Langsung ke konten utama

6 Bulan Menggila, Akhirnya Kembali Kerja


Hey, let me tell you what happened 6 months back. My life had a plot twist!

Blog ini sebetulnya adalah tempat sampah dan sudah penuh dengan rasa amarah sejak awal tahun lalu. Ada banyak hal yang ingin diceritakan, tapi tak jadi saya publikasikan karena setelah dibaca dan dibaca lagi, isinya hanya penuh dengan emosi. I was so hopeless setelah lagi-lagi kehilangan pekerjaan. Marah, lelah, gelisah, hingga putus asa.

...dan saya pun berada di titik terbawah. Lagi.

Menurut kalian, mana yang paling buruk bagi para pemburu kerja?
1. Sudah daftar ke banyak perusahaan, tapi tak dapat panggilan sama sekali
2. Banyak tawaran kerja, tapi saat wawancara pertama sudah ditolak duluan
3. Berhasil sampai tahap wawancara final, namun selalu gagal bertarung dengan kandidat lain
4. Semuanya terlihat positif, diundang wawancara beberapa ronde, tapi tiba-tiba rekruter berubah strategi
5. Sudah diterima, negosiasi gaji, lalu tiba-tiba rekruter menghilang 


FYI, selama 6 bulan ke belakang kelima hal di atas sudah pernah saya alami. February was the most awful month. It left me with anxiety, depression, untrustful, and living with lesser hope. Butuh waktu sangat lama untuk berusaha ikhlas dan melupakan semua yang terjadi. It truly changed me into a different person I haven't known. And really, I was NOT that strong (or was I?).

Sebetulnya tak butuh waktu lama bagi saya untuk menemukan pekerjaan baru. Dibanding beberapa kolega yang juga di-PHK, keberuntungan saya datang lebih awal. Di akhir Januari, saya sudah mengantongi job offer dari sebuah perusahaan yang baru saja masuk bursa saham alias IPO (Initial Public Offering). Bagi ekosistem startup di Norwegia, perusahaan tersebut artinya memegang sukses besar sampai untung meroket tajam beberapa tahun terakhir. Juga, pekerjaannya adalah pekerjaan impian saya dari dulu, being surrounded by bunch of creative people! Bayangkan selega apa saya saat itu akhirnya tak butuh lama mengakhiri nasib sebagai pengangguran.

Proses rekrutmen pun sangat cepat. Wawancara pertama, studi kasus, presentasi, hingga dapat job offer hanya butuh 1 minggu. Walau sejujurnya, waktunya kurang tepat. Saat itu saya sedang liburan ke Lapland bersama adik dan pacar demi mengejar Aurora Borealis. Saya yang paling anti liburan bawa laptop, mau tak mau harus bawa. Jaga-jaga siapa tahu lolos wawancara pertama dan maju ke tahap selanjutnya. Betul saja, saya memang lolos dan harus mengerjakan studi kasus di Lapland. Tapi karena suka dengan tugasnya dan sangat semangat mendapatkan pekerjaan ini, saya berhasil menyelesaikan studi kasus yang penuh dengan design productions selama 3 hari saja. Padahal untuk mengerjakan semuanya, seorang desainer bisa butuh waktu 1-2 minggu. Saat itu bukan lagi 'trying my best', tapi mengeluarkan semua kemampuan yang saya punya sampai 200%. 

Karena terpaksa bekerja terlalu ekstra, pergelangan tangan saya sampai kram dan sakitnya menjalar sampai ke seluruh lengan. Rasanya ngilu dan mau patah. Ibu yang saat itu juga masih liburan di Norwegia ikut membantu memijat lengan saya berhari-hari. Saya juga harus istirahat dulu dari main laptop sampai 2 minggu sebelum ototnya luwes lagi. But, hard work paid off! I got the offer (as predicted) dan kabar dari rekruter, saya berhasil mengalahkan 150 pendaftar lain untuk mendapatkan posisi ini. Wow, I was on cloud nine! I told everyone at the office that I got a job and was ready to resign.


Tapi saya lupa bahwa Dewi Fortuna kadang tak selamanya memihak pada kita. Setelah negosiasi gaji dan menunggu kontrak terbaru, tiba-tiba si rekruter menghilang tanpa jejak. Dua minggu kemudian, saya hanya menerima email darinya yang tanpa bersalah mengatakan bahwa mereka menarik tawaran kerja tersebut. Saya kaget. Semua orang pun kaget. Terutama mantan kolega saya yang tahu betul reputasi perusahaan tersebut. 

Lalu tahu apa yang paling menjengkelkan? Di hari yang sama si rekruter mengirimkan email, saya melihat posisi tersebut dibuka kembali di kantor mereka di negara lain. Tak usah tanya lagi perasaan saya saat menemukan fakta tersebut. Yang pasti mental saya sangat terguncang dan sulit bangkit menerima kenyataan.

"Ya sudah, cari lagi. Jangan patah semangat! Dimana-mana memang begitu, setelah kirim CV kemana-mana, lupakan saja. Selama belum tanda tangan kontrak dan betul-betul kerja, terus cari pekerjaan lain. Kamu pasti bisa!" ujar banyak orang berusaha 'menyemangati'.

Dikira cari kerja gampang?! Dikira tenggelam dalam pasar kerja Norwegia secepatnya bisa kembali ke permukaan?! Tahu betapa sedihnya saya saat kehilangan pekerjaan impian?! Saya juga selalu berusaha melupakan semua yang terjadi dan berniat bangkit lagi. Tapi dua bulan setelahnya pikiran saya semakin kacau. Saya jadi malas cari kerja dan membayangkan proses rekrutmennya saja sudah membuat saya pusing. Dari situ ada banyak pertanyaan menggema di pikiran. Kenapa hidup saya di negara ini tiap tahun selalu penuh cerita merana? Apa ini memang tandanya saya sudah harus kembali ke Indonesia? Atau, saya sebenarnya hanya perlu istirahat sejenak dulu?

Tak kuat menahan semuanya sendiri di negara orang, suatu malam tiba-tiba saya menangis ke pacar ingin pulang. Saya tak punya tempat lari selain ke Indonesia. Mood di rumah selama beberapa bulan ke belakang juga cukup kacau. Saya bisa merasakan bahwa energi negatif yang selama ini saya ciptakan membawa pengaruh ke pacar. Kasihan juga si dia yang selalu berusaha menyalurkan energi positifnya ke saya, tapi sebaliknya, menanggung aura negatif setiap hari. Sepertinya kami memang harus berpisah dulu sementara waktu dan menenangkan diri. 


Puji syukur, pulang ke Indonesia selama beberapa waktu berhasil mengukir perasaan bahagia dan menimbulkan energi positif. Apalagi saya pulang kemarin dalam rangka Lebaran. Mood yang tadinya kacau, sekembalinya ke Norwegia jadi perlahan membaik. Meski sadar akan sendiri lagi, tapi mental saya lebih siap berburu kerja. Kalau kalian bertanya mengapa saya masih kuat cari kerja di Norwegia, mungkin karena perjalanan saya sudah terlalu jauh. It's so easy to give up, tapi saya memilih jalan yang lain. Masih ada harapan, pikir saya saat itu.

Awal musim semi. Angin hangat dan melelehnya es membawa warna baru. Walau sudah terpikir dari dulu, tapi baru saat itu saya putuskan membuka jasa sebagai freelancer. Entah akan dapat klien dari mana, namun dimulai saja dulu. Saya juga tetap melihat beberapa lowongan kerja full-time dan berharap salah satunya bisa membawa harapan baru.

Dari 8 lamaran, saya mendapatkan 2 respon positif. Not bad. Banyak lamaran yang ditolak sebetulnya memiliki pola yang sama; mereka menilai kemampuan bahasa Norwegia saya belum advanced, alias mereka sebetulnya hanya mencari orang lokal. Padahal semua pekerjaan yang saya lamar sangat relevan dengan background dan kompetensi. Tapi lagi-lagi, ya sudahlah. Mental dan pikiran saya kali ini harus tenang. Mau sekeras apapun mencoba, ada banyak hal yang tak bisa dikendalikan. Manusia memang hanya bisa berdoa, berusaha, dan berencana, kan?

Dari 2 respon positif, satu posisi sebetulnya tak terlalu menarikmeskipun saya lolos sampai tahap kedua. Satu posisi lagi adalah pekerjaan yang saya cari, Visual Designer, di medical tech startup. Saya memang mengejar yang kedua karena memenuhi ekspektasi saya untuk menjadi lebih mahir di bidang desain ke depannya. Tapi bulan Mei sangat melelahkan. Selain banyak hari libur, saya harus menunggu sebulan hanya untuk tahu bahwa lagi-lagi gagal mendapatkan posisi yang diidamkan.

Baca juga: Berapa Sebetulnya Gaji Nanny dan Cleaning Lady di Norwegia?

Mungkin juga sebuah red flag dini karena alasan startup tersebut tak make sense. Ketika saya sudah berhasil lolos wawancara sampai tahap dua dan hampir mendiskusikan gaji, seminggu kemudian rekruter mengabari bahwa mereka menghentikan semua proses rekrutmen untuk posisi ini. Mereka tak yakin saat ini perusahaan butuh seorang desainer. Pada dasarnya, mereka hanya belum memiliki strategi yang jelas. Lucunya, how on earth mereka repot-repot buka lowongan dan meloloskan kandidat sampai tahap dua jika ternyata pekerjaan ini masih fiktif?!

...dan ya, lagi-lagi, saya tak kuat membendung tangis setelah tahu kabar tersebut. It wasn't something I was prepared for. Semuanya begitu positif di awal dan saya memiliki harapan cukup besar ke startup tersebut. Saat itu saya juga tak banyak pilihan lain. Ada beberapa lamaran yang masih menunggu balasan, tapi perasaan saya kurang baik. 

Uang tabungan juga semakin menipis dan menyisa 1 bulan lagi untuk bertahan. Namun yang paling krusial adalah status izin tinggal saya sebagai pekerja ahli yang otomatis 'hangus' kalau menganggur lebih dari 6 bulan. Artinya, kalau sampai akhir Juni saya tak dapat pekerjaan, I 'd be left with nothing. Banyak yang menyarankan untuk pulang saja ke Indonesia dan berhenti berjuang. Ada juga yang menyarankan saya pindah negara. Keduanya butuh modal. Butuh adaptasi lagi untuk memulai semuanya dari dasar. Saat itu, saya masih ingin bertahan dulu dari sisa harapan yang ada. Seperti, biarkan saya berperang sampai titik darah terakhir.


But, finally! 


Hidup saya sudah terlalu gloomy dengan seringnya menangisi keadaan. Ketika mengusap tangis terakhir karena lagi-lagi gagal, saya masih belum menyerah dan berpikir keras mencari opsi tercepat mendapatkan uang.

I will try to ask my previous boss if she has a position for me,” kata saya ke pacar.

Jadi saat di-PHK tahun lalu, atasan saya sempat menawari pekerjaan part-time menjadi Event & Community Coordinator di sebuah coworking space. Meski titelnya keren, tapi posisi tersebut sebetulnya sama saja dengan penanggung jawab operasional kantor. Saya mesti bangun pagi untuk buka kantor, menyiapkan kopi di bar, mengurusi acara sampai malam, dan juga melayani para member. Lagi-lagi pekerjaan yang penuh fake smiles karena bekerja di bagian service. It wasn't that bad, but it wasn't for me. Tapi punya satu pekerjaan lebih baik daripada tidak sama sekali.

Baca juga: Kerja Paruh Waktu Untuk Mahasiswa Asing di Norwegia

Meski tak yakin apakah posisi tersebut masih tersedia, saya tetap akan menghubungi mantan bos sebagai opsi. Sebetulnya malas begging ke mantan bos yang dulunya sempat mem-PHK saya. Namun di saat yang sama, mental dan harapan saya juga kembali kokoh untuk membuka laptop mencari pekerjaan lain. Saya tahu satu bulan tidaklah cukup untuk melewati semua proses rekrutmen sampai dapat pekerjaan. Tapi kali ini saya harus berusaha terbuka untuk mencoba semuanya. Hingga saya melihat, sebuah restoran membuka lowongan kerja sebagai desainer.

Hint: another dream job! Also a big note: restoran ini adalah tempat saya pernah kerja dulu! Eng, ing, eng!

Lowongan ini sebetulnya sudah lama mondar-mandir portal lowongan kerja. Sudah saya catat juga, tapi belum sempat mengirim lamarannya. Mungkin karena saya menilai bisnis mereka kurang menarik, karena, restoran? Bagi yang mengikuti kisah saya dari awal cari kerja di Norwegia, pasti tahu mengapa saya anti kembali kerja di restoran. But...

Selama dua jam, saya duduk tenang membenahi CV dan surat lamaran untuk dikirimkan ke email restoran hari itu juga. Nah, di sini plot twist-nya! Read this...

Tepat lima menit mengirimkan lamaran, saya tiba-tiba menerima email balasan dari restoran tersebut. Belum sempat membaca email yang cukup panjang, saya ditelpon oleh nomor tak dikenalnamun perasaan saya cukup baik untuk mengangkatnya. Oh, dari HRD restoran ternyata!

“…we are in a hurry and we really need to fill this position ASAP. Could you send me the result tomorrow? Also, could you do a short interview today with my leader?” ucapnya dibalik telpon.

Today?” tanya saya karena saat itu sudah menunjukkan pukul 5.15 sore. Tapi karena ini restoran yang jam operasionalnya lebih fleksibel dari kantor biasa, jadi memang tidak heran.

Saat itu HRD menelpon untuk memastikan kondisi izin tinggal saya di Norwegia, serta apakah sekarang saya terikat pekerjaan di tempat lain. Email panjang yang dikirimkan sebelumnya merupakan studi kasus untuk diselesaikan dalam waktu 24 jam.

Normally we did this (recruitment) for a month. Tapi karena butuh cepat, akhirnya kami hanya ingin menyeleksi kandidat dari kreatifitas dan pemikiran mereka saja. Kalau kami suka dengan presentasi mu, nanti selanjutnya kamu baru wawancara dengan atasan saya,” tambah si HRD.

Hmmm, I love this! Dari dulu saya juga kebanyakan buang-buang waktu wawancara begini begitu dengan banyak perusahaan, tahunya tetap ditolak. I have done this many times before. Tanpa harus mengeluarkan semua kemampuan sampai 200%, harusnya mudah saja menyelesaikan studi kasus kurang dari 24 jam.

Baca juga: Cara Mencantumkan Pengalaman Au Pair di Resume Kerja

Yes, I made it. Kurang dari 24 jam, saya mengirimkan presentasi ke HRD. Di hari yang sama, saya juga langsung menerima balasan untuk wawancara lewat video call dengan HR Lead yang ternyata, langsung menawari saya pekerjaan.

“Harapan kami, Nin, kamu bisa bergabung dengan kami Senin nanti. Kalau kamu tertarik dan siap bergabung secepatnya, besok kamu bisa ke kantor dan langsung tanda tangan kontrak. Ada beberapa hal juga yang bisa kita diskusikan,” katanya.

WOW! My fastest job recruitment ever! No babibubebo. No orang dalam. Hanya butuh waktu satu hari, itupun tanpa seleksi wawancara. Were they that desperate finding a person?!

“Desainer kami sebelumya sudah resign dari seminggu yang lalu. Posisi ini sangat penting karena ada banyak design productions yang harus dikerjakan untuk sales dan marketing. Terlebih, kamu punya skill yang memang tidak dimiliki kandidat lain, bahkan para desainer sebelumnya. So, I thought we shouldn’t waste our time and just hire you,” jelas si HRD saat proses onboarding. “Sebetulnya sebelum kamu ini ada seorang cowok yang melamar juga. Desainnya bagus. Tapi sayangnya satu, dia tinggal di Spanyol dan kami tak siap menunggu relokasi.”

Good timing? Luck? Hard work? Mix?

Meski di awal sempat skeptis dengan restoran ini, tapi saya cukup kaget ketika tahu benefit dan gaji yang ditawarkan jauh lebih kompetitif dari tempat kerja saya sebelumnya! Saya pikir hanya akan dibayar seminimal mungkin layaknya pelayan, mentang-mentang mereka restoran. Tapi tidak, this position requires a skillful person yang gajinya disesuaikan dengan job market. Saya juga dijamin tidak akan bekerja di luar kontrak, fix schedule (kurang fleksibel, tapi bagusnya tak boleh lembur), dan kerjanya pun di real kantor, bukan settingan restoran. Yang paling penting, pekerjaan ini akan sangat saya nikmati dan menjual di CV. Jadi ingat cerita mantan kolega yang mesti melepaskan pekerjaan impiannya sebagai UX Designer karena market di Norwegia sangat kompetitif untuk posisi ini. Suatu hari, saya dikabari dia sudah tanda tangan kontrak dan pindah karir.

"Sedih sekali rasanya tak bisa jadi UX Designer lagi. Tapi kali ini gajinya lumayan, Nin. Jadi untuk sekarang, aku akan bekerja untuk uang," katanya saat itu.

Bicara soal bisnis yang menurut saya tak keren karena titelnya 'restoran', bisnis ini sebetulnya sangat besar dan terus menggurita dengan omzet yang selalu naik setiap tahun. Sayang sekali, mereka kurang exposure dan marketing. Padahal perusahaan ini sangat well-established dan salah satu pemegang restaurant chains terbesar di Norwegia. Melihat growth ke depannya, saya merasa lebih secured dan sepertinya memang ada jenjang karir. Jadi tentu saja, saya langsung menerima tawaran ini tanpa berpikir lama. 

Setiap kantor pasti ada plus minus. Soal budaya, kultur kerja di lingkungan restoran memang tak seseru di startup. Cenderung statis dan betul-betul mind their own business tanpa banyak basa-basi. But it’s good! No more small talk di jam kerja cuma untuk membahas warna cat kuku terbaru kolega, misalnya. Melihat kesempatan yang ditawarkan serta sejatinya sudah meraih pekerjaan impian, why should I complain more?! 

On the other note, saya justru lebih banyak berkomunikasi dengan bahasa Norwegia di tempat ini. Meskipun, what an unexpected outcome to think, bahwa saya akhirnya akan kembali kerja di restoran. Tempat yang paling anti untuk saya toleh lagi.

Lihat juga bagaimana Tuhan membolak-balikan skenario hidup manusia dengan singkat. Dua jam yang lalu menangis, setelahnya langsung dapat panggilan wawancara dan esoknya langsung diterima kerja.

Fiuuhh.. Finally life is normal again! Summer is getting brighter and warmer. Terima kasih untuk semua yang sudah mendoakan dan mendukung saya sampai detik ini! ❤



Komentar

  1. Melisa LieJuni 11, 2023

    Benar-benar plot twist. Selamat Nin!
    Lega akhirnya everything turns out to be fine.
    Semoga menikmati pekerjaan barunya!

    BalasHapus
    Balasan
    1. You knew the story, Mel! Thank you banget udah jadi tempat sampah kemaren itu :) Finally bisa benapas lagi.

      Hapus
  2. Selamat ya kak Nin... Happy for you...

    BalasHapus
  3. Wow, what a life full of surprises Kak Nin, congratulations on enjoying your new workplace.

    Viel Gluck
    Anni

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thank you SO much, Anni :) Sedang menikmati tempat yang baru, karena emang belom move on sama kolega lama nih. Hihi.

      Hapus
  4. Ikut senang dengan pencapaian kak nin.. Sukses selalu kak 🌹

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bule Ketemu Online, Bisakah Serius?

( PERHATIAN!!! SAYA BANYAK SEKALI MENERIMA TESTIMONIALS SOAL COWOK-COWOK DARI INGGRIS YANG MEMINTA ALAMAT SI CEWEK YANG DIKENAL VIA ONLINE. FYI , HAMPIR SEMUA MODUS PENIPUAN SEPERTI INI BERASAL DARI INGGRIS DAN AMERIKA! JANGAN PERNAH TERTIPU KEMASAN KULIT PUTIHNYA, KARENA BISA JADI YANG KALIAN AJAK CHATTING -AN ATAU VIDEO CALL -AN ITU ADALAH PENIPU !! JANGAN PERNAH BERI DATA DIRI SEPERTI NAMA LENGKAP, ALAMAT, SERTA NOMOR IDENTITAS ATAU KARTU KREDIT KE ORANG-ORANG ASING LEWAT DUNIA DIGITAL! BE SMART, BE AWARE, AND PLEASE JANGAN DULU BAPERAN KALO ADA YANG MENGAJAK NIKAH PADAHAL BARU SEMINGGU KENAL!!!) Selain berniat jadi au pair, ternyata blog saya banyak dikunjungi oleh cewek-cewek Indonesia yang ingin pacaran atau sedang dekat dengan bule. Gara-gara tulisan tentang cowok Eropa dan cowok Skandinavia , banyak pembaca blog yang mengirim surel ke saya dan curhat masalah cintanya dengan si bule. Aduh, padahal saya jauh dari kata "ahli" masalah cinta-cintaan. Saya sebetu

Mempelajari Karakter Para Cowok di Tiap Bagian Eropa

*I talk a lot about European boys in this blog, but seriously, this is always the hottest topic for girls! ;) Oke, salahkan pengalaman saya yang jadi serial dater  selama tinggal di Eropa. Tapi gara-gara pengalaman ini, saya juga bisa bertemu banyak orang baru sekalian mempelajari karakter mereka. Cowok-cowok yang saya temui ini juga tidak semuanya saya kencani. Beberapa dari mereka saya kenal saat workshop, festival, ataupun dari teman. Beruntung sekali, banyak juga teman-teman cewek yang mau menceritakan pengalamannya saat berkencan dari cowok ini, cowok itu, and all of them have wrapped up neatly in my head! Secara umum, tulisan yang saya ceritakan disini murni hasil pengalaman pribadi, pengalaman teman, ataupun si cowok yang menilai bangsanya secara langsung. Letak geografis Eropanya mungkin sedikit rancu, tapi saya mengelompokkan mereka berdasarkan jarak negara dan karakter yang saling berdekatan. Kita semua benci stereotipe, tapi walau bagaimana pun kita tetaplah bagi

7 Kebiasaan Makan Keluarga Eropa

Tiga tahun tinggal di Eropa dengan keluarga angkat, saya jadi paham bagaimana elegan dan intimnya cara makan mereka. Bagi para keluarga ini, meja makan tidak hanya tempat untuk menyantap makanan, tapi juga ajang bertukar informasi para anggota keluarga dan pembelajaran bagi anak-anak mereka. Selain table manner , orang Eropa juga sangat perhatian terhadap nilai gizi yang terkandung di suatu makanan hingga hanya makan makanan berkualitas tinggi. Berbeda dengan orang Indonesia yang menjadikan meja makan hanya sebagai tempat menaruh makanan, membuka tudung saji saat akan disantap, lalu pergi ke ruang nonton sambil makan. Selama tinggal dengan banyak macam keluarga angkat, tidak hanya nilai gizi yang saya pelajari dari mereka, tapi juga kebiasaan makan orang Eropa yang sebenarnya sangat sederhana dan tidak berlebihan. Dari kebiasaan makan mereka ini juga, saya bisa menyimpulkan mengapa orang-orang di benua ini awet tua alias tetap sehat menginjak usia di atas 70-an. Kuncinya, pola

Jadi Au Pair Tidak Gratis: Siap-siap Modal!

Beragam postingan dan artikel yang saya baca di luar sana, selalu memotivasi anak muda Indonesia untuk jadi au pair dengan embel-embel bisa jalan-jalan dan kuliah gratis di luar negeri. Dipadu dengan gaya tulisan yang meyakinkan di depan, ujung tulisan tersebut sebetulnya tidak menunjukkan fakta bahwa kamu memang langsung bisa kuliah gratis hanya karena jadi au pair. Banyak yang memotivasi, namun lupa bahwa sesungguhnya tidak ada yang gratis di dunia ini. Termasuk jadi au pair yang selalu dideskripsikan sebagai program pertukaran budaya ke luar negeri dengan berbagai fasilitas gratisan. First of all , jadi au pair itu tidak gratis ya! Ada biaya dan waktu yang harus kamu keluarkan sebelum bisa pindah ke negara tujuan dan menikmati hidup di negara orang. Biaya dan waktu ini juga tidak sama untuk semua orang. It sounds so stupid kalau kamu hanya percaya satu orang yang mengatakan au pair itu gratis, padahal kenyatannya tidak demikian. Sebelum memutuskan jadi au pair, cek dulu biaya apa s

Guide Untuk Para Calon Au Pair

Kepada para pembaca blog saya yang tertarik menjadi au pair, terima kasih! Karena banyaknya surel dan pertanyaan tentang au pair, saya merasa perlu membuat satu postingan lain demi menjawab rasa penasaran pembaca. Mungkin juga kalian tertarik untuk membaca hal-hal yang harus diketahui sebelum memutuskan jadi au pair  ataupun tips seputar au pair ? Atau mungkin juga merasa tertantang untuk jadi au pair di usia 20an, baca juga cerita saya disini . Saya tidak akan membahas apa itu au pair ataupun tugas-tugasnya, karena yang membaca postingan ini saya percaya sudah berminat menjadi au pair dan minimal tahu sedikit. Meskipun sudah ada minat keluar negeri dan menjadi au pair, banyak juga yang masih bingung harus mulai dari mana. Ada juga pertanyaan apakah mesti pakai agen atau tidak, hingga pertanyaan soal negara mana saja yang memungkinkan peluang kerja atau kuliah setelah masa au pair selesai. Oke, tenang! Saya mencoba menjabarkan lagi hal yang saya tahu demi menjawab rasa penasar