Skip to main content

10 Alasan Norwegia Tak Cocok Untuk Destinasi Liburan Orang Indonesia


Blog ini sebetulnya tak didedikasikan untuk para traveller yang ingin mencari tips liburan ke Eropa karena saya pun hanyalah pejalan musiman. Tapi karena banyak negara sudah mulai luwes mengizinkan pelancong asing memasuki wilayah mereka, rasanya tulisan ini bisa jadi perspektif baru bagi orang Indonesia yang berniat jalan-jalan ke utara Eropa, terutama Norwegia. 

Tinggal di negara ini selama 4 tahun masih membuat saya tak berhenti wowing tiap kali mengunjungi tempat baru. Liburan di Norwegia itu hampir sama dengan liburan di Indonesia, lengkap! Dari pantai, laut, hutan, danau, fjord, air terjun, sampai gunungnya pun bisa dijelajahi dengan ekspektasi menemukan keindahan alam yang luar biasa. Tak heran jika negara ini ada di bucket list banyak orang. Sayangnya, saya merasa bahwa opsi liburan di Norwegia tidaklah ditawarkan untuk semua wisatawan, terutama dari Indonesia.

Serius! Norwegia sepertinya kurang cocok untuk gaya liburan orang Indonesia yang cari nyaman, bukan petualangan saat mengunjungi Eropa. Kalau kamu berminat menjadikan negara ini sebagai destinasi liburan mu berikutnya, berikut beberapa hal yang mesti kamu pertimbangkan.

1. Tempat terbaik di Norwegia bukanlah di Oslo

Foto ini tentu saja tak diambil di pusat kota Oslo

You've just landed, what do you expect next? Magnificent mountains? Stunning fjord? Beautiful landscape in the city center? Colorful building blocks by the water? Well, siap-siap kecewa!

Sebagai kota terbesar merangkap ibukota negara, Oslo yang terletak di bagian timur Norwegia sebetulnya hanyalah kota biasa yang masih terus berkembang untuk lebih maju. Beberapa museum dan perpustakaan modern baru dibangun dengan harapan menciptakan kota yang futuristik. Namun kesalahan banyak turis adalah mereka sering termakan keindahan foto-foto di internet tentang alam Norwegia yang malah justru letaknya tak di Oslo.


Banyak yang tak sadar bahwa Norwegia adalah negara yang meskipun geografisnya tak luas, namun negara ini memanjang hingga 1770 km diukur dari utara ke selatan. Oslo yang terletak di bagian timur bukanlah tempat yang tepat menghabiskan liburan karena sesungguhnya dua tempat terbaik adalah di bagian utara dan barat Norwegia. Fjord cantik yang sering kamu lihat di internet sebetulnya terletak di Norwegia Barat, sementara keindahan laut dengan bangunan merah adalah khasnya desa pelayan yang terletak di Norwegia Utara. Karena berdekatan dengan pantai yang lebih hangat, wilayah selatan lebih sering jadi tujuan menghabiskan liburan musim panas. Sementara bagian timur lebih identik dengan hutan yang rindang dan bebukitan untuk wisata ski dan musim panas. Oslo yang posisinya berada di timur Norwegia? Not even in-between these beauties


2. Tak semua tempat diakses transportasi umum

Desa cantik di sisi selatan Norwegia

Secara akses, sebetulnya para turis dapat menjangkau Norwegia Barat dan Utara menggunakan kereta atau pesawat. Maskapai lokal seperti Norwegian punya jadwal terbang yang cukup sering ke kota-kota besar seperti Stavanger, Bergen, Trondheim, Tromsø, ataupun Bodø. Perusahan kereta lokal, Vy (baca: vi), seringkali menawarkan diskon cukup murah dari Oslo-Bergen-Oslo kalau kamu ingin mencoba one of the must scenic journeys di Norwegia via kereta.

Namun masalahnya, kamu tetap tak akan bisa menemukan the real Norwegian charms di kota-kota besar ini. Tempat-tempat cantik di Norwegia sayangnya banyak yang tak bisa diakses transportasi umum dan letaknya justru di desa-desa kecil. Cara terbaik menikmati alam Norwegia dengan lebih fleksibel adalah dengan mengendarai mobil yang memungkinkan kita melewati banyak hidden gems. Plusnya, kita bisa menelusuri the Norwegian Scenic Routes tanpa takut ketinggalan bus atau kereta. 

Sewa mobil di Norwegia juga tak murah dan kamu harus paham aturan lalu lintas lokal. Untuk ukuran orang Indonesia yang terbiasa menyetir sembarangan di jalan aspal, mengendarai mobil di negara ini bisa jadi tantangan. Apalagi ketika musim dingin saat salju tebal dan jalanan berubah menjadi es yang licin. Tantangan lainnya, selain posisi setir yang berbeda, bisa jadi kamu harus mengerem mendadak saat kecepatan tinggi ketika ada rusa dan kijang tiba-tiba melintas sekelebat.


3. Pemandangan tercantik harus didaki 

No shortcut to the peak

Tak hanya tempatnya yang jauh dan kurang accessible, untuk menjangkau pegunungan demi melihat landscape yang lebih indah pun kita butuh usaha lebih. Trolltunga? The Pulpit Rock (Preikestolen)? Kjeragbolten?

Semua tempat di atas adalah pegunungan di Norwegia yang seringkali disebutkan dalam panduan wisata. Sejujurnya, saya belum pernah ke semua tersebut dan belum ada niat juga ke sana. Selain selalu penuh oleh turis, banyak yang overlook pegunungan tersebut tanpa riset terlebih dahulu. Tanjakan yang curam dan trek yang cukup menantang memungkinkan kamu perlu usaha ekstra untuk sampai ke atas.

Tak berbeda dengan pegunungan lainnya, satu-satunya cara yang harus kita lakukan demi mendapatkan pemandangan terbaik hanyalah dengan mendaki. Baiknya, kita bisa dengan mudah mengikuti arah petunjuk yang sudah dirancang sebaik mungkin tanpa takut tersasar. Beberapa rute pun bisa dipilih dari paling mudah (biru) hingga paling sulit (merah). Jangan anggap remeh angka jarak, karena 1 km bisa didaki berjam-jam sampai membuat kaki pegal-pegal nantinya. Bagi yang tak terbiasa, disarankan agar tak mendaki sendiri dan sebaiknya didampingi oleh orang lokal ataupun orang yang sudah berpengalaman sebelumnya.


4. Butuh peralatan olahraga yang layak 

Pakaian yang tepat adalah koentji

Show me your outdoor outfit! Karena sudah melebur dengan gaya hidup orang lokal, saya bisa tahu mana yang serius ingin berpetualang, mana yang hanya ingin gaya-gayaan. Tinggalkan sepatu Converse ataupun Adidas putih mu di rumah karena untuk mendaki di gunung dibutuhkan perlengkapan olahraga yang tepat. Minimal, kamu butuh sepatu mendaki yang grips-nya kuat dan tak licin saat menapak. 

Setiap tahun, setidaknya ada 10 kecelakaan yang terjadi di pegunungan Norwegia yang korbannya kebanyakan adalah turis bandel. Dua tahun lalu, polisi lokal sempat menyelamatkan 3 turis asal Prancis yang tak menghiraukan bahaya naik ke pegunungan di musim dingin saat gelap. Setelah diselidiki, orang-orang ini pun ternyata tak punya persiapan apa-apa hingga bisa-bisanya ke gunung pakai Ugg boots. Sempat pula dilaporkan bahwa sering terjadi kecelakaan di Trollstigen sampai membuat beberapa orang meninggal karena tergelincir saat mengambil foto. Lagi-lagi, setelah diselidiki, mereka adalah para turis bandel yang berpakaian ala kadarnya atau nekad mengambil foto dari tebing yang curam.

Jangan heran bila orang Norwegianya sendiri sering memberi komentar pedas bagi para turis nekad ini. Selalu riset trek yang akan kamu daki, cek juga prakiraan cuaca dan jangan nekad kalau cuaca sedang tak mendukung, pakai baju yang tepat, dan gunakanlah sepatu yang benar. Minusnya, sepatu daki harganya tak murah dan juga memakan berat bagasi jika harus dibawa dari Indonesia.


5. Berburu Aurora Borealis bukanlah di Selatan

Lofoten, desa nelayan di bagian utara Norwegia sering jadi tempat berburu aurora

Tak hanya keindahan alamnya yang luar biasa, fenomena alam yang terjadi langit utara Eropa pun seringkali menjadi magnet banyak wisatawan. Saya yakin, banyak dari kalian yang bermimpi bisa melihat Sang Cahaya Utara alias Aurora Borealis menari lepas di Norwegia. Kalau menurut kalian datang ke Oslo saat musim dingin sudah cukup, this is another mistake tourists make!

Aurora Borealis biasanya muncul di langit cerah nan gelap tanpa banyak polusi cahaya. Meski beberapa kali Aurora Borealis sempat muncul di Oslo, namun fenomena ini sangat langka dan tak bisa kamu dapatkan setiap hari jika hanya ingin menghabiskan liburan di Norwegia beberapa hari saja. Untuk bisa melihat fenomena tersebut kita harus lari ke tempat tergelap di negara ini, yaitu utara. Trondheim yang bahkan masih di wilayah pertengahan pun tak masuk hitungan. Seminimal-minimalnya, kita harus berlabuh ke Tromsø atau Lofoten saat musim dingin untuk berburu sang cahaya.

Karena merupakan fenomena alam yang tak bisa diprediksi juga kapan munculnya, disarankan untuk minimal berada di utara 3-4 hari. Banyak orang juga biasanya tertarik untuk ikut tur agar dibawa ke tempat yang lebih gelap dari pusat kota Tromsø.


6. Budaya liburan orang Norwegia berbeda 

Sisi modern kabin musim dingin keluarga Norwegia di pegunungan

I will tell you that Norwegians hate tourists. Mau turis internasional ataupun lokal, mereka tetap benci turis. Kasarnya, karena negara ini sudah kaya, pariwisata bukanlah komoditas yang mereka harus gembor-gemborkan ke orang luar. Tak heran jika gaya liburan orang Norwegia pun berbeda dengan orang Eropa pada umumnya karena cenderung introvert.

Kebanyakan orang Norwegia biasanya melipir ke kabin saat liburan dan akhir pekan. Kabin-kabin ini merupakan rumah kedua bagi orang Norwegia yang letaknya bisa di lautan, danau, hutan, ataupun pegunungan. Tujuannya, melarikan diri dari penat pekerjaan dan kerumunan, lalu mengasingkan diri untuk lebih dekat dengan alam. Orang-orang Norwegia juga super aktif. Gaya liburan mereka bukanlah untuk berleye-leye, tapi beraktifitas seaktif-aktifnya. Saat musim panas, mereka bisa saja setiap hari hanya memancing dan berenang di perairan. Sementara saat musim dingin, no days without skiing.


Jangan harap pula kabin-kabin ini semuanya modern seperti yang sering kalian lihat di majalah interior. Beberapa kabin bahkan hanyalah kabin tua tanpa air, toilet, listrik, ataupun sinyal! Back to the old days, leave all the modernism behind. Nyatanya, orang Norwegia masih konservatif untuk beberapa hal. Saya tak yakin cabin trip seperti ini cocok dengan gaya liburan orang Indonesia yang ingin semuanya serba fancy dan teratur. Sudah liburan jauh-jauh ke Eropa, kan lucu juga kalau malam-malam masih harus menimba air di sungai gara-gara kabin tak punya keran.  


7. You can’t be stylish 

Berbusanalah sesuai cuaca, bukan sesuai seberapa bagus baju mu di lini media sosial

Eropa memang pusat fesyennya dunia. Saya mengerti bahwa kamu ingin tampil maksimal di media sosial dengan berfoto ala model di jalanan Eropa. Sayangnya, ini Norwegia. Saya cukup amazed saat pertama kali menyaksikan orang Norwegia biasa saja melenggang santai saat hujan deras atau jogging saat badai salju sekalipun demi olahraga dan menghirup udara segar. Saking realistisnya negara ini, moto hidup mereka adalah 'We can't blame the weather, but your clothes!'


Kalau cuaca sedang panas, sebisa mungkin pakailah pakaian yang menyerap keringat dan minumlah air putih banyak-banyak. Jika dirasa kedinginan, pakailah senjata musim dingin dari baju wol sampai boot kulit. Di Bergen yang terkenal sebagai kota hujan, kamu tak bisa terus-terusan memakai mantel cantik dengan sepatu hak tinggi. Yang ada, kamu bisa masuk angin dan kaki lecet. Karena kencangnya angin dan derasnya hujan, orang Bergen lebih tertarik berinvestasi di jas hujan yang mahal ketimbang beli payung terus-terusan. Apalagi saat musim dingin yang cukup harsh ketimbang negara lain di Eropa Barat. Sebisa mungkin pakailah down jacket dan lindungi area sensitif dari gempuran angin dingin.


8. Nightlife? No, Culinary? No, Nature? Yes!

Does it seem interesting?

Tak jarang saya mendengar beberapa orang liburan ke Norwegia untuk menikmati kehidupan malam, lalu akhirnya kecewa dengan harga alkohol dan makanan di sini yang keterlaluan mahalnya. Well, what do you expect?


Terletak di lingkaran Arktik sebagai negara kaya baru, Norwegia sebetulnya belum bisa menawarkan wisata malam layaknya dua negara tetangga Skandinavia lainnya. Selain harga alkohol yang tak masuk akal, orang Norwegianya sendiri pun sebisa mungkin tak terlalu sering makan di luar. Bukan karena mahalnya, namun antara rasa dan harga yang dibayarkan sering tak seimbang. Banyak restoran menawarkan menu crossover yang bukannya nikmat, malah cenderung aneh di lidah. Untuk menemukan restoran Asia otentik di negara ini pun harus jeli karena kebanyakan restoran biasanya tak mau rugi hanya menjajakan satu jenis makanan saja.

Di sisi lain, saya skeptis makanan khas Norwegia akan cocok di lidah orang Indonesia yang terbiasa menyantap makanan kaya rasa. Let me mention Fårikål, Fiskekake/Kjøttkake, Pinnekjøtt, atau Ribbe, yang sebetulnya far from delicious dari Nasi Padang 15 ribuan!


9. Winter sports are just.. not ours 

....definitely not our thing

Meski olahraga musim dingin terlihat keren sampai jadi konten para artis Indonesia, namun dulunya ski hanyalah alat transportasi di daerah bersalju. Karena kereta kuda tak akan bisa dimanfaatkan di jalanan bersalju tebal, satu-satunya alat yang bangsa Viking bisa gunakan hanyalah ski. Konon saking membosankannya Norwegia, orang-orang dulu hanya bisa bersyukur dan memanfaatkan apa yang ada di sekitar mereka saja - yaitu, alam.

Norwegia juga dulunya hanyalah negara miskin yang hanya menekan sektor perikanan dan ekspor bongkahan es batu berton-ton ke negara tetangga. Baru di tahun 70-an saja negara ini mulai bangkit dan mendadak jadi salah satu negara kaya di Eropa. Maka jangan heran bila ski dan snowboarding berganti dari yang tadinya alat transportasi menjadi olahraga berkompetisi. Karena hampir semua orang lokal bisa ski, olahraga yang kita anggap mewah ini pun sebetulnya biasa saja di Norwegia. 


What about us, Indonesians? Boro-boro berdiri di papan ski, main sepatu roda dan punya privilege sewa sepatu ice skating saja banyak yang tak mampu. Tapi kalau kebetulan sedang singgah di negara ini saat musim dingin dan ingin coba ice skating, beberapa kota besar biasanya membuat landasan es di tengah kota dan kamu bisa sewa sepatu luncur di tempat ini.


10. Pengalaman unik yang tak murah

Menginap di mercusuar dengan pemandangan 360 derajat menghadap lautan adalah pengalaman terepik yang pernah saya rasakan

Dari semua hal yang kamu rencanakan untuk berlibur ke Norwegia, yang paling mahal dari negara ini sebetulnya bukanlah soal makanan atau transportasi umumnya, tapi pengalaman. Ambil saja contoh berburu Aurora Borealis. Meski kita bisa saja beruntung melihat cahaya ini langsung dari langit kota Tromsø, tapi beberapa orang memilih untuk ikut tur agar kesempatan untuk melihat cahaya ini lebih besar. Tur Aurora Borealis banyak macamnya dan harga termurah yang saya temukan sekitar NOK 1000 (€99/IDR 1,5 juta) dengan naik bus rombongan. Jika memilih tur dengan rombongan yang lebih kecil, ditambah sewa kamera dan lainnya, tentu saja biaya yang dikeluarkan lebih besar.


Saat musim panas, Norwegia lebih aktif jualan pengalaman menginap di kabin atau tempat-tempat unik yang tak akan kalian temukan dimana pun. Rorbu atau kabin nelayan yang identik dengan bangunan merah dan kuningnya sangat melekat dengan gambaran pulau nelayan di Norwegia Utara. Sementara di Norwegia Selatan, kamu bisa mencoba menginap di forest cabin atau mercusuar lalu bangun dengan suara desiran ombak dan pemandangan lautan yang apik. Di musim dingin, ada igloo, arctic dome, atau hotel es yang sewa kamarnya semalam bisa mencapai IDR 10 jutaan tapi menawarkan pengalaman yang tak biasa.  Beberapa aktifitas unik lainnya juga bisa kalian coba saat musim dingin seperti huskies sledding, memancing ikan di danau es, atau cross country skiing. Tapi tentu saja, pengalaman unik ini harus merogoh kocek lebih dalam!



CARA TERBAIK

Meski 10 hal di atas bisa menjadi limitasi dan membuat mu berpikir ulang untuk mengunjungi the best parts of Norway, but really, come here! Tetap ada cara terbaik bagi yang tertarik menjelajahi Norwegia meski dengan segala keterbatasan yang ada.

1. Mix & match tur 'Norway in a Nutshell'


Tur legendaris yang paling dikenal oleh banyak turis adalah Norway in a Nutshell yang dikelola oleh operator Fjord Tours, salah satu member Norway's Travel Guarantee Fund. Lewat tur ini, kalian bisa menikmati keindahan alam Norwegia Barat lewat jalur kereta ke Bergen, Flåm, Aurlandsfjord, dan melihat langsung Nærøyfjord, fjord sempit nan dramatis yang dilindungi UNESCO. 

Tapi tunggu dulu, biaya yang harus kalian keluarkan per orang jika beli via Fjord Tours adalah NOK 1330 (€136/IDR 2 jutaan). Sungguh biaya yang luar biasa karena pada dasarnya, kalian hanya membayar Fjord Tours untuk membelikan tiket transportasi kanan kiri. Tur ini sendiri juga bukanlah guided tour dan sebetulnya, kita bisa mencontek rute yang tersedia untuk bisa di-mix & match sendiri sesuai kebutuhan. Semua rute di atas (lihat gambar) bisa kalian jangkau menggunakan transportasi umum yang tiket keretanya bisa dibeli via Vy atau kapal via Lustrabaatane dengan lebih hemat.


2. Kereta Bergen-Oslo-Bergen 

The Bergen Line merupakan salah satu the most scenic train journeys yang juga paling populer di Norwegia

Kalaupun keuangan memang sedang terbatas dan tak punya banyak waktu di Norwegia, satu-satunya trip yang saya sarankan adalah mengambil kereta ke/dari Oslo-Bergen. Jalur kereta ini merupakan salah satu the scenic journeys yang wajib kalian coba dan berlaku sepanjang tahun. Saat musim panas, kalian punya waktu lebih panjang menikmati pemandangan hijau di luar karena matahari di Norwegia terbenam sampai jam 11 malam. Sementara pemandangan jadi lebih mellow di musim gugur karena hangatnya warna dedaunan. Lalu menjadi semakin magis ketika kamu melewati jalur ini saat hamparan salju menutupi semua permukaan saat musim dingin!

Cobalah untuk memesan kursi di sisi kanan dari Bergen atau kiri dari Oslo untuk melihat pemandangan yang lebih luas. Sebetulnya kanan kiri tak masalah karena sama-sama indahnya. Tapi sepengalaman saya, salah satu sisi seringkali menampilkan pemandangan yang lebih baik ketimbang sisi lainnya. Karena perjalanan ditempuh selama 6-7 jam, saya sarankan berangkat pagi hari saat musim dingin karena matahari di Norwegia sudah terbenam jam setengah 4 sore. Jangan sampai kelewatan pemandangan di luar karena hari sudah gelap. Tiket bisa dibeli lewat Vy yang kadang juga memberikan diskon dimulai dari harga NOK 199 (€20/IDR 300 ribu) sekali jalan dari/ke Oslo-Bergen. 


3. Stay in big cities 

Salah satu kota pelajar, Trondheim, menawarkan kehidupan kota yang cukup lively

Meski tak menawarkan keindahan alam yang diharapkan, namun kita tetap bisa merasakan small pieces of Norway lewat kota-kota besar seperti Oslo, Bergen, Stavanger, Trondheim, dan Tromsø.  Selain tak repot karena tersedianya transportasi publik, kita juga bisa menikmati kehidupan malam dan kuliner khas Norwegia lewat bar dan restoran yang ada di kota-kota ini. Beberapa point of interests juga lebih ramah turis karena bisa dijangkau dengan lebih mudah. Misal Fløyen di Bergen, kamu bisa mendaki sendiri sampai atas bukit atau bayar NOK 150 (€15/IDR 225 ribu) pulang pergi naik cable car. Di Oslo, saya sarankan untuk ambil Metro nomor 1 ke Frognerseteren dan duduk di sisi sebelah kiri untuk melihat keindahan Oslo dari ketinggian. Stop sampai stasiun terakhir dan mampirlah ke restoran Frognerseteren demi segelas cokelat panas dan wafel, lalu cari kursi bersebelahan dengan jendela. Saat musim panas, kamu lebih fleksibel duduk di luar restoran sambil menyeruput soda dingin.

Baca juga: 7 Alasan Mengapa Kamu Harus Digital Detox di Hutan Norwegia

Tak hanya punya akses lebih mudah ke puncak tertinggi, di kota-kota besar pun kita bisa mampir ke beberapa museum serta gereja-gereja ternama seperti Nidarosdamen di Trondheim dan The Actic Cathedral di Tromsø. Sangat memungkinkan menjelajahi kota besar dan melihat ke belakang sejarah Norwegia tanpa perlu jadi anak gunung. Kalau memang dirasa 5 kota besar di atas terlampau mainstream, kamu bisa singgah ke kota lainnya seperti Ålesund, Bodø, Kristiansand, Lillehammer, Rorøs, Frederikstad yang lebih dekat ke perbatasan Swedia, ataupun yang lebih jauh di utara, Svalbard.


4. Ikuti jadwal kereta & bus lokal

Sommarøya yang bisa dijangkau dengan transportasi umum via Tromsø

Memang cara terbaik menjelajah Norwegia hanyalah dengan mengendarai mobil. Tapi apa mau dikata jika kita harus bepergian sendiri atau hanya bergantung ke transportasi umum. Untungnya, ada beberapa sudut pedesaan atau tempat-tempat cantik di Norwegia yang bisa dijangkau lewat transportasi umum dari kota-kota besar. Kalau kamu tertarik ke Lofoten dari Oslo, ada 5 alternatif alat transportasi lain yang bisa kamu gunakan selain naik mobil selama 48 jam dari ibukota. Maskapai penerbangan seperti Norwegian dan SAS mengangkut penumpang cukup sering dari Oslo ke Bodø. Dari Bodø, kamu dapat melanjutkan penerbangan ke Leknes, bandara di Lofoten, atau naik ferry bersama penumpang jalur air lainnya. Walaupun sesampainya di Lofoten transportasi umum hanya beroperasi 2-3 jam sekali, tapi setidaknya kamu berkesempatan jalan-jalan singkat di pulau nelayan ini.

Berjarak sekitar 60 km dari Tromsø, kamu juga bisa mampir ke pulau cantik, Sommarøya, dengan naik bus 420 dari pusat kota. Perjalanan memang memakan waktu lebih dari 1 jam, but who cares? Sama halnya dengan jalur kereta Bergen, Vy seringkali menawarkan harga promo untuk rute ke Flåm, Finse, dan Voss. Dari Stavanger, ambil rute bus nomor 4 atau kereta nomor 59 'Go Ahead Nordic' untuk menuju Preikestolen. Using public transportations to reach the prettiest points in Norway may be uneasy, but still doable!

 
5. Sewa mobil dan road trip rame-rame ke Barat

Jalur menuju ke Norwegia Barat begitu apik di musim semi

Jadi kali ini anggap saja kamu liburan bersama rombongan dan sudah mengantongi SIM internasional. Mengapa tidak coba sewa mobil dari Oslo menuju Norwegia Barat? Bukan, bukan untuk mencari kitab suci seperti Kera Sakti, tapi demi melihat fjord cantik yang tak ada di Oslo. Perjalanan dari Oslo ke Bergen menempuh waktu kurang lebih 7 jam. Tapi plusnya, kalian bisa mampir ke beberapa desa cantik dan tempat-tempat terpencil di Norwegia Barat. Jangan lupa juga mampir ke stavekirke atau gereja kayu abad pertengahan yang sampai sekarang masih eksis berdiri tegak di Norwegia. Salah satu gereja bahkan masih menjaga dan menggunakan lonceng yang berusia lebih dari 120 tahun untuk acara khusus.


Sewa mobil juga terasa lebih ringan kalau pergi ramai-ramai karena biayanya bisa patungan. Operator penyedia rental mobil seperti AVIS, SIXT, atau Budget biasanya memberikan potongan diskon bagi pemilik kartu kredit tertentu. Tapi kalau kebetulan layanan tersebut tak memiliki mobil yang kita inginkan, saya sarankan untuk buka situs atau unduh aplikasi Getaround (dulunya Nabobil). Sistemnya, kita pinjam mobil dari tetangga sekitar dengan biaya jauh lebih murah dari tempat rental. Biaya sewa dari tetangga ini biasanya juga sudah termasuk jarak tempuh maksimal 600 km.


6. Be happy for what you can see

Pemandangan dari Restoran Frognerseteren

Secara biaya, menikmati alam Norwegia sebetulnya gratis. Kamu tak akan dihadang loket tiket masuk ke hutan atau gunung, bahkan bisa camping hampir di semua landscape secara gratis. Meskipun hanya berkunjung ke Oslo, kamu bisa mencoba naik kapal menuju Oslofjord saat musim panas untuk menikmati fjord mini dari ibukota. Daerah Oslomarka, seperti Vettakolen atau Kolsåstoppen, bisa dijadikan alternatif kalau tertarik mini hiking di hutan atau perbukitan. Frognerparken yang penuh dengan pahatan patung bisa dijangkau dengan tram nomor 12 selalu ramai dikunjungi turis dan warga lokal. Saat musim gugur, daun-daun kering yang rontok dari pepohonan di taman seringkali dijadikan objek foto.


Sejujurnya, Oslo bukanlah kota favorit saya di Norwegia karena nyatanya, orang yang tinggal di Oslo pun selalu punya alasan untuk melipir ke kabin tiap minggu. Namun kalau hanya punya waktu sebentar di Oslo, saya menyarankan untuk fokus saja ke apa yang ibukota ini tawarkan. Frogner Park + Vigeland Sculpture Park, Frognerseteren, Oslofjord, Oslo Opera House, Munch Museum, The Norwegian Museum and Cultural History, Fram Museum, Akerhus Fortress + Aker Brygge, serta the Royal Palace adalah banyak tempat yang menarik untuk dikunjungi di Oslo.


7. Stir down ke negara lain

Mencapai puncak tertinggi Matterhorn di Swiss menggunakan gondola

Dibandingkan ibukota negara tetangga lainnya seperti Stockholm dan Kopenhagen, Oslo jelas jauh dari kata sempurna. Pun kalau ingin mengambil Norwegia secara keseluruhan, akses ke banyak tempat di negara ini masih kalah jauh dari Swiss yang lebih populer. Menuju pegunungan Alpen di Swiss, kita  tinggal duduk manis naik gondola sambil memakai mantel cantik dan sepatu hak tinggi pun tak masalah. Secara landscape, kedua negara ini sama-sama cantiknya. Minus, Swiss hanya tidak punya lautan layaknya Norwegia. Secara ekonomi, jelas kedua negara ini memang sama mahalnya. Tapi jika ingin liburan santai tanpa harus terlihat seperti anak gunung, jelas Swiss menang banyak.

Menurut saya, sah-sah saja mengunjungi Norwegia hanya demi hunting Aurora Borealis layaknya tujuan kebanyakan turis Indonesia selama ini. Meskipun, Norway is more than just the Northern Lights. Tapi kalau tujuan mu lebih luas, seperti ingin lebih banyak shopping di walking street, cafe hoping, atau accessible mountain hikes seperti di Swiss, tentu saja Norwegia kurang cocok! Better to stir down to other countries atau kunjungi kota besar lain di Skandinavia yang lebih modern.

Your pick!




Comments

Popular posts from this blog

Bule Ketemu Online, Bisakah Serius?

( PERHATIAN!!! SAYA BANYAK SEKALI MENERIMA TESTIMONIALS SOAL COWOK-COWOK DARI INGGRIS YANG MEMINTA ALAMAT SI CEWEK YANG DIKENAL VIA ONLINE. FYI , HAMPIR SEMUA MODUS PENIPUAN SEPERTI INI BERASAL DARI INGGRIS DAN AMERIKA! JANGAN PERNAH TERTIPU KEMASAN KULIT PUTIHNYA, KARENA BISA JADI YANG KALIAN AJAK CHATTING -AN ATAU VIDEO CALL -AN ITU ADALAH PENIPU !! JANGAN PERNAH BERI DATA DIRI SEPERTI NAMA LENGKAP, ALAMAT, SERTA NOMOR IDENTITAS ATAU KARTU KREDIT KE ORANG-ORANG ASING LEWAT DUNIA DIGITAL! BE SMART, BE AWARE, AND PLEASE JANGAN DULU BAPERAN KALO ADA YANG MENGAJAK NIKAH PADAHAL BARU SEMINGGU KENAL!!!) Selain berniat jadi au pair, ternyata blog saya banyak dikunjungi oleh cewek-cewek Indonesia yang ingin pacaran atau sedang dekat dengan bule. Gara-gara tulisan tentang cowok Eropa dan cowok Skandinavia , banyak pembaca blog yang mengirim surel ke saya dan curhat masalah cintanya dengan si bule. Aduh, padahal saya jauh dari kata "ahli" masalah cinta-cintaan. Saya sebet

Mempelajari Karakter Para Cowok di Tiap Bagian Eropa

*I talk a lot about European boys in this blog, but seriously, this is always the hottest topic for girls! ;) Oke, salahkan pengalaman saya yang jadi serial dater  selama tinggal di Eropa. Tapi gara-gara pengalaman ini, saya juga bisa bertemu banyak orang baru sekalian mempelajari karakter mereka. Cowok-cowok yang saya temui ini juga tidak semuanya saya kencani. Beberapa dari mereka saya kenal saat workshop, festival, ataupun dari teman. Beruntung sekali, banyak juga teman-teman cewek yang mau menceritakan pengalamannya saat berkencan dari cowok ini, cowok itu, and all of them have wrapped up neatly in my head!

7 Kebiasaan Makan Keluarga Eropa

Tiga tahun tinggal di Eropa dengan keluarga angkat, saya jadi paham bagaimana elegan dan intimnya cara makan mereka. Bagi para keluarga ini, meja makan tidak hanya tempat untuk menyantap makanan, tapi juga ajang bertukar informasi para anggota keluarga dan pembelajaran bagi anak-anak mereka. Selain table manner , orang Eropa juga sangat perhatian terhadap nilai gizi yang terkandung di suatu makanan hingga hanya makan makanan berkualitas tinggi. Berbeda dengan orang Indonesia yang menjadikan meja makan hanya sebagai tempat menaruh makanan, membuka tudung saji saat akan disantap, lalu pergi ke ruang nonton sambil makan. Selama tinggal dengan banyak macam keluarga angkat, tidak hanya nilai gizi yang saya pelajari dari mereka, tapi juga kebiasaan makan orang Eropa yang sebenarnya sangat sederhana dan tidak berlebihan. Dari kebiasaan makan mereka ini juga, saya bisa menyimpulkan mengapa orang-orang di benua ini awet tua alias tetap sehat menginjak usia di atas 70-an. Kuncinya, pola

Hal yang Harus Diketahui Sebelum Memutuskan Jadi Au Pair

Nyaris empat bulan saya disini, masih banyak saja tanggapan dan respon positif bahkan negatif dari orang terdekat saat tahu saya sedang di luar negeri. Ada yang menganggapnya wah sekali karena beruntung mendapatkan kesempatan ke luar negeri, ada juga yang menganggapnya biasa saja saat tahu pekerjaan saya sebagai au pair. Au pair bukanlah pekerjaan yang berjenjang karir, tapi menurut saya program ini bisa memberikan pengalaman yang keren sekali (atau bahkan buruk sekali). Au pair memang bisa disamakan dengan homestay, sebuah program pertukaran budaya yang ditawarkan oleh beberapa yayasan dan beasiswa di Indonesia. Bedanya, kita juga bisa mencari uang dari keluarga tersebut dengan membantu mereka mengurus anak, bersih-bersih, atau melakukan pekerjaan rumah tangga lainnya. Upahnya? Jangan dikurs ke rupiah ya. Memang upahnya tergolong tinggi saat dibawa ke Indonesia. Tapi, biaya hidup di Eropa yang juga sama tingginya, menegaskan kalau upah yang kita terima ini sebandin

Guide Untuk Para Calon Au Pair

Kepada para pembaca blog saya yang tertarik menjadi au pair, terima kasih! Karena banyaknya surel dan pertanyaan tentang au pair, saya merasa perlu membuat satu postingan lain demi menjawab rasa penasaran pembaca. Mungkin juga kalian tertarik untuk membaca hal-hal yang harus diketahui sebelum memutuskan jadi au pair  ataupun tips seputar au pair ? Atau mungkin juga merasa tertantang untuk jadi au pair di usia 20an, baca juga cerita saya disini . Saya tidak akan membahas apa itu au pair ataupun tugas-tugasnya, karena yang membaca postingan ini saya percaya sudah berminat menjadi au pair dan minimal tahu sedikit. Meskipun sudah ada minat keluar negeri dan menjadi au pair, banyak juga yang masih bingung harus mulai dari mana. Ada juga pertanyaan apakah mesti pakai agen atau tidak, hingga pertanyaan soal negara mana saja yang memungkinkan peluang kerja atau kuliah setelah masa au pair selesai. Oke, tenang! Saya mencoba menjabarkan lagi hal yang saya tahu demi menjawab rasa penasar