Tinggal di Norwegia, Belajar Norsk

Tuesday, 14 August 2018



Bahasa Norwegia (Norsk) adalah bahasa resmi yang dipakai di Norwegia dengan dua penulisan yang berbeda, Bokmål (Book language) dan Nynorsk (New Norwegian). Dua-duanya mirip secara linguistik namun pada dasarnya lebih dianggap sebagai "dialek dalam tulisan". Bokmål diajarkan dan dipakai oleh 90% populasi Norwegia, sementara Nynorsk hanya dipakai oleh 10% penduduk Norwegia di bagian barat.

Sebetulnya bahasa Norwegia bukan bahasa baru bagi saya. Layaknya bahasa Nordik yang mirip-mirip, pola tatabahasa dan penulisannya seragam dengan bahasa Denmark dan bahasa Swedia. Saya sempat belajar bahasa Denmark sampai Modul 4 dan beruntungnya hal tersebut cukup membantu saat awal berkenalan dengan host kids.

Tapi meskipun penulisan bahasa Denmark dan Norwegia sangat mirip, jangan bayangkan pelafalannya. Norsk terdengar lebih masuk akal dan cocok bagi lidah orang Indonesia. Kalau bahasa Swedia dan Norwegia intonasinya seperti orang bernyanyi, bahasa Denmark lebih terdengar seperti orang mengunyah kentang panas. Belum lagi sistem penomoran bahasa Denmark yang berbeda sendiri dan terkesan lebih tidak masuk akal, karena hanya mereka sendiri yang mengerti se-Skandinavia.

Contoh pelafalan:
Tager (Dansk) - Tar (Norsk) yang artinya mengambil, dibaca Taa' (Dansk) dan Tar (Norsk).

Haven (Dansk) - Hagen (Norsk) yang artinya kebun, dibaca Hewun (Dansk) dan Hagen (Norsk).

Toget (Dansk) - Toget (Norsk) yang artinya kereta, dibaca To' (Dansk) dan Toge (Norsk).

Hvorfor (Dansk) - Hvorfor (Norsk) yang artinya mengapa, dibaca Wo'foa (Dansk) dan Wurfur (Norsk)


67

Norsk : sekstisju 
Svenska : sextiosju 
Íslensku : sextíu og sjö
Dansk : syvogtres (tujuh dan enam puluh) - tres = 60

70

Norsk : sytti
Svenska : sjuttio
Íslensku : sjötíu
Dansk : halvfjerds (baca: helfias)

Terlepas dari penulisan yang mirip dengan bahasa Denmark, saya tetap harus mulai lagi kursus Norsk dari level paling dasar (A1). Sama halnya dengan bahasa Indonesia dan Malaysia, beberapa bahasa Skandinavia juga memiliki kata-kata berbeda yang memiliki makna sama. Contohnya anak perempuan, Pige (Dansk), Jente (Norsk), dan Flicka (Svenska). Meskipun memungkinkan untuk lompat level, tapi saya tetap butuh pedoman dasar untuk berlatih dengan host kids. Lagipula gol utama saya bukan untuk naik kelas saja, tapi juga belajar kosakata dan frasa paling sederhana hingga penekanan pada intonasinya.

Sistem edukasi bahasa di Norwegia bagi pendatang asing berbeda dengan Denmark. Di Denmark, keluarga angkat saya harus membayar uang muka sekitar 5400 DKK untuk biaya kursus. Setiap pendatang yang sudah mendapatkan Social Security Number sangat disarankan untuk mempelajari bahasa Denmark di berbagai sekolah bahasa, GRATIS! Hal tersebut menjadi wajib kalau pasangan kita warga negara Denmark, karena berhubungan dengan jaminan yang dibayar oleh pasangan di balai kota sebagai izin kita tinggal.

Dari suplemen belajar sampai buku pelajaran disediakan secara cuma-cuma untuk mendukung para pendatang mempelajari bahasa lokal. Sayangnya, banyak pendatang yang tidak serius belajar bahasa Denmark dan berhenti di tengah jalan. Kabar yang saya dengar, partai anti-imigran di Denmark mulai menghapuskan free Danish course tahun ini dan mewajibkan pendatang untuk membayar deposito penuh sebagai jaminan hingga tamat sampai Modul 5. Karena tidak mendapatkan subsidi dari pemerintah lagi, beberapa sekolah bahasa swasta bahkan berencana tutup.

Kembali ke Norwegia, sekolah bahasa disini dikelola oleh swasta dan pribadi. Disini kita harus membayar 3000-6000 NOK per level dengan masa studi 1,5 bulan untuk kelas 2 kali per minggu. Belum lagi kita diwajibkan memiliki dua buku pengantar yang harga totalnya hampir 1000 NOK. Buku ini harus asli dan tidak boleh difotokopi.

Tapi, ada pengecualian untuk beberapa grup imigran tertentu yang bisa mendapatkan kursus dan training gratis selama 3 tahun. Salah satunya adalah pendatang yang memegang residence permit karena living together atau menikah dengan warga asli salah satu negara Nordik. Kursus ini memang lebih lama dibandingkan kursus di tempat lainnya karena tujuannya tidak hanya belajar bahasa, namun mempersiapkan para pendatang untuk tinggal lebih lama dan jadi warga negara tetap.

Sekolah bahasa di Norwegia tersebar di banyak tempat tergantung dengan kebutuhan kita. Ada kursus privat 1-1 untuk memperlancar komunikasi, ada juga institusi resmi yang memberikan sertifikat setelah masa pembelajaran. Bagusnya, hampir semua institusi dan kursus privat menerapkan kelas dengan grup kecil yang hanya membatasi 8-10 orang saja. Beberapa kenalan Filipina saya juga ada yang menyarankan ikut kursus daring gratis yang diselenggarakan oleh University of Oslo sebagai pengenalan.

Khusus untuk au pair di Norwegia, keluarga angkat wajib menyubsidi iuran kursus hingga 8400 NOK per tahun. Tergantung kesepakatan apakah keluarga angkat bersedia membayar lebih atau tidak, karena seperti kasus teman saya yang hanya dibiayai satu level saja lalu keluarganya angkat tangan.

Menurut saya, sekolah bahasa di Norwegia betul-betul dijadikan lahan bisnis. Dari level A1 sampai C2 (total 600 jam) dipisah-pisah dan diberlakukan iuran khusus untuk tiap level. Selesai satu level, kita mendapatkan sertifikat yang menyatakan telah selesai mengikuti 36 jam pelajaran. Normalnya, kalau ingin mendapat permanent residence, pendatang hanya wajib menyelesaikan minimal 250 jam pelajaran atau lulus tes kecakapan oral dan tertulis minimal level A2.

Untuk tes kecakapan ini pun kita harus membayar lagi. Beberapa tempat kursus bahkan menawarkan tes prepatori yang harganya juga super mahal. Jadi ya, apa-apa diduitin hanya demi lulus tes. Selain memenuhi syarat sekolah bahasa atau lulus tes, bagi yang berminat jadi permanent residence juga diwajibkan mengambil kelas Social Studies (tentang Norwegia) sampai 50 jam atau lulus tes Social Studies dalam bahasa Norwegia.

Sebetulnya kalau hanya ingin mengejar syarat 250 jam tersebut, kita bisa mengambil kelas super intensif yang kurang dari dua tahun juga selesai. Kalau punya banyak waktu dan uang, boleh juga mengambil kelas mega intensif selama 750 jam yang sudah termasuk kelas Social Studies. Harganya memang mencengangkan, 66.600 NOK! Tapi sudah selesai hanya dalam waktu satu tahun.

Saya sekarang sedang meneruskan level A1-2 di Alfaskolen, Oslo. Harga kursus per levelnya 4760 NOK. Saya tidak perlu membeli buku pengantar lagi karena sudah diwarisi oleh au pair sebelumnya. Tapi kalau memang ingin mencari yang murah, coba buka Finn.no, pusat jual beli barang second di Norwegia.

Untuk harga segitu, belajar di Alfaskolen termasuk mahal. Sudah untung tahun ini keluarga saya masih mau menanggung semua biaya A1 yang totalnya lebih dari 8400 NOK. Sebetulnya ada banyak tempat yang lebih murah di Oslo, seperti Caritas atau Language Champ yang sangat dekat dengan rumah. Sayangnya, jadwal yang cocok bagi saya dan keluarga hanya di Alfaskolen itu. Keluarga angkat saya juga sepertinya keberatan keluar uang lebih sampai tahun depan kalau saya ingin lanjut A2.

Saya masih sangat antusias belajar Norsk, tapi saya sendiri juga tidak tahu akan kemana setelah selesai kontrak. Kalau tidak berencana mencari kerja dan tinggal di Norwegia lebih lama, belajar bahasa lokal secara tekun sebetulnya hanya buang-buang waktu. Bahkan jika harus memilih, saya malah ingin lanjut belajar bahasa Denmark saja ketimbang Norsk. Daripada tahu banyak bahasa tapi sedikit-sedikit, lebih baik tahu sedikit tapi sangat fasih.

Sejujurnya, saya juga berpikir untuk menyerah belajar Norsk dan mengalihkan subsidi dari keluarga angkat ke hal lain saja. Di Kopenhagen, saya bisa dengan mudah menemukan kursus desain, keramik, hingga bahasa lain. Di Oslo, sudah di-googling kesana kemari, tetap tidak ada kursus kreatif yang menarik perhatian. Ada, Folkeuniversitetet dan Blank Space yang mengadakan. Tapi itupun tempatnya cukup jauh dan waktunya tidak tepat dengan jadwal host family saya.

"When you are about to give up, just try to keep doing it for fun," kata seorang teman.

Betul. Seperti yang sudah pernah saya ceritakan, daripada hanya manyun di rumah, lebih baik datang ke tempat kursus sekalian cari angin segar, bertemu teman baru, dan juga melatih otak. Anyway, saya juga paham kalau sebetulnya tidak ada ilmu yang sia-sia.

Kalau kamu jadi saya, would you keep learning Norwegian just for fun?


4 comments:

  1. Yes ka! Aku suka belajar bahasa ;) so why not haha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. So do I! Tapi aku udah kebanyakan belajar bahasa dan gak pernah kelar. Makanya males mulai lagi kalo udah tau endingnya gak akan kelar & fasih juga. Hehe ;)

      Delete
  2. hallo ka, saya suka banget sama alamnya norwegia saya mau banget jadi au pair di norwegia tapi ada gak sih laki laki yg jadi au pair ? soalnya setau saya kebanyakan cewe. dan untuk bahasanya kalo di norwegia itu harus ada serivikat khusus bahasa norwegia ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada au pair cowok. Kebanyakan dari Filipina. Tapi ya itu, gak gampang. Saingan kamu banyaaaak... apalagi kalo milihnya Norwegia, lapaknya orang Filipina!

      “Sertifikat”
      Gak perlu :)

      Delete