Langsung ke konten utama

I Don't Need Friends, But Money! (COVID-19 Status)


I left my blog outdated for more than 2 weeks!

Sebetulnya saya kurang berminat membahas status Corona di Norwegia karena berita soal pandemik ini sudah tersiar dimana-mana. Tapi karena memang belakangan ini sedang gelisah, mungkin tak salah menulis apa yang saya alami di sini lewat cerita lebih panjang. Beberapa kali saya berusaha bercerita via Instagram Story hanya demi menyalurkan kegelisahan dan berharap ada yang mengerti. Tapi dari sana saya sadar, bahwa yang paling banyak memberi support bukanlah teman-teman terdekat (yang sempat membaca Story tersebut), melainkan para blog readers yang saya tak kenal!

Hiks, terima kasih untuk kalian semua yang bersedia membaca cerita kegalauan saya hidup di Norwegia di tengah wabah Corona ini! Saya tahu ini memang bukan hanya masalah Norwegia, tapi seluruh dunia. Tapi karena ada beberapa orang yang merasa saya hanya pamer cerita sedih di Instagram, saya terusik untuk menguraikan mengapa kegalauan ini sampai terjadi!

Bagi yang sering baca blog ini, pasti setidaknya kalian tahu bahwa Desember 2019 adalah bulan terakhir saya menjadi au pair di Norwegia. Tidak pulang ke Indonesia, tapi saya meneruskan hidup di negara dingin ini dengan berganti status menjadi pelajar. Jadi pelajar di luar negeri dengan dana pribadi tentu bukanlah perkara mudah! Saya tidak hidup dengan dana orang tua, saya juga tidak pandai menabung dan hanya menyisakan beberapa persen dari semua total gaji au pair. Mulai tahun ini, saya harus berdiri di kaki sendiri dan harus mencari pekerjaan baru yang sifatnya paruh waktu.

Cari kerja paruh waktu di Oslo itu bukan main sulitnya! Jangan kira bekerja sebagai pelayan restoran, asisten toko, atau barista itu peluangnya mudah. Ada banyak sekali pelajar lokal dan asing di Oslo yang berminat mencari uang dari student job yang tentu saja semakin menambah persaingan. No wonder, job market di Norwegia itu sangat kecil dan banyak perusahaan setempat tentu lebih tertarik mempekerjakan orang-orang yang bisa lancar berkomunikasi bahasa lokal.

Hampir 2 bulan saya struggling cari kerja, 50 lamaran dikirimkan, penuh penolakan, hingga akhirnya dapat kerja di dua tempat berbeda; restoran India dan intern di perusahaan startup. I was on cloud nine! Finally bisa meneruskan hidup kembali di Norwegia dengan bekerja dan menunggu gaji setiap bulan. Saya bahkan sudah bertekad untuk membantu membiayai adik saya kuliah karena doi sudah bebas beasiswa di tahun terakhirnya di Cina.

...and then, this hard time hit the world!

Saya yang baru kerja 1 bulan 10 hari, terpaksa harus diistirahatkan sementara oleh pemilik restoran karena memang pemerintah setempat menghimbau hampir semua restoran tutup. Restoran tempat saya bekerja ini sendiri tidak tutup, karena masih beroperasi melayani makanan pesan-antar. Tapi bagi saya sebagai pelayan, kasus Corona ini harus menumbuhkan lagi krisis finansial yang entah berakhir kapan. Hal paling menyebalkan selanjutnya, pemilik restoran baru membayar gaji saya setengahnya dikarenakan masalah teknis dari akuntan mereka. Aaargh!

Pertengahan Maret, pemerintah Norwegia menggelontorkan dana miliaran rupiah (dagpenger) untuk membantu para pekerja yang terpaksa harus diistirahatkan sementara waktu. Sampai detik ini, ada sekitar 160.000 pegawai yang sudah mendaftar ke NAV (bagian ketenagakerjaan) untuk mendapatkan hak dagpenger. Namun cerita mirisnya, dana ini tidak berlaku bagi para pelajar, lokal maupun asing, yang harus laid-off. Alasannya hanya karena status kami sebagai pelajar! Lucunya lagi, seseorang di bagian pemerintahan merasa para pelajar adalah kaum yang paling boros dan tidak termasuk dari hak pekerja yang mendapatkan dagpenger.

Kasus ini semakin naik setiap hari karena banyak pelajar lokal dan internasional yang merasa kebijakan pemerintah setempat tak adil. Sebagai pekerja paruh waktu, kami juga berkontribusi ke negara dengan membayar pajak. Lalu mengapa nasib kami malah tak sama dengan para pegawai lain yang statusnya bukan pelajar?

Bagi pelajar lokal, kebijakan yang terus dibuat pemerintah dari waktu ke waktu juga semakin tak menguntungkan. Ketimbang memberikan bantuan finansial, pelajar lokal diberikan 'kesempatan' berhutang ke negara sebanyak 65% yang sisanya 35% bisa dikonversi ke hibah lewat LÃ¥nekassen. Jadi bukannya dibantu, tapi mereka terus ditumpuk hutang hanya demi menutupi biaya bulanan. Banyak dari pelajar lokal ini harus meninggalkan kosan mereka, lalu pulang ke rumah orang tua karena tak kuat lagi membayar biaya akomodasi bulanan.

Senasib, pelajar internasional juga harus menjerit dan memutar otak bagaimana harus membayar kosan dan mencukupi hidup hingga setidaknya 2 bulan ke depan. Setiap hari kami berdiskusi via Facebook Group bagaimana caranya agar suara kami didengar. Selama ini pemerintah hanya berdalih bahwa pelajar asing bukanlah tanggung jawab mereka, karena pada dasarnya kami di sini harus bisa menanggung biaya pribadi dari jaminan NOK 122.000 yang sudah ditunjukkan ke imigrasi saat apply student permit. Yang mereka lupa, uang jaminan ini tidak harus ditunjukkan dengan tabungan bulat di bank, tapi bisa dari dana hibah, beasiswa, dan juga kontrak kerja paruh waktu! Saya pakai cara terakhir saat apply student permit di sini.

Sudah hilang pekerjaan, bantuan tak dapat, tetap harus membayar kosan, tagihan telpon, dan beli makanan pula. Belum lagi kalau odol atau pelembab badan habis, bisa jadi pikiran lain! Ibu saya yang tahu kondisi ini, berulang kali menyuruh saya pulang karena apa gunanya juga kuliah di negara orang tapi keuangan sedang terpuruk. Toh kuliahnya juga online dan tak perlu datang ke tempat kerja.

At the same time, saya sering menerima keluh kesah para au pair yang harus kerja dobel ketika host family ada di rumah. Hey kalian! Di saat seperti ini yang paling tepat hanyalah WFH alias kerja di rumah tapi gaji tetap ditransfer setiap bulan. Tugas memang tak jelas dan anak-anak mungkin bisa membuat mood lebih kacau, tapi setidaknya kalian tak perlu memikirkan bagaimana membayar tagihan kosan bulan depan, serta apa yang akan dimakan besok. This is the perk of being an au pair! In this crisis, it is better trying to do something and get paid. Ketimbang tetap sekolah, mengerjakan tugas, dan bekerja di rumah, tapi get nothing - seperti saya sekarang.

Ada yang tanya, apa saya masih punya tabungan dari gaji au pair dulu. Sejujurnya, tidak ada lagi. Percaya atau tidak, di akhir tahun lalu saya memberikan semua tabungan demi melunasi hutang kerabat terdekat. Dijanjikan akan dibayar Januari kemarin, tapi (tipikal) janji tersebut hanyalah omong kosong. Yeah, I know I was so stupid! Perasaan saya pedih dan sakit sekali tersadar semua uang jerih payah selama ini hilang bagai debu demi melunasi hutang orang. Lalu saya belajar, bahwa you don't have to be good to all people, but yourself first!

Lalu ada yang menyarankan untuk minta bantuan ke keluarga saya di Palembang, yang mana sama saja akan menyiksa mereka jika harus kirim uang jutaan rupiah di krisis seperti ini. Kuliah di Norwegia adalah pilihan pribadi dan sayalah yang harus bertanggungjawab terhadap diri sendiri, meskipun jalannya tertatih-tatih. Sudah jauh dari keluarga, jauh dari teman pula karena tak banyak yang tahu cerita saya di sini. But in the end, I am still happy because I can still talk to them digitally, yet the real thing I need now is money.

Last confession, bagaimana saya bisa bertahan hingga saat ini? Memanfaatkan sisa tabungan dari gaji bulan lalu, mengorek receh lewat mengisi survey berbayar di internet, serta menunggu pengembalian pajak di bulan Mei! Semoga ada berita baik dari pemerintah setempat ke depannya bagi mahasiswa internasional yang akan menghabiskan masa kuliah semester ini di rumah.

Stay healthy and stay home, everyone!



Komentar

  1. Stay strong <3 This too shall pass kak

    BalasHapus
    Balasan
    1. That’s the whole world pray for! :)

      Makasih ya. Kamu juga dimana pun berada!

      Hapus
  2. Semangat kak Nin. Keputusan Kak Nin buat hidup mandiri di negara orang sangat keren menurutku. Sehat2 ya kak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih ya, Ainun :)
      Di saat berat seperti ini, emang bener2 gak pilihan lain selain stay. Stay healthy juga ya dimana pun kamu berada.

      Hapus
  3. Sedih sekali bacanya. You're strong. This will end soon.

    BalasHapus
  4. tetap semangat sis, I can imagine your situation even just by read this blog. tulisan2mu bagus tiap paragraf akhir selalu ada konklusi yg mnrtku mengispirasi, kmu juga kelihatannya pantang menyerah dan bukan orang pesimis. doa terbaik buatmu sis. dan emang terkadang org yg gak kita kenal emang lebih ngerti drpd temen sendiri. tetaplah berkarya, jangan berhenti nulis. karena aku salah satu fan mu yang selalu baca latest postmu. aku yakin kmu bakal jadi org sukses nantiny krna km sudah byk pengalaman :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thank you banget ya buat semangat positifnya! I truly appreciate that! ;)
      Hidup memang berat, Sis. Gak bisa gampang nyerah apalagi kalo sadar bukan lahir dari keluarga kaya, mesti mikir gimana caranya biar bisa bertahan.

      Aaammmiinnn.. Semoga sukses beneran! Kamu juga ya, semoga apapun yang kamu lalui bisa membawa kesuksesan ke depannya :)

      Hapus
  5. Strong kali kakak ini... Pas baca bagian kakak nyerahin tabungan untuk bayar utang orang, wah jleb rasanya. Aku juga punya teman yang udah kenal lama dan sering pinjam uang ke aku tapi selalu mangkir dari janjinya sendiri untuk bayar utang yang dijanjiin kapan bayarnya. Terakhir ini malah sudah setahun lebih ga dibayar hahaha. Ya sudahlah, lain kali harus lebih bijak untuk kasih pinjaman ke orang lain, Stay strong, kak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan strong, bego mungkin lebih tepatnya. Hehe.. harusnya sebelom membantu orang, aku harus tau dulu capability diri. Ini sih sama aja kayak bunuh diri sebetulnya.

      Cuma ya.. life must go on. Aku sebetulnya gak nyesel juga udah ngasih bantuan ke orang tsb, karena aku tau, saat itu emang dia lebih membutuhkan. Semoga diganti dengan yang lebih baik aja.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bule Ketemu Online, Bisakah Serius?

( PERHATIAN!!! SAYA BANYAK SEKALI MENERIMA TESTIMONIALS SOAL COWOK-COWOK DARI INGGRIS YANG MEMINTA ALAMAT SI CEWEK YANG DIKENAL VIA ONLINE. FYI , HAMPIR SEMUA MODUS PENIPUAN SEPERTI INI BERASAL DARI INGGRIS DAN AMERIKA! JANGAN PERNAH TERTIPU KEMASAN KULIT PUTIHNYA, KARENA BISA JADI YANG KALIAN AJAK CHATTING -AN ATAU VIDEO CALL -AN ITU ADALAH PENIPU !! JANGAN PERNAH BERI DATA DIRI SEPERTI NAMA LENGKAP, ALAMAT, SERTA NOMOR IDENTITAS ATAU KARTU KREDIT KE ORANG-ORANG ASING LEWAT DUNIA DIGITAL! BE SMART, BE AWARE, AND PLEASE JANGAN DULU BAPERAN KALO ADA YANG MENGAJAK NIKAH PADAHAL BARU SEMINGGU KENAL!!!) Selain berniat jadi au pair, ternyata blog saya banyak dikunjungi oleh cewek-cewek Indonesia yang ingin pacaran atau sedang dekat dengan bule. Gara-gara tulisan tentang cowok Eropa dan cowok Skandinavia , banyak pembaca blog yang mengirim surel ke saya dan curhat masalah cintanya dengan si bule. Aduh, padahal saya jauh dari kata "ahli" masalah cinta-cintaan. Saya sebetu

Mempelajari Karakter Para Cowok di Tiap Bagian Eropa

*I talk a lot about European boys in this blog, but seriously, this is always the hottest topic for girls! ;) Oke, salahkan pengalaman saya yang jadi serial dater  selama tinggal di Eropa. Tapi gara-gara pengalaman ini, saya juga bisa bertemu banyak orang baru sekalian mempelajari karakter mereka. Cowok-cowok yang saya temui ini juga tidak semuanya saya kencani. Beberapa dari mereka saya kenal saat workshop, festival, ataupun dari teman. Beruntung sekali, banyak juga teman-teman cewek yang mau menceritakan pengalamannya saat berkencan dari cowok ini, cowok itu, and all of them have wrapped up neatly in my head! Secara umum, tulisan yang saya ceritakan disini murni hasil pengalaman pribadi, pengalaman teman, ataupun si cowok yang menilai bangsanya secara langsung. Letak geografis Eropanya mungkin sedikit rancu, tapi saya mengelompokkan mereka berdasarkan jarak negara dan karakter yang saling berdekatan. Kita semua benci stereotipe, tapi walau bagaimana pun kita tetaplah bagi

7 Kebiasaan Makan Keluarga Eropa

Tiga tahun tinggal di Eropa dengan keluarga angkat, saya jadi paham bagaimana elegan dan intimnya cara makan mereka. Bagi para keluarga ini, meja makan tidak hanya tempat untuk menyantap makanan, tapi juga ajang bertukar informasi para anggota keluarga dan pembelajaran bagi anak-anak mereka. Selain table manner , orang Eropa juga sangat perhatian terhadap nilai gizi yang terkandung di suatu makanan hingga hanya makan makanan berkualitas tinggi. Berbeda dengan orang Indonesia yang menjadikan meja makan hanya sebagai tempat menaruh makanan, membuka tudung saji saat akan disantap, lalu pergi ke ruang nonton sambil makan. Selama tinggal dengan banyak macam keluarga angkat, tidak hanya nilai gizi yang saya pelajari dari mereka, tapi juga kebiasaan makan orang Eropa yang sebenarnya sangat sederhana dan tidak berlebihan. Dari kebiasaan makan mereka ini juga, saya bisa menyimpulkan mengapa orang-orang di benua ini awet tua alias tetap sehat menginjak usia di atas 70-an. Kuncinya, pola

First Time Au Pair, Ke Negara Mana?

Saya ingat betul ketika pertama kali membuat profil di Aupair World, saya begitu excited memilih banyak negara yang dituju tanpa pikir panjang. Tujuan utama saya saat itu adalah Selandia Baru, salah satu negara impian untuk bisa tinggal. Beberapa pesan pun saya kirimkan ke host family di Selandia Baru karena siapa tahu mimpi saya untuk bisa tinggal disana sebentar lagi terwujud. Sangat sedikit  host family dari sana saat itu, jadi saya kirimkan saja aplikasi ke semua profil keluarga yang ada. Sayangnya, semua menolak tanpa alasan. Hingga suatu hari, saya menerima penolakan dari salah satu keluarga yang mengatakan kalau orang Indonesia tidak bisa jadi au pair ke Selandia Baru. Duhh! Dari sana akhirnya saya lebih teliti lagi membaca satu per satu regulasi negara yang memungkinkan bagi pemegang paspor Indonesia. Sebelum memutuskan memilih negara tujuan, berikut adalah daftar negara yang menerima au pair dari Indonesia; Australia (lewat Working Holiday Visa ) Austria Amerika

Berniat Pacaran dengan Cowok Skandinavia? Baca Ini Dulu!

"Semua cowok itu sama!" No! Tunggu sampai kalian kenalan dan bertemu dengan cowok-cowok tampan namun dingin di Eropa Utara. Tanpa bermaksud menggeneralisasi para cowok ini, ataupun mengatakan saya paling ekspert, tapi cowok Skandinavia memang berbeda dari kebanyakan cowok lain di Eropa. Meskipun negara Skandinavia hanya Norwegia, Denmark, dan Swedia, namun Finlandia dan Islandia adalah bagian negara Nordik, yang memiliki karakter yang sama dengan ketiga negara lainnya. Tinggal di bagian utara Eropa dengan suhu yang bisa mencapai -30 derajat saat musim dingin, memang mempengaruhi karakter dan tingkah laku masyarakatnya. Orang-orang Eropa Utara cenderung lebih dingin terhadap orang asing, ketimbang orang-orang yang tinggal di kawasan yang hangat seperti Italia atau Portugal. Karena hanya mendapatkan hangatnya matahari tak lebih dari 3-5 minggu pertahun, masyarakat Eropa Utara lebih banyak menutup diri, diam, dan sedikit acuh. Tapi jangan salah, walaupun dingin dan hampa