Janteloven: Belajar Humble dari Orang Norwegia

Wednesday, 24 June 2020



Minggu lalu, saya ikut servis bimbingan dan konseling karir dari kampus secara gratis selama 45 menit. Di sini, kita bisa konsultasi bagaimana cara menulis CV, surat lamaran kerja, latihan wawancara in a Norwegian way, serta bertanya kira-kira pekerjaan seperti apa yang cocok selepas lulus kuliah. Karena memang ingin minta pendapat bagaimana mapping semua kompetensi saya ke dalam CV yang panjangnya hanya 1-2 halaman, maka fokus saya saat konseling hanya di bagian tersebut.

Yang menarik, konselor menggarisbawahi cara saya menulis daftar pendidikan terakhir pada CV. Sebetulnya isi dan strukturnya sangat standar mirip CV lain yang sering orang buat. Di bagian pendidikan terakhir, saya menuliskan nama kampus terlebih dahulu, lalu jurusan kuliah di bawahnya. Namun, cara ini ternyata dipandang konselor kurang tepat in a Norwegian way.

"You know what, there are almost 30.000 students at the University of Oslo and the way you wrote this down doesn't make you special," katanya saat itu. Waduh! "Sebaiknya kamu tulis nama program studi di bagian paling atas, lalu nama kampusnya di bagian bawah," tambahnya lagi.

Meskipun tidak ada aturan baku apa yang harus ditulis duluan di CV, tapi yang saya tangkap dari konselor tersebut lebih menunjukkan bahwa jangan dikira lulusan Universitas Oslo, saya lebih baik dari orang lain. Dari sini juga terlihat bahwa mentalitas orang Norwegia masih sangat dipengaruhi oleh 11 aturan hidup yang ada di dalam Janteloven.

Janteloven sebetulnya adalah sebuah konsep yang dibuat oleh penulis Denmark-Norwegia bernama Aksel Sandmose, yang di dalam novelnya 'En Flyktning Krysser Sitt Spor' (A Refugee Crosses His Tracks), 1933, mengidentifikasikan Janteloven sebagai 11 aturan hidup. Di novel tersebut, Jante digambarkan sebagai kota kecil yang ada di Denmark, sementara 'lov' dalam akar bahasa Nordik berarti hukum; atau Hukum Jante.

Ada 11 aturan ditulis oleh Sandmose yang secara homogenik mengacu kepada sifat rendah hati; kamu tidak lebih baik atau spesial dari orang lain. Sebelas aturan tersebut adalah:

1. Anda tidak boleh berpikir bahwa Anda itu spesial.
2. Anda tidak boleh berpikir bahwa Anda sama baiknya dengan kami.
3. Anda tidak boleh berpikir bahwa Anda lebih pintar dari kami.
4. Anda tidak boleh meyakinkan diri sendiri bahwa memang lebih baik dari kami.
5. Anda tidak boleh berpikir bahwa Anda lebih dari tahu dari kami.
6. Anda tidak boleh berpikir bahwa Anda lebih penting dari kami.
7. Anda tidak boleh berpikir bahwa Anda pandai dalam semua hal.
8. Anda tidak boleh menertawakan kami.
9. Anda tidak boleh berpikir bahwa kami peduli terhadap Anda.
10. Anda tidak boleh berpikir bisa mengajarkan kami semua hal.
11. Anda tidak boleh berpikir bahwa tidak banyak hal yang kami tahu tentang Anda.

Meskipun aturannya terlihat sangat kejam dan memaksa untuk tetap rendah diri, namun konsep tersebut memang sangat erat kaitannya dengan nilai hidup egaliter antar kehidupan bermasyarakat di negara-negara Nordik, khususnya Norwegia. Pesan moral yang disampaikan lebih menitikberatkan pada diri sendiri untuk tidak gampang menyombongkan diri, terlalu berlebih menjadi point of attention, ataupun terlalu pamer soal pencapaian dan bakat. Tak heran karena equality atau classless merupakan nilai hidup yang menjadi basis kehidupan sosial di negara Nordik. Contoh paling nyata bisa dilihat pada budaya kerja di Norwegia dimana struktur kerja sangat hambar tanpa hierarki, dengan mengedepankan kerja tim dalam menyukseskan perusahaan. 

Lalu apakah semua orang Norwegia sangat rendah hati dan tidak sombong? Tentu tidak! Di Norwegia, ada banyak yang anti-Janteloven karena merasa aturan ini akan membunuh rasa percaya diri. Orang-orang tidak akan punya gol besar dalam hidup karena merasa tidak lebih baik dari orang lain. Dalam bekerja pun, hidup harus punya milestones yang tinggi untuk mencapai kesuksesan karir. Kalau sedikit-sedikit sudah rendah diri, orang akan cepat puas dan keputusan untuk tidak ingin 'lebih dari orang lain' bisa memangkas jalan yang mungkin bisa mengantarkan ke kesuksesan yang lebih besar.

Kalau ingin bicara pengalaman, tinggal selama hampir 2 tahun dengan keluarga kaya raya serta bergaul dengan anak-anak muda Norwegia membuat saya sangat percaya bahwa Janteloven memang hanya dimengerti orang lokal. Contohnya keluarga Norwegia saya yang dulu, dari potongan pakaian dan mobil yang mereka gunakan mungkin terlihat biasa saja bagi crazy rich Asians. Saya tidak pernah melihat host mom memakai perintilan heboh dengan label terkenal yang terpampang jelas seolah-olah ingin menunjukkan mereka punya banyak uang. Tapi kalau ingin bicara soal properti, gaya hidup, serta mindset, orang Norwegia asli sudah tahu keluarga ini memang kaya raya tanpa harus punya Ferrari lebih dulu. 

Sama halnya dengan satu dua kolega saya di kantor yang memang jelas-jelas anak orang kaya. Suatu kali mereka cerita dengan lugasnya bahwa liburan panas kali ini hanya akan dihabiskan dengan leye-leye di pulau pribadi sekalian jalan-jalan menggunakan kapal pesiar di laut lepas. Tapi dari tone bicaranya, saya tahu tujuan mereka cerita bukanlah untuk pamer. Bagi mereka, yang punya pulau pribadi dan kapal pesiar di Norwegia ini tidak hanya mereka sendiri. Lucunya lagi, di akhir obrolan mereka menambahkan cerita soal hidup miskin di penghujung 20-an yang belum juga dapat income tetap.

Lalu saya coba bandingkan dengan para imigran yang baru punya gaji lumayan di Norwegia. Gaya mereka selangit, bicara soal kekayaan duluan, dan mobilnya pun harus Tesla keluaran terbaru meskipun masih menyewa apartemen sempit. Seorang teman sekelas saya orang Pakistan, kadang menyelipkan cerita soal 2 mobil mewahnya serta tas-tas Burberry dan Hermes yang dijadikan investasi. Mungkin memang tidak bermaksud sombong dan hanya jadi bahan informasi, namun hal yang terlalu membanggakan diri sendiri inilah seringkali dinilai berlebihan dalam kehidupan bermasyarakat di Norwegia.

Saya sendiri sebetulnya sangat terinspirasi dari Janteloven dan yakin bahwa hidup berlebihan itu memang tak perlu. Mungkin kalau di Indonesia bisa dikatakan, di atas langit masih ada Hotman Paris. Yang artinya bahwa ingin sesombong-sombong apapun kita, masih ada orang lain yang pastinya lebih kaya dan lebih mampu. Lagipula, sudah terbukti bahwa biasanya orang kaya dan pintar berpenampilan semakin biasa saja tanpa perlu adanya pengakuan dari orang lain.

Meskipun mentalitas seperti ini lebih bisa dipahami oleh orang Norwegia yang hidupnya sudah equal, namun tak ada salahnya untuk menjadi rendah hati dimana pun kita berada. Because you are not better than us! Walaupun, saya sendiri sepakat bahwa untuk mencapai kesuksesan, kita tetap harus percaya diri bahwa bisa melakukan sama seperti yang orang sukses lain lakukan!

Apa pendapat kalian tentang Janteloven



11 comments:

  1. menarik ya, tapi masuk akal sih. ada pepatah "musuh terbesarmu adalah dirimu sendiri" kalo pepatah itu dimasukan ke Janteloven ini jadinya cocok. Kita memang tidak bisa berpikir kalo kita itu lebih xxx dari orang lain, karena yang kita taklukan bukanlah orang lain, tapi diri sendiri. untuk yang bilang kalo paham ini buat jadi tidak berambisi, cita-cita tinggi, atau percaya diri. Nah, disini menariknya. Apa standarnya seseorang itu tidak berambisi? cita-cita yang bagaimana yang tinggi? orang percaya diri itu yang seperti apa sih? Kalo pakai standar "dunia/materi" sih biasanya yang punya barang ini-itu, punya usaha, jadi CEO, jadi pembicara, dsb. Lalu, apakah standar/pembanding itu yang benar? Jadi yang perlu diliat juga adalah apa standar nya seseorang itu xxx. dan SERING nya, standar kita tidak sama dengan orang lain. Akhirnya balik lagi ke prinsip Janteloven ini, "saya tidak boleh berpikir bahwa standar saya lebih baik dari orang lain" :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku pernah baca kalo salah satu entrepreneur di Norwegia adalah salah satu yang anti-Janteloven. Si ibu ini menganggap, kenapa sampe sekarang dunia entrepreneur di Norwegia tidak se-booming negara Skandinavia lainnya, karena orang2 Norwegia masih nurut banget sama aturan hidup ala Janteloven. Gak mau berusaha membangun perusahaan sendiri karena merasa gak akan lebih baik dari orang2 lainnya. Jadinya kalo mulai sesuatu tuh maju mundur, gitu, lho.

      Karena sudah kaya raya, kayaknya standar Norwegia biasanya akan dibandingin sama standar negara Skandinavia lainnya sih ya 😇 contohnya si ibu yg bandingin Norwegia & negara2 Skandinavia lainnya di atas. Saat Swedia, contohnya, sangat mendukung pertumbuhan lapak entepreneur sampe booking, di Norwegia yang udah punya sumbernya, malah stagnan :)

      Delete
  2. Wah kebetulan bgt kak nin, kemarin habis baca tentang janteloven. Keren 😊
    Mungkin janteloven adalah sebuah rambu2 kehidupan.
    Rambu2 bagi orang yang jumawa dan over confidence. Bahwa pada dasarnya di atas langit masih ada Hitman paris #eh 😁 jadi ikut2an kak nin hehehhe
    Tapi bagi seseorang yang tidak percaya diri dan terlalu pesimis terhadap dirinya sendiri maka mungkin dia harus mencari rambu2 kehidupan lainnya.
    Paham janteloven bagus menjadi rambu2 kehidupan hedonis,sok pinteris, dan sombongis hehehe 😁😁😁🙏

    ReplyDelete
    Replies
    1. Janteloven emang bagus sih, tp yang cuma ngerti emang masyarakat Nordik kayaknya. Abisnya kalo diterapkan di Indonesia, gak akan kena. Kenapa, karena masih ada kelas dalam kehidupan antara si kaya & si miskin. Makanya persaingan pun kenceng banget antara si bodoh kaya vs pinter miskin. Kalo terus2an rendah diri, gak akan berhasil kayaknya di Indonesia 😅 Insecure malah yang ada.

      Delete
  3. Menarik ya filosofinya...sedikit mirip filosofi timur yang ala Zen begitu menurutku. Padahal negara Barat. Ya konsekuensinya ambisi individu jadi dikurangi...

    ReplyDelete
  4. ya Allah nih, aku sering banjir air mata loh, pas baca karya jostein gaarder karena tokoh cowoknya yang sangat baik penyabar dan rendah hati .. takjub banget ma tuh karakter .. tapi ternyata tokoh novel dalam buku gadis jeruk itu adalah cerminan dari cowok cowok norwegia .. subhanallah banget ya, aku nemuin akhlak islam dalam diri mereka ...uuuh jadi mau punya suami dari sana ga papa deh ga romantis atau berassal dari desa asalkan bisa menjadikanku menjadi pribadi yang lebih baik pastinya dengan izin Allah hehe #ngehayal tingkat tinggi wkwkwkkw

    ReplyDelete
    Replies
    1. Akhlak Islam nih maksudnya yang gimana ya? 😅😅

      Kalo maksud kamu rendah hati, gak sombong, gak neko2, ya itu mah terbentuk karena budaya, bukan agama. Justru orang2 Norwegia hidup tenang damai meskipun gak punya aturan tertulis dari kitab suci, misalnya.

      It’s a tough work kalo kamu pengen nyari 100% bule Norwegia yang mau convert ke Islam lalu bener2 jadi pribadi relijius seperti yang kamu pengen. Yang ada, justru mereka gak perlu agama untuk tetep jadi pribadi yang baik :) At the same time, orang2 Islam dgn background non-Norwegia yang tinggal di sini contohnya, kelakuan malah gak jelas 😆

      Delete
  5. blog kamu bikin imajinasiku berkambang dan jadi lebih banyak ide buat dituangin ke dalam tulisan ..thank youuu gelius ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. That’s totally fine untuk berkhayal dan berimajinasi :) Tapi jangan sampe mengaburkan fakta ya. Hihi.. ✌🏽

      Delete
  6. Oke nin .. tak inget pesanmu untuk tidak mengaburkan fakta wkwk. Maksudku tuh ada akhlak islam itu yang mereka memiliki akhlak yang islami hihi walau aku tahu mereka bukan beragama islam ... ini lebih kepribadian mereka yang baik, meski mereka bukan muslim ... rendah hati, tidak merendahkan orang lain dan sifat sifat baik mereka itu ada diislam walau mereka non muslim ... mungkin bagi kamu itu budaya mereka, tapi bagiku aku menemukan kepribadian seorang muslim yang sesungguhnya dalam diri mereka, walau mereka bukan muslim.. maaf yang nin kalau menyinggung.. seperti kata seseorang yang aku lupa siapa namanya, dia mengatakan kuranglebih begini "aku tidaj menemukan islam ketika berada timur tengah meski mayoritas orangnya beragama islam tapi aku menemukan islam ketika berada di eropa karena ada nilai-nilai islam yang diterapkan disana .. jujur, adil, patuh hukum dll .. pokoknya semua nilai nilai baik dalam negara tersebut.. begitupun dengan orang norwegia yang memliki akhlak yang meyoritas baik ... pokoknya itu penilaianku sebagai individu aja sih 😆😆 jan tersinggung ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama sekali gak tersinggung :)
      I completely got your point kok. Aku juga paham maksud kamu. Di sini temen juga ada yg tinggal sama orangPakistan Muslim dari lahir, tapi attitude mereka sama sekali gak kek yang diajarkan banyak agama. Ehh giliran mereka pindah ke keluarga asli Eropa yang gak percaya sama sekali dengan agama, justru mereka diperlakukan lebih baik, lebih manusiawi, dan lebih terpuji.

      Somehow kadang berpikir.. tanpa agama pun, orang banyak yang lebih bermoral dan tau bagaimana memanusiakan manusia 😀

      Delete