Belajar Fesyen dari Ibu-ibu Eropa

Saturday, 13 February 2021


Meskipun tak pernah merasa jadi cewek stylish, namun saya termasuk orang yang cukup peduli dengan penampilan. Ke kampus, ke mol, kondangan, sebisa mungkin pakaian disesuaikan dengan acara. Gaya saya zaman sekolah dan kuliah dulu bisa dikatakan semi-vintage dan sedikit terpengaruh preppy look ala drama Asia. Kebanyakkan isi lemari hasil perburuan dari pasar pakaian bekas imporan Asia Timur yang menurut saya, modelnya lebih unik dan retro. Sepatu yang saya pakai juga bukan dari merek ternama, karena harganya cuma 40-50 ribuan. Seseru itu belanja di Palembang karena 100 ribu Rupiah pun sudah bisa dapat setelan lengkap dari atas sampai bawah! Walaupun, gaya belanja seperti ini cukup sering ditentang oleh ibu saya sendiri.

"Kalau Mama, daripada beli barang murahan tapi mudah rusak, lebih baik langsung beli barang mahal tapi awet," kata beliau saat itu.

"Ya enak kalau ada uangnya. Bagaimana kalau belum ada, tapi ingin sepatu baru?" kilah saya.

"Ya menabung dong!"

Lama kalau harus menabung dari gaji freelance cuma demi sepatu. Karena ibu tinggal sendiri, saya juga lebih berhati-hati dalam minta uang jajan. Kalau memang belum mampu beli kualitas, beli yang murah pun tak apa. Lagipula sepatu 50 ribuan di kaki saya awet-awet saja. Berbeda memang dengan kaki ibu saya yang sedikit sensitif dengan sepatu murah karena jenis telapak kakinya cukup lebar untuk ukuran sepatu lokal 😅.

Berangkat ke Belgia, saya tetap membawa beberapa koleksi baju hasil shopping dari pasar bekas. Lumayan bisa menghemat, pikir saya saat itu. Namun ternyata yang saya pahami, jangan bawa baju banyak-banyak dari Indonesia karena setibanya di negara tujuan pasti akan kalap belanja lagi! Apalagi baju yang dijual di Eropa modelnya lebih disesuaikan tiap musim, ketimbang beli di Indonesia yang kemungkinan kurang cocok digunakan di cuaca ekstrim.


Betul saja. Saya yang dulu di Indonesia miskin dan lebih sering berburu baju ke pasar bekas, setibanya di Belgia jadi mendadak impulsif. Tak ada yang salah belanja barang preloved, namun kadang memanjakan diri belanja baju baru tetap perlu. Merek semisal H&M yang dulu masuk tokonya di Jakarta saja takut melihat price tag-nya, akhirnya punya kesempatan beli satu dua barang di sana. Baru sadar juga bahwa H&M di Eropa itu merek biasa saja alias pakaian sejuta umat, mirip Matahari di Indonesia. 

Pramuniaga di toko-toko Eropa cenderung cuek dan tak terlalu menguntuti orang yang belanja. Makanya pelanggan sangat bebas mencoba ini itu, masuk keluar fitting room, dan berakhir tak beli apa-apa pun tak masalah. Karena hobi keluar masuk toko dan window shopping, saya sempat memenuhi isi lemari dengan koleksi Forever 21, Bershka, Pimkie, sampai Pull & Bear. Maklum, di Palembang belum ada merek Eropa seperti ini. Makanya hasrat belanja yang lebih terlihat seperti balas dendam pun semakin menjadi. 

Courtesy NEXT

Kalau boleh menilai, orang Belgia sebetulnya tidak terlalu modis dalam mempresentasikan diri sehari-hari. Saat tinggal dengan dua keluarga berbeda di Belgia, host mom pertama saya yang orang Maroko lebih mementingkan penampilan ketimbang host mom kedua yang asli Belgia. Tapi karena host mom Maroko ini jugalah saya jadi kenal NEXT, toko busana asal Inggris, yang juga salah satu favoritnya.


I loooove koleksi pakaian Autumn-Winter (AW) yang didominasi warna-warna tanah dan mantel-mantel hangat. Salah satu katalog AW dari merek pakaian Prancis (yang saya super lupa apa namanya) pernah mampir ke rumah karena host mom Maroko saya sempat jadi pelanggan. Such my styles, tapi sayang harga pakaiannya mahal-mahal sekali. Tapi karena sering membolak-balik katalog tersebut hampir setiap hari, saya jadi terinspirasi untuk ganti kiblat ke gaya cewek-cewek Prancis yang lebih simpel, well-fitted, dan terlihat elegan. Namun karena belum mampu beli mantel di atas €200, alternatifnya saya menemukan pilihan mode yang mendekati merek tersebut di NEXT.

Di Belgia saat itu NEXT belum ada toko fisiknya sampai saya beberapa kali harus online shopping. Tapi sumpah, I truly love their jeans and trousers collections! Potongannya super pas di kaki dan banyak pilihan dari yang kasual sampai formal. Mereka punya pilihan ukuran Petite untuk si mungil dengan tinggi <163 cm dan Tall untuk si jangkung >168 cm. Saking cintanya dengan koleksi celana mereka, sampai sekarang saya belum menemukan potongan celana dari merek mana pun yang cocok di kaki. Sayang, berat ongkos kirim dan NEXT tidak pernah sekali pun menawarkan diskon meskipun belanja online!

But, hold on! Gaya berpakaian saya tak hanya dipengaruhi sampai di situ.

Bertransisi dari kebanyakan orang Belgia yang cenderung praktis saat berpakaian, saya amazed saat pindah ke Denmark. Oh man, nobody told me that Danes are super stylish! Oke, saya tahu kalau Swedia memang pusat modenya Eropa Utara dengan H&M, Tiger of Sweden, Acne Studios, Kappahl, serta beberapa jenis merek lainnya yang sudah mendunia. Di Eropa Barat saya tahunya ada Prancis dan di Selatan ada Italia serta Spanyol. Tapi ibukota Denmark, Kopenhagen, tenyata tak bisa luput dari perhatian karena kota hipster ini jalanannya setiap hari bak runway! Apalagi ketika musim panas orang-orang kompak berkacamata hitam saat mengayuh sepeda dengan outfit simpel nan stylish, ibarat starter pack harian warga Kopenhagen. Menariknya, orang Denmark super konservatif dalam memilih warna karena koleksi pakaian mereka lebih didominasi warna gelap semisal hitam atau navy. Tak terkecuali host mom saya di Denmark, Louise.

Louise adalah orang yang paling banyak mempengaruhi gaya berpakaian saya sampai sekarang. She's a true lady! Beliau bisa saja modis dengan hanya memakai celana baggy dan tanktop saat mengasuh bayi, lalu bertansisi menjadi seorang lady saat keluar rumah. Berbeda dengan cewek-cewek Asia dan Amerika yang bangga punya dressing room di rumah, Louise tak punya banyak lemari dengan ratusan koleksi sepatu dan tas. Lemarinya hanya dua pintu, namun isinya sangat mudah di-mix and match. Favoritnya, high heels hitam dan elegant black dress!

Louise's starter pack (Courtesy MANGO)

Uniknya, saya yang sudah terpengaruh 'je ne sais quois' fesyen Prancis belajar banyak hal dari Louise yang gaya berpakaiannya mirip-mirip cewek Prancis. Intinya, belajar minimalis. Prinsip ibu saya sebelumnya ternyata berlaku dengan cara belanja cewek-cewek Prancis; tak apa beli baju sedikit, asal kualitasnya bagus dan bisa awet dipakai. Kelola isi lemari dengan strategi capsule wardrobe, yaitu kumpulkan atau beli saja beberapa potongan pakaian yang super esensial dengan warna yang mudah dipadu-padankan. Mencontek dari lemari Louise, koleksi pakaian saya kala itu hanya berkutat di warna-warna netral semisal blushy pink, peach, putih, tan, navy, dan hitam. 

Karena tinggal serumah, gaya saya setiap hari pun sangat terpengaruh dari apa yang Louise pakai. Tak ada acara kemana-mana, saya tetap mandi tiap hari, berdandan, memakai baju-baju bagus, dilengkapi dengan flat shoes. Rumah host family saya dulu boleh pakai sepatu di dalam rumah, makanya kaki saya terlihat lebih cantik memakai flat shoes hitam atau summer sandals walaupun sedang 'membabu' di dapur. Mengikuti Louise yang setiap hari memakai parfum, saya pun latah beli dan mengoleksi parfum untuk disemprotkan setiap hari. Life seemed so elegant those days!


Mungkin juga karena semakin peduli kualitas, saya hampir tak pernah lagi belanja di H&M dan beralih ke merek asal Spanyol, MANGO. Kalau kalian membedah isi lemari saya, hampir semua pakaian terutama mantel, adalah koleksi MANGO. Saya sangat suka model pakaian mereka yang well-fitted dan kualitasnya jauh di atas H&M. Sebetulnya ada beberapa merek yang sempat saya incar semisal GANNI, Samsøe Samsøe, atau merek asal Swedia, Acne Studios. Tapi karena cukup mahal, sampai sekarang masih setia dengan MANGO yang harganya masih cocok di kantong.

Courtesy MANGO

Belanja di Denmark sama asiknya dengan di Belgia karena masih satu wilayah Uni Eropa. Saya beberapa kali sempat beli baju dari situsnya UNIQLO (karena dulu toko fisiknya belum buka di Kopenhagen) dan ASOS tanpa harus takut kena pajak belanja layaknya di Norwegia. Salah satu fashion staple favorit saya yang wajib ada saat musim dingin adalah cozy and warm scarf seperti blanket scarf yang lebar. Cocok untuk dililitkan ke leher dan melindungi dari angin Denmark yang semriwing tiap kali naik sepeda. Dulu ASOS punya koleksi scarf bagus-bagus dan beraneka ragam, tapi entah kenapa koleksinya sekarang lebih sedikit.

Meskipun kualitas, harga, dan model mantelnya hampir mirip MANGO, namun sebetulnya saya sangat jarang belanja di ZARA. Saya tahu hampir semua orang suka ZARA. Tapi mungkin karena MANGO terkesan lebih chic, makanya saya jarang menemukan koleksi yang pas tiap kali ke ZARA. But! I do like shopping there during winter sale. ZARA punya koleksi atasan dari TRF yang harganya bisa terjun bebas kalau sedang diskon. Yang pasti, worth to buy dengan kualitas yang oke.

Courtesy ZARA

Terlalu lama mengekor Louise yang lady-like, saya merasa sedikit overdressed ketika pertama kali berkunjung ke rumah host family di Norwegia. Saat itu saya cukup rapi dengan flowy shirt, black jeans, dan boots hitam, namun hanya disambut host mom dengan white tee dan jeans biru gombrengnya. Too casual to welcome a guest, menurut saya. Meskipun lambat laun saya belajar; tidak seperti dua negara tetangganya di Skandinavia yang modis, orang Norwegia memang tidak memproduksi baju untuk runway, tapi persiapan salju!

Berbeda dengan orang Denmark yang mau sedingin apapun resleting atau kancing depan jaket tetap dibuka, hal tersebut tak berlaku di Norwegia. Jangan pernah coba-coba ingin sok bergaya ala model kalau tak mau badan sakit-sakit ngilu karena dingin! Di Norwegia itu sejatinya tak pernah ada cuaca buruk, tapi kitanya yang salah berpakaian. Di luar saljuan? Ya pakaialah jaket yang tepat meskipun badan terlihat seperti lemper. Di luar lagi licin? Pakailah boots musim dingin ditambah spike kalau tak mau tergelincir. Di luar hujan? Jangan malu pakai poncho atau jaket hujan meskipun terlihat kurang keren! Poinnya, pakailah pakaian yang benar sesuai cuaca!


Punya perlengkapan tempur tiap musim penting sekali kalau memutuskan tinggal di Norwegia. Sure, orang Norwegia terkadang juga bisa tampil modis apalagi yang tinggal di kota besar dan bisa nongkrong kapan pun. Tapi bukan berarti kita tak memerlukan hiking boots anti air, jaket anti angin, dan dalaman wol. Karena sesungguhnya, petualangan di alam Norwegia itu justru lebih menyenangkan ketimbang cuma hangout di pusat kota!

Courtesy Get Inspired

Bicara harga, perlengkapan adventure dan outdoor dimana pun juga pasti tidak murah. Jaket bagus anti angin, anti air, dan bisa dibawa sampai di minus -40 harganya di Norwegia bisa di atas NOK 2000 (sekitar 3 juta Rupiah). Apalagi kalau diproduksi lokal yang memang sudah dicocokkan dengan iklim setempat serta diisi dengan down (bulu angsa) yang bagus, harga diskonan dan secondhand-nya pun tak akan pernah di bawah ribuan.

Karena cuaca yang ekstrim seperti ini, gaya berpakaian saya saat pindah ke Norwegia pun berganti lagi tanpa perlu harus selalu terlihat keren saat di foto. Pernah suatu kali masih terbawa gaya berpakaian di Denmark, saya yang cuma di rumah memutuskan memakai flowy shirt saat musim dingin. Baru buka pintu sebentar, saya sudah kedinginan dan disindir host dad karena pakaian saya saat itu terlalu tipis. Pernah karena malas pakai layer kabanyakkan, saya hanya menggunakan satu layer sweater katun saat -13 lalu sukses membuat tubuh jadi meriang setelahnya.

Kejadian juga karena malas beli boot musim dingin yang modelnya jelek semua, baru setapak keluar rumah saya sudah terpleset es. Untungnya pantat duluan yang mendarat di lantai, bukan kepala. Takut jatuh lebih parah, di hari itu juga saya putuskan langsung memesan sepatu boot musim dingin di toko online! Sekali lagi, investasi pakaian yang benar saat di Norwegia itu penting sekali ketimbang hanya ingin keren untuk feed Instagram mu! 

Courtesy Dale of Norway (kiri) dan Norlender (kanan)

Karena beberapa wilayah Norwegia masih dingin di pertengahan musim panas sekali pun, investasi sweater hangat juga sama pentingnya dengan jaket tebal. Saya sedikit bergeser meninggalkan sweater akrilik yang kurang awet dan sebisa mungkin mengganti dengan sweater 100% wol yang lebih cocok untuk cuaca dingin. Nenek-nenek zaman dulu yang dibekali ilmu merajut biasanya menghadiahi cucu dan anak-anak mereka sweater wol rajutan sendiri. Makanya sampai sekarang motif rajut khas Norwegia masih jadi keunikan budaya lokal serta identik dengan merek dagang Marius, Dale of Norway, dan Norlender. Merek tersebut sudah jadi ikon fesyen tradisional Norwegia dan sangat lama berkiprah di pasaran. Walaupun motifnya seperti pakaian nenek-nenek, namun kualitas benangnya terkenal bagus dan dijual dengan harga tak murah. Saya biasanya mencari sweater 100% wol bekas yang mirip seperti ini dari online market semisal Finn, karena ingin beli barunya pun masih harus merogoh kocek yang dalam dulu.

Baca juga: The Bunad Dreams

Meskipun selera fesyen orang Norwegia jauh dari model-model catwalk dan lebih mirip anak pecinta alam, tapi sebetulnya kalau difoto juga tak kalah Instagrammable. Apalagi kalau latarnya menghadap fjord, gunung salju, atau pantai cantik di pesisir selatan, ingin pakai celana lari dan kaos pun sudah terlihat super keren. Yang paling penting bukan soal seberapa keren bajunya, tapi seberapa nyaman outfit kita saat diajak beraktifitas di luar. Jangan sampai diajak mendaki gunung, malah pakai Converse. Norwegians will laugh at you!


Anyway, gara-gara membahas soal fesyen dari atas sampai bawah, bukan berarti juga saya sekarang sudah menjelma jadi cewek super stylish, ya. I still adore French women (and Louise) dalam keminimalisan mereka, tapi saya bisa juga menjelma jadi super outdoorsy dan melupakan parfum kalau memang harus. Tinggal lama di Eropa, bukan berarti juga sekembalinya ke Indonesia saya jadi terlalu ke-Baratan dan selalu memakai pakaian dari merek ternama. Sedikit kaget ketika pulang seorang teman ada yang berkomentar, "Nin, kok kamu biasa saja (gayanya)? Aku pikir kamu ikut gaya bule di Eropa."

Entahlah bule Eropa yang mana maksudnya karena faktanya tidak semua orang Eropa pun modis. Mungkin pikirnya karena sudah terlalu lama di luar, pulang-pulang saya sudah tak malu pakai rok mini dan kacamata hitam kemana-mana ala selebgram. Padahal sepulangnya ke Indonesia, saya kembali lagi jadi Nin dulu yang juga cinta Shopee dan sebisa mungkin cari barang murah meriah. Lebih asik belanja di Indonesia malah, karena jadi modis tak perlu mahal!

Bagaimana dengan kalian sendiri? Punya fashion journey yang mengubah gaya dari waktu ke waktu?



4 comments:

  1. kalo aku dr dulu prinsip beli baju bagus agak mahal dikit dan ngga usah punya banyak2 ka nin.. makanya cari warna netral. Selain hemat space dirumah + Awet bs tahunan Tp nyucinya juga kudu ati-ati �� tp semenjak pandemic dan dirumah aja.. uda lama ngga beli baju ampir kaga mikirin style kecuali pas liburan doang ��
    Emg klo cari celana tuh agak susah yang ngefit ya.. Setuju sm Mango ngga semahal Zara tp kualitas lumayan sm .Mango juga lebih fresh ky anak muda gt yah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku dulu di Indo gak tau konsep “beli dikit, gapapa mahal asal awet” ini 😅 Maklumlah, di Indo dulu kan kondangan aja ampir tiap minggu. Itu aja kadang dikasih orang bahan buat jahit sendiri yg warnanya ngejreng2. Jadi emang susah banget ngehandle isi lemari 😅

      Kalo harga, MANGO sama ZARA beneran sama kok. Cuma kalo menurut aku, malah kebalikannya; justru ZARA yg lebih banyak koleksi anak muda 😀 Yang modelannya MANGO lebih banyak lady-look.

      Delete
  2. Dari jaman dahulu kala aku memang ngga suka baju warna warni, jadi begitu pindah ke Denmark, dah cocok dah isi lemari warna hitam, biru atau khaki/cokelat.

    Pas dulu baru pertama kerja, langsung demennya beli barang2 bermerek tertentu (ya maklumlah, kaget baru dapet duit haha), tapi setelah bbrp tahun kemudian (setelah beli rumah juga, dan duit mending dibayarkan cicilan rumah daripada baju keluaran disainer), sekarang lebih tau merek2 apa yang cocok buat aku, ga perlu mahal yang penting potongannya enak dipakai dan style cocok. Salah satu merek favorit tentu Tiger of Sweden. Dah paling cocok buat aku.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama! Hahaha.. Kaget baru dapet duit banyak dari gawean, makanya latah beli baju terus xD Meskipun dulu belinya ya merek2 "biasa" aja kalo di Eropa sih.

      Tapi setuju banget itu, Ce! Lama2 karena sering belanja ini jadinya ketemu sendiri merek yang pas dan enak dipakai. Udah males belanja nyobain merek lain kalo udah nemu satu yang cocok banget ;)

      Delete