6 Persepsi Keliru Tentang Au Pair

Wednesday, February 23, 2022



Semakin banyak yang membagikan cerita kehidupan mereka sebagai au pair, semakin banyak juga anak muda Indonesia yang tertarik ingin mengikuti jejak. Cerita dibuat semotivatif dan semenarik mungkin agar interaksi dengan para pengikut terus berjalan. Dari mulai cerita betapa mudahnya pindah ke negara-negara di Eropa, bisa dapat pacar bule yang seru dijadikan konten, hingga kesempatan melanjutkan sekolah atau berkarir di luar negeri.

Gaya orang bercerita memang berbeda. Namun bagi kalian yang tertarik jadi au pair, saya sarankan tetap harus banyak mencari info dari kanan kiri sebelum cepat menarik kesimpulan dari satu pernyataan. Jangan sampai mimpi terkalahkan ekspektasi yang melambung tinggi. Au pair bukanlah program yang 'too good to be true'. Berikut 6 persepsi keliru yang sering saya dengar:

1. Mewujudkan mimpi mu tinggal di luar negeri secara gratis

Entah sudah berapa kali saya membaca beberapa tulisan yang sengaja menarik minat pembaca dengan mengiming-imingi program au pair sebagai jalan mudah ke luar negeri gratisan. Menarik sekali, karena siapa yang tak mau tinggal di luar negeri gratis?! Namun sayangnya pernyataan tersebut salah besar. Jangankan gratis, jadi au pair modalnya pun tak murah, lho!


Saya tahu, memang ada segelintir mantan au pair yang super beruntung mengeluarkan modal super minim karena kedapatan keluarga yang juga super royal. Mulai dari biaya taksi ke bandara, visa, sampai asuransi pun ditanggung oleh host family. Tapi tak semua bernasib sama. Kalau kamu tinggal di luar Jakarta, ada tiket transportasi antar pulau/kota pulang-pergi yang mesti dikeluarkan untuk mengurus surat-surat di kedutaan besar atau visa application center. Ditambah lagi jika keluarga tak menanggung tiket pesawat, lagi-lagi ada biaya yang mesti dikeluarkan untuk menerbangkan kita ke negara tersebut. Untuk negara-negara yang membutuhkan sertifikat bahasa seperti Jerman dan Austria, kamu juga perlu ikut kursus dulu atau setidaknya bayar biaya tes yang juga tak murah.

Sampai di negaranya pun, kita tak tinggal dengan gratis. Di Skandinavia, biaya akomodasi dan makan termasuk dalam pajak yang mesti kita bayar. Ingat, kita bukan anak rantau yang menumpang tinggal di rumah tante! Untuk mendapatkan semua fasilitas ini, kita harus menukarnya dengan tenaga membantu host family mengerjakan pekerjaan rumah serta merawat anak-anak mereka hampir setiap hari. Sesungguhnya, itulah alasan mengapa uang saku au pair terlihat kecil, dikarenakan uang tersebut bersih sudah dipotong biaya akomodasi dan makan yang tak tertulis dimana pun.


2. Au pair berhijab kurang diterima

Tak sekali dua kali saya menerima pertanyaan apakah au pair boleh berhijab, atau adakah keluarga yang mau menerima au pair berkerudung. Jawabannya, tentu saja! Program au pair itu harusnya tak melihat warna kulit, suku, ras, maupun agama. Hanya saja, karena kita akan tinggal dalam waktu yang cukup lama bersama keluarga asing, bias pasti ada. Misal, ada keluarga yang lebih tertarik dengan au pair Asia ketimbang Afrika, karena terkenal penurut dan suka bekerja. Ada juga yang masih enggan menerima au pair berkerudung karena alasan agama, namun tak sedikit keluarga pribumi yang sangat open minded mau menerima au pair apa adanya.

Selain itu, banyak au pair berkerudung yang saya kenal merasa lebih suka tinggal dengan keluarga pribumi ketimbang keluarga sesama Muslim di Eropa. Selain karena bisa lebih belajar budaya lokal dengan orangnya langsung, keluarga Muslim di Eropa kebanyakan adalah imigran generasi kedua atau ketiga yang budayanya masih sama dengan Asia. Sistem kerja antara bos dan majikan masih sangat kental. Belum lagi karena bukan keluarga pribumi, ada banyak perayaan lokal yang dilewatkan karena mereka tak ikut merayakan.


Jadi kalau kamu memang berhijab, jangan pernah ragu untuk jadi au pair di luar negeri tanpa harus mengorbankan kerudung mu  karena saya juga pernah dapat cerita dari mantan au pair yang dirayu oleh calon keluarga angkatnya untuk lepas hijab. Yang utama, tak harus tinggal dengan keluarga Muslim, kok. Menurut saya, pengalaman terbaik justru bisa kamu dapatkan saat tinggal dengan keluarga pribumi. Jangan pernah juga salahkan hijab mu jika memang kebetulan belum dapat keluarga. Ini bukan masalah hijab, tapi cari keluarga yang baik memang tak mudah.


3. Batu loncatan ganti kewarganegaraan

Saya mengernyitkan dahi cukup lama ketika menerima surel dari salah satu pembaca yang bercita-cita jadi au pair demi bisa kabur dari Indonesia dan ganti warga negara. Bukan cita-citanya yang salah, tapi mungkin persepsi tentang jadi au pair yang bisa mengantarkannya pindah kewarganegaraan itu yang harus diluruskan. 

Ganti kewarganegaraan itu proses yang sangat panjang dan rumit. Bukan tahun ini jadi au pair lalu tahun depannya bisa jadi warga negara asing (WNA). Sebelum jadi WNA, kamu mesti jadi permanent residence (PR) negara bersangkutan terlebih dahulu. Untuk jadi PR ini juga prosesnya bisa makan waktu 3-5 tahun tergantung jenis izin tinggal sebelumnya apa. Biasanya untuk mendapatkan PR, kita harus bekerja dulu di negara tersebut atau punya izin tinggal penyatuan keluarga (reunification family) baik karena menikah dengan warga negara setempat ataupun karena ikut pasangan. Izin tinggal au pair dan pelajar yang mau selama apapun, sayangnya tak dihitung.


Ada beberapa orang Indonesia yang saya kenal mempertahankan PR-nya selama belasan tahun dulu sebelum ganti kewarganegaraan. Atau justru ada juga yang berpuluh tahun tinggal di luar negeri sudah puas jadi PR tanpa mau melepaskan paspor hijaunya. Ganti kewarganegaraan itu adalah pilihan tiap individu yang lumrah saja. Tapi sebelum berjuang dalam proses panjangnya, mungkin bisa mengganti tujuan mu jadi au pair sesederhana ingin makan salju dengan sirup Marjan, misalnya?


4. Au pair bisa membebaskan mu dari jaminan uang kuliah

Sejujurnya saya sangat bahagia ketika tahu ada au pair Indonesia yang menggebu-gebu ingin melanjutkan pendidikan selepas kontraknya berakhir. Artinya, mereka tak berhenti belajar. Setelah belajar bahasa selama jadi au pair, kini waktunya melanjutkan pendidikan akademis yang tak hanya bisa mengubah pola pikir, namun juga menawarkan pengalaman berbeda.

Tapi momok menakutkan kuliah di luar negeri bagi para au pair adalah deposito biaya hidup yang tak sedikit. Ingin jadi au pair selama apapun dan menabung, kalau tak dibantu biaya lain dari sponsor atau dana hibah, mustahil rasanya bisa lanjut kuliah di luar negeri. Tak sedikit juga pembaca blog saya yang menanyakan harus menabung berapa dulu per bulan agar bisa bayar uang kuliah. Namun faktanya, uang saku yang kita terima per bulan itu jumlahnya tak seberapa dan saya kemarin bisa menutupi biaya jaminan ini juga bukan dari tabungan pribadi.


Kalau kamu memang berniat lanjut kuliah selepas jadi au pair, saya sarankan jangan hanya fokus ke berapa uang tabungan yang kamu punya sekarang. Kalau ada peluang cari uang tambahan, pergunakan kesempatan tersebut. Saya pernah menuliskan beberapa ide cari uang tambahan selama jadi au pair  dan ini bukan black job! Ada juga dua alternatif yang bisa kamu coba jika finansial masih jadi kendala utama. Alternatif pertama, kamu bisa berdiskusi dengan host family atau keluarga di Indonesia jika mereka bersedia jadi penjamin mu saat kuliah nanti. Atau alternatif kedua dan yang paling masuk akal adalah menebar umpan beasiswa ke banyak negara. Tak harus beasiswa penuh. Beasiswa parsial yang menangguhkan uang kuliah juga sudah lumayan karena kamu bisa kerja part-time untuk menyokong biaya hidup nanti.


5. Harus pakai jasa agensi untuk jadi au pair

Pertanyaan lain yang sering saya terima adalah tentang agensi apa yang pernah saya pakai, serta rekomendasi agensi-agensi di Indonesia yang bisa cepat membantu calon au pair mendapatkan keluarga. Awalnya sedikit kaget karena program au pair dijadikan lahan bisnis di Indonesia yang biayanya bisa puluhan juta. Wow! Padahal uang saku per bulan yang au pair akan terima juga tak seberapa. Tapi karena sudah ingin buru-buru ke luar negeri, biaya sefantastis apapun juga tetap diusahakan oleh banyak orang.


Sebetulnya tak ada yang salah pakai jasa agensi. Saya juga mendapatkan semua keluarga di 3 negara dari agensi. Tapi bagusnya, semua agensi tersebut gratis dan saya tak membayar sepeser pun biaya mendapatkan keluarga ke mereka. Sementara, agensi-agensi au pair di Indonesia biasanya berbayar dengan catatan; sudah termasuk biaya kursus, pengurusan dokumen, dan pencarian keluarga. Kalau memang ada uangnya dan ingin semuanya terstruktur, menurut saya tak masalah pakai jasa agensi terpercaya.

Tapi yang perlu kamu tahu  dan sering saya katakan berulang-ulang, cari keluarga itu sama saja seperti cari kerja. Proses tiap orang mendapatkan pekerjaan tak ada yang sama. Ada yang baru lulus kuliah, daftar ke satu perusahaan langsung diterima. Ada juga yang mesti berjibaku dulu dengan penolakan dimana-mana, baru tibalah waktunya dapat kerja. Ada juga yang pakai jasa orang dalam karena memang ada kenalan. Lalu kembali lagi, meski pakai jasa agensi au pair sekali pun, tak ada yang bisa menjamin berapa hasil ujian tes mu nanti atau kapan kamu benar-benar bisa mendapatkan host family.

Kalau memang keuangan menipis, tak perlu memaksa untuk pakai jasa agensi berbayar. Prosesnya memang kadang lebih panjang; semisal, untuk negara seperti Jerman yang butuh sertifikat bahasa, kamu bisa ambil kursus otodidak atau one-on-one dengan guru privat yang biayanya lebih murah. Saat cari keluarga, kamu memang harus lebih rajin daftar ke banyak situs untuk memetakan peluang lebih besar. Gabung juga ke grup Facebook, intip para 'selebgram au pair', blogger, atau 'Youtuber au pair' untuk memperluas koneksi  karena bisa jadi rejeki kamu dapat keluarga lewat mereka.


6. Semua negara itu seperti Jerman

Sejauh ini, Jerman dan Belanda adalah dua negara yang paling banyak diminati oleh para au pair Indonesia karena 'feels like home'. Namun dibandingkan Belanda, au pair Indonesia lebih sering bermuara atau menggantungkan nasib ke Jerman setelah kontrak au pair mereka selesai.

Tak heran, Jerman adalah satu-satunya negara di Eropa yang menawarkan peluang lebih besar bagi para imigran untuk tinggal lebih lama. Peluang ini tentu saja tak dilewatkan para au pair Indonesia untuk bisa pindah dan mencari peruntungan karir di sana. Dua program yang paling sering direkomendasikan yaitu Ausbildung dan FSJ (Freiwilliges Soziales Jahr), bisa menjadi tonggak awal berkarir setelah au pair dengan upah lebih besar.


Hanya saja, perlu kalian garis bawahi bahwa semua negara di Eropa itu punya aturan imigrasi yang berbeda dan tak sama antara satu dan lainnya. Saya seringkali mendapat pertanyaan, "Kak, di Norwegia ada Ausbildung, kah?" atau "Kak, di Belgia setelah au pair bisa kerja di panti jompo, kah?". Sayangnya, hanya Jerman satu-satunya negara di Eropa yang punya program khusus tersebut. Jika kalian memang berminat kerja di negara-negara Eropa selepas au pair, hal pertama yang harus kalian lakukan adalah ganti ke working permit/visa. Syarat utama untuk ganti izin tinggal atau visa ini tentu saja harus punya pekerjaannya dulu. Kebanyakan negara mewajibkan imigran memiliki pekerjaan di bidang tenaga ahli, namun negara seperti Swedia dan Finlandia juga memberikan izin kerja di sektor low-skillSo no, jangan samakan semua negara seperti Jerman yang seluas itu kesempatannya ganti izin tinggal!



3 comments:

  1. tq kaa infonya
    semangat terus berkarya:)

    ReplyDelete
  2. Bener kak Au pair di indonesia dijadiin ladang Bisnis, kursus bahasa emang lebih mahal kalau join agen tapi gak sebanding kita dapet uang saku, Dan jangan sampai di masa depan Ausbildung kerjasama dgn sekolah2 SMK, takut nya bayar malah jadi banyaaaaaaaakkk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku setujuuu!!

      Jangan sampe au pair jadi opsi anak2 lulusan SMA/SMK/MA yang tadinya males kuliah/kerja di Indonesia, jadi ambil jalan pintas aja ke Jerman. Enak kalo tujuannya bener2 dibarengi keseriusan untuk belajar dan berkarya di negara orang. Kalo cuma ikutan2 ini yang masalah. Banyak agensi2 berseliweran, nipu kanan kiri, dah ribet juga jadinya ke depan.

      Delete