Langsung ke konten utama

Road Trip Impian ke Pulau Lofoten, Norwegia



Sudah lama sebetulnya saya merencanakan ingin road trip ke Pulau Lofoten. Dulu inginnya ke Norwegia Utara bersama Michiyang belum tahu siapa itu Michi, baca cerita saya disini! Lalu karena sadar rencana tersebut hanya angan-angan belaka, saya lempar lagi rencana ini ke teman-teman au pair Indonesia di Denmark. Seorang au pair sudah mengantongi SIM Eropa dan sering antar-jemput host kids-nya, jadi saya anggap bisa diandalkan untuk jadi sopir 😛. Rencana sudah dibuat cukup matang sampai menghitung harga ongkosnya juga. Lagi-lagi, rencana tinggalah rencana.

Tahun ini, saya akhirnya bisa mewujudkan trip impian lewat darat ke Lofoten! Beruntung, seorang cowok Norwegia, sebut saja Mumu, secara spontan menawari saya perjalanan ke Lofoten melihat midnight sun. Rencana ini juga akhirnya bukan hanya wacana, meskipun sudah direncanakan Desember tahun lalu. (Next time mungkin saya akan sedikit cerita siapa itu Mumu)

Mengapa Lofoten?

Popularitas Lofoten naik drastis beberapa tahun ke belakang sejak seorang fotografer memamerken jepretan fotonya di Instagram. Banyak orang akhirnya penasaran dimana pulau cantik itu berada, hingga di tahun 2017, lebih dari 1 juta pengunjung memadati pulau ini setiap tahun. Padahal penduduk asli Lofoten sendiri tidak lebih dari 25 ribu jiwa. Puncak keramaian turis biasanya dimulai akhir Juni hingga pertengahan Agustus tepat saat liburan sekolah. Kami cukup beruntung datang kesini di awal Juni sebelum libur sekolah musim panas. Sudah terlihat beberapa rombongan turis memang, terutama dari Jerman dan Amerika, namun kebanyakan para lansia yang berjalan sambil menggendong kamera mereka.

Dimulai dari Oslo, kami menyusuri beberapa kawasan Norwegia Utara, sebelum berlabuh di Lofoten. Saya juga tidak sendirian merancang trip kali ini karena Mumu berinisiatif mengganti rute untuk mengunjungi banyak tempat. Beruntungnya lagi, Mumu sudah beberapa kali mengunjungi Lofoten karena ini juga kampung halaman neneknya. Perjalanan jadinya lebih mudah karena selain sudah tahu beberapa tempat, sebagai native, Mumu tidak kesulitan membaca rute, menemukan rules, dan berkomunikasi dengan warga setempat.

Svolvær

Trip kami dimulai dari Svolvær menuju ke ujung selatan pulau. Dari Skutvik, kami naik feri selama 1 jam 50 menit menuju wilayah administrasi sekaligus ibukota Pulau Lofoten ini. Meskipun lebih jauh mengemudi ke utara, namun biaya feri dari Skutvik ke Lofoten lebih murah dan cepat ketimbang dari Bodø.

Svolvær is an amazing place! Salah satu desa tercantik di Lofoten ini menawarkan pemandangan luar biasa pegunungan, pantai, serta kabin nelayan (Rorbua) khas berwarna merah atau oker sebagai ciri utama Pulau Lofoten. FYI, Pulau Lofoten dulunya adalah kampung nelayan terbesar di Norwegia. Tak heran mengapa akan ditemukan banyak sekali kabin berwarna merah di sisi perairan yang jadi daya tarik Lofoten hingga saat ini.

Selain tempatnya yang cantik, Svolvær juga seringkali dipenuhi turis saat musim panas karena menyediakan banyak restoran internasional beratmosfir hangat ala pedesaan yang cukup modern. Herannya, meskipun Lofoten adalah desa nelayan, sulit sekali menemukan restoran seafood di Svolvær.




Kabelvåg


Tidak seperti tetangganya, banyak turis yang seringkali mengabaikan tempat ini. Satu-satunya tempat cantik di Kabelvåg yang kami singgahi adalah Pantai Rørvik. Beruntung karena bukan peak season, berjalan mengitari pantai jadi sangat tenang karena hanya tiga atau lima turis saja yang mampir untuk berfoto, lalu pergi.

Pasirnya putih bersih dan airnya biru jernih bergradasi. Cocok sekali untuk bersantai sekaligus berenang kalau airnya tidak terlalu dingin. Di sisi pantai juga disediakan selang air bersih untuk membilas dan minum.



Henningsvær


Kata Mumu, Henningsvær adalah desa yang wajib dikunjungi kalau datang ke Lofoten. Sama seperti Svolvær, kebanyakan turis biasanya akan memadati desa ini saat musim panas. Pilihan tempat makan dan hiking paths menjadikan daya tarik lain bagi pengunjung.

Selain kabin nelayan yang berwarna merah, satu hal lagi yang pasti akan kita temui di pulau ini, jemuran ikan kod yang diasinkan. Mirip jemuran ikan asin di Indonesia, tapi di Norwegia ikannya digantung di kayu-kayu yang tinggi. Saya sebetulnya sudah melihat piramida jemuran ikan yang dikeringkan di Svolvær, tapi di Henningsvær ternyata jumlahnya lebih banyak. Jemuran ikan kod yang tergantung tak jauh dari pesisir pantai tidak hanya badan utuh, tapi juga jemuran kepalanya ikut diasinkan.

Sebelum memasuki pusat desa, kami juga melewati danau berwarna hijau permata yang cantiknya bukan main! Mata betul-betul dimanjakan oleh segarnya air laut dengan latar belakang bukit bebatuan di sepanjang pulau.



Stamsund

Dari Henningsvær, kami melipir ke Stamsund, desa neneknya Mumu. He was definitely going back to his childhood. Kami sekalian mampir ke rumah tinggal neneknya yang beberapa tahun lalu sudah dijual. Meskipun tak banyak yang bisa dilihat, tapi makan siang di restoran favorit Mumu di Stamsund semakin membuat kami malas berpindah.

Disini juga saya menemani Mumu memancing di laut lepas sampai dapat 4 ikan Batubara untuk lauk makan malam. It was so fun! Baru 1 menit melempar umpan, Mumu sudah berhasil menjerat ikan berukuran sedang.


Eggum

Kalau winter ada aurora borealis yang biasanya sering 'diburu' pendatang di Lofoten, maka summer ada midnight sun. Karena masuk lingkar arktik, wilayah Norwegia Utara selalu terang benderang karena matahari bersinar selama 24 jam saat musim panas. Sunset biasanya akan dimulai pukul 12 lalu bersinar kembali jam 1 pagi.

Untuk menyaksikan midnight sun, Eggum adalah salah satu tempat terbaik yang sering juga dijadikan camping spot. Sayangnya karena saat itu angin terlalu kencang dan menjadikan malam makin dingin, maka kami batalkan melihat midnight sun disini. Kata Mumu, midnight sun sama kerennya dengan aurora borealis karena matahari hanya menggantung di langit tanpa tenggelam. Pergerakkan matahari yang turun sebentar lalu naik lagi merupakan fenomena alam luar biasa untuk diabadikan.


Leknes

Kami sebetulnya tidak memasukkan Leknes ke daftar kunjungan di Lofoten. Tadinya ingin hiking sepanjang 2 km menuju Pantai Kvalvika sekalian mendirikan tenda, namun celakanya paha Mumu teriris pisau cukup dalam saat pendakian. Mau tidak mau kami harus turun dan menuju rumah sakit terdekat untuk menjahit luka Mumu.

Sepulang dari rumah sakit jam 2.30 pagi, kami sepakat menuju Pantai Haukland untuk bermalam di dalam mobil saja. Saat libur musim panas, tempat ini katanya penuh ramai oleh turis yang berkunjung atau beristirahat mendirikan tenda dan memarkir campervan. Terusan pantai ini adalah Uttakleiv yang sama populernya dan selalu penuh oleh turis.

Meski tidak jadi melihat keindahan Pantai Kvalvika yang bersembunyi di balik bukit, namun Haukland tidak kalah kerennya. Garis pantainya cukup panjang untuk berjalan-jalan sehingga katanya juga, pantai ini mirip seperti yang ada di Seychelles.


Reine

Foto-foto Lofoten yang ada di internet kemungkinan besar diambil di Reine dengan latar belakang gunung tinggi menjulang dengan kabin nelayannya di sisi gunung. Desa di wilayah selatan Lofoten ini juga jadi salah satu destinasi terbaik dan terfavorit saya. Reine menggabungkan dua kawasan; rumah untuk orang lokal dan kabin nelayan yang selalu disewakan bagi turis. Karena sangat dekat dengan Moskenes, banyak juga para pendatang yang berlabuh dari Bodø memulai petualangannya di Lofoten dari sini.


Ã…

Di alfabet Norwegia, Ã… adalah huruf terakhir dan juga desa paling ujung di Pulau Lofoten. Tidak banyak yang bisa dilakukan di tempat ini selain hiking dan memancing. Karena sedang tidak berangin, saya dan Mumu sepakat memancing lagi di sisi laut. Baru 15 menit memancing, Mumu sudah menjerat 4 ikan Batubara yang ternyata lebih besar dari di Stamsund!

"It is easier to fish in the ocean karena ikannya lebih banyak dari air tawar," katanya.


Tak heran mengapa pesona Pulau Lofoten begitu tenar bagi para turis, internasional maupun lokal. Sepanjang jalan saya melihat bukit dan gunung kokoh dikelilingi laut yang menenangkan perasaan. Bunga katun dan kuning nan lembut menambah kesan damai di sekeliling pulau. Saya yang biasanya hanya melihat hutan berpohon besar di Norwegia Selatan, merasa beruntung bisa merasakan vegetasi lain di Utara.

Inilah Norwegia yang selama ini saya bayangkan saat musim panas; desa yang hijau dikelilingi bangunan berwarna-warni yang menambah kesan ceria. Kebanyakan rumah yang bermaterial kayu seperti rumah nenek-nenek semakin membawa memori zaman dulu. Sederhana namun syahdu. (Cek postingan ini untuk tahu berapa saya dan Mumu menghabiskan uang selama liburan!)



Komentar

  1. Wow, fotonya keren! Edit fontnya juga lucu, ;)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bule Ketemu Online, Bisakah Serius?

( PERHATIAN!!! SAYA BANYAK SEKALI MENERIMA TESTIMONIALS SOAL COWOK-COWOK DARI INGGRIS YANG MEMINTA ALAMAT SI CEWEK YANG DIKENAL VIA ONLINE. FYI , HAMPIR SEMUA MODUS PENIPUAN SEPERTI INI BERASAL DARI INGGRIS DAN AMERIKA! JANGAN PERNAH TERTIPU KEMASAN KULIT PUTIHNYA, KARENA BISA JADI YANG KALIAN AJAK CHATTING -AN ATAU VIDEO CALL -AN ITU ADALAH PENIPU !! JANGAN PERNAH BERI DATA DIRI SEPERTI NAMA LENGKAP, ALAMAT, SERTA NOMOR IDENTITAS ATAU KARTU KREDIT KE ORANG-ORANG ASING LEWAT DUNIA DIGITAL! BE SMART, BE AWARE, AND PLEASE JANGAN DULU BAPERAN KALO ADA YANG MENGAJAK NIKAH PADAHAL BARU SEMINGGU KENAL!!!) Selain berniat jadi au pair, ternyata blog saya banyak dikunjungi oleh cewek-cewek Indonesia yang ingin pacaran atau sedang dekat dengan bule. Gara-gara tulisan tentang cowok Eropa dan cowok Skandinavia , banyak pembaca blog yang mengirim surel ke saya dan curhat masalah cintanya dengan si bule. Aduh, padahal saya jauh dari kata "ahli" masalah cinta-cintaan. Saya sebetu

Mempelajari Karakter Para Cowok di Tiap Bagian Eropa

*I talk a lot about European boys in this blog, but seriously, this is always the hottest topic for girls! ;) Oke, salahkan pengalaman saya yang jadi serial dater  selama tinggal di Eropa. Tapi gara-gara pengalaman ini, saya juga bisa bertemu banyak orang baru sekalian mempelajari karakter mereka. Cowok-cowok yang saya temui ini juga tidak semuanya saya kencani. Beberapa dari mereka saya kenal saat workshop, festival, ataupun dari teman. Beruntung sekali, banyak juga teman-teman cewek yang mau menceritakan pengalamannya saat berkencan dari cowok ini, cowok itu, and all of them have wrapped up neatly in my head! Secara umum, tulisan yang saya ceritakan disini murni hasil pengalaman pribadi, pengalaman teman, ataupun si cowok yang menilai bangsanya secara langsung. Letak geografis Eropanya mungkin sedikit rancu, tapi saya mengelompokkan mereka berdasarkan jarak negara dan karakter yang saling berdekatan. Kita semua benci stereotipe, tapi walau bagaimana pun kita tetaplah bagi

7 Kebiasaan Makan Keluarga Eropa

Tiga tahun tinggal di Eropa dengan keluarga angkat, saya jadi paham bagaimana elegan dan intimnya cara makan mereka. Bagi para keluarga ini, meja makan tidak hanya tempat untuk menyantap makanan, tapi juga ajang bertukar informasi para anggota keluarga dan pembelajaran bagi anak-anak mereka. Selain table manner , orang Eropa juga sangat perhatian terhadap nilai gizi yang terkandung di suatu makanan hingga hanya makan makanan berkualitas tinggi. Berbeda dengan orang Indonesia yang menjadikan meja makan hanya sebagai tempat menaruh makanan, membuka tudung saji saat akan disantap, lalu pergi ke ruang nonton sambil makan. Selama tinggal dengan banyak macam keluarga angkat, tidak hanya nilai gizi yang saya pelajari dari mereka, tapi juga kebiasaan makan orang Eropa yang sebenarnya sangat sederhana dan tidak berlebihan. Dari kebiasaan makan mereka ini juga, saya bisa menyimpulkan mengapa orang-orang di benua ini awet tua alias tetap sehat menginjak usia di atas 70-an. Kuncinya, pola

First Time Au Pair, Ke Negara Mana?

Saya ingat betul ketika pertama kali membuat profil di Aupair World, saya begitu excited memilih banyak negara yang dituju tanpa pikir panjang. Tujuan utama saya saat itu adalah Selandia Baru, salah satu negara impian untuk bisa tinggal. Beberapa pesan pun saya kirimkan ke host family di Selandia Baru karena siapa tahu mimpi saya untuk bisa tinggal disana sebentar lagi terwujud. Sangat sedikit  host family dari sana saat itu, jadi saya kirimkan saja aplikasi ke semua profil keluarga yang ada. Sayangnya, semua menolak tanpa alasan. Hingga suatu hari, saya menerima penolakan dari salah satu keluarga yang mengatakan kalau orang Indonesia tidak bisa jadi au pair ke Selandia Baru. Duhh! Dari sana akhirnya saya lebih teliti lagi membaca satu per satu regulasi negara yang memungkinkan bagi pemegang paspor Indonesia. Sebelum memutuskan memilih negara tujuan, berikut adalah daftar negara yang menerima au pair dari Indonesia; Australia (lewat Working Holiday Visa ) Austria Amerika

Berniat Pacaran dengan Cowok Skandinavia? Baca Ini Dulu!

"Semua cowok itu sama!" No! Tunggu sampai kalian kenalan dan bertemu dengan cowok-cowok tampan namun dingin di Eropa Utara. Tanpa bermaksud menggeneralisasi para cowok ini, ataupun mengatakan saya paling ekspert, tapi cowok Skandinavia memang berbeda dari kebanyakan cowok lain di Eropa. Meskipun negara Skandinavia hanya Norwegia, Denmark, dan Swedia, namun Finlandia dan Islandia adalah bagian negara Nordik, yang memiliki karakter yang sama dengan ketiga negara lainnya. Tinggal di bagian utara Eropa dengan suhu yang bisa mencapai -30 derajat saat musim dingin, memang mempengaruhi karakter dan tingkah laku masyarakatnya. Orang-orang Eropa Utara cenderung lebih dingin terhadap orang asing, ketimbang orang-orang yang tinggal di kawasan yang hangat seperti Italia atau Portugal. Karena hanya mendapatkan hangatnya matahari tak lebih dari 3-5 minggu pertahun, masyarakat Eropa Utara lebih banyak menutup diri, diam, dan sedikit acuh. Tapi jangan salah, walaupun dingin dan hampa