4 Alasan Saya Lanjut Kuliah Master di Norwegia

Friday, 8 February 2019



"Kuliah S2? Nanti dulu!" kata saya dua tahun lalu.

Di postingan tersebut juga dituliskan beberapa alasan yang mendasari saya belum ingin lanjut kuliah lagi. Salah satunya adalah karena kuliah itu melelahkan. Tahun depan sudah pas 5 tahun saya menjajakan kaki di Eropa dan tinggal di rumah keluarga angkat sebagai au pair. Tapi semakin lama jadi au pair, saya merasa mengalami brain dead karena salah satu hal yang saya rindukan selama ini adalah berpikir kritis ala mahasiswa.

Meskipun masih terus rutin datang ke kelas bahasa, namun materi pelajarannya tidaklah seintensitas pembelajaran akademik di kampus. Lagipula, kelas bahasa tersebut hanya 2-3 kali seminggu. Awalnya sangat termotivasi, tapi lama-lama bosan juga karena tantangannya sebatas daily life talking yang masih sering bernego dengan English.

Lanjut kuliah di luar negeri juga bukan cita-cita baru kemarin sore. Saya memang berniat ingin kuliah lagi, namun selalu terkendala urusan biaya dan kemampuan bahasa Inggris. Peluang mengatasi biaya salah satunya memang harus ikut program beasiswa. Tapi sayangnya saya sudah minder duluan karena merasa tidak terlalu kompetitif menghadapi pesaing lain. Bahasa lainnya; tidak cukup pintar.

Setelah berhasil mengantongi sertifikat IELTS yang nilainya memenuhi syarat pendaftaran, kesempatan daftar ke universitas asing makin luas. Sampai akhirnya saya mantap ingin lanjut kuliah lagi di Norwegia. Pertanyaannya, mengapa Norwegia?

1. Bebas biaya kuliah

Di Eropa, setahu saya hanya ada 3 negara yang menggratiskan biaya kuliah bagi mahasiswa internasional, yaitu Jerman, Norwegia, dan Finlandia. Saya dulunya sangat berharap bisa lanjut kuliah di Aalto University. Namun sayangnya, Finlandia tidak lagi menggratiskan biaya kuliah untuk mahasiswa non-Eropa sejak musim gugur 2017 lalu.

Baca juga: Pendidikan di Negara Nordik: Jangan Kuliah Karena Gratis

Saya juga tidak berniat lanjut belajar di Jerman karena mungkin sudah terlalu sering mendengar cerita pelajar disana. Lalu pilihan terakhirnya memang Norwegia karena kebetulan saya masih tinggal disini.

Meskipun biaya kuliah di Norwegia digratiskan di semua universitas negeri, namun mahasiswa tetap harus membayar uang semester sebesar 600-850 NOK.

*10 NOK = 1 Euro

2. Kuliah sekalian kerja

Alasan lainnya mengapa saya memilih Norwegia adalah karena berniat kuliah di sisa akhir kontrak au pair. Jadi daripada mesti pulang dulu ke Indonesia, saya meminta izin ke host family jika boleh studi sekalian kerja di sisa 5 bulan akhir kontrak. Ternyata host mom menyambut baik ide ini meskipun sedikit skeptis apakah saya masih bisa sefleksibel sekarang kalau sudah fokus kuliah.

"That is still a great plan anyway, Nin! You have to go for it!" kata host mom saya bersemangat.

Karena keluarga angkat saya tinggal di Oslo, artinya saya hanya bisa daftar ke kampus yang ada di sekitaran Oslo saja. Tapi sebetulnya tidak masalah juga karena tinggal di ibukota lebih memudahkan akses kemana pun.

3. Ada jalan

Di Norwegia juga ada kelonggaran batas waktu pendaftaran bagi pendaftar asing yang memiliki izin tinggal disini. Syaratnya, izin tinggal tersebut bersifat permanen atau dapat diperbarui. Kalau mahasiswa internasional biasanya hanya memiliki deadline di bulan Desember atau Januari, penduduk Norwegia bisa mendaftar sampai pertengahan April untuk perkuliahan semester musim gugur.

Kebetulan saat ini saya sudah memiliki residence permit au pair sampai 2020. Setelah menghubungi pihak UDI yang mengurusi imigrasi, mereka mengatakan kalau saya boleh kuliah sekalian au pairing memakai permit yang sama. Kalau au pair permit yang sekarang hampir habis, saya harus segera mengajukan student permit 2-3 bulan sebelumnya.

Pertanyaan lainnya tentu saja masalah biaya hidup sehari-hari. Biaya kuliah boleh gratis, tapi biaya hidup di Norwegia terkenal sangat tinggi. Gambaran kasarnya, mahasiswa asing sedikitnya harus mengantongi 10.000 NOK atau sekitar 17 juta rupiah per bulan. Pihak imigrasi UDI juga menekankan bahwa untuk mendapatkan student permit, mahasiswa asing harus memiliki dana minimal 116.369 (sampai Juni 2019) NOK di rekening atas nama pribadi, tidak boleh disponsori kecuali beasiswa.

Beruntungnya, biaya ini tidak harus serta merta berupa tabungan tapi boleh juga kombinasi dana pinjaman dari pemerintah atau surat kontrak kerja paruh waktu. FYI, mahasiswa asing di Norwegia diizinkan bekerja paruh waktu 20 jam per minggu. Contohnya saya hanya punya dana 35.000 NOK di tabungan, tapi sudah mengantongi surat kontrak kerja yang gajinya selama 1 tahun adalah 90.000 NOK, artinya saya bisa mengajukan study permit karena total biaya hidup sudah tertutupi sampai setahun ke depan.

Masalah biaya ini juga sudah saya diskusikan dengan host family dan mereka mau membantu untuk memberikan saya pekerjaan paruh waktu. Karena mereka berpikir untuk tetap menyewa nanny, sepertinya saya masih boleh bekerja disini sampai setahun berikutnya. Bagaimana kalau mereka berubah pikiran?

Artinya saya tetap harus menunjukkan bukti ke UDI bahwa saya mampu membiayai kehidupan sehari-hari. Saya masih berusaha menabung sebanyak-banyak mungkin sekarang ini. Entah berapa pun itu, rencananya ingin pinjam uang ibu saya dulu untuk menutupi sisanya saja. Lolos dapat study permit, baru saya kembalikan lagi uangnya dan mencoba mencari pekerjaan paruh waktu lain di luar. Tapi sejujurnya, saya tidak yakin memilih jalan ini karena paham soal keterbatasan finansial sang ibu juga.

Kalau kalian berniat kuliah di Norwegia pakai biaya sendiri, silakan baca informasi detailnya di situs UDI. Di situs tersebut juga disebutkan bahwa mahasiswa asing harus memiliki tempat tinggal di Norwegia yang dibuktikan dengan surat kontrak atau pernyataan dari pemilik kos. Karena tahun depan kamar saya akan dirombak jadi kantor baru, makanya saya tidak bisa tinggal lebih lama dengan keluarga yang sekarang. Lagipula saya butuh privasi lebih karena bukan au pair mereka lagi. Perihal ini juga sempat saya bicarakan ke teman yang tinggal di Oslo dan doi sepakat untuk sharing cost apartemen kalau memang saya bisa studi disini.

4. Belajar bahasa lebih lama

Kalau ada negara di Eropa yang saya ingin tinggali lebih lama, itu adalah Denmark atau Norwegia. Mengapa, karena dua negara ini adalah negara terlama di Eropa yang pernah saya tinggali dan paling saya kenali bahasa dan kebudayaannya. Kuliah di Denmark sangat mahal, makanya saya belum mampu lanjut kesana. Sayang juga, karena sebetulnya saya masih sangat ingin belajar bahasa Denmark.

Opsi studi di Norwegia tentu saja menjadi sangat rasional dan masuk akal. Saya berpikir, kalau berkesempatan studi Master selama 2 tahun, artinya total saya tinggal disini menjadi 4 tahun. I just wonder, am I still (this) bad at talking Norwegian after 4 years? Mungkin saja saya makin bersemangat ingin lancar bahasa lokal karena bisa jadi modal untuk mencari pekerjaan selepas lulus kuliah.


So, ini planning saya di awal tahun ini! Apapun keputusannya, saya berharap yang terbaik saja. Kalau memang jalan ini belum mulus, I would move to Plan B because it could be back home.

Langkah berikutnya:
Daftar kuliah di kampus Norwegia

16 comments:

  1. Huhu selalu pengen kuliah juga di luar Indonesia. Semangat, Kak Nin!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih, Ruth. Kamu juga ya, semoga someday bisa kesampean kuliah di LN ;>

      Delete
  2. Nin, I am so happy to read this! Gimana kamu yg lbh lama nge-au pair. Aku aja yg 9 bulan udh ngerasa brain dead haha
    I truly wish you best of luck, Nin. Ini jadi semangat juga karena aku pun masih pengen bisa kerja atau kuliah di Eropa. Btw, kamu ambil jurusan apa?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tengkyuuuu, Tesa 🙏🏽
      Semoga kamunya juga gak lapuk jadi au pair doang ya. Hoho.

      Aku ngambil jurusan yang gak jauh2 dari Sains & Teknologi pastinya :D

      Delete
    2. Amin. Anti lapuk-lapuk Nin. Mau menikmati masa a pair hehe. Lycka till!

      Delete
    3. Abis lapuk jadi au pair, semoga ada jalan juga buat lanjut kuliah ataupun studi dimana pun ya, Tes!

      Cheeerrrs!

      Delete
  3. Kak, kalau mau kuliah di norwey itu harus udah s1 yaa biar bisa lanjur s2 di norwey?? makasih kak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di dunia ini, kalo kamu mau lanjut S2 pasti mesti ngantongin ijazah S1 dulu.

      Tapi kalo kamu mau mulai S1-nya di Norwegia, ya bisa banget! Taaaaaapiiiii... kendalanya di bahasa. Kamu mesti nguasain bahasa Norwegia setidaknya level B2 karena S1 di sini hampir semuanya (99%) pake bahasa lokal.

      Delete
  4. Kak...gimana dengan syarat daftar kampus untuk pengambilan S2 ? Apa harus bisa bahasa norway dulu ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tergantung kamu mau ngambil S2-nya dimana. Kebanyakan kampus buat S2 di luar negeri sebetulnya pake bahasa Inggris kok. Persiapin aja sertifikat bahasa asing minimal 6.5 untuk IELTS.

      Delete
  5. selamat malam....nin saya ne burham mau ada rencana S2 ke negara norwegia apakah ada uang yg kita tranfer dulu sebagai bukti kita ingin biaya sendiri kalau masih di indonesia....?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Burham,

      Tergantung kampusnya. Kalo untuk UiO, UiB, atau OsloMet (contohnya), mereka gak butuh kamu nransfer uang dulu ke rekening kampus. Jadi bukti tabungan dibuktikan pas apply visa doang.

      Tapi beberapa kampus lain semisal NTNU, justru wajib nyetor dulu duitnya ke rekening kampus bahkan saat apply untuk admission.

      Delete
  6. Wawww what a story of life ya kak. Keren bngt benar2 pejuang saluttt. Aku senang baca2 blog kakak bnyk bngt info yg bisa buat aku terbelangak. Jadi nya aku makin tau dgn negara2 skandinavia. Semoga lancar kuliah master nya di norway kak. Aku juga sedang mencoba peruntungan menjadi au pair semoga belanda menjadi tempat yg menarik dan sesegera mungkin mendapatkan HF. Next mau study abroad jugaa! G.luck

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tengkyu udah mampir dan baca2 😇
      Happy to share semua informasi yang semoga bikin kamu makin termotivasi & terinspirasi ya.

      Sukses juga ke Belandanya! Sukses menggapai cita2!! 😇

      Delete
  7. Halo, saya senang membaca tulisan2nya, enak dibaca dan menarik. Oh ya saya ada rencana mau lanjut S2 dg biaya sendiri oleh karena itu saya tadinya menetapkan jerman sbg tujuan krn uang kuliahnya gratis, tapi saya skrg jg mempertimbngkan Norwegia tapi agak ragu krn biaya hidupnya lebih tinggi daripada jerman mengingat saya pake biaya sendiri.Saya penasaran dg tulisan diatas yg menyebutkan terlalu sering mendengar cerita pelajar disana, maksud tulisan diatas apa ya ? Maaf kepo tapi saya benar2 sedang mencari info tentang kehidupan di eropa khususnya Jerman dan Norwegia

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Dee,

      Makasih udah mampir :)

      Maksudnya itu.. aku udah terlalu banyak denger pengalaman orang2 yg kuliah di Jerman. Orang Indonesia memang lebih familiar sama Jerman (dan Belanda) untuk tujuan studi di Eropa. Makanya pengen kuliah di negara lain biar aku bisa ngerasain sendiri & sharing ke orang. Jadi gak hanya Jermaaaaan mulu. Begitu.

      Iya memang. Di Norwegia kampus publik-nya cuma bayaran 700-900kr aja per semester, tapi biaya hidupnya kurang lebih 200 jutaan per tahun. Di Jerman lebih murah & kesempatan utk dapet kerja setelah lulus juga lebih terbuka karena mereka open banget sama pendatang.

      Delete