Ketika Nasib Membawa Mu Pulang

Thursday, March 31, 2022



Kutipan tak bertuan berbahasa Norwegia di atas berarti, kebahagiaan itu tak selalu naik ke puncak tangga, tapi berhenti pada tahap dimana seseorang berkembang.

Seringkali saya membaca dan mendengar kata-kata motivasi dari para imigran Indonesia yang tinggal di luar negeri atas nama perjuangan. Salah satunya, "anak rantau pantang pulang" atau yang sebetulnya lebih menggambarkan tak boleh pulang sebelum berhasil di negara orang. Meski tak semua berpendapat sama, namun keberhasilan ini lebih erat kaitannya dengan materi. Jujur, saya mungkin salah satu yang kurang setuju dengan kata-kata motivasi ini setelah merasakan langsung bahwa realita seringkali memaksa kita untuk jadi realistis. Tak selamanya usaha mendukung hasil.

Kehidupan luar negeri nyatanya sangat keras dan tidak tercipta untuk semua orang. Beda kacamatanya ketika kamu hanya datang ke tempat asing membawa koper travelling. Saat jalan-jalan, kamu hanya akan melihat sisi terbaik dari negara yang sedang dikunjungi. Setiap hari memang tujuannya liburan dan menikmati hingar bingar yang ditawarkan sambil foto-foto lucu untuk kenang-kenangan. Sementara saat membawa koper pindahan, yang diurus tak hanya izin tinggal, namun juga segala dokumen tempat tinggal, asuransi kesehatan, kartu transportasi bulanan, hingga surat pajak. Tiap hari kerjanya bukan lagi liburan, tapi integrasi layaknya orang lokal. Pindah negara itu sangat melelahkan dan kita butuh mental yang kuat untuk bertahan.


Saya tak bicara tentang para pasangan yang ikut keluarganya pindah ke luar negeri. Namun tentang para individual yang memutuskan berangkat sendiri ke negara asing demi menggapai mimpinya bekerja, menetap, sampai ganti kewarganegaraan. Saat kita tinggal di luar negeri karena 'reuni keluarga', pondasi izin tinggal jadi lebih kuat karena status kita bergantung kepada mereka. Ibaratnya, pasangan adalah penjamin kita untuk tinggal di negara tersebut. Sementara jika merangkak sendiri, usaha jadi lebih ekstra karena kita harus lebih jeli melihat peluang jika berniat tinggal lebih lama.

Inilah cerita tentang para anak rantau yang tak lelah berjuang, namun harus siap ketika nasib membawa pulang.

Diawali dengan cerita para mahasiswa luar negeri yang biasanya punya mimpi ambisius untuk menetap. Karena Norwegia membebaskan biaya kuliah di kampus negeri bagi semua orang, tak heran jika negara ini sering dijadikan tujuan pendidikan didominasi oleh orang-orang Asia Selatan dan Eropa Timur. Saya juga tak punya alasan pastinya mengapa paling banyak dari kawasan ini. Namun jangan salah, para mahasiswa yang berasal dari wilayah tersebut bukanlah orang yang randomly hanya datang dan kuliah mengejar gelar. Hampir semua dari mereka adalah para mahasiswa pintar dan berbakat yang memang ingin menimba ilmu dan berharap bisa mengubah nasib di tempat terbaik. Beberapa teman sekelas saya berasal dari wilayah di atas memiliki prestasi dan rekam jejak bagus di kampus asalnya. Semua dari mereka bahkan rela S2 lagi dua kali di Norwegia karena ingin melebarkan kesempatan di banyak bidang. Namun pintar, berbakat, dan punya kemauan saja tak cukup. 

Beberapa bulan lalu, saya cukup kaget ketika melihat postingan salah satu teman sekelas di atas yang ternyata sudah kembali ke negara asalnya dan menikah. He left Norway for good. Saya pernah satu kelompok dengan anak ini di semester satu dan sebagai lulusan teknik dari NTNU Trondheim yang juga kembali mengulang S2-nya di Universitas Oslo (UiO), tentu saja otaknya bukan otak kacangan. Sempat kami mengobrol rencananya yang ingin kerja di Norwegia dan memboyong keluarga jika suatu hari nanti menikah. Sayang, dulu teman saya ini lebih nyaman mengumpulkan uang di restoran pizza ketimbang belajar bahasa demi menunjang karir. S2 keduanya di UiO ternyata hanya batu loncatan yang diharapkan bisa membeli waktu untuk melamar ke banyak perusahaan. Nasib berkata lain, dua tahun lulus dari NTNU belum juga dapat kerja karena kendala bahasa. 


Dia tak sendiri. Dua teman sekelas saya yang lain pun bernasib sama. Mereka cukup idealis ingin mengejar karir di bidangnya, namun cepat menyerah dan kurang punya strategi bagaimana menaklukan dunia kerja di Norwegia. Satu, sudah tinggal lebih dari 6 tahun di Norwegia tak juga dapat kerja – meski akhirnya dapat tawaran di Denmark. Yang satu lagi, kurang maksimal mencari kerja dan lebih fokus cari duit di restoran demi bayar hutang keluarga. Kabar terakhir yang saya dengar, si teman ini sebetulnya sudah tak betah di Norwegia dan ingin pulang. Namun dilemanya, dia tak akan mungkin bisa bayar hutang keluarga jika kembali ke negara asal.

Meski terlihat bahasa adalah kendala utama, namun hidup juga tak selalu mulus. Paling nyata dari teman baik saya sendiri, orang Eropa Timur yang sudah 8 tahun tinggal di Denmark. Tak hanya well-educated karena berhasil menyelesaikan kuliah S1 dan S2, tapi bahasa Denmarknya juga sudah sangat fasih. Setahun tak dapat kerja, akhirnya dia memutuskan kembali ke negara asal dan mengawali karir di sana. 

Itu mereka, para mahasiswa internasional. Tak berbeda dengan para mantan au pair yang akhirnya menemukan kepuasan di host countries, terlalu lelah untuk pindah negara lagi, lalu memutuskan pulang selamanya ke Indonesia. Beberapa dari mereka memang ada yang terkendala umur, enough is enough jadi au pair, atau sesimpel hanya ingin mencoba tinggal di luar negeri in a short period lalu selebihnya ingin berkarir di negeri sendiri.

Apa mereka kurang berjuang untuk bisa dapat kerja dan menetap? Bisa jadi. Tapi apa mereka salah jika memutuskan pulang? Jelas tidak. 

Setiap kali saya cerita ke beberapa orang di sini bahwa saya mulai muak tinggal di Norwegia dan terpikir untuk pulang ke Indonesia, saat itu juga mereka seperti mengukuhkan saya untuk mengurungkan niat tersebut. Bagi mereka, Indonesia bukan pilihan. Banyak orang yang bermimpi bisa tinggal di luar negeri. Lalu sesampainya saya di sini, mulai dari bawah, lalu sekarang akhirnya bisa bekerja, kenapa malah memutuskan pulang? Tak hanya kurang setuju, mereka juga merasa Indonesia bukan lagi tempat yang tepat untuk melanjutkan hidup. Kalau memang sudah terbuka jalannya bisa hidup enak di negara lain, mengapa harus kembali? Mereka bahkan menyuguhkan saya opsi untuk menikah dengan orang lokal jika dirasa sulit mendapatkan working permit. Rasanya haram sekali pulang ke Indonesia sampai harus menghalalkan segala cara.


Di satu sisi, tak ada yang salah dengan mereka. Setiap orang berhak memilih dimana akan tinggal dan bahagia dimana pun mereka berada. Sayangnya, saya punya pemikiran lain. Bagi saya, pernikahan bukanlah jalan pintas untuk ditukarkan dengan tiket izin tinggal. Menikah ya karena siap finansial lahir batin, bukan karena izin tinggal mau habis. Saya selalu diajarkan oleh orang tua untuk tak bergantung pada siapa pun, apalagi ke laki-laki. Jika masih ada opsi terbaik mendapatkan izin tinggal dengan cara bekerja dan punya uang sendiri, justru ini yang akan saya lakukan. Kalau pun nasib tak memihak di Norwegia, maka satu-satunya tempat saya berpaling hanyalah Indonesia.

Lalu lagi-lagi, banyak yang menanyakan, tak niat pindah dan berkarir di negara lain saja, Nin? 

Fiiuuhh.. Kalau pernah ada di posisi saya, mereka mungkin akan paham bahwa pindah negara itu sangat melelahkan. Mengurus surat izin tinggal serta harus adaptasi lagi dengan negara baru butuh waktu dan integrasi yang tak menyenangkan. Saya sudah 3 kali pindah negara sejak 2014 dan semuanya dilakukan secara mandiri. Kalau harus pindah lagi ke negara lain hanya demi ambisi untuk tinggal di luar negeri, saya mungkin tak kuat lagi. Sedikit berbeda ceritanya jika Norwegia adalah negara pertama saya, bisa jadi masih ada tenaga dan energi untuk mencari peruntungan di negara lain. But now, no thanks.


Indonesia memang bukan tempat yang sempurna. Baca berita setiap hari melihat tingkah laku masyarakatnya yang luar biasa selalu membuat saya pusing kepala. Tapi setidaknya masih ada keluarga yang selalu bahagia menyambut saya pulang. Sejujurnya, Ibu saya dari dulu malah merasa potensi saya akan sangat baik terasah di Indonesia. Menurut beliau, saya tetap masih bisa berkarir di negeri sendiri dan bekerja sesuai passion. Masih banyak hal kreatif yang bisa dilakukan dengan keadaan pasar yang lebih luas di Indonesia. Yang paling penting, Indonesia adalah negara teraman dimana saya tidak akan dideportasi gara-gara habis izin tinggal.

Meski akhirnya keinginan untuk pulang ke Indonesia belum jadi saya lakukan, namun beliau ada benarnya juga. Untuk mencapai posisi on top di Norwegia ini tak mudah. Kamu tak akan bisa jadi kaya raya punya kabin dimana-mana layaknya orang lokal hanya karena bekerja 9 to 5. Hidup nyaman sangat memungkinkan, tapi hidup berlebihan layaknya orang lokal, way too far to go.

Well, at the end, ibu saya tetap mendukung keinginan saya yang masih ingin tinggal dan meneruskan karir di sini. Beliau sadar bahwa ini hidup yang saya pilih. Untuk kalian, kita memang tak akan pernah tahu what future brings to us. Kamu sangat boleh lari dari Indonesia dan memutuskan berjuang menetap di negara orang. Siapa tahu, hidup mu justru lebih bahagia dan sukses di negara baru. Tapi bagi yang tak menemukan harapan, mungkin kata-kata sahabat baik saya ini bisa membantu mu berpikir lebih positif.

"Nin, kalau aku jadi diri mu, aku masih akan berusaha tinggal dimana kamu tinggal sekarang. Like, why not? I have a job and good life. Tapi, kalau pun suatu hari nanti nasib membawa ku pulang, I'm definitely home! Pulang bukan berarti kalah. Indonesia itu bukan tanah pecundang yang akhirnya tak berhasil di luar negeri lalu pulang jadi gelandangan. Kita juga punya kesempatan di sini!" ujarnya tegas.

Sahabat saya benar. Pulang bukan berarti kalah. Tak sedikit orang Indonesia yang pulang setelah kuliah dan au pair di luar negeri, malah menemukan jalan baru di tanah sendiri. Pulang juga tak harus selama-lamanya. Terkadang, nasib membawa kita kembali lagi ke negara baru dengan cara tak terduga.

Indonesia memang tak lebih baik dari Eropa, namun jika nasib membawa kita pulang, maka hidup tak berakhir di pintu perbatasan imigrasi. Jangan takut, jangan gusar. We don't lose.

...

What do I always tell you? Live strategically!
Pulang dengan strategi :) 



4 comments:

  1. Mb Nin tuh wanita kuat! Wonder woman! Klu saya jadi mb Nin, sy ga tahu akan bisa bertahan selama itu atau ngga di negara orang. Ngurus ini itu sendiri, bener-bener sendiri. Bahkan untuk kuliah pun biaya sendiri dari hasil kerja banting tulang sana sini. Salut saya mba!

    Saya ga tahu persis gmn perasaan mba Nin skrg. Yang jelas mba Nin butuh semangat, entah itu untuk melanjutkan hidup di sana, atau untuk pulang. We respect your decision mba! Dan setuju dengan kata-kata temen mba, pulang ke Indonesia setelah lama mengenyam hidup di luar negeri bukan berarti kalah. Akan selalu ada keluarga dan sahabat di sini yang pastinya mendukung mba. Apapun pilihan mba, semoga itulah yang terbaik buat mba! ^^

    Keep Fighting mba!!

    **Pengen bangeet bisa nulis rapih dengan diksi yg mudah dimengerti kyk mba Nin hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you for such good words!! So sweet of you <3

      Sebenernya poin aku di tulisan ini tuh mau ngomong kalo apapun keputusan orang, mungkin harus kita hargai tanpa interupsi. Sure, sebagai teman yang baik, mungkin kita bisa saran ini itu. Tapi memaksakan satu hal dengan cara menghalalkan segala cara, menurut ku itu gak masuk akal sih :/

      Ya mau gimana pun, pulang lom tentu semenderita itu kok. Daripada di negara orang nasib gak jelas, ya mau kemana lagi selain pulang :)

      Thank you banget ya semangatnya :) Semangat juga buat kamu di sana!

      Delete
  2. Finally... baru bisa nyempetin baca. No comment but break the leg, Mba Nin!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you udah ninggalin jejak, Wulan! ;)

      Delete