bisa langsung pergi ke perairan. Sekarang sudah banyak rorbu yang dibangun dengan fasilitas sangat nyaman dengan ukuran standar sederhana hingga high-end. Kamar mandi di dalam, dapur lengkap, ranjang yang nyaman, sampai koneksi WiFi.

Meski yang kita lihat hanya berupa bangunan kayu sederhana, namun menginap di rorbu juga tak murah! I know, this is Norway, tidak ada yang murah di tempat ini. But more for me, this is more than just "Norway". Karena menurut saya, yang mahal justru adalah pengalaman dan atmosfirnya yang tidak bisa kita temukan di tempat lain. Banyak rorbu bahkan sengaja dibangun di lokasi paling scenic demi menciptakan pemandangan mewah, berdekatan dengan restoran seafood yang enak, ataupun menambahkan fasilitas yang lebih mirip boutique hotel agar lebih elegan. 

Sewaktu mengunjungi Lofoten, saya dan Mumu menyewa satu rorbu di kawasan Svolvær yang juga adalah salah satu rorbu paling direkomendasikan banyak orang, Svinøya Rorbuer. Fasilitasnya meliputi kamar mandi dalam, ruang tamu, dan dapur berperlengkapan lengkap. Tahun lalu harga yang kami bayar per malam sekitar NOK 1100 (€110), namun terakhir kali saya lihat harga termurah sekitar NOK 1600. Karena berada di daerah perkompleksan rorbu, jangan sedih jika terpaksa harus mendapat kabin di daerah daratan yang sedikit jauh dari perairan. Beberapa kabin memang sengaja disewakan dengan harga lebih mahal dengan fasilitas balkon yang langsung menghadap lautan. 

Yang paling menarik dari rorbu ini menurut saya adalah restoran pribadi yang sekalian beroperasi di dekat kabin, Børsen Spiseri. Bukan iklan, tapi katanya ini adalah salah satu restoran terbaik di Lofoten! Saya dan Mumu awalnya tak tertarik, namun karena melihat menunya yang sangat menantang, paus dan pipi sapi, kami walk-in untuk mencoba. Sayangnya zonk, karena untuk mendapat satu meja di sini, kita harus booking dari jauh-jauh hari! Restoran cepat saji seperti burger dan pizza juga tersedia di sini, tapi bagi kami, datang jauh-jauh ke Lofoten tapi tetap makan pizza, useless!



Beberapa rorbu yang direkomendasikan lainnya di Lofoten:
  • Sakrisøy Rorbuer di daerah Reine, lebih dekat menuju pelabuhan ke Bodø. Harga terakhir yang saya lihat di akhir musim panas, paling murah sekitar NOK 1800 untuk 2 orang.
  • Eliassen Rorbuer yang juga masih di wilayah Reine, menawarkan harga paling murah di atas NOK 2500 akhir musim panas dengan letak kabin yang berada di sisi laut.
  • Maybua dengan pemandangan langsung menghadap laut dan pegunungan, bisa kamu pilih jika ingin patungan karena harga satu kabin dengan kapasitas 4 orang sekitar NOK 3000.

Rorbu otentik lainnya di luar Lofoten:
  • Dønna Rorbuer di daerah Helgeland, yang berada di Norwegia Tengah, merupakan penginapan sederhana dengan konsep rorbu yang berisi banyak kamar. Harga paling murah adalah NOK 1200 untuk satu kamar berkapasitas 2 orang.
  • Rorbuferie i Bud berada di kawasan Møre og Romsdal yang ada di sisi barat Norwegia. Karena letaknya juga berada di desa nelayan, atmosfir otentik bisa kamu rasakan di sini.

Ngomong-ngomong, ada banyak sekali penyebutan nama dalam bahasa Norwegia untuk satu hal yang cukup identik. Contohnya rorbu ini, kadang sering bercampur dengan sjøhus (rumah di sisi laut), gjestehavn (penginapan di pelabuhan), dan hytte (kabin). Di Lofoten sendiri kadang turis sering dibuat bingung apa yang membedakan banyak bangunan bercat merah kalau semuanya sama-sama berada di sisi lautan.

Alright! Rorbu, seperti yang saja jelaskan di atas merupakan rumah kecil dengan fasilitas sangat sederhana. Biasanya hanya berupa kamar dan dapur, meskipun banyak yang sudah dilengkapi kamar mandi dalam. Rorbu dibangun di sisi perairan dengan tiang-tiang kayu layaknya rumah panggung. Sementara sjøhus yang sama-sama berada di pinggir laut biasanya punya fasilitas lebih lengkap layaknya rumah tinggal, lebih modern dan kadang dibangun dengan tambahan beton atau batu. 

Lalu gjestehavn, tidak berupa kabin kecil namun bangunan penginapan lebih besar yang memiliki banyak kamar. Jadi yang disewa bukan bangunannya, tapi per kamar. Meskipun dibangun dari kayu dan sama-sama berada di sisi laut, namun karena cukup besar, bangunannya lebih menjorok ke daratan daripada perairan. Sementara hytte lebih berfungsi sebagai rumah liburan, walaupun catnya sama-sama merah. Jadi kalau kamu tertarik menyewa rorbu suatu hari, pastikan tempat yang kamu tuju bukanlah hytte biasa.

Sejujurnya saja, rorbu sendiri bukan pengalaman baru bagi saya yang berasal dari Palembang. Meskipun tinggal di sisi Ilir, namun di sisi Ulu kota ini terkenal dengan daerah para nelayan ikan yang tinggal di kawasan Sungai Musi dengan rumah panggung kayu. Banyak juga warga yang masih mengolah ikan secara manual sekalian mengeringkan ikan asin di atap-atap rumah. Rumah-rumah panggung ini juga seringkali jadi objek foto dan pemandangan bagi pengunjung di kawasan Benteng Kuto Besak. Tak kalah menarik, sampai sekarang pun kamar mandi masih nihil layaknya rorbu di Norwegia jaman dulu. Bedanya, rorbu di Norwegia bisa disulap jadi rumah penginapan dan daya tarik, sementara di Palembang rumah panggung ini masih digunakan sebagai tempat tinggal warga.

But again, if you have a chance to visit Northern Norway someday, be sure to book a fisherman's cabin! Ada pengalaman berbeda yang akan kalian dapatkan di sini karena semuanya begitu terasa sederhana dan hangat. You'd understand, before being this rich, Norway was just a poor country under Danish & Swedish kingdom, with populations of farmers and fishermen. (Yang penasaran soal pengalaman saya dan Mumu road trip sampai Norwegia Utara, buka postingan ini!)



4 comments:

  1. Wiiii. Sometimes modesty is the luxury yah haha. Blog udah masuk adsense ya kak, hope all is going good as your posts help your readers too! Stay safe, Kak Nin :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. So true ♥️ Karena pada dasarnya orang Norwegia tuh “rendah hati” kok. Masih suka yg konvensional :)

      Aku udah daftar AdSense dari 2th lalu. On hold mulu. Sampe akhirnya aku ganti email baru dan daftar lagi, ehh baru keterima. Cepet banget pula prosesnya.

      Thank you so much ya, Ruth 😇

      Delete
  2. Penikmat postingan Kak Nin��

    ReplyDelete