Langsung ke konten utama

The Art of Multitasking: Antara Tesis, Kerja, dan Kursus Bahasa



Finally, bisa duduk mantap dan mengisi konten di blog yang sekarang hanya bisa terisi satu bulan sekali because I am seriously dying! Dipikir semester 4 akan terasa lebih indah dan santai dari tiga sebelumnya, namun ternyata saya salah. Semester ini mood saya ibarat roller coaster dengan tekanan dari kanan-kiri-atas-bawah. Tekanan hidup ini tak hanya karena was-was memikirkan study permit ditolak, namun perjuangan untuk lulus kuliah ternyata ombaknya luar biasa! Sejauh ini April adalah bulan tergila yang pernah saya lalui. Bersyukur sudah berakhir dan saya masih bisa melaluinya dengan sehat walafiat. 

Sedikit cerita soal pengerjaan tesis, tenggat waktu yang diberikan untuk pengumpulan draf akhir adalah pertengahan bulan Mei. Sebelumnya, dua supervisor saya memang sudah menyarankan untuk mengumpulkan draf pertama ke mereka setidaknya 2-3 minggu sebelum tenggat waktu. Artinya, di minggu akhir April draf pertama sudah harus selesai. Namun yang jadi masalah, untuk menuju tahap selesai ini tak mudah karena mengumpulkan motivasi menulis itu sulit sekali. Prioritas saya saat itu bukan ke tesis, tapi malah keasilkan kerja.

Meskipun banyak mahasiswa internasional fokus dulu ke tesis dan menunda untuk mencari pekerjaan setelah lulus, saya malah sebaliknya. Dari awal masuk kuliah dua tahun lalu, saya sudah mulai mencari info pekerjaan penuh waktu sekalian mempersiapkan resume. Setelah lulus kuliah, mahasiswa internasional di Norwegia bisa mengajukan aplikasi job seeking visa selama 1 tahun yang bisa dimanfaatkan untuk mencari kerja. Namun bagi saya, semakin cepat dapat pekerjaan justru semakin baik tanpa perlu lagi bayar aplikasi visa. Untuk dapat visa ini syaratnya juga lumayan karena memerlukan uang jaminan yang jumlahnya 2 kali lipat dari permohonan aplikasi study permit


Mengingat sudah mendekati akhir masa kuliah, saya mulai fokus mencari lowongan kerja penuh waktu dari Januari. Awalnya tidak ingin buru-buru karena saya masih punya kontrak kerja paruh waktu sampai bulan Juni. Tapi karena tahu cari kerja di Norwegia itu susah dan tak tahu nasib setelah Juni bagaimana, tak ada salahnya mulai memperbarui resume sambil buka info lowongan kerja setiap hari. Kalau ditanya mengapa tak memperpanjang kontrak di kantor lama, itu karena upah yang diberikan terlalu minim dan tak ada jaminan karir ke depannya. But it's better than being jobless. Pengalaman kerja yang saya dapatkan nyatanya sangat berguna, networking tambah luas karena kenal banyak orang, dan yang terpenting, saya dapat banyak bahan tesis juga karena informasi dari kantor.

Awal bulan Maret, beberapa CV mulai aktif saya sebar sambil terus mengumpulkan data untuk bahan tesis. Pekerjaan di kantor jalan terus dan dua kursus bahasa daring juga sebisa mungkin saya ikuti. Jadwalnya cukup mepet karena kursus bahasa digelar pagi hari dan seringkali saya harus menyelip di waktu break untuk bekerja. Meskipun cukup melelahkan jumping sana-sini, namun berusaha diatur-atur saja asal di kelas tetap engaged dan kerjaan beres. Everything was 'normal' sampai akhirnya saya menerima 3 email panggilan wawancara! Dua untuk posisi yang relevan dengan pekerjaan paruh waktu di tempat sebelumnya, satunya untuk posisi Data Analyst hasil dari rekomendasi kolega di kantor.

Long story short, dua minggu kemudian saya ditelpon oleh salah satu perusahaan untuk segera bergabung secepat mungkin. Gayung bersambut karena kebetulan saya juga kurang sreg dengan posisi di dua perusahaan lain. Tapi kalau boleh jujur, saya tidak begitu syok pun happy ketika menerima tawaran. Tidak syok, karena merasa cukup percaya diri kalau memang akan diterima. I aced both the interview and presentation quite well. Posisi yang saya lamar juga sangat cocok dengan kompetensi dan pengalaman, makanya semuanya terasa berjalan mulus. Pun tak bahagia, karena prosesnya berjalan secepat kilat hingga saya harus mengabari mereka setelah libur Paskah. Satu lagi, karena fokus saya mencari pekerjaan tetap selepas lulus kuliah, perusahaan yang menerima saya ini masih ada trial period layaknya anak magang.


Yang ada kala itu, bingung. Bingung apakah bekerja 40 jam per minggu dengan gaji anak magang selama masa probasi cukup worth-it. Saya juga tak menyangka bahwa proses rekrutmen akan berjalan secepat ini hingga harus segera onboarding di pertengahan April, bukan Mei. Meskipun waktunya cukup fleksibel karena kerja dari rumah, tapi semua meeting dan komunikasi berjalan di jam kerja 9-5. Ribetnya, dua kursus bahasa Norwegia juga semuanya berlangsung di pagi hari. Plus, saya masih terikat kontrak paruh waktu di tempat lain dengan jam kerja antara 9-5. Juga tidak ketinggalan, akhir April saya masih harus menyelesaikan draf tesis yang saat itu baru rampung 4 halaman. It was de trop!

Saya terlihat seperti salah dalam mengatur strategi di sini. Tapi percayalah, semuanya memang harus berjalan demikian. Yang pertama, saya tak ingin menyerah begitu saja dengan kursus bahasa Norwegia gratisan yang cuma bisa saya dapatkan selama menjadi mahasiswa di Universitas Oslo. Kedua, saya sadar bahwa kewajiban utama tetap harus menyelesaikan kuliah dan tesis adalah gerbang akhir menuju kelulusan. Ketiga, kalau tak kerja ya tak punya uang. Mau tak mau semuanya harus diborong meskipun di awal sempat terpikir untuk withdraw dari kursus bahasa karena kesulitan mengatur waktu.

Tapi setelah minta saran kanan kiri, akhirnya saya putuskan untuk menerima tawaran kerja dari perusahaan di atas. Lumayan, setidaknya gaji yang didapat 3 kali lebih besar dengan workload yang secuil ketimbang pekerjaan di tempat lama. Baiknya lagi, posisi yang saya isi ini juga sangat relevan dengan passion saya di bidang desain. Sistemnya juga adalah kerja kantoran yang saat negara sedang lockdown pun, saya bisa kerja remote dan tetap digaji. Tak bisa dibayangkan jika saya masih kerja di restoran tapi sering libur karena tak punya shift, mengingat pelanggan belum boleh makan di tempat. Tak apa menjalani masa probasi dulu sekalian cari lowongan di tempat lain, ataupun menunggu kepastian siapa tahu kontrak bisa diperpanjang.

Kembali ke kantor lama, leader di divisi cukup kaget ketika saya minta resign. Meski mungkin bisa kerja 60 jam per minggu* dengan upah dobel di dua tempat, tapi saya masih sayang dengan kesehatan mental. Untuk apa uang dikejar kalau mental sakit-sakitan. Hingga akhirnya kabar dari manajemen keluar; saya harus berhenti per 30 April 2021! Jika mau dipertajam, saya dipecat lebih cepat dari jadwal termination period yang harusnya mewajibkan saya bekerja sampai akhir Mei. Kantor lama hanya tak mau saya punya conflict of interest yang akan merugikan mereka. Lucunya, kantor baru yang awalnya juga skeptis akan hal serupa malah lebih longgar dan mengizinkan saya menyelesaikan kontrak di kantor lama hingga selesai. Padahal kantor baru punya manajemen lebih besar dan terstruktur, tapi cukup pengertian dan tak punya trust issue asal saya bisa membagi waktu.


Meski jatuhnya dipecat setelah pengajuan resign, tapi sejujurnya saya sangat lega bisa keluar dari kantor lama lebih cepat. Namun kesalnya, mereka hanya memberi waktu 2 minggu untuk menyelesaikan semua sisa tugas! Bersamaan di dua minggu tersebut, saya harus segera menyelesaikan draf tesis, mengikuti sisa kelas bahasa Norwegia, dan juga mulai bertugas di kantor baru. Everything was all over the place dan di situlah saya mulai mati rasa.Walaupun sudah diingatkan senior di kampus kalau tesis tetap harus jadi prioritas, namun praktiknya lebih susah. 

Mau tak mau, saya harus membagi waktu agar semuanya beres meski hasil akhirnya kurang maksimal. Contohnya, karena sudah sibuk sana-sini, terpaksa saya harus mengorbankan kursus bahasa Norwegia dan berpartisipasi di kelas ala kadarnya. Di kelas daring, kamera saya matikan dan seringkali fokus ke laman lain untuk bekerja. Kadang merasa bersalah juga dengan gurunya yang sangat passionate dan cekatan dalam mengajar, namun dianggurkan begitu saja. Jika saja fokus tak terbagi seperti ini, mungkin saya lebih siap cari kerja karena kompetensi bahasa semakin baik. Faktanya, yang penting lulus saja sudah syukur.

Lalu karena pagi sudah penuh oleh dua kerjaan dan dua kursus bahasa, malam ya tetap harus bayar hutang tugas yang belum beres. Tidur di atas jam 3 pagi itu adalah sebuah kenormalan. Akhir pekan, bukannya senang bisa istirahat sejenak dari laptop, saya masih harus kejar waktu menulis tesis. Pernah satu hari saya dedikasikan hanya untuk menulis tesis, dapat juga 10 halaman. Meski sepanjang hari terkurung di rumah, tapi optimis saja kalau 2 minggu harus tuntas draf pertama. Untungnya semua kolega di kantor baru sangat mengerti keadaan saya yang masih jadi mahasiswi tingkat akhir ini. Di minggu-minggu awal, mereka cukup fleksibel masalah kerjaan dan percaya saja kalau tugas kantor akan beres. Yang paling lelah sebetulnya never ending meeting di kantor baru yang kadang saya bingung kapan kerjanya kalau Zoom call sepanjang hari.


Mendekati hari-hari akhir di bulan April, mulailah saya mengeluarkan jurus 'the power of kepepet'. Tesis tetaplah jadi prioritas utama dan finally, draf pertama selesai juga! Kursus bahasa, check! Tugas kantor baru, check! Namun saya minta perpanjangan satu minggu lagi di kantor lama untuk menyelesaikan laporan akhir. It was not complicated to accomplish, hanya saja saya menaruh tugas ini di daftar paling akhir prioritas. 

Now I am mastering the art of multitasking! Tentukan waktu dan satu prioritas, fokus, tapi tetap keep on track di tugas lainnya. Resepnya begitu, meski prosesnya luar biasa sulit karena saya tak bisa menjamin semua hasil akhir sama kualitasnya. Mau bagaimana pun, tetap ada yang harus dikorbankan. I am not a wonder woman (or am I?) dan untuk sekelompok orang macam saya, multitasking jadi wajib karena sifatnya lifesaving. Sampai sini saja, saya akui kalau kehidupan jadi au pair itu jauuuh lebih baik daripada mahasiswa dana pribadi 😅

Untuk kalian semua, future self-funded students, semoga kuat menghadapi segala rintangannya ya!


*Info:
Di Norwegia, mahasiswa internasional sebetulnya hanya diperbolehkan bekerja paruh waktu maksimal 20 jam/minggu. Tujuannya agar mahasiswa tak sibuk kerja sampai melupakan tugas utama sebagai pelajar. Di posisi ini saya cukup nekad mengambil tawaran kerja penuh waktu 40 jam/minggu di sisa akhir semester musim semi. It was so tough to decide mau menerima tawaran mereka atau tidak. Tapi berhubung ujung-ujungnya harus cari kerja juga sebelum musim panas, then I took the risk! Serius, semoga kalian yang berencana lanjut kuliah negeri bernasib lebih baik!



Komentar

  1. Visa/permitnyaa di kantor baru disponsorin ga?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di Norwegia kalo mau apply visa kerja gak perlu pake bantuan sponsor. Apply sendiri juga bisa asal udah dapet kontrak kerja, posisinya cocok sama background & kompetensi, serta gajinya layak. Banyak kantor yang pake jasa pengacara untuk bantuin apply permit pegawainya, tapi banyak juga pegawai yg apply sendiri asal semua syarat terpenuhi.

      Hapus
  2. Yay! Congrats for the new job. It sucks with the gaji magang in probation period, but better than being jobless, it's all for the experience, once you have one foot in the door, everything is going to be easier from there.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih, Cece ;)

      Iya nih, masih gaji magang sampe abis summer. Tapi gapapalah, sekalian nyari2 kerjaan lain kalo emang nyangkut. Kalo gak, nungguin yang ini aja dulu kali aja langsung digaji yang bener abis probasi :)

      Hapus
  3. Nin, selamat buat kerjaan baru serta tesisnya yang udah tuntas dibikin ya! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thank you, Umi!! ^^

      Tesis sebetulnya udah kelar draf pertama. Deadline diundur sampe minggu akhir Mei. Jadinya sekarang aku males2an lagi. Haha!

      Hapus
  4. Sendiri di negeri orang memang musti mandiri untuk survival ya... Glad that you've passed some of the barriers now. Sehat-sehat selalu dan sukses terus untuk Mbak Nin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo sendiri, tapi finansial di-support ortu/pemerintah/beasiswa, survive-nya gak akan seberat ini sih. Soalnya inget banget dulu S1 di Indonesia, karena uang bukan masalah (karena masih numpang sama ortu), jadinya bisa fokus di skripsi. Sekarang susah banget karena semuanya mesti jalan paralel.

      Makasih banyak ya semangatnya! Kamu juga di sana, sehat dan sukses selalu ;)

      Hapus
  5. Aku khawatir sama kakak. Alhamdulillah dengar kabar baik dari kak Nin. Sehat2 dan semangat selalu kak <3 Moga lancar2 semuanyaaa ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. So sweet of you, Kiky, sampe khawatir sama keadaan aku di sini :) Makasih banyak ya perhatiannya. Puji Tuhan, Alhamdulillah, semuanya lancar2 aja kok. Ya walaupun ya, seadanya aja. Haha..

      Kamu juga di sana, sehat2 selalu! SUKSES! <3

      Hapus
  6. Hi mba Nin, as always you are so strong mbaaa. Selalu nungguin cerita selanjutnya, sebenarnya nggak tahu mau komen apaan saking supernya kamu mba. Selalu kuat mba Nin sukses dan aku yakin hal baik sudah menunggu mba Nin diujung sana. Luv~~~~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaaamminn..
      Makasih banyak banget ya. Kamu udah ngeluangin waktu untuk komen gini pun rasanya udah seneng banget. Serasa banyak yang care :) Ditungguin ya cerita selanjutnya. Gak melulu soal perjuangan kok, I bet. Hihi..

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bule Ketemu Online, Bisakah Serius?

( PERHATIAN!!! SAYA BANYAK SEKALI MENERIMA TESTIMONIALS SOAL COWOK-COWOK DARI INGGRIS YANG MEMINTA ALAMAT SI CEWEK YANG DIKENAL VIA ONLINE. FYI , HAMPIR SEMUA MODUS PENIPUAN SEPERTI INI BERASAL DARI INGGRIS DAN AMERIKA! JANGAN PERNAH TERTIPU KEMASAN KULIT PUTIHNYA, KARENA BISA JADI YANG KALIAN AJAK CHATTING -AN ATAU VIDEO CALL -AN ITU ADALAH PENIPU !! JANGAN PERNAH BERI DATA DIRI SEPERTI NAMA LENGKAP, ALAMAT, SERTA NOMOR IDENTITAS ATAU KARTU KREDIT KE ORANG-ORANG ASING LEWAT DUNIA DIGITAL! BE SMART, BE AWARE, AND PLEASE JANGAN DULU BAPERAN KALO ADA YANG MENGAJAK NIKAH PADAHAL BARU SEMINGGU KENAL!!!) Selain berniat jadi au pair, ternyata blog saya banyak dikunjungi oleh cewek-cewek Indonesia yang ingin pacaran atau sedang dekat dengan bule. Gara-gara tulisan tentang cowok Eropa dan cowok Skandinavia , banyak pembaca blog yang mengirim surel ke saya dan curhat masalah cintanya dengan si bule. Aduh, padahal saya jauh dari kata "ahli" masalah cinta-cintaan. Saya sebetu

Mempelajari Karakter Para Cowok di Tiap Bagian Eropa

*I talk a lot about European boys in this blog, but seriously, this is always the hottest topic for girls! ;) Oke, salahkan pengalaman saya yang jadi serial dater  selama tinggal di Eropa. Tapi gara-gara pengalaman ini, saya juga bisa bertemu banyak orang baru sekalian mempelajari karakter mereka. Cowok-cowok yang saya temui ini juga tidak semuanya saya kencani. Beberapa dari mereka saya kenal saat workshop, festival, ataupun dari teman. Beruntung sekali, banyak juga teman-teman cewek yang mau menceritakan pengalamannya saat berkencan dari cowok ini, cowok itu, and all of them have wrapped up neatly in my head! Secara umum, tulisan yang saya ceritakan disini murni hasil pengalaman pribadi, pengalaman teman, ataupun si cowok yang menilai bangsanya secara langsung. Letak geografis Eropanya mungkin sedikit rancu, tapi saya mengelompokkan mereka berdasarkan jarak negara dan karakter yang saling berdekatan. Kita semua benci stereotipe, tapi walau bagaimana pun kita tetaplah bagi

7 Kebiasaan Makan Keluarga Eropa

Tiga tahun tinggal di Eropa dengan keluarga angkat, saya jadi paham bagaimana elegan dan intimnya cara makan mereka. Bagi para keluarga ini, meja makan tidak hanya tempat untuk menyantap makanan, tapi juga ajang bertukar informasi para anggota keluarga dan pembelajaran bagi anak-anak mereka. Selain table manner , orang Eropa juga sangat perhatian terhadap nilai gizi yang terkandung di suatu makanan hingga hanya makan makanan berkualitas tinggi. Berbeda dengan orang Indonesia yang menjadikan meja makan hanya sebagai tempat menaruh makanan, membuka tudung saji saat akan disantap, lalu pergi ke ruang nonton sambil makan. Selama tinggal dengan banyak macam keluarga angkat, tidak hanya nilai gizi yang saya pelajari dari mereka, tapi juga kebiasaan makan orang Eropa yang sebenarnya sangat sederhana dan tidak berlebihan. Dari kebiasaan makan mereka ini juga, saya bisa menyimpulkan mengapa orang-orang di benua ini awet tua alias tetap sehat menginjak usia di atas 70-an. Kuncinya, pola

First Time Au Pair, Ke Negara Mana?

Saya ingat betul ketika pertama kali membuat profil di Aupair World, saya begitu excited memilih banyak negara yang dituju tanpa pikir panjang. Tujuan utama saya saat itu adalah Selandia Baru, salah satu negara impian untuk bisa tinggal. Beberapa pesan pun saya kirimkan ke host family di Selandia Baru karena siapa tahu mimpi saya untuk bisa tinggal disana sebentar lagi terwujud. Sangat sedikit  host family dari sana saat itu, jadi saya kirimkan saja aplikasi ke semua profil keluarga yang ada. Sayangnya, semua menolak tanpa alasan. Hingga suatu hari, saya menerima penolakan dari salah satu keluarga yang mengatakan kalau orang Indonesia tidak bisa jadi au pair ke Selandia Baru. Duhh! Dari sana akhirnya saya lebih teliti lagi membaca satu per satu regulasi negara yang memungkinkan bagi pemegang paspor Indonesia. Sebelum memutuskan memilih negara tujuan, berikut adalah daftar negara yang menerima au pair dari Indonesia; Australia (lewat Working Holiday Visa ) Austria Amerika

Berniat Pacaran dengan Cowok Skandinavia? Baca Ini Dulu!

"Semua cowok itu sama!" No! Tunggu sampai kalian kenalan dan bertemu dengan cowok-cowok tampan namun dingin di Eropa Utara. Tanpa bermaksud menggeneralisasi para cowok ini, ataupun mengatakan saya paling ekspert, tapi cowok Skandinavia memang berbeda dari kebanyakan cowok lain di Eropa. Meskipun negara Skandinavia hanya Norwegia, Denmark, dan Swedia, namun Finlandia dan Islandia adalah bagian negara Nordik, yang memiliki karakter yang sama dengan ketiga negara lainnya. Tinggal di bagian utara Eropa dengan suhu yang bisa mencapai -30 derajat saat musim dingin, memang mempengaruhi karakter dan tingkah laku masyarakatnya. Orang-orang Eropa Utara cenderung lebih dingin terhadap orang asing, ketimbang orang-orang yang tinggal di kawasan yang hangat seperti Italia atau Portugal. Karena hanya mendapatkan hangatnya matahari tak lebih dari 3-5 minggu pertahun, masyarakat Eropa Utara lebih banyak menutup diri, diam, dan sedikit acuh. Tapi jangan salah, walaupun dingin dan hampa