Langsung ke konten utama

Hidup Cermat: Berburu Rabat di Eropa


Hidup di luar negeri itu berat! Meski sudah mengantongi gaji lokal, tapi bayang-bayang untuk hidup hemat tetap tak bisa dielakan. Well, setidaknya bagi saya yang dari zaman au pair pun sudah berpikir bagaimana cara mendapatkan potongan harga meski tak berstatus mahasiswa. Status au pair yang nanggung cukup membuat saya kesal; mahasiswa bukan, pekerja full-time juga bukan. Sementara di Eropa banyak diskon hanya diperuntukkan bagi mahasiswa yang berkantong pas-pasan. Padahal dengan uang saku minimum, au pair tak ada bedanya dengan para mahasiswa tersebut.

Untungnya, Eropa itu cukup adil. Ada banyak diskon khusus yang diberikan bagi young adults usia maksimal 28-34 tahun, mengingat tak semua anak muda sudah hidup makmur di usia segitu. Bukan, saya tak bicara diskon beli baju ataupun kosmetik demi menunjang penampilan, tapi potongan harga yang bisa menekan pengeluaran selama tinggal di negara orang.

Baca juga: Menghitung Uang Saku Pelajar vs Au Pair di Norwegia

Dan betul, di Eropa usia 30 itu masih dianggap muda. Banyak orang yang bahkan baru memulai kuliah S1 mereka di usia kepala 3. Tak sama seperti standar hidup orang Indonesia yang sudah harus punya rumah, mobil, dan tabungan 200 juta di usia 25 tahun. Di Norwegia misalnya, usia 'nyaman' orang baru bisa beli rumah itu dimulai saat 34 tahun. Di usia ini, diharapkan orang-orang sudah berada di level karir ternyaman dan punya tabungan yang cukup untuk membeli rumah atau apartemen pertama mereka. Tapi kalau sudah ada yang bisa beli rumah di bawah usia 30 tahun  bahkan ketika masih jadi mahasiswa, dipastikan keuangan mereka disokong dana orang tua.

Kembali ke kehidupan au pair dulu, saya suka riset kanan kiri menemukan opsi termurah apa saja yang bisa saya dapatkan di usia 20 tahunan. Usia segini itu menurut saya punya privilege tersendiri. Misal di Belgia, saya bisa beli tiket bulanan transportasi murah karena masih <25 tahun. Lalu di Denmark, saya bisa buka bank khusus anak muda dan punya kartu debit tanpa iuran tahunan. Karena suka main ke galeri seni, saya juga manfaatkan kesempatan untuk jadi anggota di beberapa museum seni seperti Louisiana Museum of Modern Art yang biaya keanggotaannya super irit untuk usia <30 tahun. Maskapai penerbangan seperti SAS juga punya harga khusus hingga usia 26 tahun. Jalan-jalan keliling Eropa naik bus atau kereta juga bisa hemat bila kita memilih tiket khusus usia anak muda. Nyatanya, it's not that bad menjadi au pair di Eropa saat muda meski uang terbatas. 

Lalu, datanglah masanya ketika saya ganti status jadi mahasiswa di Norwegia. It was even sooo much cheaper karena diskon untuk mahasiswa lebih banyak tak peduli berapapun usia mu. Di Oslo, ongkos bulanan transportasi bagi mahasiswa lebih murah 40%. Banyak restoran, gym, sampai salon memberikan diskon hingga 20% bagi yang punya status kemahasiswaan aktif. Dengan gaji paruh waktu yang hanya sanggup menutupi biaya bulanan, diskonan seperti ini sungguh sangat membantu kehidupan. Saya sangat menyarankan bagi kalian yang sedang kuliah di Eropa untuk aktif mencari diskonan khusus pelajar ini di beberapa tempat.


But now I am upgraded! Secara finansial memang lebih merdeka. Tapi saya kehilangan beberapa benefit yang super menguntungkan ketika masih jadi mahasiswa dulu. Biaya tahunan kartu debit, ongkos transportasi bulanan, biaya langganan seluler, hingga iuran keanggotaan tentunya menjadi lebih mahal. Tapi hei, saya masih muda. Haha! Apalagi yang negara ini tawarkan bagi anak-anak muda meskipun statusnya sudah upgrade jadi pegawai penuh waktu?

Iseng-iseng, saya coba riset lagi. Ternyata, diskonan untuk para young adult di level ini justru lebih menarik! Saat berlabuh di situs Nordea, salah satu bank terbesar di Norwegia, saya baru tahu bahwa punya gelar Master di Norwegia memenuhi kualifikasi sebagai nasabah prioritas mereka. Menjadi nasabah prioritas ini tentu saja membuat kita mendapatkan keuntungan premium yang salah satunya adalah punya 4 akses gratis ke lebih 1000 VIP-lounge di seluruh dunia. Selebihnya, kita juga punya konsultan keuangan pribadi dan sambungan nomor khusus saat menghubungi customer serviceWell, tak bisa jadi nasabah prioritas BCA, tak ada salahnya juga apply untuk jadi nasabah prioritas bank di negara lain.

Tak hanya itu saja, sebuah laman membuat saya semakin informatif untuk mengetahui lebih jauh tentang trade union atau serikat pekerja di Norwegia. Dikutip dari Wikipedia, serikat pekerja adalah asosiasi pekerja dalam kelompok pekerjaan yang sama, dengan tugas utama memperjuangkan gaji dan kondisi kerja yang lebih baik. Faktanya, serikat pekerja di Skandinavia, atau fagforening dalam bahasa Norwegia, punya andil yang sangat besar dalam mempengaruhi sistem ketenagakerjaan dibanding negara lainnya. Ada 4 konfederasi serikat terbesar di Norwegia yaitu LO (The Norwegian Confederation of Trade Unions), Akademikerne (The Federation of Norwegian Professional Associations), YS (The Confederation of Vocational Unions), dan Unio (The Confederation of Unions for Professionals). Sangat lumrah di negara ini, pekerja kerah putih maupun kerah biru bergabung dengan serikat pekerja. Pekerja asing yang tinggal di Norwegia juga mendapatkan hak dan fasilitas yang sama dengan para pekerja lokal untuk bergabung.


Serikat pekerja rasanya terdengar sangat formal dan serius, namun ternyata tak seperti yang saya bayangkan. Selain membantu memperjuangkan hak para pekerja, organisasi yang ada dalam perserikatan ini sama-sama memfasilitasi para anggota dengan menyediakan career coaching, evaluasi CV dan kontrak kerja, bantuan hukum, serta kursus atau acara sosial lainnya. Namun tunggu dulu, hal paling menggiurkan dari bergabung dengan perserikatan ini adalah keuntungan premium lain seperti tawaran asuransi murah, tabungan pensiun yang sangat menarik, jadi nasabah prioritas bank, diskon belanja online, sampai kesempatan networking yang sangat luas! Semua keuntungan tersebut pun ada cabangnya lagi. Misal kamu ingin pinjam dana di bank untuk beli rumah, maka bunga pinjaman yang ditawarkan akan jauh lebih rendah khusus bunga anggota. Being a member sounds so beneficial, doesn't it? I am in!

Untuk bergabung menjadi anggota serikat ini juga tergantung dengan pekerjaan atau latar belakang pendidikan terakhir. Sebagai profesional muda yang mengantongi ijazah S2, saya bergabung dengan konfederasi Akademikerne yang menaungi 12 organisasi akademik lain berdasarkan bidang studi; semisal IT, Teknik, Ekonomi, Sosial, Psikologi, dan lainnya. Sebagai anggota, saya mendapatkan banyak bantuan profesional dan keuangan yang sudah saya sebutkan di atas. Inilah yang sedikit saya sesalkan mengapa dari dulu tak pernah tahu manfaat serikat pekerja macam ini di Norwegia. Saya sempat bermasalah dengan bos India di restoran dulu dan tentunya akan sangat berguna jika tahu harus berbuat apa. Oh my, I wish I've known this long time ago! Well okay, pacar sebetulnya juga tergabung dengan serikat pekerja ini namun tak terlalu menjelaskan apa untungnya jadi anggota sampai akhirnya saya yang harus mencari tahu dan mempelajari sendiri.

Tapi bergabung dengan serikat pekerja ini juga tidak gratis. Ada iuran tahunan yang harus dibayarkan tergantung status anggota tersebut. Para anggota yang masih berstatus mahasiswa, fresh graduates, atau pensiunan, biasanya punya potongan harga khusus. Meski biayanya tak murah, namun iuran yang kita bayarkan untuk serikat ini nyatanya bisa mereduksi pajak sampai NOK 5800 tiap tahun! Rebate unlocked!

Selanjutnya, setelah berpikir tak akan pernah punya kartu kredit, saya berubah pikiran akhir bulan lalu. Usai mencari tahu dan berhitung lagi, punya kartu kredit nyatanya tak seburuk itu. Apalagi mengingat gaya belanja saya yang terlalu banyak berkeliaran di online, sebetulnya lebih cocok bayar pakai kartu kredit yang punya tawaran cashback. Sekali lagi, if only I knew, dari dulu bisa hemat sampai ribuan Krona kalau pakai potongan diskon dari kartu kredit ini. Terlebih lagi banyak bank penyedia kartu kredit menawarkan asuransi perjalanan dan ID-theft gratis yang termasuk dalam layanan. Daftar kartu kredit di Norwegia juga nyatanya tak sesulit di Indonesia. Saya hanya perlu mengisi data lengkap, lalu aplikasi sudah dijawab otomatis beberapa detik saja. Hanya saja, kita akan tetap dikenakan credit check dari bank saat mendaftar untuk melihat catatan keuangan, pajak, serta hutang tahun lalu. Bagusnya, beberapa kartu kredit di Norwegia ini tak punya iuran tahunan yang akan memberatkan jika tak digunakan. (Again) rebate unlocked!


Sebagai orang yang suka hal-hal berbau seni dan kultur, saya juga diuntungkan dengan bergabung ke salah satu bank konstruksi di Norwegia, OBOS. Warga Norwegia biasanya tertarik menjadi anggota agar bisa masuk antrian beli apartemen dan rumah. Meskipun saya belum kepikiran untuk beli rumah dalam waktu dekat, tapi menjadi anggota juga tak ada salahnya. Selain bisa masuk antrian, tujuan utama saya bergabung hanya karena OBOS menawarkan banyak sekali diskonan di tempat-tempat seni semisal opera atau teater hingga 20%. One more unlocked!

Tapi perlukah jadi anggota kanan kiri hanya demi dapat potongan diskon?

Karena jadi anggota tak gratis, tentunya ada uang ekstra yang harus dikeluarkan untuk menjamin semua manfaat yang diberikan. Bagi saya, iuran keanggotan yang dibebankan sebetulnya seimbang dengan semua keuntungan yang diterima. Punya kartu kredit, bergabung jadi anggota serikat pekerja, dan juga masuk jadi anggota bank konstruksi ini justru membuat saya lebih hemat puluhan ribu Krona, lho. No lie!

Terlebih lagi, nyatanya tak semua orang yang jadi anggota juga peduli dengan semua keuntungan yang diberikan. Di salah satu social event yang saya datangi, seorang cewek memaparkan join jadi anggota hanya karena ingin dapat asuransi mobil terbaik. Seorang lagi mengaku jadi anggota karena disuruh koleganya dan seorang lagi bergabung karena senang bersosialisasi dengan orang sepemikiran di luar jam kerja. Macam-macam jawaban para anggota ini. Tapi apapun alasan mereka, memang tak ada ruginya bergabung mengingat manfaat yang diberikan juga besar. Saya juga menyadari bahwa hidup di luar negeri jadi jauh lebih menarik setelah upgrade status jadi pegawai dan semakin tahu banyak hal. Nobody ever told me those 3 hacks above, sampai akhirnya cari tahu sendiri.

Apa kamu juga punya cara khusus untuk menekan biaya hidup tanpa kelaparan? Apa yang kamu lakukan untuk hidup hemat dengan cermat?



Komentar

  1. Hi kak Nin, selalu senang baca setiap ceritanya karena mengalir gitu aja saking menariknya.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bule Ketemu Online, Bisakah Serius?

( PERHATIAN!!! SAYA BANYAK SEKALI MENERIMA TESTIMONIALS SOAL COWOK-COWOK DARI INGGRIS YANG MEMINTA ALAMAT SI CEWEK YANG DIKENAL VIA ONLINE. FYI , HAMPIR SEMUA MODUS PENIPUAN SEPERTI INI BERASAL DARI INGGRIS DAN AMERIKA! JANGAN PERNAH TERTIPU KEMASAN KULIT PUTIHNYA, KARENA BISA JADI YANG KALIAN AJAK CHATTING -AN ATAU VIDEO CALL -AN ITU ADALAH PENIPU !! JANGAN PERNAH BERI DATA DIRI SEPERTI NAMA LENGKAP, ALAMAT, SERTA NOMOR IDENTITAS ATAU KARTU KREDIT KE ORANG-ORANG ASING LEWAT DUNIA DIGITAL! BE SMART, BE AWARE, AND PLEASE JANGAN DULU BAPERAN KALO ADA YANG MENGAJAK NIKAH PADAHAL BARU SEMINGGU KENAL!!!) Selain berniat jadi au pair, ternyata blog saya banyak dikunjungi oleh cewek-cewek Indonesia yang ingin pacaran atau sedang dekat dengan bule. Gara-gara tulisan tentang cowok Eropa dan cowok Skandinavia , banyak pembaca blog yang mengirim surel ke saya dan curhat masalah cintanya dengan si bule. Aduh, padahal saya jauh dari kata "ahli" masalah cinta-cintaan. Saya sebetu

Mempelajari Karakter Para Cowok di Tiap Bagian Eropa

*I talk a lot about European boys in this blog, but seriously, this is always the hottest topic for girls! ;) Oke, salahkan pengalaman saya yang jadi serial dater  selama tinggal di Eropa. Tapi gara-gara pengalaman ini, saya juga bisa bertemu banyak orang baru sekalian mempelajari karakter mereka. Cowok-cowok yang saya temui ini juga tidak semuanya saya kencani. Beberapa dari mereka saya kenal saat workshop, festival, ataupun dari teman. Beruntung sekali, banyak juga teman-teman cewek yang mau menceritakan pengalamannya saat berkencan dari cowok ini, cowok itu, and all of them have wrapped up neatly in my head! Secara umum, tulisan yang saya ceritakan disini murni hasil pengalaman pribadi, pengalaman teman, ataupun si cowok yang menilai bangsanya secara langsung. Letak geografis Eropanya mungkin sedikit rancu, tapi saya mengelompokkan mereka berdasarkan jarak negara dan karakter yang saling berdekatan. Kita semua benci stereotipe, tapi walau bagaimana pun kita tetaplah bagi

7 Kebiasaan Makan Keluarga Eropa

Tiga tahun tinggal di Eropa dengan keluarga angkat, saya jadi paham bagaimana elegan dan intimnya cara makan mereka. Bagi para keluarga ini, meja makan tidak hanya tempat untuk menyantap makanan, tapi juga ajang bertukar informasi para anggota keluarga dan pembelajaran bagi anak-anak mereka. Selain table manner , orang Eropa juga sangat perhatian terhadap nilai gizi yang terkandung di suatu makanan hingga hanya makan makanan berkualitas tinggi. Berbeda dengan orang Indonesia yang menjadikan meja makan hanya sebagai tempat menaruh makanan, membuka tudung saji saat akan disantap, lalu pergi ke ruang nonton sambil makan. Selama tinggal dengan banyak macam keluarga angkat, tidak hanya nilai gizi yang saya pelajari dari mereka, tapi juga kebiasaan makan orang Eropa yang sebenarnya sangat sederhana dan tidak berlebihan. Dari kebiasaan makan mereka ini juga, saya bisa menyimpulkan mengapa orang-orang di benua ini awet tua alias tetap sehat menginjak usia di atas 70-an. Kuncinya, pola

First Time Au Pair, Ke Negara Mana?

Saya ingat betul ketika pertama kali membuat profil di Aupair World, saya begitu excited memilih banyak negara yang dituju tanpa pikir panjang. Tujuan utama saya saat itu adalah Selandia Baru, salah satu negara impian untuk bisa tinggal. Beberapa pesan pun saya kirimkan ke host family di Selandia Baru karena siapa tahu mimpi saya untuk bisa tinggal disana sebentar lagi terwujud. Sangat sedikit  host family dari sana saat itu, jadi saya kirimkan saja aplikasi ke semua profil keluarga yang ada. Sayangnya, semua menolak tanpa alasan. Hingga suatu hari, saya menerima penolakan dari salah satu keluarga yang mengatakan kalau orang Indonesia tidak bisa jadi au pair ke Selandia Baru. Duhh! Dari sana akhirnya saya lebih teliti lagi membaca satu per satu regulasi negara yang memungkinkan bagi pemegang paspor Indonesia. Sebelum memutuskan memilih negara tujuan, berikut adalah daftar negara yang menerima au pair dari Indonesia; Australia (lewat Working Holiday Visa ) Austria Amerika

Berniat Pacaran dengan Cowok Skandinavia? Baca Ini Dulu!

"Semua cowok itu sama!" No! Tunggu sampai kalian kenalan dan bertemu dengan cowok-cowok tampan namun dingin di Eropa Utara. Tanpa bermaksud menggeneralisasi para cowok ini, ataupun mengatakan saya paling ekspert, tapi cowok Skandinavia memang berbeda dari kebanyakan cowok lain di Eropa. Meskipun negara Skandinavia hanya Norwegia, Denmark, dan Swedia, namun Finlandia dan Islandia adalah bagian negara Nordik, yang memiliki karakter yang sama dengan ketiga negara lainnya. Tinggal di bagian utara Eropa dengan suhu yang bisa mencapai -30 derajat saat musim dingin, memang mempengaruhi karakter dan tingkah laku masyarakatnya. Orang-orang Eropa Utara cenderung lebih dingin terhadap orang asing, ketimbang orang-orang yang tinggal di kawasan yang hangat seperti Italia atau Portugal. Karena hanya mendapatkan hangatnya matahari tak lebih dari 3-5 minggu pertahun, masyarakat Eropa Utara lebih banyak menutup diri, diam, dan sedikit acuh. Tapi jangan salah, walaupun dingin dan hampa