Langsung ke konten utama

2020: The Newest Year After Five Years


Setelah 5 tahun jadi au pair dan selalu merasa hidup dengan banyak batasan, akhirnya di tahun ini saya bebas melakukan apa yang saya mau  meskipun dengan tanggung jawab yang lebih besar pula! Beruntungnya lagi, dari bulan lalu saya masih sempat pulang ke Indonesia demi melepas penat sebelum kembali menyelesaikan studi di Norwegia.

Pulang ke Indonesia selalu menjadi terapi ketika masih punya kesempatan berkumpul bersama keluarga sekalian makan makanan khas yang tak ada kloningannya di Eropa. This is SO good! Bangun tidur dengan santai, tak ada suara teriakan anak, tak ada SMS soal daftar pekerjaan rumah tangga, serta tak ada batas sungkan karena masih tinggal di rumah orang. I am at home, literally my parents' home, Kota Palembang!

What are (gonna be) new things in 2020 that make me this happy?

1. Tempat Tinggal

Tidak ada yang lebih bahagia dari tinggal di rumah sendiri. Bukan rumah orang tua, tapi betul-betul rumah sendiri. Tempat dimana bisa tidur nyenyak dan bangun jam berapa pun kita mau! Tempat dimana kita bisa undang banyak teman tanpa peduli dengan komentar si tuan rumah. Tempat terbaik juga dimana kita bebas melakukan apapun tanpa tatapan sinis dari si tuan rumah karena kamar berantakan.

Yes, this is a place I have always wanted! Meskipun tempat tersebut hanya berupa kamar berukuran mini dengan fasilitas berbagi, tapi setidaknya inilah tempat ternyaman berbayar yang saya punya hak atasnya! Saya juga tidak sabar memberi tahu kalian, tempat ternyaman seperti apa yang akan saya tinggali di tahun ini setelah melepaskan semua atribut mewah milik host family. (Baca di sini bagi yang ingin tahu dimana saya tinggal sekarang!)

2. Pekerjaan

Say bye to those home cleaning and babysitting jobs! Bukan, bukan saya sombong untuk menghindari pekerjaan tersebut. Tapi kalau sudah jadi au pair 5 tahun lamanya, kalian akan mengerti mengapa pekerjaan serupa tak lagi menarik dan menantang. Saya juga sudah bersumpah untuk menjauh dari tawaran babysitting yang masih berhubungan dengan anak-anak, meskipun dinilai tugasnya mudah; hanya jaga anak-anak main atau makan.

Di tahun yang baru ini, mulai mencari kerja di luar bidang yang sudah saya tekuni adalah langkah awal mengembangkan karir yang lebih profesional. Soal pekerjaan ini juga saya akan bahas selengkapnya di postingan lain, because I can't wait to tell you more what am I gonna do for living!

3. Networking

Sudah tidak lagi jadi au pair, bukan berarti saya memutus tali silaturahim dengan para au pair yang masih aktif di luar sana. Mereka semua adalah anak muda hebat yang selalu punya cerita dan berita soal dunia peraupairan. Sejak mendedikasikan blog ini untuk menyebarkan informasi seputar au pair, saya juga sudah berkomitmen untuk terus memperbarui semua informasi tentang au pair setiap tahun.

Namun karena sudah punya banyak waktu untuk diri sendiri, diharapkan saya juga bisa memperluas jaringan dari pekerjaan paruh waktu atau magang yang mungkin nanti akan saya jalani. Sejujurnya, saya juga tak sabar keluar dan bertemu orang-orang baru lagi. I can't wait to learn more from them! 

4. Resolusi

Jepp! Dari yang harus fokus investasi, cari kerja, sampai lancar bahasa Norwegia level B2 adalah beberapa target saya di awal 2020. Tahun lalu saya masih terlalu boros untuk mengeluarkan uang demi jalan-jalan yang moderate serta sulitnya menabung demi memuaskan gaya hidup. Beruntung, belum menginjak usia 30 tahun, 30 negara sudah saya singgahi. Tahun ini tak ada lagi target negara tertentu yang harus saya kunjungi demi feed Facebook ataupun kumpulan foto keren di Instagram. Sekarang saatnya berpikir serius demi dana pensiun dan dana cadangan, because I am tired of being broke!

Target lain adalah setidaknya menyelesaikan dan fasih bahasa lokal di level B2. Di Norwegia, level B2 ini sudah dianggap cukup baik untuk melamar kerja atau mendaftar ke sekolah yang syaratnya harus bisa "godt norsk". Lagipula sejujurnya saya mulai muak memakai bahasa Inggris di percakapan sehari-hari meskipun hampir semua penduduk Norwegia mampu berbahasa Inggris dengan lancar. I am quite hard to myself soal bahasa Norwegia ini. Bahkan berkali-kali misuh-misuh ke Mumu, kapan kah saya bisa mengerti dan bicara secara fasih?!

5. Atmosfir

Mungkin lebih tepatnya, the real feeling of freedom like a wild bird! Saya sadar bahwa tahun ini juga bisa lebih berat karena saya harus berdiri di kaki sendiri tanpa fasilitas dan liburan mewah setiap tahun. Tapi karena keterbatasan itulah, saya yakin bahwa hidup layaknya mahasiswa kere di luar negeri akan membawa perubahan besar di hidup saya. Hidup mandiri itu memang berat namun akan mengasah mental sekuat baja, because most of the time, life is unfair.

Meskipun nantinya masih harus mengatur waktu antara membagi jadwal kuliah, kerja paruh waktu, dan berorganisasi, tapi setidaknya saya tidak merasa berhutang budi pada siapapun hanya karena masih menumpang. I am not afraid of being kicked out dan residence permit saya dicabut hanya karena tak cocok dengan employer (layaknya host family sebagai 'bos' kita). Bayangkan kalau masih jadi au pair, mengatur waktu untuk liburan dan ketemu orang baru saja masih dirasa cukup susah. Hmmm... This freedom smells so fresh, sodara-sodara!

⚘ ⚘ ⚘

Walaupun katanya 2020 itu hanyalah 2019-dengan-resolusi-lawas tapi wajah yang baru, namun bagi saya, this is a new happiest year! Bagaimana dengan kalian sendiri, adakah hal baru yang ditunggu tahun ini?



Komentar

  1. Read this makes me feel excited for the future and next posts as well! I'm happy you finally get this freedom. Eventho this 2020 I need to be in medication but at least 17 months instead of 18 to go. Lol. Gotta find a new way to enjoy and living life. All the best of luck kak Nin ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thank you so much, Ruth! That’s SOOO sweet of you!

      Please keep going whether 2020 would be happier or not. Yet, we never know. Perhaps a huuuuge surprise waiting unintentionally ;)

      Kamu juga ya! Best of luck :)

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bule Ketemu Online, Bisakah Serius?

( PERHATIAN!!! SAYA BANYAK SEKALI MENERIMA TESTIMONIALS SOAL COWOK-COWOK DARI INGGRIS YANG MEMINTA ALAMAT SI CEWEK YANG DIKENAL VIA ONLINE. FYI , HAMPIR SEMUA MODUS PENIPUAN SEPERTI INI BERASAL DARI INGGRIS DAN AMERIKA! JANGAN PERNAH TERTIPU KEMASAN KULIT PUTIHNYA, KARENA BISA JADI YANG KALIAN AJAK CHATTING -AN ATAU VIDEO CALL -AN ITU ADALAH PENIPU !! JANGAN PERNAH BERI DATA DIRI SEPERTI NAMA LENGKAP, ALAMAT, SERTA NOMOR IDENTITAS ATAU KARTU KREDIT KE ORANG-ORANG ASING LEWAT DUNIA DIGITAL! BE SMART, BE AWARE, AND PLEASE JANGAN DULU BAPERAN KALO ADA YANG MENGAJAK NIKAH PADAHAL BARU SEMINGGU KENAL!!!) Selain berniat jadi au pair, ternyata blog saya banyak dikunjungi oleh cewek-cewek Indonesia yang ingin pacaran atau sedang dekat dengan bule. Gara-gara tulisan tentang cowok Eropa dan cowok Skandinavia , banyak pembaca blog yang mengirim surel ke saya dan curhat masalah cintanya dengan si bule. Aduh, padahal saya jauh dari kata "ahli" masalah cinta-cintaan. Saya sebetu

Mempelajari Karakter Para Cowok di Tiap Bagian Eropa

*I talk a lot about European boys in this blog, but seriously, this is always the hottest topic for girls! ;) Oke, salahkan pengalaman saya yang jadi serial dater  selama tinggal di Eropa. Tapi gara-gara pengalaman ini, saya juga bisa bertemu banyak orang baru sekalian mempelajari karakter mereka. Cowok-cowok yang saya temui ini juga tidak semuanya saya kencani. Beberapa dari mereka saya kenal saat workshop, festival, ataupun dari teman. Beruntung sekali, banyak juga teman-teman cewek yang mau menceritakan pengalamannya saat berkencan dari cowok ini, cowok itu, and all of them have wrapped up neatly in my head! Secara umum, tulisan yang saya ceritakan disini murni hasil pengalaman pribadi, pengalaman teman, ataupun si cowok yang menilai bangsanya secara langsung. Letak geografis Eropanya mungkin sedikit rancu, tapi saya mengelompokkan mereka berdasarkan jarak negara dan karakter yang saling berdekatan. Kita semua benci stereotipe, tapi walau bagaimana pun kita tetaplah bagi

7 Kebiasaan Makan Keluarga Eropa

Tiga tahun tinggal di Eropa dengan keluarga angkat, saya jadi paham bagaimana elegan dan intimnya cara makan mereka. Bagi para keluarga ini, meja makan tidak hanya tempat untuk menyantap makanan, tapi juga ajang bertukar informasi para anggota keluarga dan pembelajaran bagi anak-anak mereka. Selain table manner , orang Eropa juga sangat perhatian terhadap nilai gizi yang terkandung di suatu makanan hingga hanya makan makanan berkualitas tinggi. Berbeda dengan orang Indonesia yang menjadikan meja makan hanya sebagai tempat menaruh makanan, membuka tudung saji saat akan disantap, lalu pergi ke ruang nonton sambil makan. Selama tinggal dengan banyak macam keluarga angkat, tidak hanya nilai gizi yang saya pelajari dari mereka, tapi juga kebiasaan makan orang Eropa yang sebenarnya sangat sederhana dan tidak berlebihan. Dari kebiasaan makan mereka ini juga, saya bisa menyimpulkan mengapa orang-orang di benua ini awet tua alias tetap sehat menginjak usia di atas 70-an. Kuncinya, pola

First Time Au Pair, Ke Negara Mana?

Saya ingat betul ketika pertama kali membuat profil di Aupair World, saya begitu excited memilih banyak negara yang dituju tanpa pikir panjang. Tujuan utama saya saat itu adalah Selandia Baru, salah satu negara impian untuk bisa tinggal. Beberapa pesan pun saya kirimkan ke host family di Selandia Baru karena siapa tahu mimpi saya untuk bisa tinggal disana sebentar lagi terwujud. Sangat sedikit  host family dari sana saat itu, jadi saya kirimkan saja aplikasi ke semua profil keluarga yang ada. Sayangnya, semua menolak tanpa alasan. Hingga suatu hari, saya menerima penolakan dari salah satu keluarga yang mengatakan kalau orang Indonesia tidak bisa jadi au pair ke Selandia Baru. Duhh! Dari sana akhirnya saya lebih teliti lagi membaca satu per satu regulasi negara yang memungkinkan bagi pemegang paspor Indonesia. Sebelum memutuskan memilih negara tujuan, berikut adalah daftar negara yang menerima au pair dari Indonesia; Australia (lewat Working Holiday Visa ) Austria Amerika

Berniat Pacaran dengan Cowok Skandinavia? Baca Ini Dulu!

"Semua cowok itu sama!" No! Tunggu sampai kalian kenalan dan bertemu dengan cowok-cowok tampan namun dingin di Eropa Utara. Tanpa bermaksud menggeneralisasi para cowok ini, ataupun mengatakan saya paling ekspert, tapi cowok Skandinavia memang berbeda dari kebanyakan cowok lain di Eropa. Meskipun negara Skandinavia hanya Norwegia, Denmark, dan Swedia, namun Finlandia dan Islandia adalah bagian negara Nordik, yang memiliki karakter yang sama dengan ketiga negara lainnya. Tinggal di bagian utara Eropa dengan suhu yang bisa mencapai -30 derajat saat musim dingin, memang mempengaruhi karakter dan tingkah laku masyarakatnya. Orang-orang Eropa Utara cenderung lebih dingin terhadap orang asing, ketimbang orang-orang yang tinggal di kawasan yang hangat seperti Italia atau Portugal. Karena hanya mendapatkan hangatnya matahari tak lebih dari 3-5 minggu pertahun, masyarakat Eropa Utara lebih banyak menutup diri, diam, dan sedikit acuh. Tapi jangan salah, walaupun dingin dan hampa