I Made It: Dari Au Pair Sampai WISUDA S2!!!

Friday, June 25, 2021


LinkedIn is interesting. Gambar di bawah adalah hasil berbagi yang lewat di feed LinkedIn saya tentang jalan karir seseorang mulai dari awal sekolah.

Sangat apik menggambarkan tentang pandangan naif kita yang ingin semuanya berjalan mulus: lulus kuliah kalau bisa langsung cari kerja, posisi bagus, kerja yang rajin, lalu dipromosikan jadi manager. Tapi faktanya, tidak semua orang terlahir jadi pekerja kantoran dengan tangga karir demikian. Ada yang setelah lulus kuliah malah pindah bidang dan mengulang kuliah lagi. Ada juga yang ganti haluan dan sadar bahwa jadi pengusaha lebih menantang. Ada juga yang masih kesulitan menemukan apa yang mereka mau sampai usia di usia 30-an.

Selalu ada cerita dan usaha yang berbeda dari semua orang untuk menuju suatu titik. Inilah cerita yang ingin saya kenang dan bagikan kembali dari pertengahan 2013 sampai sekarang, hasil proses yang panjang hingga mencapai satu titik besar.


Selulus S1, dibandingkan cari kerja di bimbel, kejar PNS, ataupun lanjut kuliah S2 di Indonesia seperti teman sekelas lainnya, saya memilih jalan lain. Bagusnya, sebelum lulus saya mulai mencari tahu apa yang saya mau dan menemukan info bahwa au pair adalah jalan termurah untuk bisa tinggal serta sekolah di luar negeri, layaknya keinginan saya sedari kecil. Tanpa biaya puluhan juta, tanpa sertifikat bahasa, tanpa pelatihan apa-apa, semuanya hanya bermodal internet dan aplikasi visa. Pencarian keluarga pun mulai saya petakan kemana-mana sekalian menyicil mengerjakan skripsi. 

Motivasi saya ingin cepat selesai skripsi saat itu cuma satu, sesegera mungkin berangkat ke Eropa jadi au pair. Namun untuk menuju Eropa tentu saja tidak mudah. Menjelaskan ke keluarga apa itu au pair sulitnya bukan main, terutama mengubah perspektif bahwa tujuan saya ke Eropa bukan untuk jadi pembantu. Karena beda cara pandang ini, ada banyak pertengkaran kecil sampai tangis-tangisan yang terjadi antara saya dan ibu. Makanya tak jarang, beberapa au pair memilih berbohong ke orang tua untuk memuluskan jalan mereka ke luar negeri. Bedanya, saya memilih jujur karena percaya bahwa au pair itu memang program yang sangat bagus dan tak pantas direndahkan.


Lima bulan usaha cari keluarga, ditolak kanan kiri, akhirnya nasib mempertemukan saya dengan keluarga Maroko yang membawa saya ke Belgia untuk pertama kalinya. Then my life in Europe began. Namun sebelum itu, untuk bisa sampai ke Belgia ini juga butuh waktu dan usaha lebih. Karena tinggal di luar Jakarta, biaya mengurus dokumen dan visanya tentu saja lebih mahal. Kalau ada yang mengatakan bisa ke Eropa gratis karena jadi au pair, that's a lie. Nyatanya, tak ada yang 100% gratis di dunia ini karena jadi au pair pun butuh modal. Bahkan banyak au pair Indonesia yang saya kenal mesti pinjam uang dulu di awal untuk bisa sampai negara tujuan. 


Foto yang saya ambil Maret 2014 ketika pertama kali tiba di komplek perumahan rumah keluarga pertama di Belgia

Pertama kali hidup di lingkungan baru dan tinggal dengan orang asing tentu saja tidak mudah. Lebih tak mudah lagi bagi si keluarga yang sudah membuka pintu lebar-lebar untuk gadis muda dari antah berantah untuk tinggal bersama mereka. Adanya perbedaan budaya, pola pikir, serta ekspektasi, sering kali jadi pemantik atmosfir kerja yang tak nyaman lagi. Drama tentang kerjaan sampai putus kontrak dan ganti keluarga sudah sangat normal terjadi. Di sinilah awal mental kita diasah dan tergantung seberapa kuatnya kita menghadapi masalah yang terjadi. Ingin menyerah dan langsung pulang ke Indonesia kah, memaksa untuk berdamai namun tertekan tinggal bersama keluarga yang salah, atau memilih mundur dari pertikaian dan mencari keluarga baru. Meski tak pernah berharap akan terjadi hal demikian, tapi saya belajar banyak hal dari semua pengalaman buruk ini.

Dua belas bulan di Belgia juga bukan waktu yang lama. Drama dengan dengan dua keluarga rasanya membuat saya belum puas menikmati kehidupan au pair di Eropa dan berniat pindah negara lagi. Empat bulan sebelum kontrak berakhir, saya sudah ancang-acang cari keluarga baru hingga akhirnya sepakat untuk tinggal dengan keluarga di Denmark selama 24 bulan.


Meskipun Denmark saya cap sebagai negara terburuk untuk para au pair, namun negara ini menawarkan banyak hal baru yang tak saya dapatkan di Belgia maupun di Indonesia. Saya punya lebih banyak waktu bersosialisasi, belajar lebih tekun, dan mendapat kesempatan travelling hampir tiap bulan. Sesering dan seseru itu sampai akhirnya ada momen ketika saya mulai burnout dengan semua hal. Jaga anak, nongkrong di kafe cantik, naik pesawat, travelling, dan masuk kelas rasanya tak asik lagi.


Momen terbaik di Denmark: ketika saya tak hanya bisa travelling hampir tiap bulan, tapi juga mengambil semua kesempatan bersosialiasi dan belajar banyak hal baru. Foto diambil ketika saya mengikuti workshop UX design di kantor Momondo.

Tiga tahun jadi au pair rasanya lebih dari cukup. Tujuan akhir saya kala itu hanyalah ingin pulang ke Indonesia dan menyudahi petulangan untuk mulai membangun karir. Apalagi yang ingin saya cari di mid-20s kalau bukan pekerjaan yang sesuai background dan gaji yang stabil setiap bulan. No more popok bayi, apalagi bersih-bersih rumah orang. 

Masih ada keinginan untuk lanjut S2 di luar negeri memang, namun sepertinya belum memungkinkan karena alasan dana dan pertimbangan lainnya. Beberapa kali teman menyarankan untuk lanjut S2 saja di Belgia mengingat biaya kuliah dan hidupnya cukup terjangkau. Tapi sayangnya saya sudah tidak berniat lagi tinggal di sana. Saya memang sempat tes IELTS di Denmark dan mencoba peruntungan lanjut kuliah di Cina karena kebetulan adik saya juga kuliah di sana dengan bantuan beasiswa. Pikir saya saat itu, lumayan juga jika bisa lanjut S2 sekalian reuni di Cina tanpa perlu merogoh kocek pribadi. Sayangnya, nasib saya belum beruntung. Akhirnya saya kembali ke rencana awal yang semakin bulat; ingin pulang dan membangun karir di Indonesia.

Namun rencana hanyalah tinggal rencana karena singkatnya, saya memutuskan berangkat ke Norwegia untuk jadi au pair lagi. Keputusan ini juga melibatkan banyak kepala karena saya tak mau memutuskan semuanya sendiri. Jadi au pair lagi selama 2 tahun rasanya seperti buang-buang waktu dan umur. But the decision had to be made dan akhirnya saya menerima tawaran dari keluarga di Oslo yang untungnya mau menanggung tiket saya dari Indonesia

There I was, in Norway again. Yang paling penting tidak hanya well-prepared, tapi juga well-planned. Oke, jadi au pair lagi. But what's next? Saya tidak ingin menorehkan catatan au pair selama 5 tahun dan pulang ke Indonesia dengan tangan kosong. Saya bersumpah ini akan jadi pengalaman au pair terakhir dan closure-nya haruslah membanggakan. Nazar saat itu, ingin mengundang dan membiayai tiket semua keluarga liburan ke Eropa dengan uang saku au pair di Norwegia. Meski belum semua, namun setidaknya saya mampu memberangkatkan adik saya ke benua ini di musim gugur 2018. 

Kalau pun lanjut S2, saya tidak ingin pindah negara lagi dan sebisa mungkin harus kuliah di tempat yang uang kuliahnya bisa saya upayakan. Tapi untuk negara semahal Norwegia, apakah memungkinkan bisa sekolah di sini? Pindah-pindah negara itu sangat melelahkan dan mantan sempat menyarankan untuk lanjut saja di Swedia yang kesempatan beasiswanya lebih luas.
 

Saya datang ke pelataran aula Universitas Oslo di bulan April 2019 untuk mengambil beberapa foto sebagai bahan blog. Entah diterima atau tidak, saya akan tetap berbagi cerita tentang pendaftaran kuliah di Norwegia. Foto di atas adalah gedung lama Universitas Oslo yang sekarang hanya digunakan oleh mahasiswa Fakultas Hukum.

Bak gayung bersambut, saya baru tahu bahwa kampus negeri di Norwegia tidak membebankan biaya kuliah sama sekali bagi seluruh mahasiswa. Mahasiswa lokal maupun internasional hanya diwajibkan membayar uang semester yang biayanya hanya berkisar antara 1,5-2 juta Rupiah. Untungnya informasi ini saya dapatkan di awal kedatangan hingga bisa menyiapkan seluruh berkas yang dibutuhkan. Beruntungnya lagi, saya punya kesempatan mengambil tes IELTS lagi di Palembang karena kebetulan waktunya pas dengan waktu liburan saya ke Indonesia saat itu. Lumayan, setidaknya jauh lebih murah dari biaya tes di Norwegia.Tip juga untuk kalian yang ingin lanjut kuliah setelah masa au pair, ada baiknya persiapkan semua persyaratan dari jauh hari tanpa harus menunggu masa akhir kontrak dulu. Untuk beberapa negara, jadwal penerimaan mahasiswa baru hanya diadakan satu kali setahun dan waktunya sering kali tak pas dengan masa kontrak au pair kita. Sebisa mungkin, secured bangku kuliah mu dengan mendapatkan Letter of Acceptance (LoA) dan daftar beasiswa jika memungkinkan tanpa ketinggalan deadline.


Mungkin sudah nasibnya, saya mendaftar ke 3 universitas negeri di Norwegia dan hanya diterima di satu tempat, yaitu Universitas Oslo (UiO). Senangnya bukan main karena gol saya memang ingin kuliah di Oslo sekalian menyelesaikan kontrak au pair yang masih sisa 5 bulan lagi. Semuanya serba pas juga, bisa kuliah di semester awal dan tinggal dengan host family untuk hemat biaya. Bagi yang belum tahu, saya kuliah benar-benar mengandalkan dompet pribadi tanpa bantuan dana orang lain. Meski uang semesterannya tak seberapa, tapi saya tetap harus siap memenuhi kebutuhan hidup pribadi selama dua tahun. Dipikir akan berjalan lancar, tapi ternyata hidup mandiri setelah lepas dari host family itu luar biasa sulitnya mengingat 2020 adalah tahun terberat bagi kebanyakkan orang.


Gedung perkuliahan saya di departemen IT saat mulai semester baru, Agustus 2019.

Awal Maret, saya dan Mumu memutuskan tinggal bersama dengan menyewa apartemen berjarak 20 km dari pusat Oslo — yang belum tahu siapa itu Mumu, baca postingan saya yang ini. Kami (finally!) menjalani hidup mandiri dengan perencanaan finansial yang lebih matang. Belanjaan bukan lagi sepatu atau baju, tapi sayuran, perkakas dapur, atau interior rumah yang lebih kami butuhkan untuk hidup.

Sayangnya, belajar hidup mandiri layaknya orang dewasa di tahun 2020 itu nyaris mustahil untuk saya! Pernah satu bulan penuh saya tak punya uang karena gaji belum dibayar dan hidup rasanya penuh dosa seperti parasit tanpa bisa membantu bayar apapun. Korona memperparah keadaan karena lowongan pekerjaan yang sebelumnya hanya dilamar 20-30 orang, mendadak jadi ratusan! I have tried my best, tapi untuk jadi pelayan restoran, guru TK, dan cleaning lady pun saya sudah sering ditolak berkali-kali. I was just unlucky! Sempat ada niat untuk berhenti kuliah dan pulang saja ke Indonesia, namun untungnya niat tersebut hanya sesaat. 

Tak menyerah, hidup saya sedikit lebih baik di awal musim gugur karena menerima beberapa tawaran freelance dan posisi paruh waktu di tempat saya magang. Gajinya belum mampu menanggung hidup sepenuhnya memang, namun jauh lebih baik daripada bertahan dengan 0 Krona. Saat Norwegia dilanda Korona gelombang kedua pun, saya sangat bersyukur masih bisa kerja dari rumah dan tetap dibayar penuh. Life seemed soooo much easier daripada mengandalkan lowongan di restoran yang ikut ketiban sial saat semuanya harus lockdown lagi.


Yang saya percaya, 2021 akan membawa perubahan yang jauh lebih baik lagi. But no, it was apparently not. Karena tak menghasilkan banyak uang tahun lalu, imbasnya ke imigrasi yang menolak permohonan study permit saya di awal tahun! Alasannya klasik; saya tidak mampu menunjukkan bukti finansial untuk memperpanjang izin tinggal. Semelarat itu hidup saya memang! Karena beban tesis, kursus bahasa, pekerjaan, dan banding penolakan yang membuat otak semakin berat, makanya saya putuskan untuk menghindar dulu dari dunia maya selama beberapa waktu. Jadi kalau kalian tanya kemana saja saya selama ini, saya tidak kemana-mana tapi berusaha menjalani hidup di dunia nyata.

Kabar lainnya, saya sempat mencari pekerjaan high-skilled selagi menyelesaikan tesis dan diterima sebagai pegawai magang full-time selama beberapa bulan. Gajinya jauh lebih baik dari posisi saya sebelumnya meskipun masih belum tahu apakah akan dipromosikan menjadi pegawai tetap nantinya. Tapi saya sangat senang karena sebelum lulus pun sudah dapat kerja yang sesuai dengan bidang dan kemampuan. Saat bekerja di tempat baru ini, saya semakin pasif mengurusi blog dan media sosial pribadi karena pekerjaan saya sehari-hari di kantor juga harus membuat konten grafis untuk keperluan media sosial perusahaan. Tak hanya untuk dua tiga akun, tapi 17! Bagaimana tidak, perusahaan tempat saya bekerja ini punya 3+1 anak perusahaan lain dan saya bertanggungjawab untuk mengurus semua funnel-nya. 


Sudut apartemen tempat saya bekerja dan belajar setiap hari di rumah. Kalau sedang berantakan, meja bisa penuh dengan tas makeup dan segala produk skincare agar bisa selalu touch up.

Kerjaan mesti jalan terus, tapi tesis tetaplah yang utama. Walaupun cukup kesulitan mengatur dan membagi waktu di awal, tapi saya sukses mengumpulkan tugas akhir sebagai syarat kelulusan! Sidang berjalan dengan sangat lancar dan para penguji menyukai kestrukturan saya dalam menulis. Tak menyangka, hasilnya sangat memuaskan mengingat perjuangan saya menyelesaikan tesis ini bak roller coaster!

Sempat pesimis juga di awal dan berasumsi kalau saya ini tipe-tipe mahasiswa medioker yang mungkin kuliah hanya sekedar selesai dengan nilai pas-pasan. Tapi ternyata saya salah setelah melihat beberapa teman tak lulus beberapa mata kuliah karena keasikkan kerja. I am a hardworking student yang tidak hanya kuliah tapi juga bertanggung jawab dengan pekerjaan. Saya memang bukan straight-A student, tapi semua mata kuliah nyatanya lulus dan outcome yang saya berikan ke kantor pun diakui sukses oleh atasan. What an achievement!


Saya tahu, au pair yang bisa langsung kuliah dan sukses dapat pekerjaan di Eropa tentunya tidak hanya saya. Ada baaaanyak sekali au pair Indonesia beruntung yang bisa melanjutkan kuliah lebih cepat tanpa perlu lagi harus bertahun-tahun 'membabu' seperti saya. Lebih dari itu, mereka bisa terbantu biaya karena sponsor atau beasiswa karena punya talenta luar biasa. Namun tanpa mau membandingkan, izinkan saya sekali lagi menghargai semua perjuangan untuk bisa menyelesaikan kuliah dan bertahan hidup di luar negeri selama 7 tahun ini. Saya BANGGA dengan diri sendiri! Super bangga sampai rasanya ingin memeluk diri sendiri, memberikan hadiah terbaik, menangis bahagia, merayakan dengan champagne mewah, dan standing ovation untuk semua kerja keras yang saya lakukan. Congraduations, Nin! Akhirnya terpenuhi keinginan pakai Bunad di wisuda kali ini. Terima kasih juga untuk segera bangkit di masa-masa sulit! 


Untuk kalian yang sekarang sedang/baru akan berjuang belajar di luar negeri, jangan pernah takut memulai prosesnya karena tak ada yang namanya mimpi kosong. I found my serendipity after 5 years of being an au pair! Semuanya tak ada yang mudah dan murah, namun selalu ada solusi atas segala hambatan. Tak perlu menjadi saya untuk bangga terhadap diri sendiri karena kalian punya masa sulit dan jalan tempuh masing-masing. We all develop at different times and not one of us has the same set of circumtances. Hope this post inspires you more!

So, what's next? 



14 comments:

  1. Kak nin i love you! Hebat banget pokoknya! Selamat ya kak. Semoga kedepanya makin baik lagi amin!! Gemes banget kak pokoknya!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you SOOOO much ♥️

      Aaammmiinn.. Jadi gemes ya malahan? Hihi.

      Delete
  2. Congratulations 3000 kak Nin
    Aku udah baca semua tulisanmu sejak kak Nin masih awal au pair di Norwegia, and I can say, you are a real fighter and I am so proud of you, you are so brave and amazing women. Thank you so much for sharing your journey and all the struggle that are so so much inspires.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih banyak ya 😇

      Makasih juga udah berjalan di belakang ku nyimak semua cerita dari awal sampe sekarang. Bener2 aku apresiasi. Tapi aku ngerasa perjuangan belom usai sih. Masih ada banyak banget yang mau aku ceritain ke depannya.

      Hope you’re still following me ya! ;) Semoga juga makin menginspirasi cerita2 ini.

      Delete
  3. You've worked hard Nin, selamat atas semua kerjakeras yang sudah kamu jalani. Ikut terharu dan bangga padamu. GOOD LUCK & CONGRAT!!!!

    ReplyDelete
  4. Congraduations mba Niiiin!!

    Rasanya tak sanggup klu saya diposisi mb Nin ini.. hehe.
    Sungguh luar biasa tekad dan usaha yang dilakukan mb Nin di negeri orang. Dan Alhamdulillah-nya semua itu bisa diselesaikan dengan sangat baik oleh mb Nin meskipun hidup bak roller coaster.

    Terharu banget mbaaaaa, i sweaaar!!

    Semoga selalu dilindungi oleh-Nya ya mba, di mana pun berada. Dan semoga tujuan selanjutnya bisa tercapai juga, lebih mulus dari sebelumnya. Aamiin. :D

    Nice to see you again mb Niiiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. It was uneasy indeed!!!

      Kalo mau diinget lagi, rasanya sulit banget. Tapi badai pasti berlalu. Sekarang lagi menapaki hal baru yang semoga aja ke depannya lebih mulus :) Hidup di negara orang bener2 menantang sih ya & memang gak untuk semua orang yang gigih berjuang.

      Thank you so much ya! 😇

      Delete
  5. Selamat ya Kak Nin

    Kamu sungguh luar biasa dan menginspirasi banget. By the way, semoga setiap click ads bisa membantu pundi-pundi, walaupun hanya itu yg bisa saya lakukan sebagai pembaca setia Blog.

    Terima kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you, Kharis!! :'(

      Kok sedih ya.. Orang baik2 amat, padahal gak kenal. Makasih banyak ya dukungan kamu. Bener2 aku apresiasi.

      Delete
  6. Kak nin TBH aku baru baca sampai abis karna sebelum sebelumnya emang udah baca tapi belum sampai abis wkwkwk, waaah keren banget kak nin Jatuh Bangun di negara orang, saya bacanya aja pakai nada pelan di hati, terharu akuuu tu, emang menginspirasi banget, kadang kalau aku lagi jenuh atau ngedown baca2 blog kak nin, semoga cepet dapet pekerjaan Tetap Aaamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaammmiinn..

      Makasih banyak ya udah mampir :) Capek banget emang idup di negara orang. Bukan hiperbola sih ini, tapi kenyataan.

      Delete