Jadi Au Pair = Sukses?

Tuesday, 11 August 2020



Sejak menulis blog ini, saya menerima banyak sekali pesan dari blog readers yang merasa sangat terinspirasi dengan kisah dan perjuangan saya selama tinggal di Eropa. Ada rasa bahagia yang begitu besar saat tahu cerita dan tulisan saya membawa hal positif untuk banyak orang, terutama anak-anak muda Indonesia. Banyak dari mereka yang punya cita-cita setelah lulus sekolah atau kuliah untuk langsung jadi au pair. Bukan seperti dulu kala yang cuma ingin jadi dokter, pengacara, atau insinyur, tapi tren pencapaian ini sedikit bergeser menjadi "keinginan untuk tinggal di luar negeri".

Somehow, it's a bit funny karena program au pair dijadikan gol atau cita-cita setelah lulus. Tapi turut senang juga karena jalan anak-anak muda menuju Roma itu memang bukan cuma untuk sekolah karena beasiswa. Ada banyak sekali au pair Indonesia yang akhirnya punya kesempatan tinggal di luar negeri dengan cara jadi au pair, yang kadang semua biayanya juga nyaris gratis. Pengalaman mereka di negara orang ini seringkali tertuang di postingan Instagram, Facebook, hingga video yang berhasil diunggah di Youtube untuk bisa ditonton banyak orang. Karena sering melihat kehidupan yang super fun ini, banyak yang akhirnya penasaran dan termotivasi untuk bisa mengikuti jejak para au pair. 


Apalagi bagi mantan au pair yang bisa memperpanjang masa tinggalnya di luar negeri setelah kontrak, dianggap punya kesuksesan tersendiri karena berhasil memanfaatkan kesempatan au pair sebagai batu loncatan. Salah satunya cerita saya yang bisa kuliah selepas kontrak, dianggap sangat inspiratif sampai menimbulkan asumsi bahwa saya berhasil hidup di luar negeri. Padahal untuk sampai di titik ini, saya harus jungkir balik dulu mengurus anak orang di 3 negara selama 5 tahun dengan segala keribetan dokumen imigrasi.

Jadi apa benar au pair bisa jadi batu loncatan mu menuju kesuksesan? Here is the fact!

Kita pasti tahu, bahwa kesuksesan untuk setiap orang itu tidaklah sama. Ada yang mungkin menganggap bisa pacaran dengan cowok Kaukasia, menikah, punya anak, lalu tinggal lama di luar negeri itu sukses. Ada yang ingin kuliah di luar negeri dan punya pekerjaan tetap itu sebagai sebuah pencapaian besar. Ada yang merasa bisa berkeliling 30 negara Eropa sebelum usia 30 itu sukses. Ada lagi yang berkeinginan besar menguasai bahasa asing dengan sangat fasih selama masa au pair. Ada banyak hal yang menurut orang lain sukses, belum tentu sama dengan definisi sukses mu.

Contohnya, saya merasa kesuksesan terbesar selama jadi au pair itu ketika mampu sepenuhnya keluar dari zona nyaman dan mempraktikkan bahasa lokal cukup baik dalam waktu 12-24 bulan saja. Lalu setelah masa au pair berakhir, definisi sukses saya berubah lebih ke arah jaminan finansial dan hari tua. Di level ini, saya baru merasa sukses ketika selulusnya berkuliah di luar negeri bisa bekerja di tempat yang gajinya ada di level nyaman untuk menghidupi diri sendiri dan membantu perekonomian keluarga di rumah. Entah dimana itu, saya tak peduli. Dapat kerja di Norwegia ya syukur, dapat di Indonesia juga tak masalah asal gajinya benar-benar bisa membawa saya ke level nyaman. Mengapa definisi sukses saya lebih fokus ke karir dan uang, karena saya sudah sangat lelah jadi au pair dan mahasiswa kere dengan uang pas-pasan tanpa tahu kapan bisa hepi-hepi ajak keluarga liburan, misalnya 😁. Lagipula tinggal di negara orang itu tidak mudah karena harus bergelut dengan imigrasi yang rumit, hingga membuat kita harus realistis dan kerja keras jika memang ingin membangun karir di sini.

Seperti halnya program Ausbildung (pelatihan keahlian & profesi) dan Freiwilliges Sozialies Jahr ( sukarelawan kerja sosial berbayar) di Jerman yang sering jadi tujuan selanjutnya para au pair. Saya tahu program tersebut tapi tak terlalu familiar dengan sistemnya karena saya sendiri belum pernah tinggal di Jerman. Untuk yang tertarik cari info tentang keduanya, silakan gunakan mesin pencarian ya. Ada banyak sekali au pair Indonesia yang saya tahu berusaha mengasah bahasa Jerman mereka agar bisa mencari kesempatan baru setelah au pair dengan cara ikut Ausbildung dan FSJ ini. Meskipun dinilai gaji yang diterima masih tak terlalu memuaskan untuk sebagian orang, tapi untuk ikut program ini juga tak mudah. Bahasa Jerman minimal level Intermediate (B1-B2) adalah senjata utama sebelum kamu bisa mencari kesempatan sekolah dan bekerja lewat program tersebut. Programnya sendiri hanya berlangsung 1-3 tahun, yang mana setelahnya kamu harus mencari pekerjaan baru atau bisa jadi batu loncatan lain untuk lanjut kuliah.

Selain saya, sebetulnya ada banyak sekali au pair Indonesia yang bisa lanjut kuliah S1 dan S2 di luar negeri. Meskipun sifatnya akademik, namun para lulusan bergelar ini punya tantangan yang lebih besar jika ingin mencari profesi profesional. Apa itu pekerjaan profesional? Yaitu pekerjaan berkompetensi tinggi (high skilled) yang sesuai dengan keahlian atau jurusan kuliah dan gajinya harus setara dengan UMR lulusan di negara tersebut. Setiap negara tentunya punya syarat serta minimal gaji tertentu untuk mengizinkan para warga negara non-Uni Eropa bisa bekerja dan tinggal lebih lama sebagai high skilled worker. Jadi tentu saja pekerjaan semisal cleaning lady, pelayan restoran, atau guru TK itu tidak termasuk jenis pekerjaan high-skilled.


Proses imigrasi dengan syarat yang tak mudah tentunya jadi penghalang mencari kerja setelah lulus kuliah. Dengan kemampuan yang dipunya, kita harus mati-matian usaha cari kerja yang sifatnya high skilled dan gajinya memenuhi syarat. Karena tak kunjung dapat kerja, ada banyak lulusan kuliah luar negeri ini harus kembali ke Indonesia atau mencari peruntungan di negara lain. It is obviously a tough work!

Lalu selanjutnya, menikah atau tinggal bersama dengan pacar. Sure, dengan menikah atau tinggal bersama (cohabitant), kita tak perlu pusing memikirkan soal residence permit dan hal-hal rumit dari imigrasi karena dijamin suami/pacar. Orang-orang yang mendapatkan izin tinggal dengan dasar 'family immigration' ini juga berkesempatan bisa menjadi penduduk tetap dengan 'mudah' serta bisa menikmati berbagai benefit layaknya warga negara lokal. Contohnya, bisa sekolah bahasa gratis atau mendapatkan bantuan biaya sekolah dari pemerintah.

Tapi apakah dengan jadi pasangan warga negara luar, para mantan au pair ini punya nasib yang lebih beruntung dari dua status lainnya di atas? Tidak juga. Seorang teman saya yang sudah menikah dengan warga negara Belgia merasa hidupnya biasa saja dan cenderung membosankan. Karena jaminan tinggal yang sudah didapat, si teman merasa tak terlalu ambisius lagi mengejar karir dan punya jaringan sosial yang luas. Seorang teman lain mengatakan bahwa meskipun doi bisa tinggal lebih lama di Eropa setelah menikah, tapi kesempatan untuk bekerja juga tak semudah yang orang-orang bayangkan. Doi harus mulai dari 0 lagi dan mesti puas dengan kerja serabutan karena malu jika harus terus-terusan minta uang jajan ke suami. Tahu kan, bahwa tanggung jawab suami Kaukasia dan suami Indonesia dalam memberi nafkah ke pasangan itu berbeda. Citra para au pair yang langsung menikah setelah habis kontrak ini juga masih meninggalkan banyak kesan negatif dari masyarakat lokal, yang merasa bahwa pernikahan terlaksana hanya karena si au pair ingin extend masa tinggal. Padahal, tak semua au pair yang langsung menikah tujuannya hanya untuk mendapatkan green card, karena dapat pacar Kaukasia sejatinya kadang hanya bonus.


Betul memang, program au pair bisa jadi batu loncatan untuk menggapai mimpi yang tertunda. Tapi kalau menilai hanya karena jadi au pair kita bisa sukses hidup di luar negeri, then please lower your expectations. Ada beberapa mantan au pair yang akhirnya kembali ke Indonesia dan memulai bisnis sendiri atau kerja di perusahaan multinasional, kok. Hal tersebut bukan berarti juga membuat mereka tak sukses. Seorang teman saya yang mantap memutuskan pulang ke Indonesia, sekarang punya blog sendiri dengan pemasukkan yang sebetulnya lebih dari gaji full-time pekerja low-skilled di sini! 

Jadi kalau kamu nantinya melihat ada mantan au pair yang bisa sukses beli apartemen dan mobil sendiri entah di Indonesia atau luar negeri, yang perlu kamu perhatikan bukan status "mantan au pairnya". Tapi keberuntungan dan kerja keras doi setelah jadi au pair yang mungkin saja dipenuhi tangis keringat belajar bahasa sampai level C1, siang malam menekuni profesi di bidang yang dia cintai, bersungguh-sungguh belajar sampai mendapatkan nilai memuaskan, serius membangun bisnis, hingga tak pernah berhenti mencari opportunity yang bisa menghasilkan uang. 

Berandai-andai, kalau kamu diberi kesempatan jadi au pair, apa hal lain yang ingin kamu raih setelah selesai masa kontrak?



10 comments:

  1. Bener, kriteria sukses masing2 orang itu berbeda beda. Kadang lupa suka nyinyirin yang punya kriteria sukses beda LOL (nikah, punya anak dengan bule) *kunci mulut*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yahhh.. sebetulnya aku juga 😂😂🤣🤣

      Cuma lagi2, kalo denger cerita kanan kiri emang golnya seperti itu, ya mau gimana lagi. Asal mereka bahagia aja.

      Delete
  2. Huuh kok sedih ya bacanya #baper hehe ... dua point penting yang aku garis bawahi di sini, realistis dan kerja keras.. aah nin ternyata hidup diluar ga seindah bayangan orang-orang, ada keringat dan tangis juga lelah luar biasa buat bisa bertahan diluar sana ... btw nin sekarang lagi heboh turki hunter gegara cewek indo terlalu banyak nonton keromantisan pasangan vloger pasangan indo-turki, jadi banyak yang halalin segala cara buat dapetin bule turki ga peduli tuh cowok punyaistri apa ga 😦 sedih dah dengernya, takut aja nih indo tercoreng di kalangan wanita turki gegara pada turki hunter ... mereka hanya ngeliat kalo nikah sama bule turki itu enak .. ya Allah 😅 mereka ga tahu aja hidup diturki itu keras .. sama kayak kamu yang butuh usaha ektra buat bertahan di sana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang salah emang yg bikin video! Yang diceritakan yang indah2 semua 😆 tau sendiri orang Indonesia kan demen nelen mentah2 tanpa digoreng dulu. Udah deh kelar, otaknya cacingan.

      Kalo aku liat, kenapa Turki, mungkin karena background agama juga kali ya. Even liberal dan masih minum alkohol, tapi mayoritas orang Turki masih Islam di hati. Bolong2 menjalankan rukun Islam, tp tetep gak mau makan babi 😁

      Delete
  3. Dua hal yang aku garis bawahi .. realistis dan kerja keras, ini modal buat sukses ... thanks cantik buat postingannya moga segala kemudahan mengiringi langkah kamu 😄😄

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener. Setelah aku liat2, mau dimanapun kamu berada, keknya 2 hal itu mendukung banget.

      Ada orang yg pengen banget bikin usaha warung nasi. Kalo gak realistis sama target, keknya tu warung nasi gak bakalan bertahan lama. Kalo gak kerja keras membangun hubungan baik dengan konsumen, yakinlah.. pasti baru 2th udah bye.

      Delete
  4. Andai oh andai hahah. I wish I was bold enough to break all of my boundaries to do au pair. Pas kuliah sempet kesasar di situs AuPairWorld, cuma sebatas lewat aja. Padahal waktu itu pengen banget hidup di luar tapi harus tinggal buat keluarga. Waktu awal2 kerja ketemu blog kakak, rasanya langsung pengen angkat kaki hahaha. Yah, banyak jalan menuju Roma. But if I had the chance to be an au pair, after that definitely would go for study in Germany since my rested in peace grandpa loved the country so much, make a good living, then wandering Europe and this globe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Santai aja, Ruth. Tidak semua cita2 bisa terpenuhi & tidak semua orang juga bisa menggapai cita2 lewat au pair. Ada yg memang udah rejekinya jadi au pair dulu, ada yg sekarang masih di Indonesia sampe akhirnya mengais rezeki di sana. Gak ada yang salah, cuma mungkin caranya aja berbeda ☺️

      Jerman emang gol banyak au pair Indonesia banget tuh. Meskipun gajinya kuueeecil pas jadi au pair, tapi kesempatan tinggalnya itu yg gak putus2. Makanya banyak yang termotivasi ke sana 😇

      Delete
  5. Hi Nin ..kalau laki bisakah jadi aupair?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa. Cuma mungkin gak banyak host family yang nyari.

      Delete