Langsung ke konten utama

Setelah 8 Tahun Tak Pernah Pulang


Belakangan ini pikiran saya memang sedang kalut. Tak pernah rasanya serindu ini dengan kampung halaman. Saya baru saja pulang kampung Juni tahun lalu setelah 3 tahun tertahan di Norwegia oleh pandemi. Pun awal tahun ini ibu dan adik saya juga datang ke Norwegia 1,5 bulan lamanya. Normalnya, para perantau bisa menunggu 1-3 tahun untuk tak pulang dulu ke Indonesia. Selain ongkos pesawat yang mahal, pekerjaan dan keluarga di luar negeri masih menjadi prioritas utama.

Namun puncaknya sebulan lalu, ketika saya mulai penat menjalani rutinitas ala pengangguran. Lebih dari tiga bulanan ini saya hanya di rumah, membenahi CV, ikut kursus online, dan hanya sibuk memoles portofolio. Meski belum punya pemasukan, namun hal tersebut bukan tak punya hasil. Saya punya waktu luang untuk fokus menyelesaikan beberapa kursus online dan sudah menghasilkan lumayan banyak portofolio. Sebuah hal yang sulit dilakukan jika masih sibuk kerja penuh waktu. Tapi terus-terusan di rumah, minim sosialisasi, dan hanya sibuk menatap layar cari kerja sana-sini, justru membuat saya semakin stres. This country has no fun anymore.

Saya kangen rumah. Titik.

The real home, tempat dimana saya merasa aman. Tempat dimana saya tak merasa takut kalau-kalau besok KTP dicabut dan ditendang dari negara tersebut. Cuma Indonesia. Saya ingin pulang ke Indonesia.


Suatu hari sebelum kekalutan ini semakin membuncah, saya tak bisa menahan luapan emosi ke pacar. Ada keraguan apakah Norwegia memang merupakan rumah masa depan. Rasanya hidup saya pasca au pair bukannya semakin lega, malah semakin nelangsa. Kalau tak percaya, kalian bisa mengikuti kisah saya lewat beberapa postingan setelah tahun terakhir saya au pair di Eropa. Walau tak masuk akal, namun saya iri dengan kehidupan pacar yang punya waktu luang bersama keluarga dan teman. Iri, masih punya banyak teman yang ketemu hampir setiap minggu. Iri, bisa mampir ke rumah orang tua sepulangnya dari bekerja. I think I've spent too much time with his family more than with mine. 

"Saya kesepian di sini. I really wanna go home!" ucap saya padanya sambil menangis sesegukan. "Di momen sebesar ini di Indonesia, saya bahkan tak pernah lagi merasakannya dengan keluarga."

Tersadar, saya sudah 9 tahun tinggal di Eropa dan terakhir kali merayakan Lebaran Idul Fitri bersama keluarga adalah 8 tahun lalu. Bertahun-tahun melewatkan Lebaran dan hari perayaan besar lainnya di negara orang, saya tak pernah sehampa sekarang. Bahkan ketika pulang dan perdana merayakan Idul Adha tahun lalu, saya mulai merasa kehilangan sosok kakek dan nenek yang sudah absen. Perlahan saya mengerti hidup sudah banyak berubah.

"Menurut mu, mana yang paling baik? Pulang sebentar saat momen besar keluarga atau pulang panjang saat liburan musim panas?" tanya saya ke pacar.

"Pulang saat perayaan besar," ucapnya.

Setuju! Detik itu juga, saya langsung cek dan beli tiket pesawat pulang ke Indonesia untuk keberangkatan 4 hari kemudian. This is the most spontaneous flight ticket I've ever bought!

Baca juga: Ketika Rindu Rumah

Rencana pulang ke Indonesia sebetulnya sudah menunggu liburan musim panas panjang nanti. Sayangnya karena keadaan kondisi pekerjaan yang tidak pasti, saya juga bingung apa harus pulang hanya untuk liburan, selamanya, atau mesti diundur dulu sampai pemasukan normal kembali. Terpikir juga, daripada uangnya dibelikan tiket pesawat, mungkin lebih baik jika dikirimkan saja ke Indonesia. Tabungan yang jadi sumber utama keuangan saya saat ini juga sayangnya tak sustainable

"But it's worth it!" kata pacar menguatkan ketika melihat harga tiket pesawat yang sebetulnya tak terlalu mahal meski dibeli 4 hari sebelum keberangkatan.

He is right. Momen merayakan Lebaran Idul Fitri bersama keluarga setelah 8 tahun tak pulang harganya jauh lebih mahal dari satu tiket pesawat PP Oslo-Jakarta. Juga, bisa jadi kelamaan di Norwegia dengan situasi terakhir yang membuat mental saya down memang butuh pelarian sebentar. Uang memang penting, tapi recharging my soul juga sama pentingnya.

Teringat kata mantan kolega saya dua bulan lalu, "kamu kayaknya mesti ke tempat yang banyak sinar mataharinya, deh! Sinar matahari itu sumber energi positif. Aku saja rasanya ingin sekali liburan ke Amerika Selatan sebelum mulai perkuliahan tahun ini. Yuk, sama-sama liburan ke Amerika Selatan!"

"Yeah, but I have no money for a big holiday. Pulang ke Indonesia bisa jadi pilihan sebetulnya. It's cheaper," balas saya.

"Oh, yes!! You should!"

...and here I am now, back in my childhood home.


It always feels so good to be home, and what's even better? Ketika saya mengabari adik di rantauan bahwa saya akan pulang, mendadak dia pun mengubah rencana untuk pulang juga ke rumah. And that's it! Puji syukur, formasi lengkap lagi kumpul keluarga Ramadhan dan Lebaran Idul Fitri setelah 8 tahun lamanya.

Bercengkrama dengan memori memang tak pernah salah. Meskipun, belum ditinggal satu tahun sudah ada banyak sekali perubahan yang terjadi di Palembang. Cuaca semakin terik dan panas, kendaraan dan jalan raya semakin ramai, serta wujud kampung saya yang berubah menjadi lebih dinamis. Tiap hari saya mendengar keluhan tentang betapa macetnya jalan saat ini, serta perubahan iklim yang membuat cuaca semakin ekstrim. Dinikmati saja, walau teriknya sudah berlebihan sampai energi UV-nya meluber-luber. Sekembalinya ke Norwegia, it won't be the same

Breathe in, breathe out. It's a healing process.

Kalau ingin melihat dari sisi positif yang lain, mungkin nasib saya di-PHK jugalah yang mengarahkan jalan menuju tempat ini kembali. Purpose revamping. Kalau masih bekerja di kantor sebelumnya, tak terbayangkan betapa sibuknya saya di bulan ini. Boro-boro bisa ambil cuti Paskah dan libur panjang, akhir pekan saja masih bekerja untuk mempersiapkan acara tahunan besar di akhir April. Tahun lalu bahkan kami sekantor tak bisa lagi bernapas harus dikejar deadline dan penuh tekanan setiap hari. It drained my energy so much! Pun kalau saya sudah dapat pekerjaan lain, rasanya masih enggan pegawai baru sudah ambil jatah libur lebih panjang setelah Paskah. 


Beberapa hari sebelumnya juga, sebuah cuitan Twitter lewat di beranda dan menyentuh jiwa.

"There are five balls in life: work, family, health, friends, and spirit. Work is a rubber ball. If it's dropped, it can bounce back. But the rest is a glass ball. Drop it and it will be shattered."

So, isn't it now good timing? Saya sudah mengambil keputusan yang tepat untuk pulang.

Sayangnya, saya tak boleh terlalu terlena. Saya tak pulang ke Indonesia untuk liburan, buang-buang uang, dan reuni kanan kiri tiap hari dengan teman lama. Belum. Masih ada PR besar yang menunggu di Norwegia. Di sela waktu menikmati momen, saya masih harus ingat untuk buka laptop dan curi-curi mengintip lowongan kerja. Ada kalanya, melihat portal lowongan kerja saja membuat saya kembali stres. Saya bahkan terus berpikir, apa harus kembali melanjutkan hidup di Norwegia atau pulang saja ke Indonesia selamanya.

Selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri dan selamat liburan, semuanya!



Komentar

  1. Aku percaya semua itu terjadi karena ada sebabnya. Enjoy your time at home and celebrating Eid with your family. Sekarang mungkin semua terlihat gelap, tapi suatu saat kamu bakal lihat kembali dan tau bahwa "jalan"nya memang ternyata kek gitu, dan semua masalah yang ada saat ini memang ternyata perlu dilewati. This is from my own experience. It's hard to see it right now, but believe that something good is just around the corner :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thank you banget, Ce! I REALLY need this indeed. One day it'll make sense :')

      Hapus
  2. Waw! I feel u kak Nin, aku juga mengalami dilema yang sama setelah lulus kuliah aku memutuskan utk stay di perantauan dgn kerja gak jelas, serabutan, sering stress dan kacau pikiran karna tertekan harus nyari pemasukan yg lebih stabil. Berat bgt rasanya melepas tanah rantau yg udh bertahun2 kita diami kan? Akhirnya di penghujung tahun 2022 aku memutuskan untuk pulkam dgn tangan kosong, kehabisan uang, dan pengangguran. But tahu ngga kak apa yg terjadi? Semuanya terjadi sangat cepat dan tanpa kusadari sekarang aku udh dpt kerja setelah pulkam dan beristirahat di rumah. Aku bener2 ikhlas bgt pada saat itu kalau hidupku akan di rumah aja, but Allah ternyata punya rencana yg lebih indah, yaaa walaupun sampai sekarang aku masih menitikkan air mata kalau lg kangen sama tanah rantau.

    Kak Nin, lakukan aja yg terbaik yg ada di depan mata saat ini, sisanya serahkan pada Tuhan.

    Kalau lagi galau begini enaknya nikmatin hidup yg lagi kita jalani kak,semangat ya kak Nin moga segera menemukan jalan keluar dari kegelisahan yg kk alami.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Damn!!

      Menyentuh sekali cerita kamu. Aku akui, kadang emang sulit melepaskan tanah rantau, karena rantauan tuh udah kayak rumah ke-2 atau ke-3 kita. Ada banyak memori yang sudah terbangun di sana. Tapi kalo sudah menyangkut security, memang kita harus lebih realistis. Tak selamanya tanah tersebut memberikan banyak kemudahan, opsi, dan keamanan untuk kita.

      Thank you banget ya udah bertukar cerita kayak gitu. I am so happy finally kamu mendapatkan kerjaan baru lagi di kampung halaman. Aku juga sebetulnya udah cukup pasrah sekarang, kalo dalam beberapa bulan ini aku belom juga dapat kerjaan, pulang adalah jalan terbaik :)

      Hapus
  3. enjoy your moment at Indonesia, Nin..
    Semoga nanti mendapatkan yang terbaik yaa, entah di Norwey or at home =)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bule Ketemu Online, Bisakah Serius?

( PERHATIAN!!! SAYA BANYAK SEKALI MENERIMA TESTIMONIALS SOAL COWOK-COWOK DARI INGGRIS YANG MEMINTA ALAMAT SI CEWEK YANG DIKENAL VIA ONLINE. FYI , HAMPIR SEMUA MODUS PENIPUAN SEPERTI INI BERASAL DARI INGGRIS DAN AMERIKA! JANGAN PERNAH TERTIPU KEMASAN KULIT PUTIHNYA, KARENA BISA JADI YANG KALIAN AJAK CHATTING -AN ATAU VIDEO CALL -AN ITU ADALAH PENIPU !! JANGAN PERNAH BERI DATA DIRI SEPERTI NAMA LENGKAP, ALAMAT, SERTA NOMOR IDENTITAS ATAU KARTU KREDIT KE ORANG-ORANG ASING LEWAT DUNIA DIGITAL! BE SMART, BE AWARE, AND PLEASE JANGAN DULU BAPERAN KALO ADA YANG MENGAJAK NIKAH PADAHAL BARU SEMINGGU KENAL!!!) Selain berniat jadi au pair, ternyata blog saya banyak dikunjungi oleh cewek-cewek Indonesia yang ingin pacaran atau sedang dekat dengan bule. Gara-gara tulisan tentang cowok Eropa dan cowok Skandinavia , banyak pembaca blog yang mengirim surel ke saya dan curhat masalah cintanya dengan si bule. Aduh, padahal saya jauh dari kata "ahli" masalah cinta-cintaan. Saya sebetu

Mempelajari Karakter Para Cowok di Tiap Bagian Eropa

*I talk a lot about European boys in this blog, but seriously, this is always the hottest topic for girls! ;) Oke, salahkan pengalaman saya yang jadi serial dater  selama tinggal di Eropa. Tapi gara-gara pengalaman ini, saya juga bisa bertemu banyak orang baru sekalian mempelajari karakter mereka. Cowok-cowok yang saya temui ini juga tidak semuanya saya kencani. Beberapa dari mereka saya kenal saat workshop, festival, ataupun dari teman. Beruntung sekali, banyak juga teman-teman cewek yang mau menceritakan pengalamannya saat berkencan dari cowok ini, cowok itu, and all of them have wrapped up neatly in my head! Secara umum, tulisan yang saya ceritakan disini murni hasil pengalaman pribadi, pengalaman teman, ataupun si cowok yang menilai bangsanya secara langsung. Letak geografis Eropanya mungkin sedikit rancu, tapi saya mengelompokkan mereka berdasarkan jarak negara dan karakter yang saling berdekatan. Kita semua benci stereotipe, tapi walau bagaimana pun kita tetaplah bagi

7 Kebiasaan Makan Keluarga Eropa

Tiga tahun tinggal di Eropa dengan keluarga angkat, saya jadi paham bagaimana elegan dan intimnya cara makan mereka. Bagi para keluarga ini, meja makan tidak hanya tempat untuk menyantap makanan, tapi juga ajang bertukar informasi para anggota keluarga dan pembelajaran bagi anak-anak mereka. Selain table manner , orang Eropa juga sangat perhatian terhadap nilai gizi yang terkandung di suatu makanan hingga hanya makan makanan berkualitas tinggi. Berbeda dengan orang Indonesia yang menjadikan meja makan hanya sebagai tempat menaruh makanan, membuka tudung saji saat akan disantap, lalu pergi ke ruang nonton sambil makan. Selama tinggal dengan banyak macam keluarga angkat, tidak hanya nilai gizi yang saya pelajari dari mereka, tapi juga kebiasaan makan orang Eropa yang sebenarnya sangat sederhana dan tidak berlebihan. Dari kebiasaan makan mereka ini juga, saya bisa menyimpulkan mengapa orang-orang di benua ini awet tua alias tetap sehat menginjak usia di atas 70-an. Kuncinya, pola

First Time Au Pair, Ke Negara Mana?

Saya ingat betul ketika pertama kali membuat profil di Aupair World, saya begitu excited memilih banyak negara yang dituju tanpa pikir panjang. Tujuan utama saya saat itu adalah Selandia Baru, salah satu negara impian untuk bisa tinggal. Beberapa pesan pun saya kirimkan ke host family di Selandia Baru karena siapa tahu mimpi saya untuk bisa tinggal disana sebentar lagi terwujud. Sangat sedikit  host family dari sana saat itu, jadi saya kirimkan saja aplikasi ke semua profil keluarga yang ada. Sayangnya, semua menolak tanpa alasan. Hingga suatu hari, saya menerima penolakan dari salah satu keluarga yang mengatakan kalau orang Indonesia tidak bisa jadi au pair ke Selandia Baru. Duhh! Dari sana akhirnya saya lebih teliti lagi membaca satu per satu regulasi negara yang memungkinkan bagi pemegang paspor Indonesia. Sebelum memutuskan memilih negara tujuan, berikut adalah daftar negara yang menerima au pair dari Indonesia; Australia (lewat Working Holiday Visa ) Austria Amerika

Berniat Pacaran dengan Cowok Skandinavia? Baca Ini Dulu!

"Semua cowok itu sama!" No! Tunggu sampai kalian kenalan dan bertemu dengan cowok-cowok tampan namun dingin di Eropa Utara. Tanpa bermaksud menggeneralisasi para cowok ini, ataupun mengatakan saya paling ekspert, tapi cowok Skandinavia memang berbeda dari kebanyakan cowok lain di Eropa. Meskipun negara Skandinavia hanya Norwegia, Denmark, dan Swedia, namun Finlandia dan Islandia adalah bagian negara Nordik, yang memiliki karakter yang sama dengan ketiga negara lainnya. Tinggal di bagian utara Eropa dengan suhu yang bisa mencapai -30 derajat saat musim dingin, memang mempengaruhi karakter dan tingkah laku masyarakatnya. Orang-orang Eropa Utara cenderung lebih dingin terhadap orang asing, ketimbang orang-orang yang tinggal di kawasan yang hangat seperti Italia atau Portugal. Karena hanya mendapatkan hangatnya matahari tak lebih dari 3-5 minggu pertahun, masyarakat Eropa Utara lebih banyak menutup diri, diam, dan sedikit acuh. Tapi jangan salah, walaupun dingin dan hampa