Biaya Hidup (baca: Belanja) di Denmark

Friday, 23 December 2016



Denmark memang negara mahal, lebih mahal dari biaya hidup di Belgia dulu. Tapi entah kenapa, saya merasa Kopenhagen lebih hidup ketimbang Brussels. Dari atmosfir tempat nongkrong, banyaknya arsitektur keren, hingga orang asing yang berstatus pelajar hingga pekerja memenuhi sudut Kopenhagen menjadikan negara ini lebih internasional.

Ketimbang Kopenhagen, sebenarnya Aarhus lebih cocok disebut sebagai kota pelajar. Banyak mahasiswa Indonesia yang tinggal di Denmark pun sebenarnya kuliah di kampus Aarhus. Tapi karena banyak kampus keren seperti KU (University of Copenhagen), DTU (Technical University of Denmark), KADK (Royal Danish Academy of Fine Art), CBS (Copenhagen Business School), atau KEA (Copenhagen School of Design and Technology) berlokasi di sekitar area Kopenhagen, makanya kehidupan anak muda di kota ini terasa lebih seru. Well, might be because I'm a city person.

Setahun lebih tinggal di Denmark, saya masih sedikit amazed betapa mahalnya negara ini. Herannya, meskipun mahal dari banyak hal, saya malah tambah kalap belanja, jajan di luar, hingga nonton tiap bulan.

Fakta Tentang Bahasa Denmark

Wednesday, 21 December 2016



Wohooo.. Sudah nyaris satu tahun yang lalu saya membuat postingan tentang bahasa Denmark, tahun ini saya sudah masuk Modul 4. Apa yang menarik dari modul ini? Pelajaran tata bahasa makin sulit, tapi saya belum bisa juga bicara dengan baik.

Di kelas saya, mayoritas siswanya memang nyaris 90% bisa berbahasa Inggris dengan lancar. Daripada capek-capek memikirkan kata per kata dan menyusun hingga jadi kalimat dalam bahasa Denmark, saya dan mereka keseringan berganti ke bahasa Inggris saja. Jadi bisa dibayangkan betapa beratnya perjuangan siswa kelas saya di bagian speaking bahasa Denmark ini.

Teman-teman au pair ataupun non-au pair yang dulu sempat mengambil kelas bahasa Denmark, banyak yang memutuskan menyerah. Begitu pun juga saya. Meskipun sempat up dan down menyusun mood datang ke sekolah, akhirnya saya putuskan untuk kembali datang ke kelas menemui teman-teman seperjuangan. Semakin dipelajari, semakin banyak fakta menarik soal bahasa bangsa Viking ini.

Guide Untuk Para Calon Au Pair

Friday, 16 December 2016



Kepada para pembaca blog saya yang tertarik menjadi au pair, terima kasih!

Karena banyaknya surel dan pertanyaan tentang au pair, saya merasa perlu membuat satu postingan lain demi menjawab rasa penasaran pembaca. Mungkin juga kalian tertarik untuk membaca hal-hal yang harus diketahui sebelum memutuskan jadi au pair ataupun tips seputar au pair? Atau mungkin juga merasa tertantang untuk jadi au pair di usia 20an, baca juga cerita saya disini.

Saya tidak akan membahas apa itu au pair ataupun tugas-tugasnya, karena yang membaca postingan ini saya percaya sudah berminat menjadi au pair dan minimal tahu sedikit. Meskipun sudah ada minat keluar negeri dan menjadi au pair, banyak juga yang masih bingung harus mulai dari mana. Ada juga pertanyaan apakah mesti pakai agen atau tidak, hingga pertanyaan soal negara mana saja yang memungkinkan peluang kerja atau kuliah setelah masa au pair selesai.

Oke, tenang! Saya mencoba menjabarkan lagi hal yang saya tahu demi menjawab rasa penasaran para calon au pair Indonesia. I hope it could help you more!

REYKJAVÍK: Menelusuri Kota Sepi Bergaya Eropa Klasik di Akhir Pekan

Sunday, 11 December 2016



"Kamu jadi pergi ke Irlandia? Eh, yang terkenal dari sana apa sih?" tanya seorang kenalan. "Westlife!" jawab saya.

"Kak, jadi pergi ke Sislandia?" tanya Rika, beberapa saat setelah melihat status terbaru saya di BBM. "Hah? Emang ada di peta?" tanya saya balik.

ISLANDIA, sodara-sodara! Saya liburan ke Islandia, bukan ke kedua tempat yang Anda sudah sebutkan. Seriusan, saat saya menyebutkan Reykjavík, banyak yang tidak tahu dimana letak kota ini berada.

Dari letak geografisnya pun, banyak yang bingung, negara ini masuk bagian Eropa atau tidak. Apakah visa Schengen bisa digunakan atau mesti apply visa baru. Iya bisa. Islandia masuk bagian negara Nordik yang letaknya paling utara Eropa. Karena masuk salah satu negara Schengen, tidak perlu lagi apply visa baru untuk datang kesini.

WARSAWA: Menemukan Tempat Terbaik di Area Miskin Turis

Thursday, 1 December 2016


Setelah menghabiskan waktu seharian penuh bergumul dengan turis di area Old Town, akhirnya saya sepakat untuk selesai berpadat-padat ria di pusat kota di hari kedua. Teman Belgia saya, Mittchie, yang juga ikut travelling kali ini, juga sepakat mengikuti kemana arah langkah kaki saya saja.

Meskipun kebanyakan turis mendatangi Warsawa untuk menelusuri jejak perang dunia, saya dan Mittchie sepertinya tidak terlalu tertarik. Kami pun mencoret habis-habisan daftar museum sejarah saat berada di Warsawa. Saya termasuk yang super lelet bangun menikmati keindahan kota, lebih sering berleye-leye di kafe, dan terlalu santai berjalan-jalan menikmati setiap detail yang menarik perhatian.

Boleh jadi saya datang ke area pusat kota, mencicipi makanan khas lokal di restoran yang penuh turis, tapi tidak selamanya saya harus berpegang teguh dengan apa yang tercantum di Trip Advisor. Kecuali saya memang datang ke Polandia untuk belajar sejarah, then the case could be different.

NOODLE STATION: Tempat Makan Terbaik di Mahalnya Reykjavík

Monday, 21 November 2016


Untuk urusan perut saat travelling, saya cukup yang tidak ingin ambil aman. Saya tidak terburu-buru mencari Mekdi ataupun Subway terdekat hanya karena murah. Daripada menyerah dengan burger asal Amerika, saya malah ke supermarket mencari buah, yoghurt, ataupun mie instan kalau sedang kehabisan uang dan tidak bisa mencicipi makanan lokal. Don't get me wrong! I do love burger and fries, but show me the local ones please ;)

So, what I always do before travelling? Always study place to eat beforehand!

Di pusat kota Reykjavík, saya tidak menemukan makanan cepat saji semisal Mekdi, Subway, maupun rekan-rekannya. Bagus! Seputar area downtown Reykjavík, saya hanya melihat restoran lokal khas Islandia, masakan oriental, ataupun hotdog terenak yang kata orang sangat recommended!


Sebelum ke Islandia, saya memang sudah membaca reputasi bagus bar soup di daerah Laugavegur, Noodle Station. Beruntung sekali, hostel yang akan saya tempati hanya 2 menit jalan kaki dari tempat ini. Selain mendapatkan predikat "The Best Spot" untuk harga makanan termurah di Reykjavík, rasa sup mie-nya pun super enak!

Terbang Layaknya Bos dengan WOW Air


Dua minggu sebelum ide ke Islandia muncul, Louise mengabarkan kalau keluarga mereka akan menghadiri ulang tahun seorang keponakan di Jumat malam. Artinya, mereka tidak akan ada di rumah setelah jam 5 sore dan tentunya saya bisa liburan. Hore!

Sejak saat itu, otak saya sudah mulai berpikir, "ayo kemana lagi ini, Nin? Kapan lagi bisa liburan dari Jumat? Menghabiskan akhir pekan selalu di Kopenhagen rasanya terlalu membosankan. Ujung-ujungnya juga nongkrong di bar, curhat soal cowok Denmark, atau mengeluh soal repetisi yang selalu dilakukan di Sabtu malam. Aduh, begitu saja terus!"

Iseng-iseng saya mengecek beberapa tiket keberangkatan termurah ke beberapa negara di akhir pekan. Jerman? No. Lithuania (lagi)? No. UK? Kan pake visa. Scrolling.. scrolling.. scrolling! Akhirnya saya putuskan menuju Reykjavík, ibukota Islandia, sebagai tujuan weekend getaway.

Hanya ada dua maskapai penerbangan dengan waktu terbang tercepat menuju Reykjavík dari Kopenhagen, WOW Air dan IcelandAir. Harga tiket pulang pergi WOW Air saat itu 1058DKK ( sekitar 120,78GBP atau €142). Mahal gila! Emang!!

PRAHA: Liburan Dari Kafe ke Kafe

Wednesday, 16 November 2016


Setelah memutuskan memilih negara-negara murah di Eropa tengah untuk liburan musim panas, saya sudah mewanti-wanti seorang teman untuk memasukkan Praha sebagai kota terlama yang akan kami kunjungi. Teman Belgia saya, Mittchie, juga setuju kalau kami memang wajib mengunjungi Praha lebih lama.

Praha, ahh little sister of Paris, katanya. Mulai dari distrik Letna yang kalem, trekking ke bukit hingga sampai di Metronome dan melihat keindahan Praha dari ketinggian, TV Tower, hingga banyaknya bangunan warna-warni didominasi warna oranye yang manis.

Tapi saya sebal kalau hanya menyusuri Praha dari Old Town saja. Sama seperti halnya Paris, turis di Praha juga selalu memenuhi daerah pusat kota. Saya bosan tiap jalan beberapa meter selalu saja menemui aktor dan aktris K-Pop KW 3. Seriusan, mereka ada dimana-mana!

Oke, karena saya dan Mittchie juga tidak terlalu suka sightseeing dan berkumpul dengan turis, akhirnya kami putuskan memasukkan agenda wisata kuliner di Praha. Ketimbang memilih tempat makan di area turistik, saya sedikit memaksa Mittchie untuk mengikuti saya mencari tempat makan hingga ke distrik luar pusat kota Praha. 

7 Pelajaran Fashion dari Gadis-gadis Eropa

Monday, 7 November 2016


Dari sejak saya masuk SMP, ibu saya sudah mulai mengenalkan ke banyak majalah remaja seperti Gadis atau Kawanku yang isinya sebagian membahas tren fashion. Sungguh menyenangkan melihat gaya-gaya para model majalah yang menggunakan pakaian remaja khas tren anak muda zaman dulu, karena super inspiratif dan membuat saya belajar menemukan gaya saya sendiri. Dulu saya suka sekali memakai pakaian vintage atau model asimetris yang terkesan unik dan beda.

Setelah 10 tahun membaca majalah remaja Indonesia, saya sadar ternyata gaya-gaya yang ada di majalah kita lebih banyak dipengaruhi fashion Amerika. Dari yang tabrak motif sana sini, berani pakai warna terang, hingga make up bold. Belum lagi saat K-Pop mulai booming di Indonesia, banyak remaja ikut-ikutan fashion Korea yang lebih cute dan manis. 

Hijrah ke Eropa dua tahun lalu, saya mulai meninggalkan kebiasaan membaca majalah fashion Amerika dan berhenti memperhatikan K-Pop. Saya begitu kagum ketika tahu orang-orang Eropa memiliki selera fashion yang berbeda dengan orang Amerika dan Asia. Bepergian ke banyak negara di Eropa juga membuka mata saya untuk melihat dan membandingkan gaya berpakaian gadis-gadis di Eropa Barat, Utara, Selatan, dan Timur. Bagi saya, gaya orang Eropa itu, simple yet elegant. Kalau pun ada yang nyeleneh, tetap terkesan edgy tanpa terlihat berlebihan.

8 Ways How to be a Dane

Tuesday, 1 November 2016



Danes are the happiest creatures on earth, people said. I know, the starter is so mainstream, but that's all that I can think right now. Living for a year and (still) more with Danish family opens my mind and eyes to know their culture better. In my opinion, Danes are happy because they know how to manage time between working and having fun at the same time. They are laid-back towards life, have a strong connection with their old friends, and enjoy the comfort of how Denmark gives them.

Danes love their country so much! I know, some Danes hate to be Danes and sometimes want to be judged as an international person by foreigners. But don't get me wrong, they still love the privileges of Denmark system that they're hard to refuse (even living far far away now).

If we're living in Denmark and thinking of being a local, the key point is learning Danish first. Trust me, even Danes would think we are part of them if we could say some phrases in their language. Even your face is so Asian, like me, normally they still speak Danish to you. Unless you excuse yourself to do not speak Danish, they keep asking and talking in Danish after your short attempt like "Ja, tak" or "Jeg skal ha' en kop chai latte".

5 Alasan Kenapa Musim Gugur Adalah Musim Terbaik

Tuesday, 25 October 2016


Bulan Oktober hampir selesai, tapi masih ada satu bulan lagi sebelum musim gugur tergantikan magisnya musim dingin. Meskipun lahir di musim semi, tapi saya suka hembusan semilir angin dingin-dingin empuk dan dedaunan garing yang hanya ada di musim gugur. Berikut lima alasan mengapa saya menyukai musim gugur dan kamu juga harus menyukainya!

1. Musim paling berwarna sepanjang tahun


Walaupun negara terbaik menikmati musim gugur adalah Kanada, namun beberapa jenis pepohonan yang ada di Eropa juga mulai terlihat cantik berganti warna di pertengahan musim. Mata kita yang tadinya teduh dan sejuk melihat pepohonan hijau di musim panas, menjadi lebih syahdu dan hangat ketika melihat hijaunya daun tergantikan warna merah, kuning, dan cokelat, hingga akhirnya gugur dan memenuhi tanah. Makna epiknya, entah kenapa sesuatu yang mati justru terlihat indah. Musim gugur juga mengajarkan kita untuk merelakan sesuatu yang memang harusnya pergi hingga tergantikan lagi yang baru. Heart struck!

Best Cute Coffee Shops in Copenhagen

Sunday, 2 October 2016


Danes are heavy alcohol drinkers at night, but slowly coffee sipper during the day. They know how to make quality time with friends, families, the loved ones, or even dates, just by a cup of coffee. Not only with companies, I've spotted some loners also enjoy their hygge-time with Macs or books in the middle of cafés.

To be honest, I'm not a fan of coffee. Instead of ordering coffee with the latte, I will choose chai latte as always. But, what's the real fun of sipping my chai latte in town while I can make it at home all the time? Well, it's about tasty dishes, latte art, plush armchairs and a relaxed atmosphere with locals!

The fundamentals of good coffee shops can be many. But Copenhagen's best ones must undoubtedly be something special to beat an unusually strong field of cool coffee shops and glorious fun spots. The best coffee in town is probably what coffee lovers looking for. But since I'm not, I always try to go to places where I can sip my chai and wrapped by their cozy yet cute interiors. If you also consider design as part of temptation, check these cutest spots among others in Copenhagen for your next Instagram posts. Visit one (or more) of the following coffee shops and get an experience with Danes!

Berniat Pacaran dengan Cowok Skandinavia? Baca Ini Dulu!

Friday, 23 September 2016



"Semua cowok itu sama!"

No! Tunggu sampai kalian kenalan dan bertemu dengan cowok-cowok tampan namun dingin di Eropa Utara. Tanpa bermaksud menggeneralisasi para cowok ini, ataupun mengatakan saya paling ekspert, tapi cowok Skandinavia memang berbeda dari kebanyakan cowok lain di Eropa. Meskipun negara Skandinavia hanya Norwegia, Denmark, dan Swedia, namun Finlandia dan Islandia adalah bagian negara Nordik, yang memiliki karakter yang sama dengan ketiga negara lainnya.

Tinggal di bagian utara Eropa dengan suhu yang bisa mencapai -30 derajat saat musim dingin, memang mempengaruhi karakter dan tingkah laku masyarakatnya. Orang-orang Eropa Utara cenderung lebih dingin terhadap orang asing, ketimbang orang-orang yang tinggal di kawasan yang hangat seperti Italia atau Portugal. Karena hanya mendapatkan hangatnya matahari tak lebih dari 3-5 minggu pertahun, masyarakat Eropa Utara lebih banyak menutup diri, diam, dan sedikit acuh.

Tapi jangan salah, walaupun dingin dan hampa, orang-orang yang tinggal di kawasan utara Eropa biasanya hidup lebih makmur dan kaya. Manusia terganteng dan tercantik seantero Eropa pun masih melekat dengan imej cowok-cowok tinggi berambut pirang dan bermata biru di Swedia.

Sementara Norwegia, merupakan negara kaya dengan perpaduan kecantikan cewek-ceweknya yang bertubuh tinggi langsing. Denmark dengan penduduk terbahagia di dunia dengan gaya hidup yang santai. Sementara Finlandia, negara kelahiran Nokia dengan cowok-cowok maskulin yang pandai membangun rumah.

Lalu bagaimana kalau ternyata kita terlanjur punya hati dengan para makhluk kece ini? So, girls, you want to date Scandinavian guys?

Mewahnya Penerbangan Internasional Kelas Bisnis Singapore Airlines

Sunday, 18 September 2016


Bermula dari niat yang belum ingin pulang kampung ke Indonesia, tiba-tiba saya dikagetkan dengan kiriman tiket pesawat dari kakak yang ada di Palembang. Sebelumnya memang beliau sudah tahu kalau saya masih beralasan tidak punya uang untuk pulang. Namun karena rasa sayangnya (uhukk), sebulan sebelum keberangkatan saya sudah dikirimi tiket pesawat yang tidak tanggung-tanggung, kelas bisnis!

Maskapai yang dipilihnya pun bukan maskapai sembarangan, Singapore Airlines. Saya yang kere ini, harus kaget ketika tahu berapa harga tiket pergi yang harus beliau bayar melalui tagihan kartu kreditnya. Perbedaannya bisa sampai 4 kali lipat dari tiket kelas ekonomi.

Which One For You: Living in the Big City, Suburbs, or Countryside?

Thursday, 28 July 2016


When writing this article, I'm admittedly hungry and craving for Ramen. It's been over a month since I've never eaten out with my girls again. We're totally busy with new boyfriends, summer vacation, working, and also another reason we never talk honestly. Longing for spending some money to dine out, makes me getting bored of something in the refrigerator. It always ends up with salmon (and salmon). Duh!

So what to do with Ramen? Yes, because Japanese restaurant does only exist in Copenhagen and I'm living about 11 km away. Sadly, I had to be forlorn just eating cereal tonight.

Although I can call the restaurant and ask for delivery, but the area where I live is too far away. The average food can be delivered is only pizza or sushi around here. All right, so this the fate living in the suburbs.

Sort of experiences of living in big cities, suburbs, and had also lived in the countryside for 7 months in Belgium, allow me to make a comparison of the ups and downs of living in these areas. Although every country and city can't be equated, but as a generalization, this is what the pluses and minuses that I've ever felt.

I Never Can Make Friends with Danes

Thursday, 21 July 2016


November last year, when I returned to Belgium and waited for a train to Brussels from Charleroi, I sat in the empty chair next to an old man in the lobby. The old man was ready to open his lunch box, when I glimpsed, they were bread and bacon. Hose ten minutes later, the old man suddenly greeted me with a friendly smile, "Bonjour, madamoiselle." I turned toward him and inevitably greeted back with a stiff smile. From that time, the conversation with the old man began.

The old man was initially asked about my origins in French. But since I already stammered to answer the question, finally the old man is willing to change to Dutch. (FYI, I learned Dutch and French when I was in Belgium.) Unfortunately, he did not stop babbling and made his meal spurting everywhere. Like a police inspector (or might be just try to be nice), randomly I asked about his life then get an answer by turned lonely after being left by his wife. The longer, this old man also spoke in louder voice, disturbing enough for people sitting behind us. Funnily, he just laughed and didn't really care what people (and I) felt.

When I sat on the train to Brussels, I realized that the average Belgians are more warm and friendly indeed. Although some Europeans generally don't like small talk, but they also don't hesitate to say hello to a stranger. When talking with strangers, they are like have strong intention to join into conversation. Especially the elder ones who are mostly mournful.

COPENHAGEN: Place for Going Out and Design Lovers

Tuesday, 19 July 2016


Came to Copenhagen about a year ago, I was a bit skeptical with this tiny city. What Copenhagen have beside the landmark colorful port? I had asked a local guy in Tinder and he just replied firmly, "depends on what do you want. Check out those plenty of bars!" Okay, bars are everywhere I guess.

Like any other capital cities in Europe, Copenhagen also has lots of museum and some sightseeing places (where I think a bit boring). I actually don't really like museums and any ancient building like castle or old church. What I enjoy is visiting places where the locals are, mingling with them while relaxing, and not always have to check must-visit box all the time.

Almost a year, back and forth Herlev-Copenhagen, I realized Copenhagen is totally monotonous. Since my place only have buses going to Nørreport Station, so this is the most comfortable route I prefer to catch the town. But, this is also tremendously tedious by stopping in Norreport station or Strøget, strolling along the pedestrian until Kongens Nytorv and say hello again to Nyhavn, where is always crowded by tourists.

Back to the answer of Tinder guy, actually Copenhagen provides enough enjoyable things we want. However, the pleasures itself sometimes still boring when all you can do every weekends just shopping, watching box office, or bar crawls (yes, this is the right place indeed!).


Pilih Mana: Tinggal di Kota Besar, Pinggir Kota, atau Pedesaan?

Monday, 4 July 2016


Saat menulis tulisan ini, sebenarnya saya sedang lapar dan ngidam ramen. Sudah lebih dari sebulan ini saya memang absen makan di luar bersama teman geng karena sedang berpuasa. Rindu sudah lama tidak makan di luar, membuat saya mulai bosan isi makanan dalam kulkas. Duh!

Lalu apa hubungannya dengan ramen? Iya, karena restoran ramen cuma adanya di Kopenhagen, akhirnya saya harus manyun makan sereal dulu malam ini. Walaupun bisa delivery, tapi ternyata daerah tempat saya tinggal terlalu jauh dari restoran mereka. Makanan yang bisa diantar rata-rata hanya pizza atau sushi di sekitar sini. Nasib tinggal di pinggiran kota ya beginilah.

Mengurut dari pengalaman tinggal di kota besar, pinggir kota, dan sempat juga tinggal di pedesaan selama 7 bulan di Belgia, membuat saya bisa membuat perbandingan tentang suka duka tinggal di daerah tersebut. Walaupun setiap negara dan kota tidak bisa disamakan, namun secara generalisasi, beginilah plus dan minus yang pernah saya rasakan.

Tinggal di kota besar 



Plus:
1. Kemudahan dan kecepatan dalam menerima informasi.
2. Transportasi publik beroperasi lebih lama dan bervariasi; contohnya Metro atau tram yang hanya ada di ibukota ataupun kota besar lainnya.
3. Banyaknya tempat makan dan nongkrong yang hip.
4. Suasana yang lebih hidup dan berwarna.
5. Banyak festival dan konser yang hanya digelar di kota besar.

9 Alasan Positif Mengapa Harus Ikut Kegiatan Sukarelawan

Friday, 1 July 2016




Baru-baru ini, akhir pekan saya harus tergadaikan karena diisi dengan acara ataupun festival yang ada di Kopenhagen dan area sekitarnya. Bukan dengan sengaja datang sebagai peserta atau penonton, tapi bekerja sebagai sukarelawan di acara tersebut. Iya, bahkan akhir pekan pun saya memutuskan untuk tetap bekerja.

Saya memang sudah tahu kegiatan sukarelawan sejak dulu. Tapi jujur saja, baru sekarang bisa benar-benar mengikuti dan terlibat langsung di dalamnya. Saya ingat betul, saat mendaftar ke salah satu program beasiswa pemuda ke Jerman, mereka sempat menanyakan tentang kegiatan sukarelawan yang pernah diikuti saat pengisian formulir. Saya bingung, tidak ada kegiatan sukarelawan yang pernah saya ikuti selama ini. Malu, merasa ada kesempatan yang hilang, hingga minder bercampur menjadi satu. Padahal, pengalaman mengikuti kegiatan sukarelawan adalah salah satu poin penting yang akan dinilai oleh juri.

Di kota kelahiran saya, Palembang, kegiatan sukarelawan memang nihil. Ada, sukarelawan saat demo, yang dibayar hanya dengan nasi bungkus dan sama sekali memalukan dicantumkan di dalam CV. Di beberapa kota besar di Indonesia sebenarnya kegiatan sukarelawan ini sudah cukup terjamah. Niat sudah ada, tapi cukup memberatkan bagi saya harus pulang pergi naik pesawat bekerja sebagai sukarelawan kala itu.

KOPENHAGEN: Kota Pecinta Desain dan Rileksnya Nongkrong

Friday, 17 June 2016


Pertama kali datang ke Kopenhagen, saya sedikit skeptis dengan kota mini ini. Apa yang Kopenhagen miliki selain pelabuhan dengan bangunan warna-warninya? Sempat bertanya dengan cowok lokal di Tinder, saya malah dijawab tegas, "apa yang kamu mau? Banyak bar tuh!" Oke.

Sama seperti ibukota lain di Eropa, Kopenhagen juga memiliki museum dan segala bentuk tempat tamasya lainnya. Saya sebenarnya kurang begitu menyukai museum ataupun bangunan-bangunan kuno semacam kastil ataupun gereja tua. Gaya jalan saya sebenarnya lebih senang mengunjungi tempat-tempat yang banyak orang lokalnya, rileks, dan tidak selalu harus menconteng daftar must visit.

Nyaris setahun tinggal di Denmark dan lebih sering bolak-balik Kopenhagen, saya menyadari kalau Kopenhagen memang cukup membosankan. Apalagi kalau hanya bolak-balik stasiun Nørreport atau Strøget menuju Kongens Nytorv lalu berlabuh di Nyhavn, yang selalu ramai oleh turis. Wah, benar dah, bosan!

Kembali ke jawaban si cowok Tinder, sebenarnya Kopenhagen memang cukup menyediakan hiburan yang kita inginkan. Hanya saja, hiburan tersebut kadang tetap saja membosankan kalau dilakukan terus menerus. Ingin belanja, shopping center mereka tersebar dimana-mana. Nonton film box office ataupun indie, banyak bioskop tersebar seantero kota. Tertarik mencoba bar crawl dan craft beer, ya memang tempatnya disini.


Lalu apalagi yang bisa dinikmati di Kopenhagen selain hiburan ala hedonis layaknya manusia kota di atas? Menurut saya, desain dan tempat nongkrongnya! Saya memang pecinta desain dan arsitektur modern, namun tidak terlalu suka membuang uang demi nongkrong berjam-jam agar dianggap gaul. Tapi itu duluuuu.. Dulu, saat saya menganggap nongkrong hanyalah gaya hidup hedonis demi mengisi postingan Facebook dan Instagram. Semenjak disini, nongkrong seperti jadi gaya hidup saya dan teman setiap akhir pekan. Bukan demi memenuhi postingan, tapi hanya ingin menikmati atmosfir akhir pekan di kota yang sebenarnya sangat rileks dan menghibur.

STOCKHOLM: Kota Trendi, Gudangnya Cowok Cewek nan Modis

Tuesday, 7 June 2016



Saya memang sudah jatuh cinta dengan Stockholm sejak tinggal di Indonesia. Salah satu MLM kosmetik, si O, yang memang asalnya dari Swedia sering sekali membuat para anggota MLM bergiat-giat ria menuntaskan isi tabungan agar dapat poin. Kumpulan poin dan jaringan anggota pun diyakini memang bisa membawa beberapa orang berkunjung ke Stockholm. Saya? Hah, hanya anak muda pemakai kosmetik yang jauh dari kata sukses di MLM. Stockholm rasanya begitu jauh dari Indonesia. Tapi entah kenapa walaupun jauh, saya yakin saja suatu kali bisa kesini. Benar saja, finally here I am now, in Stockholm, tanpa embel-embel MLM.

Kunjungan pertama saya ke Stockholm kali ini sebenarnya bukan dalam rangka sengaja jalan-jalan atau weekend getaway. Yang pertama, saya hanya ingin kesini demi menuntaskan rasa penasaran. Yang kedua, karena seorang teman memang tinggal di Swedia, kebetulan pula hari ulang tahun saya saat weekend, jadinya saya datang hanya ingin merayakan ulang tahun bersama dia. Sayangnya, si teman ini malah harus bekerja tepat di hari itu. Duh!

Sebelum ke Stockholm, beberapa orang teman di Denmark mengatakan kalau sebenarnya Kopenhagen dan Stockholm sama saja. Sama-sama ibukota, sama-sama di Skandinavia, sama-sama dingin, sama-sama banyak bule rambut pirangnya, dan berbagai "sama-sama" lainnya. Mereka sendiri lebih menyukai Kopenhagen ketimbang Stockholm. Kecuali satu orang teman asal Rusia, Albina, yang memang sempat tinggal dan bersekolah di Swedia. Dibandingkan Kopenhagen, Albina merasa Stockholm jauh lebih hidup dan berwarna. Dari Albina inilah, saya dikenalkan ke Lidiya, salah seorang teman sekolahnya dulu yang sekarang tinggal di Stockholm. Lidiya juga yang akhirnya jadi pemandu wisata dan teman jalan di hari ulang tahun saya.

9 Hal yang Harus Dilakukan Saat Tinggal di Luar Negeri Agar Lebih Bermakna

Sunday, 22 May 2016



Berkesempatan tinggal di luar negeri memang bukanlah untuk semua orang. Baik itu untuk keperluan studi, pertukaran budaya, au pair, ataupun ikut keluarga. Orientasi selama hidup di luar negeri tentunya tidak hanya sebatas foto-foto lalu dipamerkan secara halus di media sosial. Ada banyak hal yang bisa kita lakukan agar sekembalinya ke Indonesia, kita tidak merasa kehilangan momen penting selama hidup di negara orang.

1. Make friends and stay connected

Berteman dengan orang asing di negara asing memang tidaklah mudah, terlebih lagi kalau kita termasuk orang yang pemalu. Di Denmark sendiri, banyak para imigran dari negara tetangga yang juga merasa kesulitan berteman dengan orang lokal. Orang-orang dari Eropa Utara memang cenderung tidak terlalu terbuka dengan orang asing, terutama yang tidak bisa bahasa mereka. Tapi daripada mati kesepian, cobalah untuk tetap berteman dengan orang-orang yang bukan sebangsa kita. Orang-orang dari Asia, Eropa Timur, ataupun Amerika cukup sociable untuk didekati dan diajak bicara.

Cobalah untuk bergabung di akun Meetup yang akan menghubungkan kita dengan banyak orang di negara yang sedang kita tinggali. Kita juga bisa datang ke acara-acara seru yang cocok dengan minat. Dari acara ini, biasanya kita akan bertemu banyak orang dari negara-negara lain dengan minat yang sama. Saya juga mendapatkan beberapa teman baru (yang sekarang jadi teman dekat) karena sering datang ke beberapa acara yang ada di Meetup.

Memang tidak semua orang yang kita temui akan menjadi teman, tapi setidaknya kita sudah mencoba untuk bersosialisasi. Kalau memang bertemu dengan orang yang pas, jangan lupa untuk selalu stay connected karena siapa tahu kalian bisa jalan atau nongkrong lagi setelahnya. Sebisa mungkin batasi untuk selalu dan hanya ingin berteman dengan teman sebangsa. Selain kesannya menutup diri dari adaptasi di negara orang, kita juga akan kehilangan momen berharga untuk membentuk jaringan dengan teman internasional.

2. Eat like locals

Soal makanan, lidah saya juga termasuk yang sangat Indonesia sekali. Saya tidak bisa hidup tanpa makanan pedas dan segala bentuk rempah-rempahan. Jujur saja, saya pernah menangis karena benar-benar rindu makanan khas Palembang. Mau masak sendiri, malasnya tidak bisa ditawar. Sebalnya lagi, beberapa teman malah sering sekali mengirimkan foto-foto makanan Indonesia yang membuat saya ingin menampar muka mereka dengan kentang rebus. Hiks!

Awalnya saya juga sangat kesulitan menerima makanan yang hanya berasa lada hitam dan garam. Tapi lama-kelamaan, karena terlalu sering dicekoki, akhirnya sampai detik ini nyaman-nyaman saja. Mungkin karena saya tinggal dengan orang lokal, makanya selera makan saya pun terpaksa harus ikut berubah. Yang tadinya harus makan nasi tiga kali sehari, sekarang hanya dibatasi sehari sekali. Itupun bukan nasi, tapi bisa jadi mie, kentang, atau roti.

Walaupun sangat rindu makanan Indonesia, tapi saya tidak selalu menolak makanan lokal yang patut dicoba. Kapan lagi bisa mencicipi Smørrebrød favoritnya orang Denmark atau makan balletjes dan mashed potatoes khas orang Belgia sepuasnya dengan rasa yang otentik kalau bukan di negaranya langsung.

3. Pelajari bahasa dan budaya mereka

Mempelajari bahasa asing memang tidak mudah. Terlebih lagi kalau bahasa tersebut kurang menarik dan hanya sedikit orang yang menggunakannya di dunia ini. Untuk menguasai bahasa asing pun, beberapa orang membutuhkan waktu yang lama. Banyak yang mengatakan, tidak perlu belajar bahasa daerah setempat kalau hanya tinggal setahun dua tahun. Eiittss... jangan berpikiran begitu dulu! Tidak ada yang sia-sia untuk urusan belajar. Lagipula, saya merasa orang-orang yang hanya berpikiran untuk selalu menggunakan bahasa Inggris adalah tipe-tipe pemalas dan arogan.

Bagi saya, mempelajari bahasa setempat merupakan proper manner kita sebagai pendatang. Tidak harus bisa cas cis cus, cukup dengan mempelajari bahasa dan fase dasar, membuat kita semakin menyatu dengan orang lokal. Berlatih untuk tidak menggunakan bahasa Inggris saat di kafe atau supermarket merupakan upaya awal. Yakinlah, orang lokal akan merasa sangat dihargai kalau orang asing mau belajar bahasa mereka.

Untuk urusan budaya pun, tetaplah bersikap open minded. Di negara-negara barat, pesta biasanya akan selalu dibarengi dengan alkohol. Kalau suatu kali ada teman yang mengundang datang dan nongkrong, jangan juga selalu ditolak. Tetap terima undangan mereka dan jujurlah kalau kita memang tidak minum alkohol. Sejujurnya, mereka sangat menghargai kejujuran kita dan sebisa mungkin menyuguhi minuman non-alkohol.

Saat tinggal di negara orang pun, biasanya kita akan menemui beberapa budaya yang menurut kita aneh, namun tidak untuk mereka. Daripada bersikap terlalu apatis dan seperti menjaga jarak, yakinkan diri untuk selalu menghargai budaya orang. Bagaimana perasaan kita kalau ada orang asing di Indonesia yang sama sekali cuek dengan budaya kita? Bukankah kita juga sebal dengan sikap mereka yang arogan? So, treat people like we want to be treated.

4. Kenali negara tempat kamu tinggal

Sejujurnya, saya menyesal saat tidak mengenal Belgia dengan baik sewaktu tinggal disana. Saya hanya terpaku dengan Ghent dan Brussels saja, namun tidak ada kesempatan lebih untuk berkunjung ke daerah Selatan. Padahal daerah-daerah di Belgia Selatan kerennya bukan main.

Daripada sibuk memikirkan ingin ke negara ini, ke negara itu, keliling sana, keliling sini, masukan juga beberapa tempat oke di negara yang sedang kita tinggali. Saya yakin, kita pasti akan menemukan beberapa tempat eksotis yang jauh dari keriuhan turis. Kalau cuaca sedang bagus, jalan santai ataupun bersepeda ke sekitar daerah yang kita tempati demi menemukan spot-spot cantik tidak ada salahnya juga. Walaupun kata orang Denmark adalah negara membosankan dengan keterbatasan pemandangan alam, tapi saya tetap bertekad untuk mengunjungi beberapa tempat di utara kok.

5. Jangan kebanyakan atau terlalu pelit jalan-jalan

Saya yakin, saat di Indonesia, kita sudah mempunyai daftar tempat-tempat yang akan dikunjungi sebelum datang dan tinggal di negara orang. Apalagi benua Eropa, yang negara-negaranya berdekatan dan tidak butuh lama untuk lompat dari Swiss ke Kroasia. Tapi janganlah terlalu sibuk mencoret-coret daftar hanya gara-gara pasang target. Menurut saya, jalan-jalan memiliki esensinya masing-masing. Keseringan jalan-jalan tentunya membutuhkan banyak uang dan waktu.

Terlalu sedikit jalan-jalan karena sibuk menabung juga sebenarnya tidak baik. Ayolah, kapan lagi bisa ke Eropa dan melihat Berlin, Oslo, Talinn, lebih dekat? Eropa, dilihat dari peta pun, memiliki celah yang sangat jauh dari Indonesia. Tidak perlu mendatangi setiap negara walaupun kata orang must visit.

Kalau memang sedikit membatasi budget untuk jalan-jalan, coba datangi negara-negara "murah" yang memang must visit before you die ataupun cocok dengan sesuatu yang sedang kita minati. Contohnya, kalau memang suka pantai, negara-negara hangat seperti Yunani atau Spanyol super tepat untuk liburan berikutnya. Bagi penggila arsitektur, menabunglah demi ke Maroko atau Britania Raya untuk mengagumi keindahan interior dan bangunan di negara ini.

6. Lakukan kegiatan yang tidak bisa dilakukan di Indonesia

Mencoba hal-hal baru selama tinggal di luar negeri, tentunya bisa menambah pengalaman kita saat di negara orang. Kalau awalnya tidak sempat kepikiran untuk menonton ballet dan opera saat di Indonesia, cobalah untuk memesan tiket pentas saat berkunjung ke Vienna atau Budapest. Yang tadinya kita sangat sulit menggerakkan badan dan tidak suka menari, bergabung dengan klub salsa yang jauh dari minat, membuat kita merasakan hal seru saat berhasil menggoyangkan tubuh yang kaku.

Bagi yang suka kegiatan seni, membantu orang, dan ingin bergabung dengan beberapa acara seru, cobalah untuk berpartisipasi menjadi sukarelawan. Pekerjaan seperti sukarelawan ini memang terkenal di kalangan pelajar yang ada di negara barat. Jika punya kesempatan untuk kerja part time, kenapa tidak dicoba? Beberapa teman saya bercerita kalau mereka pernah menjadi bartender dan cleaner untuk beberapa waktu.

Kamu tipe anak muda pemalu yang tidak pernah keluar lewat dari jam 9 malam saat di Indonesia? Hentikan kebiasaan itu dan pergilah ke kota lepas jam 10 malam di hari Jumat. Rasakan atmosfir anak-anak muda yang akan menyambut akhir pekan mereka bersama teman di Jumat malam. Tidak mood ikut berpesta dan meneguk minuman keras? Di beberapa kota di luar negeri, masih banyak café bar yang buka hingga larut malam sambil menyuguhkan musik-musik live sebagai teman minum kopi.

7. Belajar dengan serius

Seriusan, belajarlah seserius orang-orang Eropa! Mereka benar-benar bisa membagi waktu antara having fun dan tetap belajar di akhir pekan sekali pun. Jangan karena sibuk travelling secara mudah kesana kemari, kita jadi lupa tujuan awal datang dan tinggal di negara orang. Bukan hanya belajar di kampus yang harus serius, tapi setiap hal baru yang sedang dipelajari memang harus dijadikan keseriusan. Apalagi untuk para penerima beasiswa yang usahanya sangat sulit untuk memenangkan hati para pemberi bantuan dana.

8. Berkencan (bagi yang jomblo)

Budaya berkencan di luar negeri memang berbeda dengan di Indonesia, baik itu di bagian Asia manapun, Amerika, maupun di Eropa. Daripada sibuk memikirkan nasib kejombloan kita, sementara teman-teman di Indonesia sudah mulai bertunangan, menikah, hingga punya anak, kenapa tidak coba berkencan dengan bule-bule lucu?

Tenang saja, berkencan disini sifatnya tidak harus pacaran kok. Minum-minum kopi santai atau nonton film terbaru sambil membahas topik seru biasanya akan membuat kita menilai beberapa karakter kaum adam dan hawa di beberapa negara. Cowok-cowok Asia terkenal lembut, masih penuh rasa gengsi yang tinggi, tapi cukup peduli membayari ini itu. Namun jangan kaget saat berkencan dengan cowok-cowok bule (terutama di bagian utara Eropa) yang tegas, sweet, tapi mendukung feminisme yang kadang membuat kita menilai mereka kurang maskulin.

Walaupun banyak cewek barat yang tidak terlalu menyukai kelembutan cowok Asia, tapi sempat juga beberapa kali saya menemukan pasangan cowok Asia dan cewek barat di Eropa. Bisa jadi kalau karakter si cowok ini sudah kebarat-baratan, ataupun memang si cewek yang suka dengan kelembutan cowok-cowok Asia. Cewek barat memang terkenal mandiri dan tidak terlalu suka dikekang. Tapi tenang saja, mereka juga cewek yang senang kalau dimengerti dan dimanja kok. Hihi..

9. Buatlah dokumentasi dan jurnal

Jangan terlalu kebanyakan motret sana-sini seperti turis. Tapi jangan juga pelit motret gara-gara takut dianggap narsis. Potretlah hal-hal seru untuk dijadikan dokumentasi selama kita di luar negeri. Kita akan sangat menyesal saat tahu belum sempat mengabadikan foto di Kastil Drakula waktu berkunjung ke Romania, atau kelupaan berfoto dengan beberapa teman sekelas saat mengikuti kursus masak di Italia. Momen seru seperti ini tentunya tidak terjadi setiap hari dan memang pantas diabadikan. Hanya saja, tidak perlu semua momen dipotret lalu harus dipamerkan sehalus mungkin di media sosial. Ada kalanya, momen yang ditangkap cukup jadi kenangan pribadi.

Kalau tidak malas, catatlah hal-hal penting yang tidak boleh dilupakan saat di luar negeri. Saya pribadi agak malas menulis seluruh catatan perjalanan ke dalam jurnal. Biasanya saya hanya mencatat ide-ide penting untuk dituliskan lagi di blog. Selebihnya, foto-foto yang berhasil saya potret biasanya akan menggambarkan seribu kata tentang peristiwa yang terjadi saat itu.


My First Ballet and If It's Also Yours

Sunday, 8 May 2016



Watching ballet in my home country is portraying high-class levels, rich people, luxuriousness, and elegancy. I've never been to any ballet performance in Indonesia, but never wanted to do so because even I've never tried to check, I'm pretty sure the ticket must be so expensive. This event is so rare and not typical Asian thing. Young people prefer to watch big or local music instead.

Moving to Europe makes me want to feel a new experience, embracing the cultures more and more. Here, the ticket price is "not" so expensive, especially if you're a student. For my first ballet, I've got discount for 40% just because I'm under 24. But of course, in some places, they have discount up to 50% for students.

I really remembered my first ballet in Europe, while I was so confused what should I wear and where should I sit. Before my first ticket, I've tried to look for some information regarding the best seat-yet-cheap or proper attire to go. So, if this is your first time and experiencing perplexity like me, this is what happened to me as a beginner devotee of ballet.

Hangatnya Malmø dan Cowok Swedia

Friday, 6 May 2016




Saya memang tidak banyak cerita soal kencan-kencan singkat saya di Eropa. Tapi entah kenapa proses ketemuan sekali ini sedikit lucu, malu (walaupun saya cukup tidak tahu malu), dan berbeda dari kencan sebelum-sebelumnya.

Martin adalah cowok Swedia pertama yang saya temui baru-baru ini. Karena sudah kenal sejak 4 bulan yang lalu dan hanya bicara lewat WhatsApp, saya paksa saja dia ketemuan karena sudah capek mesti berkomunikasi via teks terus-terusan. Kami berkenalan dari salah satu online dating yang lagi dan masih hip di Eropa——you know it, Tinder! Tapi karena sudah mengobrol terlalu lama dan panjang, jadinya kita lebih mirip seperti teman baru. Meski titelnya tetap "kencan pertama", tapi saya katakan ke Martin kalau anggap saja ketemuan kali ini lebih seperti reunian. Walaupun sedikit aneh reunian dengan orang yang belum pernah ketemu sebelumnya, akhirnya Martin setuju-setuju saja.

Setelah mengatur waktu ketemuan yang cukup sulit, kita akhirnya sepakat ketemuan di Malmø. Sebenarnya Martin tinggal di Helsingborg dan saya sendiri lebih dekat ke Kopenhagen. Tapi agar sama-sama adil, kami mencari alternatif kota lain di luar Helsingborg maupun Kopenhagen.

Karena sudah sering berkiriman foto dan suara, bayangan wajah Martin rasanya begitu hapal di ingatan saya. Muka dan gaya cueknya mirip Kristoff yang ada di film Frozen. Saya juga sebenarnya tipe manusia visual yang cepat sekali mengenali seseorang dengan hanya melihat fotonya beberapa kali. Soal mirip atau tidaknya dengan foto, tetap saja visualisasi saya selalu tepat.

Hari itu adalah kunjungan pertama saya ke Malmø. Kereta saya tiba lebih cepat dari keretanya Martin. Berbeda dengan kencan sebelumnya, kali ini justru saya yang datang lebih cepat, padahal biasanya selalu datang telat.

Cuaca sangat bagus di Malmø. Matahari bersinar terik walaupun angin masih cukup dingin berhembus. Saya duduk di taman menunggu Martin datang. Hanya ada satu bangku panjang kosong di taman saat itu. Walaupun belum libur, tapi karena saat itu sudah Jumat sore, sepertinya memang banyak orang yang ingin menikmati hangatnya cuaca di luar. Sambil menunggu, saya hanya melihat sekeliling sekalian sesekali melirik ponsel.

"Dua puluh menit lagi," kata Martin di WhatsApp terakhir kali.

Lima menit berselang, saya melihat seorang cowok keren dan ganteng dari sisi kanan berjalan ke arah saya membawa bunga. Mukanya memang kurang jelas karena dihiasi kacamata hitam, tapi aura kemisteriusan dan hangat cukup tertangkap lewat senyum kecilnya. Sedikit aneh memang karena harusnya Martin datang dari stasiun yang ada di sisi depan saya.

"Woooooow," kata saya saat itu dengan pedenya.

Apa itu bener Martin? Kenapa dia bawa bunga segala? Gila, ini pertama kalinya seorang cowok membawa bunga di kencan pertama! Tapi tunggu, kenapa gayanya keren sekali?

"Why are you coming from there?", tanya saya cuek dan penasaran ketika cowok itu mulai mendekat ke bangku.

Si cowok keren ini melepaskan earphone, "hah? sorry?"

Entah kenapa perasaan saya sedikit bingung saat itu. "No. No. Sorry," kata saya masih cengengesan.

"Ah, no. It's okay," katanya sambil meletakkan bunga dan duduk di samping saya.

Oh well, ini bukan bahan candaan. Kenapa juga Martin pura-pura tidak kenal? Apa ini bagian dari taktik dia? Iya, si Martin kan memang lucu dan suka bercanda di WhatsApp. Tapi...

Saya melirik cowok keren ini dan memperhatikan gayanya. Sadar kalau sedang diperhatikan, dia ikut melirik saya, "sorry?"

"No. Sorry," kata saya sambil menggeleng dan tetap nyengir kuda.

Pikiran saya jadi campur aduk. Sekali lagi saya perhatikan gaya cowok yang duduk di samping ini. Gayanya memang sungguh keren dan bukan Martin sekali! Oke, saya memang belum pernah ketemu Martin. Tapi iya, terakhir kali saat membahas soal gaya cowok-cowok Swedia yang modis, Martin sedikit tidak setuju dengan pernyataan saya. Menurutnya, cowok-cowok Swedia tidak semuanya keren. Untuk dia sendiri, setelan macam jeans dan hoodie adalah favoritnya.

Sekali lagi saya perhatikan si cowok. Karena rambutnya tertutup topi, saya tidak bisa tahu apa dia benar pakai poni seperti yang ada di foto. Cowok ini rambutnya sedikit pendek, tapi bisa jadi Martin potong rambut dulu kan sebelum ketemu saya? Cowok ini juga sedikit berjenggot tipis dan lebih maskulin, si Martin kan lebih ke muka abege.

Saya berhenti melirik dan pura-pura memandang sekeliling taman. Entah kenapa saya masih berharap kalau cowok ini Martin. Tapi kalaupun memang dia, saya juga kesal dengan sikapnya yang masa bodoh. Kami hanya berdiam diri duduk di taman hingga lima menit kemudian saya mengecek pesan baru dari.....MARTIN SEBENARNYA! O-ooww!

"Where are you now? Are you going to the North or South? I'm out to the South now," kata Martin di WhatsApp.

Karena tidak tahu malu dan demi memecahkan keheningan, akhirnya saya menegur cowok keren yang masih autis dengan musiknya ini.

"Excuse me," kata saya.

Si cowok melepaskan earphone-nya. "

"...do you know whether this place is South or North of the station?"

"To be honest, I'm not living in Malmö. I'm living in Stockholm, but I think this is the North," katanya dengan selipan aksen Swedia yang lembut.

"Ah, okay. Thank you," kata saya dengan muka kaku.

"I'm pretty sure it is," tambahnya lagi.

"Anyway, I'm so sorry, you're really really really like my friend. That's why I'm a bit confused why did you come from that side. You supposed to come from that station."

"Oh, it's totally fine. It could be happen sometimes. I'm (insert: namanya) anyway," katanya sambil mengulurkan tangan.

Saya menjabat tangan si cowok keren ini, "Nin."

Sejujurnya saya tidak terlalu mendengar namanya karena terlalu dibawa perasaan terpesona. Lebay memang! Tapi serius, ini pertama kalinya cowok Skandinavia yang terkenal super dingin menyapa dan berkenalan duluan dengan stranger. Di Denmark sendiri, orang-orang hanya sibuk menatap ponsel mereka dan terlalu tenggelam dalam keheningan. Saya kira percakapan akan berakhir ketika saya berterimakasih, namun ternyata cowok ini sangat bersahabat dan hangat ingin melajutkan obrolan. Persis dengan suasana Malmø hari itu.

"So, you're living in Stockholm?" tanya saya setelah dia menanyakan tujuan saya datang ke Malmø.

"No. Actually, I'm living a bit north of Stockholm. But I'm studying in Stockholm now."

"Oh, what are you studying then?"

Akhirnya kami sedikit bercerita tentang kuliah dan pekerjaan. Cowok umur 27 tahun ini baru mulai mengambil kuliah S1-nya di jurusan Teknik Komputer karena terlalu asik bekerja dan mengumpulkan uang. Dia juga sempat cerita soal temannya yang terpaksa jadi dokter gara-gara salah jurusan seperti saya. Sepuluh menit yang cukup seru memang, hingga dia harus mengangkat telepon dari seseorang.

Setelah menutup telepon, si cowok beranjak dan mengambil bouquet bunganya. "Well, it's really nice having a talk with you. I hope you find your friend soon. Have a nice day. Bye bye."

"Thank you. You too. Hej hej!"

Saya memerhatikan cowok ini sekali lagi dari belakang. Dia membopong tas besar yang sepertinya baru habis berolahraga. Lucu memang ketika menganggap dia Martin. Mana mungkin Martin membawa tas besar saat kencanya, reunian. Sempat terbesit di benak untuk apa dia menunggu di taman, hingga akhirnya saya tahu, dia datang menemui pacarnya. Mereka bertemu tepat di tengah taman dan berciuman. Ahh!

Setelah harus dibuat berputar dari bagian selatan stasiun ke bagian utara, tempat saya berada, akhirnya saya bertemu juga dengan Martin. Tebakan kali ini memang tepat! Seorang cowok jangkung, memakai hoodie, dengan muka dan gaya seperti Kristoff, yang dari kejauhan memanglah Martin. Well, sebenarnya beruntung juga si cowok keren tadi pergi duluan. Saya mungkin akan sedikit bodoh kalau saja mereka benar bertemu karena sebenarnya muka Martin dan cowok itu benar-benar tidak mirip!

"If you know Swedes typically, we're actually careless and cold as other Scandinavian peeps. When we talk to our friends, we're handling our phones together. You could see in queue or in the supermarket where people really don't care about what happens around them. Obviously I can see they have their own paths and it's like "this is my own world", jawab Martin ketika saya tanya bagaimana kehidupan sosial di negaranya.

"Tapi kenapa cowok tadi dan kamu berbeda?"

"Karena mungkin kami tidak termasuk tipikal orang Swedia. Oh, mungkin bisa saja karena kami lebih senang bicara dengan orang-orang internasional. After all, we are Swedes though."

Tentang Martin:
Persis dengan cowok keren yang saya temui sebelumnya, walaupun tidak sekeren dia, tapi Martin sama hangat dan humble-nya. I think I'm falling for Swedes admittedly!



Sulitnya Berteman dengan Orang Denmark

Tuesday, 19 April 2016


Bulan November tahun lalu, saat saya kembali lagi ke Belgia dan menunggu kereta ke Brussels dari Charleroi, saya duduk di bangku kosong bersebelahan dengan seorang kakek-kakek di lobi. Si kakek lagi bersiap membuka kotak makan siangnya, yang saat dilirik berisi roti dan bacon. Selang sepuluh menit kemudian, si kakek tiba-tiba menyapa saya dengan senyuman ramah, "bonjour, madamoiselle." Saya pun mau tidak mau menyapa balik dengan senyuman kaku. Dari situ, percakapan dengan si kakek dimulai.

Si kakek awalnya bertanya tentang asal-usul saya dalam bahasa Prancis. Tapi karena saya sudah terbata-bata menjawab pertanyaannya, akhirnya si kakek bersedia mengganti dengan bahasa Belanda. Dia tidak berhenti mengoceh sambil mengunyah sampai isi mulutnya muncrat kemana-mana.  Saya pun cukup kepo bertanya tentang kehidupannya yang ternyata kesepian setelah ditinggal sang istri. Semakin lama, si kakek juga bicara dengan suara yang cukup keras hingga menganggu orang yang duduk di belakang kami. Lucunya, dia hanya tertawa dan tidak peduli.

Saat duduk di kereta menuju Brussels, saya sadar kalau rata-rata masyarakat di Belgia lebih hangat dan bersahabat. Walaupun masyarakat Eropa umumnya tidak suka percakapan basa-basi, namun mereka juga tidak segan menyapa orang asing. Saat bicara dengan orang asing pun, mereka seperti benar-benar niat ingin mengajak ngobrol. Terutama kaum-kaum sendu alias tua yang kebanyakan kesepian.

Hal ini seperti justru yang tidak bisa saya rasakan di Denmark. Orang-orang Denmark terkenal sangat tertutup dan dingin terhadap orang asing. Mereka hanya bicara dengan teman mereka sendiri dan tidak menyukai percakapan basa-basi. Kalau sudah seperti ini, jangan harap bisa jadi teman dekat mereka apalagi sudah tahu akan meninggalkan Denmark dalam waktu dekat.


Bagi orang Denmark, pertemanan tidak bisa dipupuk dalam waktu enam bulan atau dua tahun saja. Rata-rata teman dekat mereka adalah orang-orang yang sudah mereka temui sejak sekolah dasar bahkan sangat kecil. Hal ini tentu saja cukup sulit bagi orang Asia yang terlahir dengan kehangatan dan karakter sosial yang tinggi. Bagi kita, semakin banyak teman, semakin banyak relasi, semakin banyak rejeki. Namun bagi orang Denmark, tidak ada tempat bagi orang-orang baru, kalau mereka saja belum tentu ada waktu untuk menemui teman-teman lama.

Saya pernah mendengar pernyataan ini dari orang Denmark, I still have my old friends and I don't think I really need a new friend. Atau, it's really nice when I'm drunk then I can talk to the strangers. Feels like we're best friend forever. But when I'm sober, I don't really have to call or talk to them anymore. I love that idea!

Ya, pergilah ke klub atau bar saat banyak orang Denmark mabuk. Mereka akan bicara panjang lebar tentang pengalaman dan kehidupan, layaknya sahabat karib. Namun setelahnya, jangan harap mereka akan berlaku sama dalam keadaan sadar. Orang Denmark beranggapan bahwa persahabatan bukan hanya mengobrol sebentar, saling invite Facebook, lalu jadi teman. Persahabatan bagi mereka sangat murni, dipupuk melalui waktu yang lama, hingga saling mengenal satu sama lain.

Hal inilah yang membuat banyak orang asing merasa sangat sulit menjalin pertemanan dengan orang asli Denmark. Selain kendala bahasa, orang Denmark juga merasa tidak ada guna berteman dengan orang asing yang jelas-jelas akan meninggalkan negara mereka. Sangat sulit bagi orang Denmark menghabiskan waktu nongkrong bersama, memiliki kenangan yang indah, lalu nantinya akan bersedih hati karena si asing akan terbang ke negara asalnya.


Waktunya Berkencan di Eropa!

Monday, 15 February 2016




Jadi au pair tidak selalu berurusan dengan kerjaan rumah tangga, anak, atau kursus bahasa. Ada kalanya saya juga butuh teman lawan jenis yang bisa diajak main ke kafé, bicara panjang lebar dari A sampe Z, sekalian menghabiskan malam akhir pekan. Berkencan di Eropa dan Indonesia tentunya berbeda. Bukan hanya dari orangnya, tapi juga dengan budaya berkencan yang cukup membuat saya kadang rindu "manisnya" kencan a la Indonesia.

1. It's not easy to meet but find

Tinggalkanlah ekspektasi betapa mudahnya bertemu dengan prince charming di Eropa seperti layaknya novel-novel romantis atau American teenage drama dalam kehidupan nyata. Sebagai seorang au pair yang jaringan pertemanannya terbatas, bertemu dengan para cowok asing yang berkualitas tentunya perlu sedikit usaha. Dari yang usaha sering-sering datang ke bar atau klub malam, ataupun menghabiskan banyak waktu kenalan dengan pria asing via aplikasi kencan seperti POF, Tinder, OK Cupid, Happn, dan sejenisnya. 

Tapi berkenalan dengan para bule ini di bar ataupun klub malam pun tidaklah gampang. Di Denmark sendiri, seorang cowok harus benar-benar dalam keadaan mabuk dulu baru bisa mendekati cewek yang ada di bar. Saya pernah mendapat cerita dari seorang teman kencan yang mengatakan kalau kakaknya adalah cowok yang sangat pemalu. Dia tidak akan berani datang ke bar mendekati para wanita tanpa meneguk alkohol yang banyak terlebih dahulu. Saat seseorang dalam keadaan mabuk inilah, biasanya rasa percaya dirinya meningkat sehingga bisa lebih banyak bicara.

Sayangnya, siapa juga yang ingin berkenalan dengan cowok-cowok ganteng saat mereka lagi mabuk? Omongan mereka biasanya semakin aneh dengan muka yang sangat kusut. Sialnya, kalau sudah benar-benar sangat mabuk, keesokan harinya mungkin saja dia bisa lupa sempat berkenalan dengan kita.

Menemukan bule-bule ini sebenarnya tidak terlalu sulit kalau memang mau menghabiskan waktu yang cukup panjang di beberapa aplikasi kencan. Sungguh, mereka benar-benar eksis disini! Dari yang super ganteng, biasa saja, well-educated, hingga well-paid job. Kita juga bisa sedikit picky dengan siapa kita mau berkencan, tanpa harus bertemu dengan si pemabuk dulu. Sayangnya, kadang aplikasi seperti ini buang-buang waktu hingga terkesan sangat superficial alias dangkal. Para cowok ini pun juga biasanya bisa kasar, angkuh, dan sedikit rasis di percakapan online

Kesempatan lainnya adalah menemukan orang-orang yang "tepat" lewat teman ataupun mendatangi tempat-tempat favorit. Menemukan teman kencan lewat kursus dansa, speed dating yang terorganisir dengan baik, ataupun gathering dengan orang-orang baru yang ada di aplikasi semacam Meetup sebenarnya lebih worth-it dan berwarna. Tapi perlu diperhatikan juga kalau Meetup sebenernya lebih bertujuan untuk bertemu orang baru di banyak event, bukan untuk cari pasangan. But, who knows?

2. Fase pra-kencan

Seorang teman asal Eropa Timur mengatakan kalau budaya kencan di tempat mereka sedikit berbeda dengan budaya di Eropa Barat, Utara, ataupun Selatan. Di Indonesia sendiri, pasangan baru bisa dikatakan berkencan kalau mereka sudah punya hubungan alias ada status. Jadi kalau cuma jalan ke mall berdua atau dinner romantis, kalau statusnya belum jadian, tetap saja diberi label "teman jalan" atau TTM.

Di Indonesia, biasanya cowok akan datang ke rumah menjemput sekalian kenalan dengan ortu. Cara semacam ini juga sebenarnya berlaku untuk beberapa pria yang ada di bagian Eropa manapun, kecuali bagian "kenalan dengan ortu". Tapi karena wanita di Eropa juga lebih mandiri dan penuh antisipasi, biasanya pasangan kencan akan bertemu langsung di satu tempat yang sudah ditentukan. Walaupun kencan pertama kebanyakan dilakukan di tempat umum, tapi banyak juga yang langsung datang ke rumah si wanita ataupun si cowok saat kencan pertama. 

3. Saat ketemu

Pertemuan akan terkesan penuh kejutan kalau pasangan berkenalan lewat aplikasi kencan. Dari yang mulai muka asli jauh berbeda dari foto, tinggi cowok yang di luar dugaan, ataupun gaya pasangan yang ternyata bukan tipe kita.

Saya sendiri sebenarnya banyak menemukan fakta yang juga sedikit berbeda dari yang ada di foto. Dari yang mulai lebih ganteng dari yang ada di foto, hingga berbohong soal tinggi badan yang sepertinya 5 cm kurang dari pengakuan profil. Tapi sekali lagi, jangan pernah berharap terlalu tinggi karena belum tentu mereka menilai kita sesempurna yang ada di foto ataupun texting. Intinya, tetap penuh senyum ramah dan sapa mereka saat bertemu.

Soal budaya sapa-menyapa ini sendiri juga sebenarnya cukup beragam. Di Belgia, biasanya saling sapa dengan cium pipi kanan dan kiri. Memang sedikit aneh dan sungkan di awal, tapi saya akhirnya tetap beradaptasi di negara orang. Di Denmark sendiri, budaya sapa dimulai dengan berpelukan dengan cepat dan tidak terlalu dekap. Berjabatan tangan dinilai terlalu formal dan bisa membuat teman kencan merasa kita terlalu menjaga jarak. 

Kencan pertama di tempat umum biasanya dimulai dengan pertemuan di kedai kopi, kafé brunch, taman, bar, ataupun arena permainan. Yang paling umum dilakukan adalah coffee meeting sambil menyesap hangatnya kopi sekalian membahas topik-topik umum seperti sekolah, kegiatan di waktu senggang, hobi, ataupun soal pekerjaan. Banyak juga teman kencan yang biasanya mengajak minum bir atau cocktails di bar sekalian menikmati dentuman musik seru yang tetap cosy.

Kalau pertemuan dilakukan di apartemen pribadi, biasanya si host akan menyiapkan beberapa snack ataupun wine. Walaupun cukup beresiko, tapi banyak juga pasangan kencan yang terlalu malu jika bertemu di tempat umum. Bagi mereka, suasana privat seperti ini justru membuat rasa kepercayaan diri meningkat hingga tidak malu berbicara terbuka dengan teman kencan.

4. Bersikap jujur namun tetap open minded is a must must must!

Topik kontroversial seperti masalah agama dan politik memang sebaiknya dihindari kalau memang belum kenal orang tersebut dengan baik. Hal semacam ini bisa jadi ajang adu debat menjaga pendapat. Orang Indonesia yang beragama, walaupun tidak pernah menjalankan perintah agamanya sekalipun, akan cukup tersinggung jika mendengar pengakuan sempit para atheis di Eropa.

Penduduk Eropa kebanyakan memang tidak percaya Tuhan dibandingkan penduduk Amerika. Bagi mereka, agama membuat manusia seperti terblok-blok dan terkekang. Walaupun begitu, sebenarnya mereka cukup berpikiran terbuka terhadap orang-orang beragama yang mau menjalankan perintah Tuhan--walaupun bagi mereka sungguh mustahil ada.

Saya sendiri sebenarnya cukup malas kalau sudah bawa-bawa agama, apalagi saat kencan pertama. Saya lebih banyak tutup mulut, bukan karena tidak tahu-menahu, tapi lebih menghindari adu debat. Lucunya, saya pernah berkencan dengan seseorang yang cukup apatis dengan agama apapun, hingga sangat jelas menghina sebuah kepercayaan. Oke, cukup.

So, kalau memang tidak minum alkohol, jujurlah sebelum bertemu. Biasanya ada beberapa pasangan yang mengajak minum-minum lucu di bar saat kencan. Walaupun sedikit aneh minum cokelat panas ataupun soda di bar, tapi setidaknya kita sudah jujur kalau alkohol memang bukan hal yang menjadi gaya hidup di Indonesia. Kalau pasangan memang menghargai hal ini, mereka biasanya akan tetap terbuka dan lebih mengajak kita ngopi cantik saja. 

5. This is what we pay for equality in Europe

Persamaan derajat antara laki-laki dan perempuan adalah hal yang sudah melekat keras sejak lama di Eropa Barat dan Utara. Para wanita tidak dibuat manja oleh kehadiran lelaki untuk sekedar mengangkut barang belanjaan, bekerja terlalu keras hingga larut malam, sampai membayar tagihan kencan!

Di Indonesia ataupun banyak negara di Asia, umumnya si cowok yang akan membayar penuh makanan yang dipesan. Hal ini juga dinilai sebagai lambang maskulinitas pria di Asia yang cukup malu kalau makanan mereka dibayar oleh wanita. Tidak hanya itu, cewek Asia juga dibuat manja dengan dibelikan barang ini-itu kapanpun mereka mau.

Bagi cowok suatu kebanggaan karena bisa memanjakan wanita walaupun mesti absen kongkow dengan teman sebulan. Bagi cewek, suatu hal yang romantis kalau pasangan bersedia melakukan hal tersebut. Mereka merasa tersanjung, dicintai, dan diperhatikan.

Di Eropa, well, siap-siap dengan budaya kencan yang berbeda. Para cowok umumnya bersedia membayar minuman saat kencan pertama, namun tidak untuk makan malam. You pay what you eat. Herannya, mereka juga tidak malu mengatakan ke kasir agar tagihan dibayar terpisah. Tapi tentunya tidak semua cowok Eropa seperti ini. Umumnya, mereka bersedia membayar semua makanan dan minuman hingga tiket konser atau nonton bioskop, saat kencan pertama. Bahkan ada juga yang bersedia membayar dinner romantis saat kencan kedua ataupun ketiga. 

Ada cerita, kalau cowok-cowok di Denmark cukup "perhitungan" soal tagihan kencan ini. Mereka biasanya sedikit anti membayar makan malam yang mahal hingga berpikir untuk bayar sendiri-sendiri. Cerita dari teman, seorang temannya pernah ditagih oleh si pria untuk jangan lupa menransfer tagihan makan sejumlah 100 Krona setelah kencan pertama! Lucunya, cowok Denmark cukup direct untuk urusan keuangan. Mereka tidak malu mengakui sedang bokek, ataupun bertanya apakah kita bersedia membayari minuman di bar setelah semua dinner di restoran dia yang membayar.

6. What to be aware?

Berbeda dengan Indonesia yang biasanya kencan dilakukan dengan penuh rasa jaim, gengsi, dan malu, siap-siap dengan kejutan lain saat berkencan dengan pria asing di negara mereka! Para cowok biasanya tidak segan memegang tangan, menyentuh beberapa bagian tubuh, hingga memeluk. Kurang ajar? No! Hal ini sebenarnya merupakan bahasa tubuh yang mengatakan kalau mereka tertarik dengan kita. Kalau kita cukup terbuka dengan sinyal ini, biasanya mereka juga tidak malu untuk memberikan kecupan bahkan di tempat umum sekalipun.

Kalau memang tidak merasa nyaman berdekatan dengan mereka, cukup jaga jarak dan tetap jaga bahan pembicaraan senetral mungkin. Para pria biasanya cukup kuat mendapatkan sinyal "penolakan" tersebut dan sangat menghargai ketidaknyamanan kita dengan sentuhan. 

Saat para cowok ini diajak berkencan di tempat pribadi, biasanya proses akan berlanjut ke hal yang lebih serius. Nonton film, masak, ataupun minum-minum bersama cenderung mengarah ke ciuman yang lebih hangat ataupun hubungan badan. Kalau memang gaya kencan seperti ini jauh dari apa yang kita harapkan, hindari berkencan di tempat pribadi dan selalu waspada dengan tujuan para cowok. Tapi tentu saja isi otak cowok beda-beda. Banyak juga dari mereka yang mengundang datang sekedar untuk cicip masakan atau murni nonton film bersama tanpa ada aktifitas seksual.

Sewaktu di Belgia, karena "memiliki" rumah sendiri, saya pernah mengundang salah seorang cowok asli Belgia, Ken, datang jam 10 malam. Karena kesibukannya yang sangat susah diajak ketemuan di luar, akhirnya spontanitas saja saya mengundangnya ke rumah malam itu. Yang ada, kita hanya duduk di meja makan dan kebanyakan bicara soal pekerjaan Ken sebagai seorang guru musik. Dia juga tidak banyak komplain saat saya hanya bisa menyuguhi air keran. Selepas memainkan piano sambil bernyanyi di lantai atas, akhirnya jam 1 pagi Ken pamit pulang. 

7. Enjoy the moment and say bye

Kencan biasanya berakhir dengan cium pipi kanan kiri, dekapan cepat yang lebih hangat, ataupun kecupan singkat di pipi atau bibir sebagai tanda perpisahan. Para cowok yang datang mengendarai mobil, biasanya juga tidak sungkan menawarkan angkutan ke rumah jika si cewek bersedia. Atau jika sama-sama naik transportasi umum, si cowok akan mengantar cewek menuju stasiun ataupun halte bus.

Tidak semua teman kencan seseru di teks ataupun telepon. Kadang topik obrolan menjadi basi dan suasana sangat kaku saat ketemu. Kalau sudah seperti ini, jangan takut untuk mengakhiri pertemuan walaupun baru berlangsung 30 menit.

Intinya, berkencan dengan para bule di Eropa sebenarnya sangat seru. Selain dapat pengetahuan tentang tempat nongkrong dan makan enak, ataupun berita hip di kota mereka, kita juga bisa lebih jujur dan terbuka tentang hal-hal yang tidak disukai.

Tidak perlu sungkan dan jaim saat ditawari makan malam, tapi jangan juga memesan makanan yang terlalu mahal. Sikap sok manis dan pemalu tidaklah salah, tapi para cowok asing ini biasanya lebih menyukai cewek yang independen, aktif, dan memiliki selera humor yang tinggi.