8 Cara Menikmati Masa Au Pair Mu

Thursday, 23 April 2020



More than what you see on social media, jadi au pair itu berat! Bahkan Dilan pun tak sanggup, saya rasa :)

Selain jauh dari keluarga dan teman terdekat, kamu harus menggadaikan semua privasi dan kenyamanan demi merealisasikan salah satu mimpi; tinggal di luar negeri. Tidak sendirian, namun di satu atap dengan keluarga angkat yang juga merangkap sebagai employer a.k.a bos.

I have been on your feet; merasa kesepian, stres berat, hingga akhirnya berkali-kali bertanya ke diri sendiri, what am I doing here?! Ditambah lagi tak mudah percaya dengan orang, saya juga memilah-milih teman karena tidak semua yang kita kenal bisa cocok. Karena merasa berjuang sendiri di tanah orang, saya kadang lupa bagaimana caranya menikmati hidup. Tapi daripada merenungi nasib dan menyesal sudah mengambil langkah sejauh ini, lebih baik mengimbangi rasa kesendirian tersebut agar masa au pair kita yang hanya 12-24 bulan ini berlalu dengan penuh memori — bukan penyesalan dan sakit hati.


1. Go grab all you want (for free) at the grocery store

Lima tahun jadi au pair di empat keluarga berbeda, salah satu kewajiban mingguan saya adalah belanja ke supermarket. Tak usah tanya bagaimana capeknya naik sepeda (bahkan jalan kaki!) sambil menenteng kantong plastik kanan kiri plus backpack penuh bahan makanan. Kadang kalau banyak stok barang habis, saya mesti bolak-balik dua kali hanya demi belanja dan memenuhi kewajiban.

Sisi baiknya, saya gunakan kesempatan ini membeli toiletries pribadi atau bahan makanan yang saya suka di supermarket. Tapi tentu saja saya tahu diri dengan tidak terlalu membeli sesuatu berlebihan, karena takutnya jadi drawback di kemudian hari. Namun coba bayangkan berapa uang yang harus dikeluarkan membeli fresh salmon, raw honey, atau ciki-cikian secara berkala jika tak sekalian dengan belanjaan host family?!

Bagian yang paling saya suka saat belanja ini, kamu tak perlu bandingkan harga dan ambil saja semua barang yang dibutuhkan tanpa harus lihat harganya dulu. Trust me, saat kamu jadi mahasiswa kere seperti saya sekarang dan harus belanja memakai uang pribadi, memilih barang paling murah dan membandingkan harga dengan toko sebelah adalah bahan pertimbangan paling utama. Jadi mumpung bisa belanja gratisan dan memilih makanan yang kamu suka, enjoy this small perk!

2. Just be in your room on your days off

Berbeda dengan para mahasiswa atau pekerja Indonesia yang harus membayar cukup mahal demi menempati satu kamar atau apartemen, sebagai au pair, kita bisa tinggal secara cuma-cuma! Tidak hanya kamar yang berisi ranjang lengkap, beberapa au pair beruntung lainnya bahkan diberikan satu ruangan penuh dengan kamar mandi dan dapur pribadi.

Satu dua au pair yang pernah saya kenal, bahkan diberikan fasilitas kamar layaknya hotel bintang 5 yang super luas dengan pemandangan superb hijaunya pedesaan ditambah kamar mandi pribadi. Ada lagi yang disediakan satu apartemen (memisah dengan host family) yang tentu saja bisa kamu gunakan layaknya milik pribadi. Oke, tak sampai situ, host family yang kelebihan rumah juga pernah menyediakan satu rumah khusus (dua lantai!!!) hanya untuk au pair mereka.

Itu cerita baiknya, namun bagaimana kalau kamar yang disediakan hanya sepetak kecil? Just be happy karena setidaknya kamu tak perlu membayar hanya untuk menempati kamar tersebut! Saat malas keluar, manfaatkan space gratis yang diberikan host family  entah besar atau kecil  untuk lazy days, joget TikTok, nge-vlog, maraton nonton drama, make over diri sendiri, atau hanya tidur seharian. It’s yours now!

3. Take those weekends by inviting friends 

Merasa kesepian dan malas keluar? Coba hosting pesta kecil-kecilan dengan teman terdekat! Sulap kamar menjadi lebih spacious dan bersih agar tamu yang diundang juga betah berlama-lama. Tak perlu pesta mabuk-mabukan sok gaya, cukup sediakan snack dan soda, serta ngerumpi soal cowok Tinder atau curhat soal gilanya host kids sampai pagi pun bisa jadi terapi tersendiri.

Kalau diberikan izin yang luas dari host family untuk mengundang banyak orang, kamu juga bisa hosting dinner girls’ date untuk acara potluck sekalian karaoke, movie night, atau pajamas party. It’s full of fun!! Apalagi kalau kamar mu juga tersedia dapur yang bisa digunakan untuk masak-masak, maraton menu masakan Indonesia biasanya sudah jadi tradisi au pair rantauan.

Salah satu au pair yang saya kenal, memang sudah betul-betul dianggap sebagai keluarga oleh host family-nya dan diperbolehkan menggunakan semua fasilitas yang ada di rumah. Selain boleh mengundang banyak teman setiap minggu, kenalan saya ini juga diizinkan menggunakan kolam renang saat pesta ulang tahunnya! Open your door to more people kalau kebetulan ketemu host family super baik seperti ini! The more the merrier.

4. Bars are not the only doors opened

Kebanyakan au pair Indonesia yang baru datang ke Eropa merasa bar dan diskotek adalah tempat keramat yang wajib coba. Saking sukanya dengan atmosfir tempat ini, tak jarang mereka kerap datang dan tak takut menghabiskan uang hanya untuk party ala anak muda Eropa. But you know what?! Bar tentu saja bukanlah satu-satunya tempat yang bisa kamu datangi hanya untuk having fun.

Jangan takut untuk tak jadi anak gaul hanya karena kamu menghindari alkohol. Ada banyak sekali tempat yang bisa didatangi tanpa harus merasa jenuh di dalam bar.  Cobalah telusuri area-area cantik penuh sejarah di sekitar tempat tinggal mu, datangi museum, bioskop, art center, atau kafe-kafe lucu yang seru untuk nongkrong.

Bahkan kalau sedang tak punya uang sekalipun, berjalan-jalan di taman, hutan, pantai, atau baca buku di perpustakaan bisa jadi aktifitas lain yang bisa kamu coba. Tempat lainnya adalah pasar tradisional yang banyak dikunjungi orang lokal, kawasan pemakaman, atau bangunan-bangunan cantik adalah tiga dari banyak hal menarik yang bisa dimasukkan ke dalam list saat akhir pekan.

5. Go to school with no expense

Di kebanyakan negara Eropa, host family berkewajiban membayar uang kursus bahasa serta material sekolah (bahkan ongkos angkot!) hingga jumlah maksimum yang ditentukan. Saat kamu bisa sekolah dengan gratis, jangan terlalu berpikir bahwa kamu harus datang karena merasa tak enak sudah dibayari. Tapi manfaatkan kesempatan ini untuk jalan-jalan, mendapatkan teman, plus menambah skill baru. Kapan lagi bisa tinggal mandiri di negara orang, sekalian dibayari sekolah bahasa pula?!

I knooooww... banyak au pair yang merasa sekolah bahasa serasa buang-buang waktu karena tak akan tinggal lama di negara tersebut. Beberapa au pair juga menilai bahwa untuk mengjangkau sekolah bahasa, mereka juga harus membayar ongkos transportasi yang tak murah. Tapi kalau kamu ingat lagi apa itu au pair, might be you’d remember bahwa program ini memang bertujuan sebagai pertukaran budaya; makanya kamu disarankan datang ke sekolah bahasa untuk belajar budaya dan bahasa setempat (for free!).

Lagipula, datang ke sekolah bahasa itu sebetulnya cukup seru, kok. Kamu bisa lari sebentar dari rutinitas, punya teman mengobrol di kelas, dan kalau memang serius, ada tambahan skill baru yang kamu kuasai selepas masa au pair. Saran saya, sebisa mungkin mendaftar ke sekolah bahasa bukan untuk au pair, agar teman sekelas mu berasal dari latar belakang yang berbeda-beda.

6. Buy what you want with money you have earned

The laptop you really want, shoes you think too expensive, bunch of cheap H&M tees, high-end camera for your next shots, black dress you always fancy at the store, fine dining at Michelin restaurant, or a classic Chanel perfume, just GO for it! Remember, you’re far from home, lonely, tough, work hard for the past few months, so why not buying yourself presents?!

Perhaps you don’t believe it, tapi saat kuliah, uang saku yang diberikan orang tua saya setiap hari hanya 20 ribu Rupiah. Ongkos bolak-balik kampus ke rumah 10 ribu, lalu sisanya 10 ribu saya tabung sebagai modal travelling ke Asia Tenggara. Karena minimnya uang saku ini, saya coba kerja freelance jadi guru privat Bahasa Inggris atau berjualan pakaian bekas dan pernak-pernik buatan sendiri. Pakaian saya kebanyakan dibeli dari secondhand market dan sepatu pun dibeli di toko harga 50 ribuan.

....but here I am now; earning money in Euro or Kroner! Ingat saat susah dulu, ada perasaan balas dendam untuk belanja barang-barang berkualitas karena saya enggan pelit dengan diri sendiri. Saya sudah lelah mengasuh anak orang setiap hari dan tentu saja layak menghadiahi diri sendiri dengan apapun yang saya mau. Jadi saat sedih di tanah rantau, coba cek lagi barang-barang yang ingin kamu beli, dan wujudkan saat gajian bulan depan!

Anyway, gaya belanja saya jadi cukup impulsif semenjak punya gaji Kroner. Tapi sekembalinya ke Indonesia, percayalah bahwa gaya belanja saya tak jauh-jauh dari melihat promo di Shopee :p

7. List the countries and hunt the (cheap) tickets

Selama jadi au pair, kamu berhak mendapatkan libur per tahun yang lamanya 2-4 minggu dan bisa digunakan  untuk jalan-jalan. Di Eropa, travelling bukanlah hal yang mewah lagi karena memang ada banyak cara menuju Roma. Be realistic juga bahwa mungkin ide mengelilingi Eropa selama masa au pair hampir mustahil. Namun, mengingat banyaknya transportasi yang dapat mengantarkan mu menuju banyak negara hanya dengan modal €10-an, jadi seasonal traveller adalah salah satu privilege au pair di Eropa.

Kamu akan menyesal jika tak berbaik hati menghadiahi diri sendiri tiket berpetualang ke tempat lain. Tempat-tempat ini pun tidak harus berada di luar negara, tapi bisa jadi di satu negara tempat kamu tinggal. Bagi yang tinggal di utara Belgia, mungkin bisa mencoba kayaking di Dinant, daerah berbahasa Prancis di selatan Belgia. Yang cuma tau Paris, bisa road trip atau mengunjungi daerah selatan Prancis yang orang-orangnya lebih hangat di kawasan Mediterania karena berdekatan dengan Italia. Yang dulunya cuma tahu Berlin, mungkin bisa memasukkan Regensburg di dalam wishlist.

Jadi daripada bosan dan kesepian, mungkin kamu bisa buka peta dan tunjuk satu tempat dengan mata tertutup. Setelahnya, cari informasi tempat tersebut, lalu kalau menarik, rencanakan datang ke sana saat liburan atau akhir pekan. I know might be you are in a financial crisis harus memilih antara menabung atau travelling, tapi kapan lagi bisa jalan-jalan murah karena kamunya sendiri sudah sangat dekat dari tempat impian.

8. Date 'the real' Caucasian guy(s)

Berkencan saat berada di luar negeri memang bukan tujuan semua orang. Tidak semua au pair Indonesia juga mengidam-idamkan pasangan bule. Tapi kalau kamu tertarik mengenal lebih jauh budaya kencan di host country, coba saja berkenalan dengan beberapa cowok lokal. Saya banyak mendapat testimonial dan pesan soal banyaknya cewek-cewek di Indonesia yang berkenalan dengan bule via online, tapi selalu zonk. Biasanya cowok-cowok ini otaknya mesum, banyak yang tidak serius, dan suka obral janji menikah. Saya paham juga bahwa tidak semua cowok bule yang kamu temui via online itu serius.

Namun kalau ketemu si bule langsung di negaranya, banyak sekali mitos yang bisa dipatahkan. Kamu akan tahu bahwa tidak semua cowok bule itu otaknya cuma selangkangan. Tidak semua bule juga kaya raya dan mapan. Tidak semua bule ganteng dan tidak semua dari mereka juga modal-modal pangeran berkuda putih yang sering kamu lihat di televisi!

Dengan cara dating dengan cowok ini di negaranya langsung, kamu punya lebih banyak 'pilihan' untuk menilai. Kamu mungkin bisa menilai juga bahwa banyak cowok-cowok Skandinavia dan Italia itu pada dasarnya lebih rajin dan tahu seluk-beluk dapur ketimbang kita. Kamu juga akan tahu bahwa banyak bule desperate yang akan bertekuk lutut di hadapan mu hanya karena they fancy you a lot! Atau mungkin, kamu juga lambat laun memahami bahwa pernikahan dan punya anak itu bukanlah satu-satunya gol dari sebuah hubungan. In the end, this dating scene would teach you not to be carried away just because he's hot like a melting pot!


Ketika mimpi dan kerja keras itu sudah membuahkan hasil, yakinlah bahwa di belakangnya ada banyak hal yang harus dikorbankan. Merasa bosan sendiri dan kesepian memang selalu dialami banyak perantau, entah sebanyak apapun teman mu di negara tujuan. Bahkan karena merasa tak betah, beberapa au pair juga sampai mengalami depresi lalu memutuskan untuk pulang for good.

Saya tahu bahwa tak semua teman baru juga bisa mengerti perasaan kita layaknya teman terdekat di Indonesia. Tapi daripada harus menyesali keadaan dan terus mempertanyakan mengapa kita mengambil keputusan ini, just train yourself to be tougher dan cobalah selalu melihat sisi baik dengan selalu menyukuri hal-hal kecil yang bisa kita dapatkan selama menjadi au pair.


4 comments:

  1. Halo kak!
    Terimakasih ya untuk tulisannya yang membuka pikiran buat para calon au-pair! :)
    Btw aku ada pertanyaan, kalau dari kak Nin sendiri ada saran ngga untuk yang sedang melakukan pencarian host-fam di tengah corona ini? Karena kami kesulitan untuk pengurusan dokumen dsb, lebih baik dilanjutin aja atau tunggu sampai situasi normal lagi ya kak?

    Thank you in advance!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo! Makasih banyak ya udah mampir ke blog dan ninggalin jejak :)

      Untuk krisis Korona seperti ini, tidak hanya perkara au pair yang berubah, tapi semua hal. Banyak yang akhirnya tertunda, sampe akhirnya menunggu lama.

      Saran aku banget..
      Mending kamu tunggu sampe bener2 kelar deh. Soalnya di situasi kayak gini, kalo pun kamu datang & jadi au pair, apa manfaatnya? Sekolah tutup, mol tutup, travelling gak bisa, ya cuma jaga anak doang di rumah. Bosen banget 😅

      Delete